Tragedi Mawar Melati

 Tragedi Mawar Melati
Ibu-ibu kader Pekka (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga) berfoto bersama usai mengikuti pelatihan menulis dengan fasilitator wartawan senior, Roso Daras (depan, dua dari kiri). (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Miris mendengar kisah-kisah tragis yang dipaparkan kader-kader Pekka (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga). Sebelas orang wanita tangguh dari Lombok, Aceh, dan Cianjur berkumpul di Pusdiklat Alta Karya di Kampung Pondok Gede, Desa Sukamanah, Kabupaten Bogor untuk mengikuti Lokakarya Nasional Pengelolaan Pengetahuan Berbasis Pengalaman Perempuan untuk Memperjuangkan Keadilan dalam Keluarga, tanggal 4 – 7 April 2019).

Dari berbagai daerah di Tanah Air, terpapar kisah-kisah pilu derita wanita muda Indonesia. Sebagian mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebagian lagi kasus pernikahan dini, dan sebagian lainnya kasus seks pra nikah yang berujung derita.

Seorang peserta dari Cianjur mengisahkan derita gadis, sebut saja Mawar namanya. Siswa SMK yang masih berusia 16 tahun, dan tinggal di bilangan Pacet, terjerumus dalam hubungan seks pranikah dengan teman pria sebaya, sebut saja Asep. Mawar pun berbadan dua. Celakanya, ia tidak menyadari ihwal janin yang tumbuh di rahimnya.

Sehari-hari, Mawar tetap sekolah. Bahkan, ketika perut membesar, badan menggemuk, ia tetap tidak tahu kalau dirinya hamil. Tak pelak, saat teman sekolah mempertanyakan tubuhnya yang gemuk, Mawar cuek. Tabir terkuak manakala ibunya curiga, dan membawanya ke Puskesmas. Doker yang memeriksa pun menyampaikan kabar petaka, anaknya sudah hamil tujuh bulan.

Sontak sang ibu mendatangi rumah Asep, dan meminta untuk menikahi Mawar. Karena usia masih di bawah umur, mereka dinikahkan secara siri. Kurang lebih dua bulan kemudian, bayi laki-laki buah cinta terlarang Asep dan Mawar pun lahir. Setelah bayi lahir, Asep justru disuruh ibu mertua menceraikan Mawar, hingga remaja 16 tahun itu pun menyandang status janda dengan masa depan yang suram.

Kisah lain diwartakan kader Pekka dari Pidie, Aceh. Mirip dengan Mawar, gadis Aceh, sebut saja Melati pun hamil di luar nikah. Kisahnya lebih tragis. Meski tahu anak gadisnya hamil, pihak keluarga Melati menolak menikahkan anaknya yang masih bocah. Tapi ironis, saat si jabang bayi telah lahir, Melati diusir dari kampung.

Yang mengusir tak tanggung-tanggung, para sesepuh kampung di desanya. Dalihnya adalah peraturan adat yang (akan) disahkan menjadi Peraturan Desa (Perdes). Tujuannya adalah membuat remaja jera dan tidak melakukan perbuatan terlarang itu. Syahdan, saat bayi lahir, Melati pun harus menggendong bayi merah itu keluar dari desanya. Kini, Melati tak ketahuan rimbanya.

Cerita dari Lombok lebih mengiris hati. Gadis SMP umur 14 tahun, sebut saja Kamboja minta dikawinkan dengan pacarnya yang sebaya, sebut saja Bujang. Karuan saja orang tua kedua bocah itu tidak setuju. Tapi karena Kamboja pernah menginap di rumah Bajang, maka ia pun di-bully teman-temannya. Tak kuat menahan bully-an teman-teman, Kamboja nekad kabur ke rumah Bajang, dan memaksa minta dinikahkan.

Menikahlah dua bocah umur 14 tahun itu. Empat bulan menikah, Kamboja hamil. Problem mulai muncul. Kamboja dan Bajang mulai sering bertengkar. Bahkan tak jarang baku-pukul. Maklum, mereka masih bau kencur. Ujung cerita pun bisa ditebak, Kamboja dan Bajang bercerai. Tak kuasa menahan malu, Kamboja kabur ke Maluku. Entah apa yang ia kerjakan di sana.

Masih banyak cerita sejenis, yang semuanya tersaji dalam laporan kader Pekka. Laporan-laporan berupa data kering itulah yang Jumat (5/4/2019) kemarin dibedah dalam format pelatihan menulis. Pekka menghadirkan jurnalis senior, Roso Daras sebagai fasilitator. Pelatihan dijadwalkan mulai pukul 09.00 sampai 17.00 WIB. Saking semangatnya peserta, pelatihan berlanjut hingga malam, setelah di-break sholat maghrib.

Dalam sesi latihan di tempat yang begitu sejuk, suasana pun menjadi hangat. Satu per satu peserta membacakan tulisannya yang sudah dipoles. Kini, laporan itu tidak lagi berbentuk kalimat-kalimat lurus, melainkan lebih berwarna-warni. Bahkan tidak sedikit yang berbunga-bunga. Seorang peserta dari Aceh bahkan nyeletuk, “Jadi ingat waktu menulis surat cinta dulu…..” (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *