“Macak Ndeso, Sugih Bondo”

 “Macak Ndeso, Sugih Bondo”

GUNRETNO dan Gunarti, dua kakak-beradik tokoh lapangan yang memprovokasi masyarakat menolak kehadiran pabrik semen, ternyata rumahnya dibangun menggunakan semen. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan pejabat, pengusaha, asing, komunitas LSM, keduanya macak ndeso. Artinya, berdandan ala orang desa. Padahal, keduanya sugih bondo, artinya berkecukupan secara materi.

Pengamatan di lapangan, kedua rumah aktivis itu, sering digunakan kumpul dan melakukan rencana aksi atas pesanan para pihak yang berkepentingan. Terutama pihak asing. Dalam satu kesempatan, Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, peneliti LIPI yang juga “mbah”-nya aktivis, menyebut bahwa Gunretno dan Gunarti berlimpah uang yang didapat dari Sido Muncul, pabrik rokok, bahkan dana asing. Modusnya, membuat proposal untuk “kepentingan A”, tetapi dalam praktik, digunakan sebagian besar untuk “kepentingan B”.

Rumah Gunretno yang ternyata memakai semen.

Aksi tipu-tipu oleh Gunretno sebenarnya sudah banyak diketahui orang. Sumber di lapangan bahkan meminta supaya melakukan konvirmasi ke Cak Nun (Memha Ainun Nadjib). Cak Nun, yang awalnya simpati kepada JMPP (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng), pada akhirnya putus hubungan dengan Gunretno karena merasa dimanfaatkan. Sumber itu bahkan menyebut, konteks pemanfaatan nama besar Cak Nun bahkan sampai kepada meminta uang dengan dalih pinjam, yang tidak pernah dikembalikan.

Puncaknya pada salah satu acara pengajian di Alun-alun Pati, Gunretno yang notabene tidak mencantumkan agama di KTP-nya itu, menghasut jamaah dan mendiskreditkan Cak Nun. Sejak itu pula Cak Nun kecewa berat kepada Gunretno. “Coba cek…. Cak Nun sudah gak pernah mau datang kalau diundang pengajian di Pati,” ujar sumber itu. ***

Digiqole ad

Related post

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *