Kabar
Tolak Bala pada Bayi
Gde Mahesa
Kehadiran bayi sebagai anggota keluarga baru tentu sangat dinantikan keluarga. Di Indonesia dengan latar belakang tradisi budaya yang kental, masih banyak masyarakat menjalankan ritual adat, atas kehamilan seorang perempuan.
Tradisi tolak bala untuk bayi di berbagai daerah umumnya bertujuan memohon keselamatan, kesehatan, dan perlindungan dari gangguan gaib atau penyakit. Simbolisasinya acap melalui doa bersama, sesajen, atau ritual lain. Aktivitas ini sering dikaitkan dengan nilai sosial-budaya seperti silaturahmi, gotong royong, dan sedekah, yang diyakini dapat menolak bala.
Sejarah panjang ritual tolak bala di Indonesia bermula sejak zaman animisme dan dinamisme. Sudah eksis ketika masyarakat percaya bahwa setiap benda memiliki roh atau kekuatan gaib. Mereka berusaha hidup berdampingan dengan alam dan makhluk halus melalui ritual-ritual tertentu, termasuk ritual untuk menjauhkan diri dari bencana dan penyakit.
Hal sederhana dan sering dijumpai di masyarakat, ibu hamil ataupun bayi yang baru lahir memasang peniti yang dikaitkan gunting lipat dan semacam rempah yang bernama bangle. Menurut kepercayaan masyarakat, benda-benda tersebut sebagai penangkal untuk mencegah agar tidak mudah tertular berbagai penyakit dan sebagai pelindung dari gangguan makhluk halus.
Tradisi unik masyarakat Jawa dalam momen kelahiran bayi sarat akan makna dan nilai budaya, hadirnya anggota baru dalam keluarga, tetapi juga menunjukkan kolaborasi budaya asli dengan ajaran Islam yang diwariskan sejak zaman Walisongo.

Beberapa tradisi tolak bala untuk bayi di berbagai daerah:
- Among-Among Weton (Jawa): Dilaksanakan setiap hari weton bayi hingga umur 8 bulan, berupa syukuran dan pembagian makanan (nasi tumpeng, sayuran, lauk) untuk mendoakan keselamatan.
- Menimbang Bayi (Suku Tidung, Kaltara): Bayi yang lahir di bulan Safar ditimbang menggunakan bahan sayuran dan makanan tradisional imbiuku untuk menghindari bala.
- Selapanan (Jawa): Upacara selapanan pada usia 35 hari, yang sering disertai pemotongan rambut dan doa, bertujuan melindungi bayi dari hal-hal negatif.
- Bubur Sengkolo (Jawa): Penyajian bubur merah putih (jenang sengkolo) sebagai simbol tolak bala untuk menghindarkan bayi dari musibah.
- Puputan (Yogyakarta): Ritual pemotongan tali pusar, yang diiringi dengan sesajen seperti jenang abang putih untuk memohon keselamatan.
- “Amit-amit Jabang Bayi”: Ungkapan yang diucapkan saat bayi dipuji berlebihan untuk menangkal sawang (pandangan buruk).
Ada lagi tradisi meletakkan bayi yang baru lahir di atas nampan lalu dipukul-pukul nampannya (pelan-pelan) sebagai ritual adat Jawa yang masih dilakukan di beberapa daerah. Tujuannya sebagai simbol perlindungan dan pembiasaan agar bayi tidak mudah kaget ketika mendengar suara keras.
Dalam kepercayaan Jawa, suara-suara seperti pukulan, ketukan, atau bunyi logam dianggap mampu mengusir roh jahat yang mungkin mendekat ke bayi yang baru lahir. Di masa sekarang banyak keluarga yang melakukan hal ini dengan cara modern, yaitu dengan suara lembut atau bunyi musik tradisional.
Semua kegiatan ritual tradisi memiliki pesan moral dan spiritual yang mendalam, mulai dari harapan keselamatan hingga pengingat untuk senantiasa bersyukur atas karunia Tuhan. Tradisi-tradisi ini terus dilaksanakan hingga sekarang, bukan hanya karena alasan religius, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya yang mempererat hubungan sosial masyarakat.
Bullll…. Bullllll…. Klepussss……
