Ingin Berkontribusi Lebih Besar Lagi, Fendri Jaswir Maju Caleg DPR RI Dapil Riau 1

PEKANBARU, JAYAKARTA NEWS – Mantan anggota DPRD Provinsi Riau dari Partai Amanat Nasional (PAN), H. Fendri Jaswir, SP, MP mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2024 mendatang. Fendri maju dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau 1 meliputi Pekanbaru, Siak, Meranti, Bengkalis, Dumai, Rohul dan Rohil.

Kepada wartawan di Pekanbaru, Jum’at (31/3/2023), Sekretaris Dewan Penasehat PWI Provinsi Riau itu menyatakan siap untuk mempertahankan bahkan menambah kursi DPR RI bersama calon legislatif (caleg) PAN lainnya. Saat ini PAN telah memiliki satu kursi di DPR RI dari Dapil Riau 1 yakni Jon Erizal.

Fendri Jaswir dan dr. Lula Kamal, sama-sama Bacaleg DPR RI/foto: istimewa

”Kita sudah punya kursi di DPR RI. Harapannya tentu kursi ini dapat dipertahankan, bahkan kalau bisa jadi dua kursi. Karena itu kita harus kerja keras agar bisa duduk di DPR RI,” ujar tokoh pers Riau itu.

Fendri Jaswir yang pernah menjabat anggota DPRD Provinsi Riau periode 2004-2009 telah lama mendaftarkan diri di internal partai melalui aplikasi simPAN. Bahkan, telah melalui beberapa kali pembekalan dan Sekolah Politik caleg DPR RI di Jakarta.

Ketua Ikatan Keluarga Minang Riau (IKMR) itu mengatakan dirinya memilih caleg DPR RI karena ingin memberikan kontribusi lebih besar lagi untuk daerah Riau. Sebelumnya ‘urang sumando’ Kuansing itu telah berkiprah di DPRD Riau.

”Jika saya jadi anggota DPR RI tentu banyak yang bisa diberikan untuk daerah kita. Banyak anggaran-anggaran di Pusat yang bisa dibawa ke daerah untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Riau,” papar Penasehat Ikatan Keluarga Luhak Agam (IKLA) itu.

Menurut Fendri, Provinsi Riau perlu mendapat porsi yang lebih besar lagi dari pemerintah pusat. Selama ini porsi itu masih kurang bila dibandingkan dengan kontribusi Riau untuk nasional, terutama migas.

”Mungkin kita kurang memiliki orang di kementerian atau badan di Pusat. Sehingga kue pembangunan itu masih kurang. Tugas anggota DPR RI salah satunya adalah menjuluk kue pembangunan itu untuk daerahnya,” kata Tenaga Ahli Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Riau itu.

Untuk itu, Pembina Wilayah (Panwil) Riau DPP PAN ini memohon dukungan dari seluruh masyarakat Riau terutama dari Dapil Riau 1 agar terpilih sebagai anggota DPR RI.

”Dukungan dan doa dari masyarakat Riau sangat berarti bagi saya, dan saya berterima kasih untuk itu,” ujar mantan anggota Dewan Pendidikan Provinsi Riau itu. (Rls)

Kanibalisme Politik dalam Sistem Pemilu Proporsional Terbuka

Oleh Fendri Jaswir

Fendri Jaswir

KANIBALISME Politik. Istilah ini dimunculkan oleh Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah  Abdul Mu’ti dalam konferensi pers di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (3/1/2023). Mu’ti menanggapi sistem Pemilihan Umum (Pemilu) Indonesia yakni proporsional terbuka.

Menurut Mu’ti, sistem tersebut telah menimbulkan kanibalisme politik. Seorang calon legislatif menjegal calon legislatif (caleg) lain. Bahkan suara kawan sesama partai pun dimakannya. Jegal menjegal ini menimbulkan konflik dan polarisasi politik. Ujung-ujungnya main money poltics. Siapa yang punya kapital kuat, itu yang menang.

Sistem proporsional terbuka ini, katanya, perlu diganti. Muhammadiyah telah mengkaji hal ini sejak Tanwir Muhammadiyah 2014 dan terakhir Muktamar Muhammadiyah ke-48, tahun 2022. Pihaknya mengusulkan kembali ke proporsional tertutup atau ke proporsional terbuka terbatas.    

Proporsional terbuka adalah sistem Pemilu dengan suara terbanyak. Siapa yang memiliki suara terbanyak, itulah yang duduk di bangku legislatif, jika partainya memperoleh kursi. Sedangkan proporsional tertutup, pemilih menusuk gambar partai politik dan juga nama calon legislatifnya. Tapi yang duduk di dewan perwakilan adalah yang nomor urut satu dan seterusnya.

Sementara proporsional terbuka terbatas adalah sistem Pemilu yang memilih tanda gambar dan nama calegnya. Bagi caleg yang memenuhi Bilangan Pembagi Pemilihan (BPP) atau kursi penuh, otomatis duduk. Tapi bagi yang tidak memenuhi BPP, maka nomor urut satu dan seterusnya yang duduk.

Menurut Mu’ti, sistem proporsional tertutup dapat mencegah atau mengurangi terjadinya kanibalisme politik dan money politics. Begitu pula dengan sistem proporsional terbuka terbatas. Pada sistem ini, suara pemilih terakomodir dan terbuka peluang terpilih. Sebaliknya, pada sistem proporsinal terbuka, kadangkala memilih karena popularitas, bukan didasarkan kualitas.

Korban kanibalisme politik

Saya adalah salah satu dari mungkin sekian banyak korban kanibalisme politik seperti diungkapkan Abdul Mu’ti. Ceritanya, pada Pemilu 2009, saya ikut kembali bertarung untuk DPRD Provinsi Riau. Saat itu saya anggota DPRD Provinsi Riau dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Saya terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Riau tahun 2004 dengan sistem proporsinal tertutup.

Menjelang Pemilu 2009, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan mengganti sistem proporsional tertutup ke proporsional terbuka. Bagi saya tidak ada masalah walaupun saya diletakkan pada nomor urut dua. Saya percaya diri (pede) karena sudah hampir lima tahun saya berbuat untuk masyarakat. Saya termasuk yang rajin turun ke masyarakat.

Setiap reses saya usahakan di banyak titik dan menjangkau dua kabupaten tadi. Saya usahakan juga memberikan makan minum dan buah tangan. Bahkan menyerahkan secara simbolis bantuan sosial (bansos). Waktu itu hanya ada bansos, belum ada pokok-pokok pikiran seperti sekarang. Jumlahnya pun tidak terlalu banyak. Umumnya saya berikan untuk rumah ibadah, sekolah agama dan MDA. Semua pemberian itu sesuai dengan aturan.

Sebagai Ketua Komisi D DPRD Provinsi Riau yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) – antara lain pendidikan, kesehatan, pariwisata, pemuda, olahraga dan pemberdayaan masyarata desa, —  saya juga sering berinteraksi dan menyerap aspirasi masyarakat. Pertemuan dengan guru-guru, bidan, perawat, dan pendamping desa. Aspirasi mereka disalurkan ke dalam program pemerintah Provinsi Riau.

Khusus di Kabupaten Kuansing diberikan perhatian lebih kepada Pacu Jalur. Sebab, olahraga tradisional pacu perahu di Batang Kuantan ini sudah mendarah daging dan membudaya di Rantau Kuantan. Saya pun rajin turun dan membantu untuk maelo jalur, mendiang jalur dan menurunkan jalur. Termasuk membelikan baju seragam untuk anak pacu yang berjumlah sekitar 60 orang.

Intensitas pertemuan yang tinggi itu membuat saya pede maju untuk periode kedua kalinya. Apalagi popularitas saya termasuk tinggi. Karena di DPRD Provinsi Riau saya termasuk yang kritis dan vokal. Di media massa juga sering muncul dengan komentar-komentar yang kritis. Sebagai orang media, saya tidak terlalu sulit untuk melakukan itu. Tentu dibarengi juga dengan kerja-kerja politik di lapangan, termasuk melibatkan jaringan partai sampai ke tingkat bawah.

Tapi, apa yang terjadi? Ternyata kerja-kerja politik dan pendekatan ke konstituen itu tidak cukup untuk memperoleh suara yang signifikan. Suara yang saya peroleh pada perhitungan terakhir ternyata berada pada posisi ketiga. Sementara kursi yang didapat hanya satu. Jadi yang terpilih adalah yang memperoleh suara terbanyak yang kebetulan berada di nomor urut satu.

Mulanya saya terima saja hasil itu. Tapi ketika banyak laporan ke saya bahwa suara saya diutak-atik dan dikadali di tingkat kecamatan, saya menjadi penasaran. Saya berusaha mencari bukti-bukti. Berkat bantuan kawan-kawan, saya mendapatkan bukti-bukti itu. Ternyata memang benar, suara saya banyak dicuri dan berpindah ke suara teman sendiri.

Kok bisa? Ya, bisalah. Bedasarkan bukti-bukti yang ada, suara dari Tempat Pemungutan Suara (TPS) itu yang diubah-ubah. Misalnya, suara saya 18, lalu dijadikan 1. Sedangkan suara kawan tadi bertambah jadi 18 atau 28. Begitu seterusnya hampir di semua TPS dalam satu kecamatan. Kabarnya, kecurangan seperti ini dilakukan di tiga kecamatan dalam Kabupaten Inhu.

Hasil mengubah suara di lembaran rekapitulasi TPS itu kemudian dimasukkan ke data rekapitulasi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Saat pleno di PPK inilah, saksi partai penting. Jika tidak punya saksi partai, para oknum itu dengan seenaknya mengubah angka-angka ke dalam laptop. Bahkan, suara dari partai-partai  kecil yang tidak punya saksi pun, bisa diambil dan dipindahkan ke caleg partai lain.

Lalu, saya bersama caleg di bawah saya, melaporkan kejadian itu ke Gakkumdu (Penegakan Hukum Terpadu) Inhu. Lembaga yang terdiri dari Bawaslu, Kejaksaan dan Kepolisian itu yang berhak menyelidiki dan menyidik jika terjadi kecurangan dalam Pemilu. Kami pun dimintai keterangan di Posko Gakkumdu Inhu. Setelah itu mereka berjanji akan mencari bukti asli di lapangan.

Tapi ternyata tidak ada tindak lanjut. Waktu pun berlalu. Batas akhir penegakkan hukum pelanggaran Pemilu hanya seminggu. Setelah itu tidak ada lagi proses pelanggaran Pemilu. Pengaduan kami akhirnya sia-sia. Sementara, di KPU proses berjalan terus. Rekapitulasi suara berjalan berjenjang. KPUD kabupaten hanya merekap data yang dilaporkan PPK.

Rupanya, suara saya tidak hanya dicuri di Kabupaten Inhu. Di Kabupaten Kuansing juga dilakukan, tapi oleh yang lain. Pola permainannya sama. Kebetulan petugas PPK-nya keluarga dari yang bersangkutan. Dengan mudah mereka mengubah angka-angka di laptop PPK. Lumanyan juga suara saya yang dikadali. Tapi syukur, belakangan KPUD Kuansing memecat oknum PPK yang melakukan kecurangan itu.

Pantasan suara saya melorot ke posisi ketiga. Sementara mereka naik ke posisi satu dan dua.

Money Politics

Kenapa hal itu bisa terjadi? Bisik-bisik yang terdengar tentu ada permainan money politics. Apalagi sebelum Pemilu itu dilangsungkan, ada gelagat dari oknum PPK yang mencari-cari caleg untuk dimainkan suaranya. Tapi kita sulit untuk membuktikannya. Ibarat kentut, bunyinya tak terdengar, tapi baunya dirasakan oleh orang di sekitarnya.

Saya sependapat dengan Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti bahwa money politics merajalela sejak sistem Pemilu proporsional terbuka diberlakukan tahun 2009. Pemberian uang itu dimulai dari saat sosialisasi, kampanye dan menjelang pencoblosan. Memang perlu hati-hati, jika tertangkap Bawaslu, bisa diproses pidana. Namun mereka tentu lebih lihai mencari siasat.

Belum ada penelitian berapa uang yang dikeluarkan caleg kabupaten/kota, provinsi dan DPR RI. Tapi dari hasil bincang-bincang dengan sejumlah caleg, jumlahnya bervariasi. Caleg kabupaten/kota mengeluarkan sekitar Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar.  Caleg provinsi berkisar Rp 1,5 miliar sampai Rp 2,5 miliar. Sedangkan caleg DPR RI di atas Rp 5 miliar.

Jumlah itu tentu fantastis. Bahkan ada caleg kabupaten mengaku menghabiskan Rp 2 miliar. Saya terkejut, bagaimana dia mengembalikan uang tersebut setelah duduk nanti. Sebab, pendapatan anggota DPRD kabupaten terbatas. Yang halal dan thoyib itu tak seberapa, tidak akan bisa mengembalikan Rp 2 miliar selama lima tahun.

Bandingkan dengan sistem Pemilu proporsional tertutup saat saya terpilih tahun 2004. Saya hanya menghabiskan uang Rp 90 juta. Itu pun saya pinjam ke keluarga dan dari penjualan perhiasan istri. Uang Rp 90 juta itu dipergunakan untuk kampanye massal di tiga titik, membuat alat peraga dan biaya operasional. Alhamdulillah, uang tersebut terganti setelah saya terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Riau.

Makanya, dengan sistem proporsional terbuka sekarang, caleg-caleg yang tidak memiliki finansial besar nyaris tidak terpilih. Berdasarkan survei, hanya PDIP, Partai Golkar dan PKS, yang pemilihnya cenderung memilih partai, bukan caleg. Dengan demikian, masih banyak caleg-caleg partai tersebut terpilih menjadi anggota dewan dengan modal kecil.

Pertanyaannya, apakah dengan sistem proporsional tertutup, tidak akan ada ‘jual beli’ nomor urut? Saya tidak bisa menjamin seratus persen. Sebab, sangat tergantung kepada mental dan karakter pimpinan partainya. Sepanjang pimpinan partainya objektif dan memilkirkan partainya, saya yakin mereka akan meletakkan caleg terbaik di nomor atas. Bukankah partai adalah lembaga untuk kaderisasi calon pemimpin?

Berkaca pada pengalaman saya tahun 2004, pimpinan partai kami lebih objektif. Dia melihat siapa yang bekerja keras dan bertungkus lumus di partai. Tentu juga memperhatikan pendidikannya. Sebab, kerja di DPR atau DPRD, butuh ilmu pengetahuan dan pengalaman. Mereka inilah yang diletakkan di nomor urut atas berdasarkan rapat pleno. Tidak ada pertimbangan punya uang banyak atau sedikit.

Hasilnya, Alhamdulillah, semua terpilih. Dan di lembaga legislatif mereka ikut mewarnai, karena kemampuan mereka. Dengan kata lain cukup berkualitas. Mereka juga memikirkan partai dan patuh kepada partai. Tidak mudah berpindah ke lain partai, seperti terjadi sekarang ini.

Walapun demikian, semua terpulang kepada MK yang akan memutuskan sistem Pemilu 2023. (*)

*) Fendri Jaswir adalah Jurnalis Senior dan Politisi

DPP PAN Angkat Fendri Jaswir dan Irvan Herman sebagai Pembina Wilayah Riau

JAYAKARTA NEWS – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) mengangkat Ir. H. Fendri Jaswir, MP dan dr. Irvan Herman sebagai Pembina Wilayah (Panwil) Provinsi Riau. Tugasnya antara lain membantu DPP PAN melakukan konsolidasi secara struktural dengan DPW dan DPD sesuai wilayah dan daerah binaan.

Pengangkatan itu tertuang dalam Surat Keputusan DPP PAN Nomor : PAN/A/Kpts/KU-SJ/108/IV/2022 tentang pengangkatan Pembina Wilayah DPP PAN 2020-2025 tanggal 22 April 2022. SK ditandatangani oleh Ketua Umum H. Zulkifli Hasan dan Sekretaris Jenderal H. Eddy Soeparno.

Baik Fendri Jaswir maupun Irvan Herman yang dihubungi media ini membenarkan SK tersebut. ”Ya. Benar. Baru saja kita terima SK Panwil untuk Provinsi Riau, saya dan Bang Fendri Jaswir,” kata Irvan Herman yang juga Wakil Sekjen DPP PAN, Senin (25/4/2022) malam.

Fendri Jaswir juga membenarkan pengangkatan tersebut. ”Alhamdulillah. Akhirnya turun juga SK-nya,” ujar mantan anggota DPRD Provinsi Riau itu. Dalam SK ini, selain Panwil Riau juga ada Panwil Aceh, Jawa Barat dan Sulawesi Tengah.

Sebenarnya, kata Fendri, sudah lama dia ditunjuk sebagai Panwil Riau, sejak berakhir Kongres PAN di Kendari dua tahun lalu. Waktu itu, dia tak lolos menjadi pengurus DPP PAN. Nah, Ketua Umum Zulkifli Hasan menjanjikan sebagai Pembina Wilayah Riau.

Sesuai dalam SK, tugas pokok, fungsi dan wewenang Panwil selain membantu konsolidasi struktural adalah menjadi mediator dan fasilitator dalam hubungan antar pimpinan partai di tingkat wilayah dan daerah dengan DPP.

Disamping itu, melakukan supervisi dan edukasi untuk mendinamisasi kinerja dewan pimpinan partai untuk melaksanakan penguatan kerja tingkat wilayah dan daerah dalam wilayah binaan.

Selanjutnya, memberikan laporan dan masukan kepada DPP atas permasalahan yang terjadi di tingkat DPW dan DPD serta cara-cara penyelesaiannya.

Panwil juga berperan aktif terlibat dalam kegiatan pemenangan Pemilu dan Pilkada serta membantu dan mengkondisikan pemenuhan pendaftaran bakal calon legislatif tingkat provinsi dan daerah sesuai kuota pada Pemilu 2024.

Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, Panwil wajib menaati AD/ART  dan pedoman partai tentang Panwil. ”Panwil wajib melaporkan kinerjanya kepada DPP secara periodik dalam rapat harian DPP,” demikian dinyatakan dalam SK tersebut.

Sebelumnya, pada 31 Januari 2022, DPP PAN juga telah mengangkat Jon Erizal sebagai Pembina Wilayah Riau. Dengan demikian ada tiga orang yang menjadi Panwil Provinsi Riau. (PR)

Kisah Selama Isolasi Covid-19

Senam ‘Bang Jago’ Jadi Favorit

Oleh Fendri Jaswir, Penyintas Covid 19

JAYAKARTA NEWS – Tak terasa sudah 14 hari saja saya di Rumah Sehat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Riau. Tapi kaki ini terasa berat untuk meninggalkan kamar isolasi Covid-19 yang saya tempati.

Padahal seharusnya saya gembira karena sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Bisa berkumpul kembali dengan keluarga, walaupun belum dibolehkan kontak dengan anggota keluarga. Paling tidak kamar dan rumah sendiri, tentu lebih dirindukan.

Ya, tapi itu tadi, kok kaki ini malas untuk beranjak meninggalkan asrama BPSDM yang sering digunakan untuk Pra Jabatan CPNS itu. Apalagi ketika tenaga kesehatan (nakes) telah menyiapkan surat dan menyerahkan ke saya. Surat itu menerangkan bahwa saya telah selesai menjalani isolasi Covid-19 selama 14 hari dan dapat beraktifitas sehari-hari dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dalam pencegahan penularan Covid-19.

Artinya, Ahad, 20 Desember 2020, itu saya sudah harus angkat kaki dari area isolasi. Dengan berat hati, saya kemasi barang-barang saya. Saya tidak mencuci pakaian lagi seperti biasanya, karena tak mungkin bawa kain basah pulang. Semua kain saya masukkan ke koper.

Alat-alat mandi dan cuci yang masih tersisa saya masukkan plastik. Begitu pula dengan piring, gelas, sendok, dan peralatan makan lainnya. Plastik besar yang satu lagi saya isi buah-buahan pemberian kerabat yang masih tersisa. Juga dimasukkan susu, susu beruang, gula jagung, roti dan dua jerigen kecil madu pemberian kerabat.

Obat-obatan dan herbal saya kemas sendiri. Ada vitamin C, vitamin E, minyak ikan Omega3, LVN stroberi, purtier placenta, herbal Cina Lianhua, obat batuk dan minyak kayu putih. Begitu pula dengan sisa masker yang diberikan tiga lembar setiap hari.

Setelah sholat Ashar sesuai janji dengan istri, saya pamit pulang kepada semua teman. Ada sekitar 30 orang yang masih menginap di asrama isolasi milik Pemerintah Provinsi Riau itu. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah tua, ada ibu muda dan bapak muda,  ada juga anak-anak muda yang masih lajang,  bahkan ada anak-anak umur dua tahunan. Dari semua itu hanya empat pasang yang suami istri.

Penyemprotan tempat isolasi setelah ditinggal penghuninya.

Sebelum masuk ke mobil, semua barang saya disemperot disinfektan. Termasuk tubuh saya. Lalu petugas nakes minta foto bareng sebelum meninggalkan tempat isolasi. Saya foto bersama tiga petugas nakes yang piket (Zuhri, Icut dan Yeyen), dari belasan petugas nakes yang dikontrak Pemprov Riau.

Banyak kenangan selama diisolasi di BPSDM Riau ini. Sejak masuk, 8 Desember 2020, malam, saya sudah disambut petugas nakes yang ramah. ‘Bapak Fendri Jaswir ya?,” sapa nakes yang memperkenalkan diri nama Zuhri. Dia sudah tahu karena satu jam sebelumnya nama dan hasil swab saya sudah dikirim via Kadis Kesehatan Riau, dr. Mimi Nazir. ”Bapak nanti masuk kamar C-3 ya, ” katanya.

Sebelum beranjak, Zuhri menjelaskan mekanisme dan bentuk pelayanan di BPSDM Riau. Makan tiga kali sehari ditambah dua kali snack. Pagi diadakan senam bersama yang dipandu nakes. Sore olahraga masing-masing. Petugas nakes akan berkomunikasi melalui video call ke masing-masing penghuni, dan komunikasi melalui grup WA penghuni Rumah Sehat BPSDM. Tidak ada kontak langsung nakes dengan penghuni.

Selama diisolasi, para penghuni tidak boleh keluar dari garis tali yang ditentukan. Kalau ada titipan barang atau kiriman makanan dari keluarga dan kerabat, cukup diletakkan di meja depan dan ditulis nama. Nanti nakes yang akan mengantarkan ke meja belakang. Melalui WA, nakes memberi tahu ada titipan. Penghuni tinggal mengambil barangnya.

Nakes memberikan obat dan barang titipan.

Setiap hari nakes VC menanyakan kesehatan dan keluhan penghuni. Kalau ada keluhan silakan lapor, dan obat nanti akan diantar. Alhamdulillah, saya termasuk yang tidak banyak keluhan. Saya hanya minta obat batuk karena umumnya yang terkena Covid mengalami batuk dan ada ganjalan dahak di kerongkongan.

Boleh dibilang mereka yang masuk ke tempat isolasi mengalami stres di hari-hari awal. Termasuk saya. Maklum mendengar positif Covid-19 badan langsung tak enak, darah berdebar-debar, pikiran entah ke mana. Belum lagi memikirkan orang yang sempat kontak dengan kita seperti istri dan anak. Asam lambung saya spontan naik. Akibatnya makan susah.

Reaksi teman-teman yang lain berbeda-beda. Selain asam lambung yang naik, ada juga yang sakit kepala tak tertahankan, duduk bermenung sendirian, pikiran kosong entah ke mana, dan menangis. Namun semua akan menjadi cair setelah kawan-kawan lain yang duluan masuk memberikan semangat dan motivasi. ”Semangat, semangat, happy, happy”.

Asam lambung saya mulai reda ketika besoknya dapat kabar, istri, anak laki-laki dan mertua saya yang di Pekanbaru, berdasarkan hasil swab, dinyatakan negatif Covid-19. Alhamdulillah. Tapi besoknya lagi, anak gadis saya yang sempat kontak dengan saya dan tidur dua malam di Jakarta, dinyatakan postif Covid-19. Saya terhenyak. Asam lambung naik lagi.

Namun saya harus tetap tegar. Sambil memantau anak yang di Jakarta, saya coba menghilangkan perasaan cemas. Saya coba untuk bergembira dengan teman-teman. Saya sholat, berzikir, baca Al Qur’an dan berdo’a, seraya menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Karena Allah SWT lah yang mendatangkan penyakit, dan Allah SWT juga yang akan menyembuhkannya.

Anak gadis saya sebenarnya gejala ringan. Sempat demam dan sudah sembuh setelah minum obat. Makan pun dia mau. Tapi kan harus diisolasi. Di tempat kos tak mungkin isolasi, walaupun bapak kos baik. Namun tempat isolasi di Makara UI Depok penuh, tak ada ranjang untuk perempuan.

Alhasil anak saya putuskan dirawat di RSPAD Jakarta atas saran abang sepupunya yang dokter di sana. Berangkatlah anak gadis saya sendiri ke Jakarta. Di RSPAD dia dirawat inap selama lima hari. Setelah diswab, alhamdulillah, hasilnya negatif. Saya langsung sujud syukur menerima berita itu.

Berita baik ini tentu berdampak baik terhadap kesehatan saya. Asam lambung mulai hilang. Tapi makan masih susah. Kerongkongan terasa tersekat. Nasi terasa pahit. Ini gejala umum bagi penderita Covid-19. Saya paksakan makan dengan didorong minum air panas. Itu pun tidak banyak nasi habis.

Berbagai terapi yang disarankan orang saya lakukan. Seperti memasukkan tisu yang sudah dioles minyak kayu putih ke hidung. Meletakkan minyak kayu putih di lidah dan meminum air panas yang sudah diteteskan minyak kayu putih. Saya juga minum obat Cina Lianhuan. Beberapa obat herbal ‘mahal’ yang dikirim kawan juga saya minum.

Tapi ternyata berdampak tak baik ke diri saya. Kulit saya menjadi merah dan bentol-bentol. Alergi dan gatal-gatal. Tengah malam saya minta obat CTM untuk menetralkan. Dan akhirnya gatalnya hilang dan saya bisa tidur. Dokter penanggung jawab menyarankan hentikan minum herbal dan obat lain. Cukup vitamin C saja, sebab saya tak punya keluhan lain.

Kawan-kawan lain punya keluhan yang berbeda. Umumnya kehilangan penciuman dan rasa. Ada juga yang merasa asin setiap makanan yang dimakan. Penciuman baru mulai timbul setelah empat hari. Namun selama saya isolasi, belum ada yang mengeluh sesak nafas. Jika ada, nakes sudah siap dengan tabung oksigennya.

Memang dalam kondisi terpapar Covid 19, kita harus fit agar imun tubuh kita kuat. Imun yang kuat akan melawan virus Covid yang masuk ke tubuh. Karena itu makan harus banyak dengan nutrisi yang cukup, minum vitamin C plus vitamin E, makan buah-buahan, minum madu, obat-obatan yang dibutuhkan. Cukup tidur, istirahat dan olahraga. Dan yang penting, tidak boleh banyak pikiran dan stres, harus gembira.

Kondisi itulah yang disiapkan Rumah Sehat BPSDM Riau. Sebelum pukul 07.00 pagi, musik sudah bergema. Seluruh penghuni isolasi wajib mengikuti senam pagi bersama dengan seluruh nakes. Kita mengiringi gerakan yang dibawakan nakes. Banyak variasi gerakan yang diiringi lagu gembira. Yang paling favorit adalah gerakan dengan lagu ”Bang Jago” dan ”Paijo”. Sampai-sampai nakes tersebut dipanggil Paijo.

Para penghuni isolasi setelah senam pagi. (ist)

Usai senam pagi, sarapan pun masuk. Sarapannya bervariasi selama seminggu mulai lontong pical, soto ayam, mie ayam, nasi goreng, mie goreng, dan sebagainya. Snack roti, roti jala, telur rebus dan sebagainya. Tak lupa susu beruang. Makan siang pun bervariasi, kombinasi daging dan ikan, atau ayam dan ikan. Snack sore juga demikian, termasuk makan malam. Semua bergizi dan cukup porsinya.

Setelah sarapan, mandi dan sholat dhuha, saya dan teman-teman melakukan pemeriksaan tensi dan pernafasan. Lalu berjemur di terik panasnya matahari. Sekitar jam 10.00-11.00 WIB. Konon berjemur akan memperkuat imun tubuh dan membunuh virus Covid 19. Selesai berjemur, lalu istirahat dan makan siang.

Sore hari selesai ashar menjelang maghrib, semua penghuni isolasi melakukan olahraga sore. Ada yang lari kecil, jogging dan sekadar menggerakkan tubuh. Yang penting bergembira dan mengeluarkan keringat. Saat itulah interaksi antar penghuni makin kuat. Mereka yang sudah ”senior” berbagi pengalaman kepada ”junior”, serta memberikan semangat dan motivasi kepada yang baru masuk dan kurang bersemangat.

Malam hari semua penghuni isolasi istirahat. Mengisi dengan ibadah dan spritual lainnya. Namun ada juga yang kongkow-kongkow menjelang mata mengantuk. Bosan di kamar terus. Semuanya memang harus dilalui dengan santai dan menyenangkan.

Menurut Kadis Kesehatan Riau, dr. Mimi Nazir, pihaknya berusaha memberikan pelayanan yang terbaik. Baik itu ruangan isolasi, fasilitas, makanan, obat-obatan, sampai pelayanan nakes. Hampir tidak pernah nakes jengkel atau dongkol kepada penghuni, walaupun kadangkala permintaan penghuni di luar tanggung jawab nakes.

Pemprov Riau menyediakan tiga tempat isolasi Covid 19 untuk orang tanpa gejala dan gejala ringan. Selain asrama BPSDM Riau yang memiliki tiga Blok (sebenarnya empat blok, satu blok digunakan nakes), juga ada asrama Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di Kulim dan asrama Bapelkes, Tampan, Pekanbaru.

Pemeriksaan tensi dan pernafasan. (ist)

Kebanyakan yang masuk isolasi adalah mereka yang dirujuk oleh Puskesmas atau kantor pemerintah. Beda dengan saya yang minta langsung ke Kadis Kesehatan Riau untuk diisolasi di BPSDM Riau. Pertimbangannya karena dekat dan mudah dijangkau istri jika ada keperluan.

Saya terpapar Covid 19 ketika kunjungan kerja Dewan Pendidikan Riau ke Makassar 30 November – 2 Desember 2020. Pulang dari Makassar saya mampir di Jakarta untuk keperluan lain dan jumpa anak gadis yang baru bekerja di Jakarta. Tiga hari di Jakarta, saya demam. Badan meriang. Lalu saya minum obat dan vitamin.

Esoknya demam hilang. Apalagi setelah diberikan obat oleh keponakan saya yang dokter. Saya cek suhu tubuh normal, 36 derajat C. Makanya keesokan harinya saya pulang ke Pekanbaru. Sampai di Pekanbaru, saya sudah mengantisipasi dengan mandi, cuci pakaian, menjaga jarak dan memakai masker. Lalu saya pergi swab ke rumah sakit. Hasilnya dinyatakan positif Covid 19.

Selama isolasi, banyak kerabat dan teman yang menaruh simpati. Berbagai saran disampaikan, baik melalui WA grup maupun menelepon langsung. Ada yang memotivasi semangat, dan ada pula yang memberikan obat. Ada juga yang menceritakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain.

Namun tak sedikit pula yang mengirimkan makanan yang akan menggugah selera dan buah-buahan. Sampai-sampai kamar saya penuh dengan makanan dan buah-buahan. Sayang, selera saya baru muncul pada hari kesembilan isolasi. Setelah itu apa yang dimakan mulai terasa enak.

Seiring dengan itu, suasana di tempat isolasi makin menyenangkan. Mungkin karena senasib dan sepenanggungan. Bercengkrama dan bersukacita. Para nakes juga suka berseloroh membangkitkan semangat. WA grup penghuni diisi dengan gurauan dan celotehan. Suasana inilah yang membuat betah di dalam.

Namun tempat isolasi itu harus saya tinggalkan, dan jangan sampai kembali lagi. Aamiin. (*)

Di Unri, Mahasiswi Lebih Stres Dibanding Mahasiswa

Aura Madani Fenika, peneliti tingkat tekanan (stres) mahasiswi Universitas Riau. (ist)

Jayakarta News – Tingkat tekanan (stres) mahasiswi Universitas Riau (Unri) lebih tinggi dibandingkan tingkat tekanan mahasiswa. Hal ini antara lain disebabkan karena perempuan punya perhatian lebih terhadap sesuatu dan memiliki perasaan yang lebih perasa dibandingkan laki-laki. Mahasiswa cenderung tidak peduli atau cuek terhadap masalah-masalah kecil yang dihadapi.

Padahal, perilaku belajar dan dukungan sosial mahasiswi justru lebih baik dibandingkan mahasiswa. Perilaku belajar itu antara lain kebiasaan mengikuti pelajaran, membaca buku, kunjungan ke perpustakaan, dan menghadapi ujian. Sedangkan dukungan (sokongan) sosial itu berasal dari teman-teman, orangtua, dosen, pembimbing dan masyarakat.

Demikian kesimpulan penelitian Aura Madani Fenika, (21), mahasiswi tingkat sarjana (S1) Jurusan Psikologi, Fakultas Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), terhadap seluruh mahasiswa S1 Universitas Riau (Unri). Penelitian yang dilakukan Februari 2019 itu berjudul ‘’Pengaruh Sokongan Sosial dan Tingkah Laku Belajar terhadap Tekanan dalam Kalangan Pelajar Universitas Riau’’.   

Peneitian ini mengambil populasi seluruh mahasiswa S1 Unri dari semua fakultas yang berjumlah 28.722 orang. Dengan metode Slovin diambil sampel 395 orang yang dipilih secara proporsional. Hasil penelitian ini mengantarkan Aura untuk menyelesaikan pendidikannya di UKM Malaysia. ‘’Setelah melakukan internship selama dua bulan, Insya Allah, pada 4 November nanti saya diwisuda,’’ ujar Aura, putri pertama anggota Dewan Pendidikan Provinsi Riau, Fendri Jaswir kepada wartawan di Pekanbaru, Selasa (10/9/2019).

Dijelaskan, ada lima tingkat tekanan (stres) yakni tekanan normal, ringan, sedang, berat dan sangat berat. Tekanan normal seperti detak jantung lebih cepat, merasa capek, takut atau risau tidak lulus. Tekanan ringan seperti dimarahi dosen, macet di jalan, yang memunculkan sulit bernafas, bibir terasa kering, badan terasa lemas, keringat berlebihan, dan takut tanpa alas an. Tekanan sedang seperti pertengkaran yang tidak dapat diselesaikan sehingga memunculkan gejala mudah tersinggung, mudah lelah, marah, sulit istirahat dan gelisah.

Sedangkan berat seperti kegaduhan atau kesalahpahaman dengan dosen atau rekan secara jangka panjang. Tekanan ini menimbulkan gejala tidak berminat atau semangat untuk beraktvitas, selalu ingin menyerah, merasa tidak dihargai orang lain, dan merasa tidak punya harapan di masa datang. Sementara tekanan sangat berat memakan waktu cukup lama dengan kecenderungan mudah pasrah dan tidak memiliki motivasi dalam kehidupan, serta kemurungan yang berat.

Menurut Aura, dari penelitian ini ternyata tidak ada hubungan signifikan antara dukungan sosial dan perilaku belajar dengan tekanan. Boleh jadi bagi mahasiswa Unri dukungan sosial dan tingkah laku belajar tidak memiliki kaitan terhadap tekanan yang mereka rasakan. Namun dukungan sosial memiliki kaitan dengan tingkah laku pada aktivitas belajar.

Meskipun demikian, kata alumni SMAN 4 Pekanbaru ini, tingkah laku belajar dan sokongan sosial memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat tekanan mahasiswa. Artinya, jika mahasiswa mendapat sokongan sosial yang baik, maka mengalami tahap tekanan yang rendah. Begitu pula dengan mereka yang berprilaku belajar baik akan mengalami tahap tekanan rendah.

Karena itu, saran Aura, sokongan sosial dan perilaku belajar penting untuk mengurangi  tekanan (stres)  mahasiswa Unri. Sokongan sosial itu berasal dari ibubapa, suami, isteri, anak-anak, saudara terdekat, teman-teman, dosen, pembimbing dan masyarakat sekitar. Mahasiswa juga harus memperbaiki perilaku belajar dengan menyusun, merancang, dan memperbaiki kebiasaan. (*)

Tokoh PAN Riau Dukung Zulkifli Hasan Kembali Jadi Ketua Umum PAN

Zulkifli Hasan dan Fendri Jaswir. (ist)

Jayakarta News – Tokoh PAN Riau yang pernah duduk di DPRD Provinsi Riau, Ir. H. Fendri Jaswir, MP mendukung Zulkifli Hasan kembali memimpin Partai Amanat Nasional (PAN). Alasannya, sosok Ketua MPR RI itu relatif masih diterima semua kalangan di internal PAN.

Pernyataan Fendri Jaswir ini menanggapi ramainya bursa calon Ketua Umum PAN 2020-2025 menjelang  Kongres PAN, Januari tahun depan. ”Bang Zul masih layak dan pantas untuk memimpin PAN lagi. Beliau relatif diterima semua pihak di internal PAN di semua tingkatan,” ujarnya di Pekanbaru, Jumat, (30/8/2019).

Bang Zul — begitu Zulkifli Hasan akrab dipanggil — merintis karir politik di PAN sejak awal. Sebelum menjadi Ketua Umum, berbagai jabatan sudah pernah dipegangnya antara lain Sekjen dan Ketua DPP.  Putra Lampung ini pernah di DPR dan menjadi Menteri. ”Pengalaman itu yang menempa Bnag Zul sehigga matang di politik,” kata Fendri.

Anggota Dewan Pendudikan Provinsi Riau ini menilai Zulkifli pandai memainkan irama politik sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Dia tetap mengangkat yang isu-isu nasional dan mengkritisinya tanpa menyinggung dan menyudutkan pihak lain. ”Di situ kepiawaian Bang Zul bermain politik,” ujarnya.

Memang kursi PAN agak turun dibandingkan lima tahun lalu, namun kata Fendri, itu tidak terlepas dari sistem perhitungan kursi dan suara pada Pemilu 2019 yang menguntungkan partai besar dan merugikan partai tengah. Makanya PAN dari awal menolak sistem perhitungan suara dan kursi ini.

Fendri yakin di tangan Zulkifli Hasan, PAN akan kembali berjaya lima tahun mendatang. Dengan syarat tentu konsolidasi partai dilaksanakan dari sekarang. Himbauan Bang Zul kepada kader PAN untuk move on dan tidak baper, adalah himbauan yang tepat untuk kondisi sekarang. Sebab, partai lain sudah melangkah menuju 2024.

”Saya melihat Bang Zul sudah mulai turun ke daerah-daerah untuk konsolidasi dan berkomunikasi. Selama ini Bang Zul memang rajin turun ke bawah, apalagi sejak beliau Ketua MPR RI,” kata Fendri Jaswir yang lima tahun lalu juga termasuk pendukung Zulkifli Hasan.

Selain Zulkifli Hasan, calon-calon Ketua Umum PAN yang ramai dibicarakan di internal PAN antara lain Drajat Wibowo, Hanafi Rais dan Asman Abnur. Dari luar kader muncul nama Anies Baswedan, Sandiaga S Uno, dan Jenderal (Pur)  Gatot Nurmantyo. (*/rr)

Fendri Jaswir JK: DK PWI Buat Kode Perilaku Wartawan

H. Fendri Jaswir, Sekretaris DK PWI Provinsi Riau.

DEWAN Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (DK PWI) sudah menyelesaikan draf Kode Perilaku Wartawan PWI. Draf ini dibahas intensif dalam Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) DK PWI di Hotel Millennium, Jakarta, 12-14 Desember 2017.

”Kode Perilaku Wartawan ini penting untuk pedoman bagi Dewan Kehormatan dalam menegakan harkat dan martabat wartawan anggota PWI,” ujar H. Fendri Jaswir, Sekretaris DK PWI Provinsi Riau, Rabu (13/12/2017).

Konkernas DK PWI ini diikuti oleh Ketua dan Sekretaris DK PWI Provinsi se Indonesia dan DK PWI Pusat. PWI Riau mengirim Ketua DK PWI Riau H. Dheni Kurnia dan Sekretaris DK PWI Riau H. Fendri Jaswir.

Menurut Fendri, selama ini PWI sudah punya Kode Etik Jurnalistik (KEJ).  Namun belum bisa menjangkau anggotanya yang melakukan pelanggaran perilaku. ”Dalam Kode Perilaku Wartawan ini diatur kewajiban, larangan dan perilaku yang dilarang. Juga diatur sanksi yang akan diberikan,” katanya.

Selain membahas Kode Perilaku Wartawan, Konkernas DK PWI ini juga membahas penyempurnaan Kode Etik Jurnalistik PWI. Juga dibahas tentang kualifikasi ahli pers. Ahli pers ini akan membantu wartawan anggota PWI yang mengalami sengketa pers. ”Nanti akan ada pelatihan ahli pers,” kata Fendri.

Nantinya, DK PWI akan membuat pedoman organisasi tentang masalah-masalah teknis perilaku ini. DK PWI juga akan membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) penyelesaian sengketa pers oleh DK PWI provinsi. ”Sehingga DK PWI Provinsi punya kerangka kerja yang jelas dalam penyelesaian pelanggaran etika, perilaku dan sengketa pers,” tuturnya. *

Pak Mul… Tuhan akan Menyambutmu dengan Tersenyum

Haji Muljadi terakhir menghadiri HPN di Ambon, 9 Februari 2017. Foto: Fendri Jaswir

KABAR duka datang dari rekan Ir. H. Fendri Jaswir, MP. Diwartakan, Muljadi, wartawan senior yang pernah membantu Harian Jayakarta itu, meninggal dunia di RSUD Pekanbaru, Riau, Sabtu 27 Mei 2017 pukul 18.10 WIB. Kami, keluarga besar Jayakartanews turut kehilangan.

Pak Mul, begitu kami menyapa almarhum, adalah pribadi yang ramah. Sangat ramah, bahkan. Selain itu, pria kelahiran Bandung 18 April 1943 itu juga periang. Sebagai kepala desk rubrik Daerah Harian Jayakarta, lulusan Fakultas Sastra Prancis, Unpad Bandung itu terbilang redaktur paling awal datang, dan paling cepat pulang.

Karena ia tinggal kost tak jauh dari kantor Harian Jayakarta (Suara Pembaruan Group) di bilangan Cawang, maka tak jarang, pagi-pagi pun ia sudah nongol di kantor. Gayanya yang khas adalah bersiul-siul atau bersenandung. Satu per satu karyawan yang sudah ada, ia sapa. Karena pagi hari, yang paling rajin disapa tentu saja Mona, Sekretaris Redaksi yang cantik.

Pak Mul, dalam rangkaian acara Hari Pers di Maluku, Februari 2017. Foto: Fendri Jaswir

Kenangan terhadap pak Mul, pastinya ada di setiap benak para wartawan yang pernah tinggal kost tak jauh dari kantor, seperti Shanty Sibarani (almarhumah), Diana Runtu, Agus Hafes, Nina, Laksmi, dan masih banyak lagi. “Nggak kira-kira, pagi-pagi sudah ketuk-ketuk pintu atau jendela kost…. ya, just say hello aja, sambil manggil-manggil… Nontjeee… Nontjee…. Pak Mul lucu sekali. Dia juga perhatian sama kami-kami yang yunior,” kenang Diana “Nontje” Irene Runtu, wartawan Jayakarta yang ketika itu kost dekat kantor.

Pengalaman yang juga berkesan datang dari Katmin, sang OB favorit Jayakarta. “Pak Mul royal kalau lagi ada uang. Saya sering dikasih uang,” kenang Katmin. Tapi, ada kalanya pak Mul minta layanan aneh-aneh. “Maksudnya, kalau minta kopi atau teh kan biasa, tapi sering juga minta dipijitin kakinya. Trus nanti sekalian suruh bersihin jari-jari kaki…. Maklumlah, waktu itu kan beliau agak gemuk, jadi gak bisa nekuk badan sampai kaki, he…he…he….,” tambah Katmin sambil terkekeh.

Begitulah, pak Mul pun kami kenang sebagai pribadi yang begitu menyenangkan, humble, periang, dan penyayang. Meski tidak terlalu lama ia membantu kami di Jayakarta, tetapi tidak satu pun dari kami yang melupakan jasa dan kebaikan almarhum.

Jenazah Haji Muljadi akan dimakamkan di pemakaman umum Senapelan Jalan Riau depan Hotel Mutiara Merdeka. Foto: Fendri Jaswir

Almarhum Muljadi tercatat pernah menjadi wartawan Pikiran Rakyat Bandung. Kemudian, pindah ke Jakarta dan menjadi wartawan Sinar Harapan. Setelah menikah dengan Wan Fauziah, putri mantan Walikota Pekanbaru, Wan Abdurrahman, almarhum pindah ke Pekanbaru, menjadi koresponden Sinar Harapan.

Ketika Sinar Harapan dibredel dan lahir Suara Pembaruan, Muljadi bertahan di Suara Pembaruan sampai pensiun tahun 2000. Setelah pensiun, almarhum menjadi koresponden lepas di Suara Pembaruan dan menulis di berbagai media di Riau, Sumbar dan Jakarta hingga akhir hayatnya.

Pak Mul sudah menulis 5 buah buku tentang perjalanan jurnalistik. Meninggalkan satu anak; Muhammad Emille Zola, dan dua orang cucu. Selama menjadi wartawan, sudah menunaikan rukun haji sebanyak 6 kali dan berkeliling dunia dalam tugas tugas jurnalistik. Antara lain ke wilayah Asia Tenggara, Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Almarhum juga pernah menyambangi Makam Sjech Yusuf di Afrika Selatan. Selamat jalan pak Mul… Tuhan akan menyambutmu dengan tersenyum. ***

Di Riau, Marak Pungutan Sekolah

DEWAN Pendidikan Provinsi Riau menegaskan pihak sekolah dan komite sekolah dilarang melakukan pungutan dalam bentuk apa pun. Bagi yang melanggar akan mendapatkan sanksi, termasuk sanksi pidana. Penegasan itu disampaikan anggota Dewan Pendidikan Provinsi Riau Ir H Fendri Jaswir MP kepada Jayakartanews.com, baru-baru ini, menanggapi maraknya pungutan di sekolah menjelang berakhirnya tahun ajaran 2016/2017.

Menurut Fendri, Peraturan Mendikbud RI Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah tertanggal 30 Desember 2016 pada Pasal 12 bagian b ditegaskan komite sekolah, baik perseorangan maupun kolektif dilarang melakukan pungutan dari peserta didik atau orangtua/walinya. Pungutan adalah penarikan uang oleh sekolah kepada peserta didik, orangtua/walinya yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan.

Ir H Fendri Jaswir MP

Dalam Pasal 10 Permendikbud ini dijelaskan komite sekolah melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya untuk melaksanakan fungsinya dalam memberikan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan. Penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya itu berbentuk bantuan dan/atau sumbangan, bukan pungutan.

Jadi, kata Fendri, komite hanya boleh menggalang bantuan dan sumbangan. Bantuan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh pemangku kepentingan satuan pendidikan di luar peserta didik atau orangtua/walinya, dengan syarat yang disepakati para pihak. Sedangkan sumbangan adalah pemberian berupa uang/barang/jasa oleh peserta didik, orangtua/walinya baik perseorangan maupun bersama-sama, masyarakat atau lembaga secara sukarela, dan tidak mengikat satuan pendidikan.

Seperti banyak diberitakan, menjelang akhir tahun ajaran ini banyak sekolah yang melakukan pungutan, antara lain untuk lolos PBUD (penelusuran bibit unggul daerah) dan PBM (penelusuran bakat dan minat), uang perpisahan dan uang ijazah. ”Pungutan-pungutan seperti ini harus dihentilkan,” ujar mantan anggota DPRD Riau itu.

Fendri mengatakan, komite sekolah harus kreatif dalam menggalangan bantuan dan sumbangan. Mereka yang punya uang bisa menyumbang lebaih banyak, tapi sebaliknya yang kurang mampu tidak memberikan sumbangan. Sumbangan bisa juga digalang dari sumber di luar sekolah. ”Paradigmanya harus diubah, dan komite harus lebih kreatif,” ujarnya. ***