Connect with us

Entertainment

Mantan Buruh di Jepang Reunian

Published

on

JAYAKARTA NEWS—-Kami pernah sama-sama bekerja sebagai buruh upahan di Jepang. Senang rasanya dapat bersua kembali setelah 16 tahun berlalu. Walau buruh, setidaknya bangga pernah menjadi ‘Pahlawan Devisa Negara’ sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Berawal kami sama-sama menjadi crew film “The Piano Man.” Lokasi shooting film ini dilakukan di tiga Negara; Indonesia, Jepang dan Australia. Di Jepang, pengambilan gambarnya dilakukan di kota Osaka, Kyoto, Yokohama dan Tokyo.

Sepanjang pertemuan pekan lalu banyak hal diceritakan. Baik cerita pengalaman semasa di Jepang, maupun selama 16 tahun kami tak bersua. Dari cerita soal geisha dan kawasan prostitusi, hingga budaya Indonesia yang didamba orang Jepang.

Di Yokohama misalnya, kami sempat menelusuri Hirato – Sakuragi Road. Kawasan yang dikenal tempat mangkal para geisha (pelacur) jika malam tiba. Di sini para germo secara terbuka menawarkan prostitusi lewat iklan media luar ruang (billboard). Memajang foto geisha berparas cantik dengan pose syur berikut penawaran harga.

Lalu perkenalan kami dengan Emi Kobayashi, seniman asal Osaka, juga dosen dan guru piano. Emi pernah belajar Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) di Denpasar Bali. Alumni Osaka College of Music, Fakultas Instrumen Piano, Jurusan Piano ini, memprakarsai berdirinya sanggar gamelan Bali Gita Kencana dan sanggar tari Bali Puspa Kencana, di daerah 1-1-12, Uehonmachi Nishi, Chuo-ku Osaka City. Tak kurang dari 30 orang menjadi anggota sanggar ini.

Lepas shooting kawan-kawan memilih tetap tinggal di negara matahari terbit itu. Agun Niardi, Ridwan, dan Wendri, bekerja di sebuah perusahaan Nippon Rikusho Kaisha Kabushiki. Sebuah perusahaan manufaktur otomotif paling establish di Kota Suzuka, Provinsi Mie, Jepang. Kota Suzuka dapat ditempuh kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan kereta tercepat Shinkansen dari Osaka.

Agun Niardi, Ridwan, dan Wendri, menyelesaikan kontrak kerjanya antara dua hingga empat tahun bekerja di Jepang. Saya pulang lebih awal ke Indonesia. Selain alasan keluarga dan tugas lain, saya juga harus mengikuti proses shooting berikutnya di kota lain, termasuk ke Sydney Australia.

Cara hidup dan ciri identitas diri sebagai bangsa? Itulah yang tetap dipertahankan orang Jepang dari generasi ke generasi. Jepang tetap mempertahankan simbol-simbol budayanya. Namun bukan berarti para wakomono (anak muda) Jepang lepas dari kontaminasi budaya asing yang paradoks – tak sejalan dengan nilai-nilai budayanya. Orang Jepang taat asas (nilai-nilai), tapi juga mabuk modernitas. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *