Connect with us

Kabar

Tiga Putri Jepara

Published

on

Dari Penegak Hukum hingga Pencerah Bangsa: Warisan Perempuan Agung dari Tanah Jepara

Oleh : Heri Mulyono

Di sebuah bundaran di Kecamatan Tahunan, Jepara, berdiri monumen setinggi 15 meter yang menampilkan tiga perempuan menghadap ke arah yang berbeda—Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA Kartini—tiga nama yang merangkum satu milenium lebih sejarah perlawanan, keadilan, dan pencerahan.

Jepara bukan sekadar kota ukir yang dikenal lewat kayu jati berukir halus. Di balik aroma serbuk kayu dan dentuman palu para perajin, kota pantai di pesisir utara Jawa Tengah ini menyimpan sejarah panjan kepemimpinan perempuan yang melampaui zamannya.

Tiga nama besar lahir, hidup, dan berjuang di tanah ini—masing-masing di era berbeda, masing-masing dengan caranya sendiri—namun ketiganya menjadi simbol tunggal: bahwa perempuan Nusantara tidak pernah menjadi sekadar penonton dalam panggung sejarah.

Ketiga tokoh itu adalah Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga abad ke-7; Ratu Kalinyamat, srikandi maritim abad ke-16 yang ditakuti Portugis; dan Raden Ajeng (RA) Kartini, pahlawan nasional abad ke-19 yang membuka pintu emansipasi melalui kekuatan pena.

Ketiganya kini diabadikan dalam Tugu Tiga Puteri di Bundaran Ngabul—sebuah monumen yang bukan sekadar batu dan logam, melainkan prasasti hidup dari ingatan kolektif sebuah bangsa.

Ratu Shima: Ketika Keadilan Tidak Mengenal Kompromi

Abad ke-7 adalah masa ketika Nusantara sedang tumbuh. Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha bermekaran di seluruh kepulauan, membentuk jaringan kekuasaan yang kompleks. Di pesisir utara Jawa—wilayah yang kelak menjadi Jepara—berdiri Kerajaan Kalingga, dan di singgasananya duduk seorang perempuan bernama Shima.

Catatan sejarah tentang Ratu Shima sebagian besar tersimpan dalam kronik Tiongkok, terutama dari dinasti Tang, yang menyebut kerajaan ini sebagai Ho-ling atau Kaling. Para utusan Tiongkok yang berkunjung ke Kalingga menulis dengan kagum tentang seorang ratu yang memerintah dengan tangan besi namun adil—sesuatu yang tidak lazim di dunia yang didominasi raja laki-laki.

Legenda paling terkenal tentang Ratu Shima adalah kisah pundi-pundi emas. Menurut tradisi lisan yang turun-temurun diwariskan, suatu hari seseorang menaruh kantong berisi emas di tengah jalan lintas kerajaan. Bukan hari, bukan sepekan, melainkan berbulan-bulan kantong itu tergeletak di sana. Tidak satu pun rakyat berani menyentuhnya, bukan karena tidak ada yang membutuhkan, melainkan karena mereka tahu: di bawah pemerintahan Shima, mengambil milik orang lain berarti kematian.

Ketegasan itu diuji ketika putra mahkota sendiri—darah dagingnya—secara tidak sengaja menyentuh kantong emas itu dengan kakinya. Ratu Shima bergeming. Keputusannya bulat: kaki sang putra harus dipotong sebagai konsekuensi hukum.

Para pembesar kerajaan memohon pengurangan hukuman. Setelah musyawarah panjang, hukuman diringankan menjadi pemotongan jari kaki—namun prinsipnya tetap: hukum tidak membedakan rakyat jelata dan darah bangsawan.

Kisah ini bukan sekadar legenda tentang kekejaman. Ia adalah alegori tentang kepemimpinan yang bersandar pada prinsip, bukan privilese. Shima tidak menjadikan kasih sayang kepada keluarga sebagai alasan untuk mengkhianati rakyatnya. Dalam dunia modern, nilai itu disebut rule of law—dan Ratu Shima telah mempraktikkannya lebih dari 13 abad sebelum konsep itu dirumuskan di Barat.

Para sejarawan menempatkan Kalingga sebagai salah satu kerajaan Hindu-Buddha awal yang penting di Jawa. Di bawah pemerintahan Shima, kerajaan ini dikenal makmur dan aman. Perdagangan berkembang, hubungan diplomatik dengan Tiongkok terpelihara. Shima bukan hanya pemimpin yang adil—ia adalah negarawan dalam arti paling penuh.

Ratu Kalinyamat: Armada yang Membuat Portugis Gemetar

Sembilan abad setelah Shima, angin sejarah membawa wajah perempuan Jepara yang berbeda ke panggung Nusantara. Namanya Retno Kencana, putri Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak—kerajaan Islam pertama yang berkuasa di Jawa. Namun dunia mengenalnya dengan gelar yang ia sandang setelah menikah dan berkuasa di tanah Jepara: Ratu Kalinyamat.

Abad ke-16 adalah abad guncangan. Portugis telah merebut Malaka pada 1511—pelabuhan terpenting di jalur rempah yang menghubungkan Nusantara dengan dunia. Jatuhnya Malaka bukan sekadar kekalahan sebuah kota; ia adalah terputusnya urat nadi perdagangan Muslim yang telah berdetak selama berabad-abad. Bagi para penguasa Islam di Jawa, Malaka adalah luka yang harus dibalas.

Kalinyamat memiliki alasan ganda untuk membenci Portugis. Selain motif geopolitik dan agama, ia menyimpan dendam pribadi. Suaminya, Sultan Hadlirin, dibunuh oleh Aria Penangsang—seorang pangeran Jepara yang memiliki hubungan gelap dengan kekuatan-kekuatan yang menentang Demak. Dalam duka yang membakar itulah Kalinyamat bertekad menggempur musuh di Malaka.

Dua kali Kalinyamat memimpin ekspedisi militer ke Malaka. Yang pertama pada 1551—sebuah armada besar yang mengangkut ribuan prajurit—dan yang kedua pada 1574, ekspedisi terbesar yang pernah dikirim kerajaan-kerajaan Jawa ke luar pulau. Sumber-sumber Portugis sendiri mencatat dengan gemetar betapa dahsyatnya serangan itu. Mereka menyebut Kalinyamat sebagai Rainha de Jepara—Ratu Jepara—dan menambahkan dua kata yang berbicara banyak: rica e poderosa, kaya dan sangat berkuasa.

Bahwa ekspedisi itu tidak berhasil merebut kembali Malaka bukanlah ukuran kejatuhan Kalinyamat. Portugis di Malaka adalah benteng yang diperkuat selama puluhan tahun. Yang penting adalah keberanian untuk mencoba—dua kali—dengan armada laut yang luar biasa dari pelabuhan Jepara. Di bawah Kalinyamat, Jepara menjadi kekuatan maritim yang disegani, pusat pembuatan kapal dan pelatihan prajurit laut.

Para sejarawan seperti M.C. Ricklefs menyebut Kalinyamat sebagai tokoh paling berpengaruh di Jawa Utara pada masanya. Ia bukan hanya pemimpin militer—ia juga penguasa ekonomi yang menjadikan Jepara sebagai pusat perdagangan lintas samudra. Ukiran kayu Jepara yang hari ini mendunia, banyak yang berpendapat, berakar dari tradisi kerajinan yang berkembang pesat di era kekuasaannya.

Kalinyamat meninggal sekitar 1579, meninggalkan warisan yang tidak lekang: bahwa perempuan bisa memimpin armada, menyusun strategi perang, dan menjaga martabat bangsanya di hadapan kekuatan kolonial. Pemerintah Indonesia akhirnya memberikan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada 2023—pengakuan yang terlambat, namun tidak pernah terlalu terlambat untuk kebenaran.

RA Kartini: Pena yang Lebih Tajam dari Pedang

Jika Shima berjuang dengan hukum dan Kalinyamat berjuang dengan pedang, maka perempuan ketiga dari Jepara memilih senjata yang berbeda: kata-kata.

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Mayong, sebuah kecamatan di Jepara yang kini namanya diabadikan sebagai nama jalan dan sekolah. Ia adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara, dan Ngasirah, seorang perempuan dari rakyat biasa. Dari dua dunia inilah Kartini mewarisi perspektif yang langka: ia mengenal istana dengan segala privilese dan penjara kulturalnya, sekaligus memahami ketertindasan yang dirasakan perempuan kebanyakan.

Kartini tumbuh di era kolonialisme Belanda pada puncaknya. Pendidikan untuk perempuan, apalagi perempuan pribumi, adalah barang mewah. Ia sendiri sempat mengenyam pendidikan di Europese Lagere School—sekolah yang didominasi anak-anak Eropa—dan menguasai bahasa Belanda dengan fasih. Namun setelah tamat, takdir mengurungnya dalam pingitan adat: ia tidak boleh keluar rumah sebelum menikah.

Dalam kurungan itulah kecerdasan Kartini meledak lewat surat-menyurat. Selama bertahun-tahun, ia berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda—Estelle Zeehandelaar, Rosa Abendanon, dan lainnya—menuangkan pikiran-pikiran yang terlalu besar untuk ditampung oleh dinding pendopo bupati. Surat-suratnya berbicara tentang pendidikan, kesetaraan gender, feodalisme, kolonialisme, dan cita-cita bagi perempuan Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan.

Frasa yang paling terkenal—Habis Gelap Terbitlah Terang—menjadi lebih dari sekadar judul kumpulan suratnya yang diterbitkan Belanda pada 1911, empat tahun setelah kematiannya. Ia menjadi mantra pergerakan. Kalimat itu diucapkan di sekolah-sekolah, ditulis di spanduk perjuangan, dan diwariskan kepada generasi yang bahkan tidak pernah mendengar nama Jepara sebelumnya.

Kartini tidak sempat mewujudkan semua mimpinya. Ia menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, pada 1903, dan setahun kemudian wafat dalam usia 25 tahun setelah melahirkan anak pertamanya. Hidup yang singkat, namun resonansinya bergema sepanjang sejarah bangsa.

Hari lahirnya, 21 April, ditetapkan sebagai Hari Kartini—hari ketika seluruh Indonesia memperingati emansipasi perempuan. Bukan dengan senjata, bukan dengan armada, melainkan dengan membaca, menulis, dan berpikir. Kartini membuktikan bahwa pena, di tangan yang tepat, bisa mengubah peradaban.

Tugu Tiga Puteri: Ketika Batu Bicara tentang Ingatan

Di Bundaran Ngabul, di persimpangan jalan yang dilintasi ribuan kendaraan setiap harinya, berdiri Tugu Tiga Puteri. Monumen setinggi sekitar 15 meter ini bukan sekadar penghias taman kota. Ia adalah pernyataan resmi sebuah kabupaten tentang siapa dirinya dan dari mana ia berasal.

Pemerintah Kabupaten Jepara mendirikan monumen ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat: bahwa tanah ini pernah melahirkan tiga perempuan yang masing-masing, dengan cara dan zamannya sendiri, mengubah jalannya sejarah. Ketiga sosok itu menghadap ke arah yang berbeda—seolah menjaga empat penjuru angin Jepara—namun berdiri dalam satu pondasi yang sama.

Pilihan untuk menempatkan ketiganya dalam satu monumen bukan tanpa makna. Shima, Kalinyamat, dan Kartini mewakili tiga dimensi kepemimpinan yang lengkap: hukum, kekuatan, dan intelektual. Tiga hal yang oleh para filsuf pemerintahan modern disebut sebagai pilar utama sebuah negara yang beradab.

Bagi warga Jepara, tugu ini adalah titik orientasi kota sekaligus titik orientasi identitas. Anak-anak sekolah belajar tentang ketiga tokoh ini bukan hanya dari buku teks, tetapi juga dari monumen yang bisa mereka sentuh, potret, dan jadikan latar belakang foto. Sejarah bukan sekadar teks di kertas—ia adalah batu yang berdiri di tengah kota, tak tergoyahkan oleh musim.

Satu Tanah, Tiga Zaman, Satu Warisan

Apa yang menyatukan Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan R.A. Kartini bukanlah darah atau dinasti. Yang menyatukan mereka adalah keberanian untuk menjadi lebih dari apa yang zamannya izinkan. Shima berani menegakkan hukum ketika bahkan raja-raja lain membiarkan keadilan bergantung pada selera. Kalinyamat berani mengirim armada ketika perempuan seharusnya hanya menunggu di istana. Kartini berani bermimpi ketika mimpi perempuan dianggap tidak perlu.

Jepara, dengan segala keindahan ukiran kayunya dan garis pantainya yang panjang, adalah kota yang kaya warisan. Namun warisan terkayanya bukanlah kayu jati atau tambak garam. Ia adalah bukti bahwa dari tanah yang sama, dari udara yang sama, dari air yang sama, bisa lahir tiga perempuan yang masing-masing meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus oleh waktu.

Di Bundaran Ngabul, ketika sore hari dan cahaya keemasan menyentuh puncak Tugu Tiga Puteri, ketiga sosok itu seolah bercahaya—Shima dengan ketegasannya, Kalinyamat dengan keperkasaannya, Kartini dengan kelembutan yang menyimpan api. Tiga perempuan. Tiga era. Satu warisan yang terus hidup selama Jepara masih ada di peta. (*)

Sumber Referensi

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford University Press, 2008.

Muljana, Slamet. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS, 2005.

Kartini, R.A. Habis Gelap Terbitlah Terang. Diterjemahkan oleh Armijn Pané. Jakarta: Balai Pustaka, 1938.

Coedes, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.

Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jakarta: Gramedia, 2005.

Keputusan Presiden RI No. 105/TK/2023 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Ratu Kalinyamat.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement