Kabar
Atrium Pakuwon Terkepung Gema Angklung
Kolaborasi KPK dan API Cetak Rekor Muri
Atrium Pakuwon Mall Bekasi, Kamis sore (20/11/2025) terkepung gema suara angklung. Ratusan perempuan lansia memainkan alat musik tradisional khas Jawa Barat dengan penuh semangat. Mereka tergabung dalam API (Angklung Perempuan Indonesia) yang bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membukukan rekor MURI. Dalam kesempatan itu, API menggandeng beberepa elemen, di antaranya IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia).
Sejumlah anggota IKPNI yang ikut angklungan, di antaranya cucu dari para pahlawan: HOS Cokroaminoto, John Lei, Gatot Subroto, Sam Ratulangi, Arnold Mononutu, dr Moewardi. Selain itu, ada juga anak dan keponakan dari Sjafruddin Prawiranegara, Amin Nasution, Shodanco (komandan) Supriyadi (pemimpin pemberontakan PETA di Blitar), AA Maramis. Mereka telah melakukan latihan sedikitnya empat kali sebelum acara digelar. Adapun koordinator angklung IKPNI adalah Lista (putri Bung Tomo, pahlawan 10 November).

Pengunjung mall sontak tersedot perhatiannya, demi mendengar lantunan gema angklung yang lantang tapi merdu. Tak sedikit yang menggoyangkan anggota badannya tanpa sadar, mengikuti irama lagu yang sangat populer.
Betapa tidak, empat lagu yang mereka mainkan, adalah lagu-lagu yang sangat viral dan akrab di telinga kita. Yang pertama dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya (WR Supratman), disusul dua lagu viral: ada APT (Rose & Bruno Mars) dan Tabola Bale (Silet Open Up), serta lagu… “Biasakan yang Benar”.
Lagu terakhir merupakan theme song Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia. Biasa digunakan sebagai lagu tema atau kampanye antikorupsi. Lagu ini diciptakan oleh Indra Aziz dan dinyanyikan oleh Barsena Bestandhi serta Ify Alyssa.
Berperan sebagai konduktor adalah kang Daus yang tidak kalah lincahnya menggerakan jari-jemari sebagai aba-aba kepada para pemain angklung. Untuk Anda ketahui, konduktor pada konser angklung acap menggunakan jari-jemari sebagai isyarat nada secara berurutan membentuk komposisi. Isyarat tangan awalnya dikembangkan oleh John Curwen.
Sayang, keseruan itu harus berakhir pukul 17.00 WIB. Raut-raut wajah bahagia terpancar dari hadirin. Di antara mereka tampak Direktur Marketing Museum Rekor Indonesi (MURI), Awan Rahargo, kemudian ada anggota Dewan Pengawas KPK, Chisca Mirawati bersama Direktur Sosialisasi Pendidikan Anti Korupsi KPK, Amir Arief.
Yang tak kalah bahagia adalah Ketua API, Effy Kuswita, serta Kang Daus konduktor sekaligus Ketua Panitia Rekor MURI bersama wakilnya, Ririen Bambang.


Selain angklung, sore itu juga tersaji tarian Indang dari Iwapi, serta kemeriahan lomba semi fashion show baju adat anggota API dan IKPNI. Tampak para peserta yang berusia antara 50 – 75 tahun, sangat antusias, semangat berdiri memamerkan busananya dan berjalan mengelilingi panggung.
Setelah melalui penilaian beberapa juri akhirnya keluar sebagai pemenang pertama, Bruno Josef W.P. (dari IKPNI) yang mengenakan pakaian adat Dayak, Kalimantan, dan merupakan satu-satunya peserta pria. Pemenang kedua menggenakan pakaian adat dari Madura, Jawa Timur. Sedangkan posisi ketiga diraih peserta yang menggunakan kebaya Kudus, Jawa Tengah.
Itulah cara KPK melakukan sosialiasi melalui wahna seni dan budaya. Di antara ingar-bingar “konser angklung” serta peragaan busana adat, Anggota Dewan Pengawas KPK, Chisca Mirawati tak lupa menyampaikan materi sosialisasi. Ini adalah bagian dari mitigasi tindak pidana korupsi,” ujar Chacha.
Untuk diketahui, Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Chisca Mirawati, adalah (juga) Penyuluh Antikorupsi (Paksi) Utama dan Ahli Pembangun Integritas (API) yang kompeten. Predikat itu ia peroleh setelah mengikuti proses sertifikasi kompetensi yang diselenggarakan Lembaga Sertifikasi Profesi KPK (LSP KPK). Sertifikasi ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam memperkuat strategi edukasi antikorupsi di Indonesia. (SRH ninin BM)




