Jejak Kelam Soeharto di Resto Djakarta Bali

 Jejak Kelam Soeharto di Resto Djakarta Bali

 

 

APABILA Anda jalan-jalan ke kota mode, Paris, sempatkanlah berkunjung buat makan siang atau malam di Restoran Djakarta Bali. Lokasinya memang menjauh dari keramaian, ia ada di sebuah jalan kecil di kawasan Les Halles. Kalau kesulitan mencari, gunakan Google Map atau Waze. Pasti ketemu.

Restoran ini menjadi salah satu pilihan kalangan kelas menengan dan kaya di Paris —tak terkecuali orang Indonesia yang mendulang sukses di Prancis seperti Anggun (Cipta Sasmi)— untuk meninggalkan hiruk-pikuknya kota. Sudah tentu sementara. Tapi, dengan desain yang Indonesia banget, tempat ini membuat warga Paris tak perlu repot-repot terbang melintasi samudra dan benua demi untuk menimkati beberapa jumput keindahan, kemolekan dan cita rasa Indonesia.

 

Simaklah bagaimana dinding restoran itu dihias dengan  batu yang diambil dari Palimanan. Juga ada suguhan  musik gamelan, nuansa batik, wayang dan beberapa elemen dekoratif Indonesia lainnya.

 

Yang sangat khas adalah, resto  yang beroperasi semenjak  tahun 1978 ini, menyuguhkan suasana Pulau Dewata. Aroma dupa yang biasa dibakar di rumah-rumah dan pura di Bali. Suasana ini membawa para pelanggan ke dunia lain. Magis yang mengharmonisasi tiga kekuatan: manusia, alam,  dan dewa. Pastinya, resto ini bukan sekadar menawarkan makanan yang baik dan otentik, tertapi juga cerita menarik tentang Indonesia.

 

Inilah restoran yang didirikan oleh mantan Duta Besar Indonesia di Kuba, A.M Hanafi. Tempat eksotik ini, kini dikelola oleh putri bungsunya, Nina Hanafi. Bagaimana wajah ambasador Hanafi, bisa dilihat di sebuah foto saat beliau berpotret dengan Sang Putra Fajar, Ir. Soekarno.

Kalau dirunut sejarahnya, dua huruf “A”  dan “M”yang ada di depan nama Hanafi, rupanya merupakan hasil “persekongkolan” antara Hanafi dan Bung Karno. A.M rupanya merupakan kependekan dari “Anak Marhaen”. Untuk diketahui, Hanafi sebelumnya adalah  anggota kelompok inisiator republik, Menteng 31. Marhaen sendiri adalah nama seorang petani yang mengilhami Bung Karno untuk menggembangkan dan menghidupkan  ideologi Marhaenisme. Sebuah ideologi yang dipandang proklamator Indonesia tersebut yang dapat memperbaiki kehidupan rakyat kecil atau kaum proletar.

 

Foto kenangan Ambasador A.M Hanafi dan istrinya, Sukendah. (Dok. Nina Hanafi)Djakarta

 

Hanafi diangkat  Soekarno sebagai Dubes  Kuba pada tahun 1963. Namun, geger politik 1965 yang berujung pada kejatuhan Soekarno dan naiknya Soeharto di kursi kepresidenan, rupanya mengakhiri pula karir politik Hanafi sebagai ambasador.

Tragis. Bukan itu saja! Selain dicopot dari jabatannya,  paspor Indonesia Hanafi dan keluarganya juga ditarik secara misterius pada 1966. Mereka pun berstatus  tanpa kewarganegaraan.

Atas kebaikan pemerintah Kanada, Hanafi dan keluarganya akhirnya dapat  berangkat ke Prancis dengan berbekal dokumen perjalanan yang diberikan oleh Havana dengan payung Konvensi Jenewa. Keluarga Hanifi memperoleh suaka.

Untuk mempertahankan hidup di Paris, maka didirikanlah  Djakarta Bali. Selain sebagai resto, di tempat itu Hanafi juga memperkenalkan  bahasa Indonesia untuk Prancis.

Dalam sebuah perbincangan dengan Asmara Wreksono, Nina Hanafi mengaku, bahwa tatkala dirinya masih kecil,  “Indonesia adalah tempat virtual. Orang tua saya mengatakan kepada saya, bahwa kami pernah tinggal di sana. Saya makan nasi goreng, kerupuk, dan berbicara dengan keluarga saya di Indonesia. Dan tetap saja itu adalah tempat virtual, hampir tidak nyata.”

“Saya dilahirkan sebagai warga negara Indonesia, tetapi negara itu mencabut kewarganegaraan saya dan saya pikir itu tidak konstitusional. Saya bisa mengajukan gugatan untuk ini jika saya mau, tetapi jika saya melakukan itu, itu tidak akan pernah berakhir, ” tambah Nina.

Pada akhirnya, pada tahun 1994, Nina berkesempatan mengunjungi Indonesia, sebagai warga negara Perancis. “Saya pergi ke Indonesia waktu itu karena saya sangat ingin melihat negara. Saya lahir di Kuba dan tinggal di Perancis, jadi saya belum pernah ke Indonesia sebelum itu. ”

“Orang tua saya adalah patriot, mereka berpartisipasi dalam membangun Republik. Itulah mengapa mereka merasa sangat sedih, ketika saya memutuskan untuk mengambil kewarganegaraan Prancis, juga pada tahun 1994, ”katanya.

Ayahnya, A.M Hanafi dan istrinya, Sukendah, akhirnya menerima kembali  paspor Indonesia  pada tahun 1999 saat Presiden Abdurrahman  Wahid (Gus Dur) memanggil mereka pulang. Inilah kedatangan mereka kali pertama ke tanah air setelah lebih dari 30 tahun  dilarang pulang ke tanah airnya.

Oya, soal menu yang ditawarkan di Djakarta Bali, cukup beragam dan tentu saja orisinil. Ada  masakan klasik Indonesia seperti  ayam opor yang pas untuk menemani nasi panas,  sambal goreng ati nan lezat, sayur lodeh. Aroma masakannya sangat rumahan.  Hidangan lain yang tersedia di sini  adalah rendang, pepes ikan dan fillet ikan cod.

Restoran ini sudah banyak dipublikasikan dalam berbagai  terbitan  internasional seperti Gourmet, Zagat, Lonely Planet, Bottin Gourmand dan banyak lagi. Itu tak lain karena Djakarta Bali memang  menetapkan standar gastronominya sendiri.

Nina menjamin mutu  dan keaslian bahan masakannya, dengan mengimpor semua rempah-rempah dari Indonesia.Misalnya kemiri, kaempferia galanga, daun salam dan daun kunyit dll.  Penyajiannya pun dilakukan  dalam bentuk  yang paling otentik.

“Masakan kami memiliki standar yang berbeda dari masakan Eropa dan berfokus pada rempah-rempah lebih dari produk itu sendiri, bahkan jika produk harus selalu dipilih untuk kualitas mereka. Itu ‘makanan lambat’ yang dimasak dengan waktu dan cinta. ” Nah, kalimat terakhir inilah yang menjadi kunci mengapa Dajakta Bali sangat dikangeni oleh orang-orang kaya di Paris.

Penasaran? Cobain saja…

 

Note: Foto-foto koleksi IG @dajakartabali

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *