‘Naga Bonar’ Deddy Mizwar Terpilih Lagi Jadi Ketua PPFI

JAYAKARTA NEWS— Secara aklamasi dan merupakan calon tunggal, ketua petahana Deddy Mizwar akhirnya terpilih lagi jadi Ketua Umum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) untuk periode 2023 – 2028. Ini adalah kado spesial bagi dirinya yang akan nemasuki usia 68 tahun pada 5 Maret 2023 mendatang.

Dalam Kongres PPFI ke XXI, Deddy Mizwar yang kerap dijuluki ‘Jenderal Naga Bonar’ memang menjabat sebagai produser di Demi Gisela Film bersama istrinya, Giselawati. Selain itu, Deddy Mizwar juga berprofesi sebagai sutradara, pemain film dan politikus.

Dalam sambutannya, Deddy Mizwar berjanji akan mengadakan dialog dengan pihak terkait ihwal masih banyaknya produksi film nasional yang belum tayang di bioskop akibat pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia.

“PR kita belum usai. Tapi kita salut kepada seluruh insan film, bahwa produksi dan syuting film masih terus jalan,” ucap mantan Ketum Badan Perfilman Indonesia 2006-2009 ini.

Secara khusus pula Deddy Mizwar memaparkan, film adalah media efektif untuk memengaruhi pola pikir banyak masyarakat.

“Realisasinya, sistem tata edarnya harus baik. Dan segenap insan film bersama lembaga-lembaga perfilman bisa bersatu untuk bekerjasama membuat film yang baik dan bermutu guna kemajuan dunia perfilman nasiional. Kita harus mendorongnya,” urai Deddy Mizwar optimis.

Selepas menjabat sebagai Wagub Jawa Barat, Deddy sama sekali tak bisa menghilang dari ranah politik. Kali ini, Deddy dipercaya menduduki bidang Seni dan Budaya dalam Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) yang lolos verifikasi peserta Pemilu 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Politik secara santun dan demokratis saya tekuni dari dulu (Deddy Mizwar sebelumnya aktif di Partai Demokrat). Saya ingin mempertunjukkan seni politik yang luber dan jurdil,” beber mantan pegawai di Dinas Kesehatan DKI ini.

Siap bertugas di seni budaya/film dan politik, Jenderal Naga Bonar ! (pik)

PWI dan PPFI Dukung FFWI

JAYAKARTA NEWS – Begitu diluncurkan Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XI di Jakarta, sambutan mengalir dari berbagai pihak. Baik dari organisasi wartawan maupun dari organisasi film.

Atal S Depari selaku Ketum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyambut baik penyelenggaraan FFWI XI yang akan dihelat tanggal 28 Oktober 2021 di Jakarta. “PWI Pusat menyambut positif FFWI XI. Ini berarti wartawan ikut berkontribusi atas perfilman nasional,” kata Atal S Depari.

Wartawan senior harian Suara Karya ini mengemukakan, perjuangan dan kiprah wartawan kita terhadap perkembangan seni budaya khususnya film ini sangat besar. “Sejak era bapak Usmar Ismail hingga sekarang, jasa dan kiprah wartawan tak bisa dilupakan begitu saja,” beber Atal S Depari.

Di pihak lain, Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Deddy Mizwar mengaku juga mendukung penuh FFWI XI. “Makin banyak festival film, makin bagus kualitasnya,” urai pemeran Naga Bonar ini.

Ini menandakan perkembangan film nasional berjalan ke arah lebih baik. “Saya percaya dan yakin, bangkitnya perfilman Indonesia berarti bangkitnya seni budaya Indonesia. Ini harus kita jaga dan rawat,” imbuh mantan Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) ini.

Deddy Mizwar juga menambahkan, meski negara kita sedang dilanda pandemi yang kapan berakhirnya, kalangan wartawan tetap menjalankan tugasnya dengan menggelar FFWI. “Semoga secara teratur, wartawan tetap bisa menggelar ajang festival yang positif ini setiap tahunnya,” demikian Deddy Mizwar menutup bincang-bincang ini. (pik)

Produser Film Harus Gercep

JAYAKARTA NEWS – Ontran-ontran (kegaduhan) bioskop yang tutup akibat pandemi dibahas lagi. Apakah stok film nasional yang bagus berkurang sehingga penonton malas ke bioskop ? Atau ada sebab lain ? “Produser film harus ‘gercep’ (gerak cepat),” lontar CEO MD Pictures, Manoj Punjabi dalam webinar bertopik ‘bisakah industri film Indonesia digantikan platform digital OTT’ secara daring, Senin (5/4).

Acara diskusi ini digelar oleh Kreasi (Koperasi Seniman Indonesia) pimpinan Rudi Aryanto dan MIKTI. Dikatakannya, saat ini, produser dan sutradara harus melakukan sesuatu ide yang kreatif guna menghidupkan kembali bioskop. Produser yang punya uang harus cari jalan yang jitu agar penonton memenuhi gedung bioskop, meski sementara masih dibatasi dengan peraturan hanya 50 % penonton.

Manoj Punjabi yang sukses membuat film ‘Habibie’ sampai 3 seri ini mengaku bahwa hampir 98% bisnis hiburan – termasuk film – ini mengalami kerugian besar. Hanya 2% yang untung. “Tapi para pekerja film enggak boleh mengeluh. Pemerintah bantu promosinya. ‘Brand image’ harus kita jaga betul,” beber Manoj.

Setelah Presiden Jokowi divaksinasi agar timbul ‘herb immunity’, masyarakat mengikuti. Nah, ini citra yang positif dan baik. Atasan dari Menteri dan stafnya mengajak nonton bareng (nobar) film nasional yang bagus. Nonton film di bioskop enggak kena virus Covid kok. Asal kita patuh menerapkan 3 M. Ihwal MD Pictures yang menjual film barunya ‘Surga Yang Tak Dirindukan 3’ ke Disney Hot Star dan tidak tayang di bioskop, Manoj jujur mengakuinya.

“Produser harus survive. Film yang tayang di OTT (Over The Top, layanan multi media yang berjalan melalui jaringan internet) harus punya nilai lain. Art dan komersial. Saya sudah mematok film ke OTT,” urai Manoj lagi. Apa anda mau meninggalkan bioskop dan pindah ke OTT? “Enggak juga. Saya masih menanti timing yang tepat untuk film-film saya main di bioskop. Saya yakin bioskop akan kembali bangkit. OTT? Kita harus ada balance. Ada limit,” tegasnya.

Kiat ‘ada kemauan dan strategi’ harus terus dijalankan. Kombinasi berbisnis di dua kaki (bioskop dan OTT) di saat pandemi saat ini harus terus dijalankan. “Prinsip ‘movie going habit’ saya lihat masih besar di masyarakat Indonesia, asal filmnya bagus sekaligus komersial. Orang film banyak peluang,” imbuh Manoj. Pendapat senada dilontarkan produser dan sutradara Deddy Mizwar.

“Saya lihat di masyarakat ada kerinduan datang dan nonton film ke bioskop. Asal filmnya bagus dan bermutu, oke. Kalau filmnya jelek, dibayar pun penonton ogah,” urai Deddy Mizwar yang Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Bagaimana membuat film laku dan ditonton jutaan orang sehingga ‘box office’, Deddy Mizwar tidak tahu rumusnya.

“Doktor pun enggak tahu rumusnya. Seorang Steven Spielberg juga enggak paham. Yang penting, saya buat ceritanya bagus, bisa diterima akal sehat dan akting pemain enggak mengecewakan, pasti bakal disukai penonton. Kalau ada rumus bikin film pasti laku, pasti deh semua orang bikin film,” timpal Deddy Mizwar yang sudah membuat 14 session series ‘Para Pencari Tuhan’ (PPT) ini.

Ditambahkan, hal positif saat gonjang-ganjing pandemi yang memorakporandakan industri perfilman ini adalah hanya satu : kembalikan kepercayaan penonton. Pemerintah harus bantu dengan meringankan stimulus pajak tontonan dan bea masuk. Sehingga kalau bisa, pajak 0%. Kalau ada usul tiket disubsidi, PPFI akan menolak. Ini enggak sehat.

Saat ini, banyak masyarakat menderita,” imbuh Deddy Mizwar. Akhirnya, webinar ini dipungkasi dengan ajakan Deddy ‘Naga Bonar’ Mizwar dengan kalimat menarik : bioskop tumbuh, penonton sehat dan prokes tetap berjalan lancar. Ehm. (pik)

Workshop ‘Film & Creatifity’ , Jangan Fokus pada Kendala, tapi Fokus pada Peluang

JAYAKARTA NEWS—Semua orang bisa buat film. Dengan telepon genggam, kini orang beramai-ramai bikin film pendek. Durasi 3 menit atau 7 menit, tak soal. Enggak usah rumit-rumit. Asal ceritanya bagus dan unik, jadi.

“Dulu, orang buat film pakai celluloid. Kini, gampang. Ambil hp Anda, jadilah. Enggak ada larangan bikin film,” kata sutradara dan pemain film, Deddy Mizwar dalam acara workshop ‘Film and Creativity’ di hadapan santri yang dibina oleh iHaqi pimpinan ustad Erick Yusuf.

Kendala? “Jangan fokus pada kendala, tapi fokus pada peluang dan gagasan,” lanjut Deddy. Kendala itu masalah kecil. Kalau memikirkan kendala terus, akhirnya enggak jadi bikin film.

Kalau film sudah jadi, enggak ada yang nonton atau dilihat hanya 1 orang ?
“Bikin terus film, meski yang nonton hanya 1 orang. Namun, penonton 1 orang itu sudah membawa kebahagiaan dan manfaat bagi orang lain,” beber Deddy tangkas.

Film itu kerja kolektif. Steven Spielberg itu sutradara hebat. Tapi, dia selalu bilang, ada penulis skenario dan juru kamera yang jauh lebih hebat dari dia. Tanpa mereka, dirinya bukan siapa-siapa

Benarkah nonton film itu mudharat dan dosa? “Bagi sineas yang beriman, adab harus ada. Tak hanya estetika, tapi juga ada etika. Membuat film berhubungan dengan akhlak dan ini harus dijaga betul,” ungkap Deddy lagi.

Membuat film harus membawa manfaat, bukan mudharat. “Jangan takut membuat film. Film juga bisa menjadi alat dakwah yang ampuh,” tuturnya.

Kenapa film kita hanya sedikit penontonnya, sementara film Barat membludak? “Keadaan sudah berbalik kini. Penonton semakin kritis dan hanya mau nonton film nasional yang bermutu. Film Barat laku ya wajar. Mereka promosinya hebat. Dulu kala, telenovela dan drakor (drama Korea) disukai publik.

Di era milenial kini, orang-orang baik beriman jangan terus berdiam diri. Jadi rusak dunia. Sudah saatnya mereka ngomong dan membahas seni yang beradab,” imbuh sutradara ‘Naga Bonar Jadi Dua’ dan ‘Para Pencari Tuhan’ ini.

Film adalah cerminan dan refleksi dari realitas masyarakat. Kalau ceritanya bagus dan mengajak pada kebaikan, akan menambah pahala. Enggak dosa kok nonton film yang bagus dan bermutu.

Sedangkan sutradara Jastis Arimba ditengah kesibukan syuting film ‘Hayya 2’ di Pulau Seribu mengemukakan, film itu alat teknologi mutakhir yang diciptakan orang. “Kalau pembuatnya punya adab, pasti filmnya bagus. Film itu punya value dan bisa jadi syiar agama yang cespleng,” tegas Jastis yang pernah membuat film pendek yang terinspirasi dari Surah Al Kahfi yang diambil dari Kitab suci Al Quran.

Apa tip Anda membuat film bagus? “Kita harus bijaksana dalam mengatur waktu dan memilih cerita yang bermutu,” tandas Jastis yang kali ini menggunakan kamera underwater. Film ‘Hayya 2’ antara lain dibintangi Fauzi Baadila, Dini Aminarti, Dimas Seto dan ustad Erick Yusuf. (pik)

PPFI Desak Pemerintah Terbitkan Protokol Kesehatan Industri Film

JAYAKARTA NEWS— Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) mendesak pemerintah cq Kementerian Kesehatan segera menerbitkan protokol kesehatan untuk industri perfilman. “PPFI tak punya  wewenang melarang syuting film dan sinetron. Kami hanya mengimbau dan mengingatkan agar insan-insan film menaati protokol kesehatan. Yang punya wewenang ada Pergub yang mengatur sanksi bagi pelanggar PSBB,” ujar Ketua Umum PPFI, Deddy Mizwar dalam konperensi pers di aplikasi zoom.

Alhasil, PPFI tidak bisa mengiyakan maupun melarang syuting film. “Itu urusan pemerintah,” imbuh Deddy Mizwar yang didampingi pengurus PPFI yang lain, Zairin Zain, Manoj Punjabi, Ilham Bintang dan Wina Armada Sukardi.

Sedangkan Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) PPFI, Ilham Bintang mengemukakan, berdasar penilaian WHO, kurva korban pandemi C19 di Indonesia masih cukup tinggi, kurvanya belum melandai.

Ilham BIntang— foto instagram

“Ini jadi dilema bagi  PPFI, maju kena mundur kena,” timpal Ilham Bintang.

Deddy Mizwar melanjutkan, PSBB bikin industri film kolaps. “Ada 2 hal  yang jadi concern PPFI yaitu protokol kesehatan segera diterbitkan dan momen yang sudah dibolehkan oleh pemerintah untuk beraktivitas kembali. Mohon insan film diberikan petunjuk kapan waktu yang tepat untuk syuting film bisa dimulai. Agar ekonomi bisa pulih kembali, segerakan protokol kesehatan khusus untuk produksi dan pertunjukan film di bioskop bisa dimulai lagi,” ungkap Deddy Mizwar.

Manoj Punjabi menimpali agar PSBB jangan jadi simalakama dimana kita syuting umpet-umpetan. Selama ini aturannya abu-abu. Kami imbau pemerintah punya sikap yang jelas,” tandas Manoj Punjabi. (pik)

Ketum PPFI Deddy Mizwar Kunjungi Lembaga Sensor Film

JAYAKARTA NEWS— Deddy Mizwar kembali ke khittah, yaitu dunia film. Ia menjadi Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) menggantikan Firman Bintang yang habis masa jabatannya. Sebagai pengurus baru PPFI, baru-baru ini mengunjungi Lembaga Sensor Film (LSF) guna berdialog dan mengkonfirmasikan sejumlah hal dengan anggota.

“Sebagai pengurus baru, PPFI ingin silaturahmi dengan semua mitra dan sekaligus minta kejelasan beberapa hal,” ujar Deddy Mizwar.

Pertemuan secara kekeluargaan tetapi substansi pembahasan berlangsung terbuka  dan hangat. Hasil pertemuan akan dijadikan bahan sosialisasi kepada anggota PPFI dalam masukan perbaikan UU Perfilman. Ketua LSF, Achmad Yani Basuki menyambut baik kunjungan ke LSF.

“Konteks-konteks dalam sebuah budaya dalam film sehingga LSF senantiasa berhati-hati dalam mengutamakan  dialog dengan pemilik  film. Itu aturannya. Kami di LSF menghindari adanya beda tafsir antara staf pemilik film dengan pemilik filmnya sendiri,” urai Achmad Yani Basuki.

Sementara PPFI mengusulkan adanya dialog rutin tiap bulan dengan LSF dengan pemilik perusahaan, produser dan sutradara film. Sehingga dapat dikurangi beda persepsi tentang mana yang boleh dan tidak boleh dalam koridor LSF.

“Kami dari PPFI akan bertemu Komisi DPR yang membawahi film,” pungkas Deddy Mizwar. Rombongan PPFI juga didampingi Zairin Zain (Sekjen), Wina Armada Sukardi (Ketua Organisasi dan Hukum). Dari LSF hadir Doddy Budiman (Wakil Ketua), dengan anggota Rommy Fibri, Sanggupri dan Sudana Dipwikarata. (pik)

Gading Marten Siap Jadi Nagabonar

PERNAH menjadi film yang populer pada masanya, Nagabonar rencananya akan dibuat ulang lagi. Film yang diproduksi tahun 1980-an tersebut memang menjadi salah satu film yang sangat ikonik dengan pemeran utamanya Deddy Mizwar.

Film yang diberi nama Nagabonar Reborn tersebut rencananya siap diproduksi di bulan Juli dan Agustus di kota Medan dan sekitarnya. “Kami siap memproduksi film Nagabonar Reborn bulan Juli mendatang dan mudah-mudahan akhir tahun ini sudah beredar di seluruh bioskop di Tanah Air,” ujar Trimedya Panjaitan, selaku produser Gempita Tjipta Perkasa saat syukuran dimulainya film yang dibintangi Gading Marten dan Citra Kirana.

Trimedya berjanji film Nagabonar Reborn akan diproduksi berbeda dari film sebelumnya yang diproduksi tahun 1987. Untuk itu selaku produser, pengacara kondang ini menggandeng sutradara dan produser yang sukses menggarap film Nightbus Darius Sinathrya dan Sutradara terbaik FFI Emil Heraldi.

“Kami bersepakat untuk menggarap film yang berkualitas tapi juga komersial. Sehingga film ini bisa meraih banyak penonton, ” jelas Trimedya di sela acara syukuran.

Sebagai produser pelaksana Darius mengaku tertantang untuk mengarap film yang sudah populer dan ikonik. “Tantangannya, kami harus membuat film yang lebih bagus dari film sebelumnya. Makanya kami pilih kru dan artis yang sudah terjaga kualitasnya,” ujar Darius Sinathrya.

Gading Marten yang dipercaya oleh Junimart Girsang salah satu produser GTP untuk memerankan Nagabonar mengaku tersanjung. Apalagi papahnya aktor senior Roy Marten langsung setuju ketika putranya menyampaikan kalau ia ditawari sebagai Nagabonar.

“Papah langsung setuju, dan menyarankan agar saya tidak menonton film Nagabonar yang dimainkan Om Deddy Mizwar, supaya saya nggak terpengaruh,” ujar suami Gisella Anastasia ini.

Gading berjanji akan main maksimal, dan menjadi diri sendiri. Risiko main film yang pernah sukses oleh orang lain, bukannya tidak ada. “Main bagus pasti akan dibanding-bandingin. Apalagi jelek, dan saya sudah menyiapkan mental itu,” tukas Gading Martin. ***

Ridwan Kamil, Dipasangkan dengan Siapa pun Paling Unggul

JELANG pendaftaran resmi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tanggal 8 dan 9 Januari 2018, belum satu pasangan pun mendaftarkan diri. Memang, sudah berseliweran bakal calon, maupun partai politik mendeklarasikan calonnya. Tetapi, belum satu pun yang pasti. Bahkan, partai pemenang pilkada di Jawa Barat, PDI Perjuangan (memiliki lebih dari 20 anggota di DPRD Jabar), hingga berita ini diturunkan, masih menutup rapat siapa bakal calon gubernur-wakil gubernurnya.

PDIP memang memiliki jumlah kursi yang cukup untuk memasukan pasangan calonnya, tanpa harus berkoalisi. Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri yang memiliki keputusan mutlak untuk menentukan siapa yang bakal dimajukan, dikabarkan Kamis (4/1) bakal mengumumkan calonnya di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta.

Kiranya, publik masih harus bersabar menunggu strategi parpol-parpol pengusung bakal calon. Meski begitu, menarik kalau kita mencermati sejumlah catatan yang dihimpun Jayakartanews berikut ini.

Catatan Pertama: Pada awal tahun 2017 hingga akhir 2017 berbagai lembaga survei tingkat nasional menyimpulkan nama Walikota Bandung Ridwan Kamil memiliki tingkat elektabilitas dan pupularitas tertinggi (rata-rata di atas 60%). Pencapaian ini sulit dibendung oleh balon para rivalnya sekalipun calon petahana Wagub Deddy Mizwar maupun Ketua DPD Golkar Jawa Barat yang juga Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi yang angka rata-rata popularitas dan elektabilitasnya di kisaran 20 dan 30 persen.

Menjelang bulan-bulan terakhir tahun 2017, banyak terjadi drama dan akrobat politik di tatar Sunda. Di antaranya, Ridwan Kamil, yang semula diusung Partai Nasdem, PPP, PKB, dan Partai Golkar, mendadak berubah. Pasca Setya Novanto ditahan KPK, kemudian Ketua Umum beralih ke Erlangga Hartarto melalui Munaslub, mendadak dukungan kepada Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil dicabut. Tak lama kemudian, Dedi Mulyadi, Ketua DPD Golkar Jabar, dideklarasikan Golkar untuk maju menjadi calon gubernur Jabar atau wakil gubernur Jabar.

