Pak Mul… Tuhan akan Menyambutmu dengan Tersenyum

 Pak Mul… Tuhan akan Menyambutmu dengan Tersenyum
Haji Muljadi terakhir menghadiri HPN di Ambon, 9 Februari 2017. Foto: Fendri Jaswir

KABAR duka datang dari rekan Ir. H. Fendri Jaswir, MP. Diwartakan, Muljadi, wartawan senior yang pernah membantu Harian Jayakarta itu, meninggal dunia di RSUD Pekanbaru, Riau, Sabtu 27 Mei 2017 pukul 18.10 WIB. Kami, keluarga besar Jayakartanews turut kehilangan.

Pak Mul, begitu kami menyapa almarhum, adalah pribadi yang ramah. Sangat ramah, bahkan. Selain itu, pria kelahiran Bandung 18 April 1943 itu juga periang. Sebagai kepala desk rubrik Daerah Harian Jayakarta, lulusan Fakultas Sastra Prancis, Unpad Bandung itu terbilang redaktur paling awal datang, dan paling cepat pulang.

Karena ia tinggal kost tak jauh dari kantor Harian Jayakarta (Suara Pembaruan Group) di bilangan Cawang, maka tak jarang, pagi-pagi pun ia sudah nongol di kantor. Gayanya yang khas adalah bersiul-siul atau bersenandung. Satu per satu karyawan yang sudah ada, ia sapa. Karena pagi hari, yang paling rajin disapa tentu saja Mona, Sekretaris Redaksi yang cantik.

Pak Mul, dalam rangkaian acara Hari Pers di Maluku, Februari 2017. Foto: Fendri Jaswir

Kenangan terhadap pak Mul, pastinya ada di setiap benak para wartawan yang pernah tinggal kost tak jauh dari kantor, seperti Shanty Sibarani (almarhumah), Diana Runtu, Agus Hafes, Nina, Laksmi, dan masih banyak lagi. “Nggak kira-kira, pagi-pagi sudah ketuk-ketuk pintu atau jendela kost…. ya, just say hello aja, sambil manggil-manggil… Nontjeee… Nontjee…. Pak Mul lucu sekali. Dia juga perhatian sama kami-kami yang yunior,” kenang Diana “Nontje” Irene Runtu, wartawan Jayakarta yang ketika itu kost dekat kantor.

Pengalaman yang juga berkesan datang dari Katmin, sang OB favorit Jayakarta. “Pak Mul royal kalau lagi ada uang. Saya sering dikasih uang,” kenang Katmin. Tapi, ada kalanya pak Mul minta layanan aneh-aneh. “Maksudnya, kalau minta kopi atau teh kan biasa, tapi sering juga minta dipijitin kakinya. Trus nanti sekalian suruh bersihin jari-jari kaki…. Maklumlah, waktu itu kan beliau agak gemuk, jadi gak bisa nekuk badan sampai kaki, he…he…he….,” tambah Katmin sambil terkekeh.

Begitulah, pak Mul pun kami kenang sebagai pribadi yang begitu menyenangkan, humble, periang, dan penyayang. Meski tidak terlalu lama ia membantu kami di Jayakarta, tetapi tidak satu pun dari kami yang melupakan jasa dan kebaikan almarhum.

Jenazah Haji Muljadi akan dimakamkan di pemakaman umum Senapelan Jalan Riau depan Hotel Mutiara Merdeka. Foto: Fendri Jaswir

Almarhum Muljadi tercatat pernah menjadi wartawan Pikiran Rakyat Bandung. Kemudian, pindah ke Jakarta dan menjadi wartawan Sinar Harapan. Setelah menikah dengan Wan Fauziah, putri mantan Walikota Pekanbaru, Wan Abdurrahman, almarhum pindah ke Pekanbaru, menjadi koresponden Sinar Harapan.

Ketika Sinar Harapan dibredel dan lahir Suara Pembaruan, Muljadi bertahan di Suara Pembaruan sampai pensiun tahun 2000. Setelah pensiun, almarhum menjadi koresponden lepas di Suara Pembaruan dan menulis di berbagai media di Riau, Sumbar dan Jakarta hingga akhir hayatnya.

Pak Mul sudah menulis 5 buah buku tentang perjalanan jurnalistik. Meninggalkan satu anak; Muhammad Emille Zola, dan dua orang cucu. Selama menjadi wartawan, sudah menunaikan rukun haji sebanyak 6 kali dan berkeliling dunia dalam tugas tugas jurnalistik. Antara lain ke wilayah Asia Tenggara, Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Almarhum juga pernah menyambangi Makam Sjech Yusuf di Afrika Selatan. Selamat jalan pak Mul… Tuhan akan menyambutmu dengan tersenyum. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *