Kejamnya Ibu Tiri, tak Sekejam Ibu Kota

 Kejamnya Ibu Tiri, tak Sekejam Ibu Kota
Kepedulian Buyar Winarso. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS – Bandung kota besar. Bahkan teramat besar bagi seorang bocah bernama Buyar Winarso yang baru saja lulus SD. Sekalipun begitu, ia telah berhasil menorehkan kisah heroik, dengan sukses gilang-gemilang “menaklukkan” Paris van Java. Diawali dengan menjadi pekerja restoran Padang, hingga sukses menjadi pedagang rokok.

Itu cerita lama.

Bagaimana Bandung tahun 1986 bagi Winarso yang kini sudah lulus SMA, bahkan sudah berusia 23 tahun? Kurang menantang. Masih ada langit di atas langit. Ada kota besar di atas kota besar. Jakarta. Ibu kota negara inilah yang terlintas di benak Buyar Winarso, ketika terbersit keinginan mengadu nasib pasca lulus SMA Muhammadiyah Kebumen.

Banyak teman yang sudah lebih dulu merantau ke Jakarta. Beberapa di antaranya, saat pulang Lebaran, ada yang menceritakan betapa mudahnya mendapatkan uang di sana. Tentu saja, mudah bagi siapa pun yang bermental baja dan mau bekerja keras.

Jakarta bukanlah kota yang terlalu asing bagi Buyar Winarso. Semasa SMA, saat musim libur, ia sering ke Jakarta. Liburan? Ah, tidak! Terlalu mewah baginya. Ia ke Jakarta untuk mengais rupiah. “Daripada bengong di rumah, saya ke Jakarta. Kerja apa saja, yang penting pulang bawa uang,” ujarnya.

Mengisi liburan sambil kerja di Jakarta, adalah cara memelihara etos kerja keras. Salah satu pekerjaan yang sudah pasti ada, dan dengan mudah bisa didapat adalah buruh konstruksi. “Kasarnya yaaa jadi kuli bangunan. Angkat-junjung batu-bata, semen, pasir…, ya pokoknya pekerjaan bangunanlah,” tuturnya.

Salah satu proyek gedung tempat Winarso pernah menjadi kuli dalam proses pembangunannya antara lain Gedung Arsip Nasional di Jalan Ampera, Jakarta Selatan. “Saya masih ingat, bekerja di sana waktu bulan Puasa. Sekolah dulu kan kalau puasa libur,” katanya.

Pada akhirnya, Winarso sadar betul, bekerja sambil mengisi liburan Ramadhan banyak manfaatnya. Selain memelihara semangat kerja keras, ibarat menyelam minum air. “Selesai bekerja, saat pulang kampung jelang Lebaran, saya dapat uang. Bisa untuk beli baju baru, he…he…he…,” ujarnya berbinar-binar.

Kisah pun berlanjut dari titik di mana Buyar Winarso sudah mengantongi ijazah SMA. Bermodal relasi sejumlah teman yang ada di Jakarta, maka ia pun memantapkan hati pergi ke sana. Jakarta yang dikenal sebagai kota “keras” dan ada kalanya “kejam” bagi siapa pun yang datang, sama sekali tidak menciutkan nyalinya. Sebaliknya, ia merasa tertantang untuk bisa menaklukkan “kejamnya Ibu Kota”.

Catatan kehidupan pun menuliskan tahun 1986 sebagai tahun “hijrah” Buyar Winarso dari Kebumen ke Jakarta. Tekadnya satu: Meraih kehidupan yang lebih baik. Titik. Ia berangkat ke Jakarta dengan sangu pas-pasan, lima ribu rupiah saja. Itu pun pemberian seorang teman yang bernama Tasman. “Uang lima ribu, dipotong beli tiket kereta api hampir dua ribu rupiah. Jadi, praktis saya memulai hidup di Jakarta dengan bekal uang tiga ribu rupiah. Saya yakin bisa. Harus bisa,” tegasnya.

Sebelum berangkat, ritual yang tak pernah ia lupakan adalah memohon doa restu kedua orangtua, serta nenek tercinta. “Keputusan saya merantau ke Jakarta, mendapat restu mereka. Itu adalah bekal yang lebih bernilai dibanding uang,” ujar Winarso.

Laju kereta api ekonomi senja “Sawunggalih” jurusan Kutoarjo – Jakarta, melaju, mambawa Buyar Winarso lengkap dengan segenap tekad menyabung nasib di Jakarta. Kereta api klasik yang sudah dioperasikan sejak tahun 1977 itu, menjadi alat pendekat-jarak antara Kebumen-Jakarta.

Suarat derit sambungan gerbong, gemuruh gaduh roda besi beradu rel, serta raungan klakson dari lokomotif KA Sawunggalih, mengguncang-guncang tubuh Buyar Winarso dalam perjalanan yang hampir 10 jam lamanya. Maklum, tahun 1986 belum ada bentangan rel ganda, sehingga hampir di setiap stasiun, kereta api ekonomi itu berhenti.

Lepas subuh Buyar Winarso menjejakkan kakinya di Jakarta. Berbekal alamat sebuah rumah petak yang terletak di bilangan Cikokol, bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, ia menaiki moda transportasi umum ke sana. Di rumah itu tinggal beberapa teman asal Kebumen yang rata-rata berprofesi sebagai tukang-becak.

“Saya menumpang sementara di situ, sambil nyambi kerja ini-itu, termasuk mengayuh becak. Itu saya lakoni sekitar seminggu,” kisah Winarso mengawali hidup di Ibu Kota.

Sembari kerja serabutan, Winaso pun melayangkan lembaran-lembaran surat lamaran ditujukan ke berbagai lowongan kerja. Lamaran tak juga bersambut, hingga suatu hari, ia jumpa seseorang yang baik hati. Ia menawarinya pekerjaan menjaga rumah kosong di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Pendek kata, ia ditawari “pekerjaan” menjaga rumah kosong sekaligus bersih-bersih. Winarso tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Setidaknya, satu soal teratasi. Yakni soal tempat tinggal,” batinnya.

Sesekali pemilik rumah datang menengok rumah dan melecut semangat Buyar Winarso untuk mencari dan mencari pekerjaan tetap. “Setiap ada berita lowongan kerja, dia pasti menyuruh saya melamar. Bukan cuma disuruh membuat lamaran, tapi sekaligus memberinya ongkos untuk jalan mencari-cari peluang kerja,” ujarnya. (Roso Daras/Bersambung)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *