Kehadiran Turis tak Bikin Komodo Stres

 Kehadiran Turis tak Bikin Komodo Stres
Komodo di Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur[JP/Intan Tanjung]

KEHIDUPAN komodo di Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur, tampak telah menyatu dengan masyarakat dan bahkan dengan turis yang berkunjung ke kawasan itu untuk menyaksikan kadal purba raksasa yang sampai sekarang keberadaannya masih bertahan. Melihat “keakraban” manusia dengan reptil  raksasa itu, lantas timbul pertanyaan kalau kemudian ada yang menggambarkan kehadiran wisatawan telah membuat para komodo stres atau tertekan.

Komodo yang tampak tak terusik saat wisatawan datang, memberi gambaran “persahabatan” atau saling pengertian antar dua jenis makhluk tersebut. Itulah sebabnya Kepala Taman Nasional Komodo Nusa Tenggara Timur (Sudiyono), menolak pendapat yang menyatakan bahwa  komodo di taman nasional itu berada di bawah tekanan akibat wisatawan.

“Komodo merasa nyaman sejauh ini. Mungkin ada perubahan sikap, tapi mereka tidak stres. Saat binatang tertekan, mereka menjadi agresif dan sampai saat ini belum ada perilaku agresif, ” jelas  Sudiyono.

Tanggapan itu disampaikan saat ditanya terkait dengan kabar yang menyebutkan  bahwa peningkatan jumlah pengunjung di taman tersebut menyebabkan tekanan pada spesies kadal, yang terbesar di dunia.

Sudiyono mengatakan bahwa tidak ada penelitian khusus yang dilakukan yang membuktikan bahwa komodo ditekankan, namun dia mencatat bahwa naga lebih agresif jika mereka terganggu saat makan.

“Komodo akan lebih agresif saat sedang makan atau terganggu saat makan. Jika mereka sudah selesai makan tapi mereka melihat sesuatu bergerak, naluri mereka akan memberi tahu mereka bahwa [benda bergerak] adalah makanan, “katanya.

Berbicara mengenai kasus baru-baru ini dimana pengunjung diserang oleh komodo, Sudiyono mengatakan serangan tersebut terjadi karena para pengunjung tidak mengikuti panduan mereka. Pengunjung harus disertai pemandu setiap saat, sesuai peraturan taman.

Berkenaan dengan meningkatnya jumlah pengunjung, Sudiyono mengatakan situasi tersebut secara otomatis dikendalikan oleh terbatasnya jumlah pemandu yang tersedia dan para pengunjung ikut serta dalam kegiatan lain, seperti menyelam, snorkeling dan lompat pulau.

Dalam sebuah Kepala Dinas Pariwisata NTT, Maurius Ardu Jelamu, sebelumnya pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap komodo-komodo yang diduga tertekan. Dia mengaku, dirinya telah  mendapat banyak masukan  dari turis mancanegara, beberapa di antaranya dari Singapura dan Eropa. Katanya, saat mereka berkunjung, mereka melihat bagaimana pola kunjungan ditamah nasional itu tidak dikelola dengan baik, karena tingginya jumlah pengunjung di taman nasional.

Menanggapi  tentang pengunjung yang diserang komodo, Marius mengatakan bahwa komodo biasanya tidak bertindak agresif. Dengan demikian, penelitian lebih lanjut harus dilakukan untuk mengetahui adanya  pergeseran perilaku. Menurutnya, apabila  penelitian menemukan bahwa komodo peka terhadap keberadaan manusia, jam kunjungan taman hendaknya dapat diubah.

Dikatakan, pihaknya  tidak akan membatasinya, tapi harus mengaturnya ulang mulai jam kunjungan. Seharusnya ada jam bebas pengunjung agar taman itu kurang dikemas. .

Kepala Asosiasi Asosiasi Pariwisata dan Perjalanan Indonesia NTT (ASITA), Abed Frans, mengatakan bahwa dia tidak yakin apakah komodo stres.

“Teman-teman saya mengatakan bahwa para tamu mengatakan bahwa mereka tertekan, tapi tidak semuanya. Saya tidak tahu apakah komodo bisa stres. Pada saat bersamaan, kami ditugaskan untuk menambah jumlah pengunjung, ” kata Abed. Apabila  terbukti komodo ditekankan, mungkin ada batas jumlah pengunjung harian, tambahnya.

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *