Workshop ‘Film & Creatifity’ , Jangan Fokus pada Kendala, tapi Fokus pada Peluang

 Workshop ‘Film & Creatifity’ , Jangan Fokus pada Kendala, tapi Fokus pada Peluang

Deddy Mizwar (foto Instagram)

JAYAKARTA NEWS—Semua orang bisa buat film. Dengan telepon genggam, kini orang beramai-ramai bikin film pendek. Durasi 3 menit atau 7 menit, tak soal. Enggak usah rumit-rumit. Asal ceritanya bagus dan unik, jadi.

“Dulu, orang buat film pakai celluloid. Kini, gampang. Ambil hp Anda, jadilah. Enggak ada larangan bikin film,” kata sutradara dan pemain film, Deddy Mizwar dalam acara workshop ‘Film and Creativity’ di hadapan santri yang dibina oleh iHaqi pimpinan ustad Erick Yusuf.

Kendala? “Jangan fokus pada kendala, tapi fokus pada peluang dan gagasan,” lanjut Deddy. Kendala itu masalah kecil. Kalau memikirkan kendala terus, akhirnya enggak jadi bikin film.

Kalau film sudah jadi, enggak ada yang nonton atau dilihat hanya 1 orang ?
“Bikin terus film, meski yang nonton hanya 1 orang. Namun, penonton 1 orang itu sudah membawa kebahagiaan dan manfaat bagi orang lain,” beber Deddy tangkas.

Film itu kerja kolektif. Steven Spielberg itu sutradara hebat. Tapi, dia selalu bilang, ada penulis skenario dan juru kamera yang jauh lebih hebat dari dia. Tanpa mereka, dirinya bukan siapa-siapa

Benarkah nonton film itu mudharat dan dosa? “Bagi sineas yang beriman, adab harus ada. Tak hanya estetika, tapi juga ada etika. Membuat film berhubungan dengan akhlak dan ini harus dijaga betul,” ungkap Deddy lagi.

Membuat film harus membawa manfaat, bukan mudharat. “Jangan takut membuat film. Film juga bisa menjadi alat dakwah yang ampuh,” tuturnya.

Kenapa film kita hanya sedikit penontonnya, sementara film Barat membludak? “Keadaan sudah berbalik kini. Penonton semakin kritis dan hanya mau nonton film nasional yang bermutu. Film Barat laku ya wajar. Mereka promosinya hebat. Dulu kala, telenovela dan drakor (drama Korea) disukai publik.

Di era milenial kini, orang-orang baik beriman jangan terus berdiam diri. Jadi rusak dunia. Sudah saatnya mereka ngomong dan membahas seni yang beradab,” imbuh sutradara ‘Naga Bonar Jadi Dua’ dan ‘Para Pencari Tuhan’ ini.

Film adalah cerminan dan refleksi dari realitas masyarakat. Kalau ceritanya bagus dan mengajak pada kebaikan, akan menambah pahala. Enggak dosa kok nonton film yang bagus dan bermutu.

Sedangkan sutradara Jastis Arimba ditengah kesibukan syuting film ‘Hayya 2’ di Pulau Seribu mengemukakan, film itu alat teknologi mutakhir yang diciptakan orang. “Kalau pembuatnya punya adab, pasti filmnya bagus. Film itu punya value dan bisa jadi syiar agama yang cespleng,” tegas Jastis yang pernah membuat film pendek yang terinspirasi dari Surah Al Kahfi yang diambil dari Kitab suci Al Quran.

Apa tip Anda membuat film bagus? “Kita harus bijaksana dalam mengatur waktu dan memilih cerita yang bermutu,” tandas Jastis yang kali ini menggunakan kamera underwater. Film ‘Hayya 2’ antara lain dibintangi Fauzi Baadila, Dini Aminarti, Dimas Seto dan ustad Erick Yusuf. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *