Konsep Kuno Koenokoeni

 Konsep Kuno Koenokoeni
Hangout di Koenokoeni Cafe Gallery, Semarang, sangat mengasyikkan. Selain menu yang enak, konsep jadul yang ditawarkan pengelola kafe, menjadi daya tarik tersendiri. Kawasan Candi yang sejuk, juga menjanjikan panorama Kota Semarang malam hari yang indah. Foto: S. Resti Handini

ANDA mengunjungi kota Semarang belum lengkap jika tidak berkunjung ke Koenokoeni Cafe Gallery. Konsep cafe yang juga berfungsi sebagai Gallery tentu menjadikan Koenokoeni sebuah resto yang beda. Berada di area Candi, tepatnya di Jalan Tabunan, cafe yang bermakna kuno ini menyediakan dua macam menu, Jawa dan menu ala Barat.

Di tempat ini kami dan mungkin kebanyakan orang yang berkunjung ke resto antik ini tidak mengeksplore makanan dan minuman yang diajikan, melainkan lebih banyak bersantai dan menikmati view kota Semarang di malam hari yang indah. Lokasi cafe memang di atas bukit.

Terompet-terompet kuno menghiasi salah satu sisi ruang dalam Koenokoeni Cafe Gallery. Foto: S. Resti Handini

Dari namanya saja jelas menyiratkan kesan koeno. Sedangkan koeni mempunyai arti sangat kuno. Orang Jawa gemar mengganti huruf jadi “i” untuk memberi penekanan “lebih”. Misal kata ombo (luas), menjadi ombi untuk mendapatkan arti “lebih luas” atau “luas sekali”. Atau murah menjadi murih untuk menggambarkan arti sangat-sangat murah.

Sekuno apa cafe gallery ini? Tentu kita sudah bisa menduga cafe ini merupakan tempat makan yang didesain dengan aneka pernak pernik barang kuno. Terlihat dari bangunan dan interior yang ada di dalam dapat dikatakan semua mengandung unsur antik. Dari pintu masuk langsung berhadapan dengan mobil kuno Chevrolet kuning dan sepasang motor jadul. Menginjakkan kaki di ruang depan kita disuguhi koleksi kain batik tulis. Tidak hanya untuk pajangan tetapi dapat dibeli.

Kursi antik dengan alas batu onix, cukup menyedot perhatian. Foto: S. Resti Handini

Masuk di bagian tengah ruang dihiasi beberapa lemari kuno berisi guci keramik, teko, poci, rantang rantang kuno, radio, kamera, mesin ketik dan berbagai alat musik seperti terompet. Di tengah ruangan berdiri dua ekor anjing hitam terbuat dati porselen, bagaikan menjaga ruang resto yang mirip sekali dengan anjing hidup. Sedangkan di bagian belakang terlihat seperangkat gamelan, gong, juga alat alat musik. Sederetan Vespa kuno dan aneka macam motor, juga motor besar.

Di bagian belakang ini oleh pemiliknya memang dibuat sebagai area semi terbuka, seperti teras luas. Kita bisa menikmati angin semilir dan pemandangan kota Semarang dengan kerlap kerlip lampu menambah suasana indah. Tentu saja membuat para pengunjung ‘betah’ berlama lama duduk dikitari meubel /perabotan unik etnik yang keren.

Bagaimana dengan sajiannya? Untuk menu Jawa, Anda dapat memilih yang khas dan dikenal enak seperti Nasi Lodeh Ikan Bawal, Nasi Tengleng, Nasi Babat Gongso, Nasi Sayur Asem Empal Gepuk, Nasi Asem Ikan Patin, Aneka Sambal Raden. Sedangkan menu ala Barat antara lain aneka Crispy Pizza, Piccolo/ Barbecue sauce, Spicy Chicken dan aneka dessert.

Di sini pun Anda dapat menjumpai menu minuman Wedangan Tjeret Blirik dengan pilihan Wedang Uwuh, Wedang Rempah, Wedang Ronde, Wedang Roti, Wedang Kacang Tanah. Sayang kami datang di pengujung malam, sudah hampir ‘last order’ sehingga tidak banyak hidangan dan minuman yang bisa kami cicipi. ***

Pintu masuk ke dalam Koenokoeni Cafe Gallery, Semarang. Dua motor jadul jadi hiasan. Foto kanan: patung “Loro Blonyo” ikut memperindah ruangan. Foto: S. Resti Handini
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *