Advokasi Ekstremisme tidak Berhenti di Masa Pandemi

 Advokasi Ekstremisme tidak Berhenti di Masa Pandemi

Dubes RI untuk Mesir, Lutfi Rauf (kiri), dan Tuan Guru Bajang.

JAYAKARTA NEWS – Bicara ekstremisme, kita bicara tentang alam pikiran orang. Ini suatu yang tidak kasat mata, menyangkut ideologi, gagasan, pemikian yang tercemar hal-hal ekstrem/radikal yang termanifestasi dalam tindakan atau terorisme. Hal ini menjadikan terorisme itu sulit dipetakan atau dideteksi secara akurat.

Hal itu dikemukakan Duta Besar Indonesia untuk Mesir Lutfi Rauf dalam webinar Kamis malam (11/8) yang diselenggarakan Institut Leimena bekerjasama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Webinar dengan tema “Literasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Mengatasi Ekstremisme Beragama” ini guna Menjawab Pesan Kairo, dimana sebelumnya  di sana pada bulan Juni berlangsung Konferensi Internasional di Kairo, Mesir bertema “Religious Extremism-The Intellectual Premises and Counter Strategies”.

Lutfi Rauf selanjutnya mengatakan, sebelum tahun 2020 isu terorisme selalu menjadi pembahasan di tingkat global, jadi fokus bahasan banyak negara. Akan tetapi, dua tahun terakhir seakan teralihkan oleh pandemi covid 19 yang meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan kita. Sementara kelompok yang mengadvokasi paham ektremisme tidak berhenti bekerja di masa pandemi. 

“Justru situasi pandemi malah mendukung perkembangan paham yang dimaksud, terutama memakaai platform digital sehingga mampu mengekploitasi dan mempenetrasi ke ruang-ruang privat atau ruang kamar pribadi individu-individu,“ tegas Dubes.

Di tahun 2022 ini bukti itu ditemukan bahwa pandemi covid 19 mendukung pembentukan narasi ekstrem. Situasi pandemi menyebabkan banyak individu lebih rentan terhadap radikalisasi dan rekruitmen paham ektrem karena terisolasi dari lingkungan sosialnya dan menghabiskan banyak waktu untuk menonton platform digital.

“Dan kaum muda merupakan kelompok yang banyak terekspos ancaman ekstremisme dan radikalisme karena didukung perkembangan teknologi yang sangat masif dan pesat. Hal ini mengakibatkan mereka mudah mengakses konten-konten ekstremisme melalui internet,“ kata Lutfi Rauf lagi.

Salah Memahami Agama

Sementara itu HM Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar [OIAA] Cabang Indonesia) dalam paparannya menekankan konsep beragama yang moderat seperti yang diterapkan Al Azhar sepanjang masa.

Sebagai ilustrasi dikemukakan pendapat Abdullah Ibnu Syirin yang lahir sekitar tahun 33 H. Pada masa awal perkembangan Islam, cendekiawan tersebut menyampaikan ungkapan bahwa ilmu adalah esensi agama. Karena itu dapatkan ilmu agama dari mereka yang kompeten.

Menurut mantan Gubernur NTB  ini, ada pula Abdullah Ibnu Mubarok, seorang ulama besar juga mengatakan hal senada. Bahwa keilmuan itu bagian dari agama. Kalau tidak ada rantai keilmuan yang valid maka semua orang akan bicara apa pun yang  diinginkan tentang agama.

Adanya sinyalemen seperti itu, kata TGB, karena mereka melihat bahwa kehancuran atau adanya  benih-benih destruktif di tengah masyarakat Islam waktu itu salah satu akarnya adalah ekstremisme di dalam beragama. Sebabnya salah paham tentang agama.

Muhammad Ibnu Syirin ketika kecil pernah mendengar tentang perang antara Syayidina Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah yang kemudian lahirlah kelompok Khawarij. Dan Khawarij merupakan embrio dari kelompok ekstrem dalam Islam. Mereka mengusung ungkapan yang tampak sangat mulia tetapi salah paham. Bahwa tidak ada hukum atau otoritas di dunia ini keuali kepada Allah. Maka semua peraturan apapun yang dilahirkan oleh upaya-upaya manusia, baik individual mapun kolektif dianggap bertentangan atau tidak valid, karena itu harus diperangi.

Dari realitas di atas diketahui, bahwa sejak awal ulama melihat adanya kesalahpahaman terhadap agama merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan melahirkan sikap ekstrem dalam beragama. Dan itu berpengaruh terhadap seluruh susunan tatanan sosial yang ada, bahkan berujung pada perang saudara yang mengakibatkan kehancuran.

“Jadi kita tahu (memang) ada ekstremisme dalam beragama. Ekstremisme itu bermula dari pemahaman agama yang salah,“ tegas TGB.

Namun belakangan, lanjut TGB, ada pula yang mengatakan, ekstremisme, radikalisme itu jangan-jangan  mainan orang sekarang saja, ini “jualan barang”. “Maka saya katakan bahwa term ektremitas dan radikalitas adalah term yang otentik,“ ucapnya.

Dalam Al Quran misalnya, jangankan ekstrem, tatharuf (Arab) yakni ujung yang paling jauh, melampau batas, secara eksplisit sudah dilarang. Jadi, jangankan ekstrem, melampaui yang porposional saja tidak boleh. Di dalam hadis juga banyak dikatakan hal itu.

Maka kalau kita melawan ektremisme, radikalisme yang  melahirkan tindakan destruktif tersebut, menurut TGM, sesungguhnya kita tengah menjalankan amanat Allah dan Rosul. Ini norma agama. Tentu juga ada norma sosial dan lainnya yang mendukung hal itu.

Lantas bagaimana mencegah ekstremisme atau radikalisme ?

“Kita mesti intervensi dalam pendidikan. (Kita kaji) dalam materi-materi pendidikan kita itu apa saja yang dimasukkan. Materi-materi keislaman yang kita ajarkan di semua jenjang pendidikan harus kita sisir, “ harapnya

“Tidak ada artinya kita bernarasi di webinar, juga bicara di kalangan intelektual kalau ternyata ada benih-benih atau hal-hal yang sebaliknya yang kita tanamkan.“

Kalau ada materi-materi yang mengandung muatan ekstremisme atau radikalisme, maka 10 atau 20 tahun lagi mereka, anak-anak itu akan menjadi orang-orang yang ekstrem. Hal ini, saya kira memungkinkan kita untuk kerja bersama, baik Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, institusi negara serta BNPT.

Kita sisir semua materi pengajaran yang kita asupkan kepada anak didik kita dan pastikan tidak mengandung pengajaran tentang ekstremisme. Misalnya intoleransi. Pokoknya yang beda, bukan teman, jangan sampai ada yang seperti itu yang diajarkan kepada anak didik kita.

Ingat pula dalam ranah sosial Islam mengajarkan litaaruf, prinsip saling mengisi, prinsip kolaborasi, dan prinsip saling menghomati, bahkan menunjukkan yang terbaik.

Kedua, para guru yang mengajar agama harus memiliki kualifikasi pemahaman Islam yang moderat. Kalau di pesantren hal itu sudah otomatis. Mereka sudah khatam, dan mereka yang mengajar itu diketahui oleh kiainya. Bukan hanya pemahaman nomatifnya, tapi internalisasi nilai-nilai yang dicontohkan.

Ketiga, mengaitkan akidah dengan ahlak. Bahwa implementasi dari keberagamaan itu akan  tercermin dengan ahlak yang mulia.

Sebelumnya, Wakil Rektor UMI Prof Dr Hattah Fattah juga bicara masalah ekstremisme atau radikalisme. Menurut wakil Rektor UMI bidang kerjasamama dan promosi ini, ekstremisme dan radikalisme telah berkembang di semua agama dan di seluruh negara sehingga hal ini menjadi perhatian yang harus kita tanggulangi bersama. (isw)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.