Akhir tahun 2017, perpecahan pasangan bakal calon terjadi antara Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu yang diusung PKS dan Partai Demokrat. Ahmad Syaikhu yang merupakan Ketua DPW PKS Jawa Barat dan saat ini menjabat Wakil Walikota Bekasi, adalah calon PKS. Mendadak pucuk pimpinan PKS ditarik dari Deddy Mizwar, dan dipasangkan dengan balon Gubernur Mayjen TNI Sudrajat yang diusung Partai Gerinda dan PKS. Pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu bahkan sudah dideklarasikan oleh Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto, dan Presiden PKS Sohibul Iman.

Sementara, Deddy Mizwar yang diusung Partai Demokrat, berencana “kawin cepat-kawin kapaksa” dengan membuat poros baru, yang disebut koalisi “sejajar”. Kabarnya, ia akan dijadikan pasangan “double DM” alias Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. Tapi kalau toh kabar itu benar, juga belum jelas siapa di posisi cagub, dan siapa yang menjadi cawagub.

Catatan Kedua: Pada awal tahun 2018, menjelang pendaftaran resmi Cagub/Cawagub  tanggal 8 dan 9 Januari 2018, direncanakan hari Kamis 4 Januari 2018 Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri berencana mengumumkan bakal calon Gubernur dan wakil Gubernur yang diusung oleh PDI-P. Banyak bermunculan spekulasi nama. Di antaranya menyeruak nama balon Ridwan Kamil (Walikota Bandung) yang akan dipasangankan dengan Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal, dan atau dipasangkan dengan Mayjen (Pur) TB Hasanudin (Ketua DPD PDIP Jabar) atau Irjen Pol Anton Charliyan (mantan Kapolda Jabar), atau Iwa Kartiwa yang saat ini menjabat Sekwilda Jawa Barat. Ada juga yang menyebutkan PDI-P akan mengusung calon sendiri (karena kuotanya cukup) walau banyak pihak menepis kemungkinan itu, mengingat PDI-P belum punya calon yang terbilang hebat dan kuat.

Catatan Ketiga: Pilkada Jabar diperkirakan bakal diikuti tiga pasangan, terdiri dari pasangan yang diusung Partai Gerindra, PKS, dan PAN. Pasangan kedua diusung oleh PDI-P, Nasdem, PKB, PPP, dan Hanura. Adapun pasangan ketiga yang diusung Golkar-Demokrat. Kemungkinan keempat, meski kecil kemungkinannya adalah PDI-P mengusung calon sendiri.

Sementara berdasarkan hasil survei berbagai lembaga survei nasional, nama Ridwan Kamil dipasangkan dengan siapa pun wakil gubernurnya, elektabilitas dan popularitasnya selalu di atas kandidat lain. Ia juga termasuk calon terpopuler di mata anak muda serta kaum netizen. Di pusat kota, di kampung-kampung, nama Kang Emil paling populer. ***

Grand Opening Dee Cinema Didemo Warga dan Ulama

Kiri: Poster grand opening Dee Cinema tanggal 22 Desember 2017. Kanan pemilik Dee Cinema, Dheraaj.

RIBUAN warga Cipanas yang tergabung dalam beberapa organisasi masyarakat (Ormas) Islam menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung bioskop Dee Cinema. Dalam tuntutannya para demonstran tersebut mendesak pihak terkait untuk segera menutup aktivitas bioskop tersebut.

Aksi demonstrasi tersebut dilakukan bersamaan dengan acara grand opening Dee Cinema di kampung Ciloto, Desa Ciloto, Kabupaten Cianjur ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa-Barat, Deddy Mizwar dan beberapa Artis Ibu kota.

Sementara itu, salah satu koordinator aksi menyampaikan, aksi protes teersebut mereka lakukan karena warga merasa dibodohi oleh pemilik bioskop Dee Cinema. Pasalnya, izin pendirian yang mereka sosialisasikan kepada masyarakat hanya untuk membangun Cafe dan sarana permainan anak-anak. “Kenapa sekarang tiba-tiba menjadi gedung bioskop,” katanya kepada para awak media, Jumat (22/12/2017), saat grand opening Dee Cinema.

Dia juga menjelaskan, di samping izinnya yang dinilai banyak menemukan kejanggalan mulai dari proses izin sampai keluarnya izin, tempat ibadah pun menjadi pertimbangan, mengingat sarana ibadah belajar-mengajar agama dan shalat sangat berdekatan dengan gedung tersebut.

“Coba Anda pikirkan, masa di depan masjid jami Al ikhsan Ciloto ada bioskop. Sdah begitu posisinya pun menghadap arah kiblat,” jelasnya. KK Dheeraj dari pihak bioskop Dee menyanggah bioskop Dee untuk tempat maksiat. “Ini bioskop milik semua warga Cianjur,” katanya.

Di saat saat bersamaan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, langsung turut hadir untuk memediasi antara warga dan perusahaan. Ia menilai kalau izin bioskop tersebut diduga menyalahi aturan. Untuk itu, kata Deddy harus dilakukan proses hukum siapa saja yang bermain dengan izin, dari pihak perusahaankah atau pegawai dinas perizinan. “Secara birokrasi ini bukan wewenang saya, ini otonominya daerah,” kilahnya.

Demiz panggilan akrab aktor gaek yang jadi pejabat itu pun berjanji akan menindaklajuti aduan tersebut, supaya cepat direspon Bupati Cianjur. “Nanti akan saya telepon bupatinya, supaya dievaluasi kembali izinnya, benar apa tidak prosesnya,” tutup Demiz. ***

Ridwan Kamil, Tidak Obral Janji dan Obral Gigi

Ridwan Kamil saat dideklarasikan oleh Partai Nasdem. Kanan: Solihin GP (Mang Ihin).

SESEPUH Jawa Barat Solihin GP (Gubernur Jabar 1970-1974) dengan tegas mendukung Ridwan Kamil dalam Pilkada Jabar 2018. ”Ridwan Kamil tidak punya sifat merusak Jawa Barat, juga tidak punya sifat ngabangsat, tidak korupsi. Dia sudah kerja dan sudah terbukti, alias bukan pejabat yang hanya obral janji dan obral gigi,” ujarMang Ihin, sapaan akrabnya.

Dalam perbincangan siraturahmi antara Kang Emil dan Mang Ihin, baru baru ini di Gedung Juang Lingkungan Hidup Tatar Sunda Jl Riau Bandung, Mah Ihin berpesan secara kusus kepada Cagub Ridwan Kamil. “Berjuanglah mempertahankanPancasila, NKRI budaya bangsa dan kebinekaan,” pesan Mang Ihin.

Dalam catatan khusus Mang Ihin, figur gubernur mendatang selain pintar, merakyat, dan dicintai rakyat, harus punya budaya Sunda “Nyunda-Nyakola-Berseka” alias Gubernur urang sunda di Tatar Sunda jangan punya sifat merusak. Dia harus welas asih, punya kecintaan dan dicintai rakyat. Harus juga nyakola, pintar bukan pura-pura pintar atau ngaku pintar padahal kurang ajar. Dan harus berseka atau harus bersih dari korupsi, alias pulang paling nagabadog uang negara.

Ridwan Kamil sudah resmi diusung Partai Nasdem, dalam Pilkada Jabar 2018. Dari dinamika yang ada terbersit Kang Emil juga akan diusung oleh PDI-P, meski belum ada pernyataan resmi dari banteng moncong putih. Sementara tokoh lainya yang bermunculan dan telah dideklarasikan “setengah resmi” adalah Deddy Mizwar (sekarang Wagub) diusung Gerindra-PKS untuk Gubernur, dan Wakilnya Netty Prasetiyani (istri gubernur Aher).

Sementara Ketua DPD Demokrat Jawa Barat Iwan Sulanjana, akan mengusung Dede Yusuf. Sementara kubu Golkar telah secara resmi medeklarasikan Bupati Purwakarta Deddy Mulyadi (Ketua DPD-Golkar Jabar). Bakal cagub yang satu ini terbilang kuat di akar rumput di Jabar pinggiran.

Dari catatan yang berkembang, Pilkada Jabar diperkirakan akan diikuti empat pasangan. Deddy Mizwar, Ridwan Kamil, Deddy Mulyadi, dan Dede Yusuf macan Effendi. Dari pantauan sementara, peluang keempatnya relatif setara. Faktor wakil gubernur akan menjadi pendorong penguatan elektabilitas.

Rumor lain yang berkembang, kalau saja Deddy Mulyadi mau “mengalah” dan menjadi Wakil Gubernur berpasangan dengan Ridwan Kamil, hampir dipastikan Pilkada Jabar “sudah selesai”. Merekalah yang bakal memenangkan Pilkada. Persoalannya, apakah mungkin? ***