International Ethnic Music Festival, Menyediakan Ruang Apresiasi Baru dan Dialog Antar Musisi

 International Ethnic Music Festival, Menyediakan Ruang Apresiasi Baru dan Dialog Antar Musisi

JAYAKARTA NEWS – Musik etnik adalah musik yang dimiliki, dikembangkan, dikenal secara baik dan lazim dipakai oleh etnis tertentu untuk kepentingan tertentu. Secara turun temurun dalam keberagaman, selain sebagai hiburan, musik etnik juga acap digunakan untuk kepentingan keagamaan, peribadatan, misalnya menyangkut kelahiran, pernikahan dan kematian.

“Musik etnik atau musik tradisi punya peluang yang luas untuk bisa dikembangkan dan dikolaborasikan dengan musik apun. Inilah kedahsyatan musik tradisi Indonesia,” ujar Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang seorang musikus, Adra Karim, kepada penulis di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), baru-baru ini.

Karena itulah, Komite Musik DKJ tahun ini menghelat International Ethnic Music Festival III (IEMF, dulu bernama Etno Musik Festival) selama dua hari di TIM yang diikuti musisi tradisi dari Betawi, Aceh, Riau, Ternate, Tangerang dan Bali, serta dari Meksiko dan Ekuador. Dikatakannya, tujuan IEMF adalah menyediakan ruang apresiasi baru bagi para musisi etnik di daerah.

“Selain itu, melalui festival ini juga mendorong terjadinya dialog antar musisi tradisional di tengah zaman yang terus berubah sehingga memunculkan gagasan-gagasan yang inovatif dalam pelestarian dan pengembangan musik tradisi, terutama di kalangan kaum muda,” ucap Adra Karim yang lama studi musik jazz di Belanda.

“Agar musik etnik warisan leluhur ini enggak punah tergerus zaman. Kemunculan generasi baru yang hidup dalam peradaban digital memberikan peluang terciptanya pemetaan kembali musik tradisional melalui media-media baru,” imbuh Adra Karim yang anak aktris teater dan film, Niniek L Karim.

Senada dengan Cholil Mahmud yang dikenal sebagai vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca.yang jufa anggota Komite Musik DKJ. “Banyak banget bisa kita gali dari musik tradisi.  Para musisinya bisa memainkan dan hidup dari musik tradisi. Penontonnya juga merasa punya kebanggaan, senang dan kangen dengerin musik tradisi,” beber Cholil Mahmud.

Sebagaimana genre musik lain, klasik atau jazz misalnya, musik etnik juga memiliki estetika sendiri yang dihasilkan dari alat musik, permainan nada, ritme dan tempo. Musik tradisi enggak sekedar bebunyian, tapi memberikan keindahan bunyi kepada pendengarnya agar masuk ke kedalaman penjiwaan. “Jelas, musik etnik adalah musik yang enggak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, dan bentuk pengungkapan diri yang mewujud menjadi identitas,” urai Adra Karim lagi.

Musik tradisi bisa dikolaborasikan dan ber ‘jam session’ dengan musik modern, pop,  rock atau musik Melayu yang kaya dengan ritme yang meliuk. What next ? Tergantung dari para musisi tradisi dan pemerintah yang bisa memfasilitasi warisan budaya ini. Sudah saatnya memasyarakatkan musik tradisi dan memusik tradisikan masyarakat, sebagaimana bidang olahraga dan ekonomi. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.