Pantun dan Tradisi Lisan Betawi Buat Generasi Zaman Now

 Pantun dan Tradisi Lisan Betawi Buat Generasi Zaman Now

BETAWI memiliki adat istiadat sendiri. Bahkan, kekayaan budaya Betawi ini menjadi daya tarik wisata yang kuat. Dalam adat perkawinan orang Betawi misalnya, ada upacara Palang Pintu.

Upacara ini dilakukan sebelum calon pengantin (laki-laki) boleh masuk ke rumah calon pengantin perempuan, yang antara lain diisi dengan atraksi pencak silat menampilkan jagoan yang mewakili masing-masng keluarga mempelai.

Atraksi tersebut biasanya akan didahului dengan adu pantun. Adu pantun ini sangat menarik perhatian. Bukan cuma karena di dalam pantun-pantun yang diungkap itu banyak berisi pelajaran tatakrama hidup dan pergaulan, nasihat atau bahkan ungkapan rasa cinta dan hormat pada orang lain.

Tak hanya itu, tapi juga kemahiran dan kefasihan Sang Jagoan masing-masing dalam membuat pantun dalam tempo yang singkat untuk bisa membalas dan mengimbangi pantun orang yang dihadapinya. Sebuah acara budaya yang penuh didik. Agar nilai-nilai budaya tersebut bisa lestari sekaligus memperkuat budaya Nusantara, harus ada upaya untuk merawat dan mengembangkannya.

Itulah yang dilakukan oleh Yayasan Mekar Pribadi (YMP) dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Guna menanamkan semangan seni budaya pada generasi muda, serta ikut merawat budaya Betawi agar lestari, lembaga ini menggelar workshop Tradisi Lisan Betawi Asyik untuk Generasi Zaman Now!

Workshop yang digelar pada Senin (4/12) di Ruang Galeri Cipta 3 TIM Jakarta ini menampilkan pemerhati budaya Betawi Heryus Saputro Samhudi dan penyanyi legendaris Titiek Puspa.

”Heryus Saputro memaparkan materi tradisi lisan Betawi dan contoh prakik membuat pantun Betawi, sedangkan Eyang Titiek Puspa berbagi pengalaman bagaimana mengemas seni untuk selera Generasi Zaman Now!” jelas Pimpinan Yayasan Mekar Pribadi Oetari Noor Permadi.

Workshop yang dikemas dengan praktik langsung membuat pantun disertai evaluasi ini juga akan diisi berbagai pertunjukan seni budaya. Mulai dari penampilan Tari Sirih Kuning, Palang Pintu, Rebana Gedigdug, berbalas pantun, hingga atraksi silat oleh Sanggar RPTRA Ulujami.

Menurut Heryus, asal kata pantun adalah ’panuntun’ (bahasa Melayu) atau ’tuntun’ (bahasa Jawa Kuna) yang berarti mengatur dan menyusun. Yakni mengatur dan menyusun kata-kata dengan aturan tertentu hingga enak didengar saat diucapkan. Awalnya pantun memang merupakan bagian dari tradisi lisan Nusantara yang dipaparkan dan ditumbuhkan secara turun-temurin, sebelum kemudian diungkap secara tertulis dan tersurat. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *