Geliat KALog Yogyakarta Meningkatkan Penghasilan di Masa Adaptasi Pandemi

 Geliat KALog  Yogyakarta Meningkatkan Penghasilan di Masa Adaptasi Pandemi

Roni mengambil paket mukena dari Tasikmalaya.(Foto: Ernaningtyas)

JAYAKARTA NEWS— Siang itu, Kamis (2/9)  suasana kantor PT KAI Logistik (KALog) di Lempuyangan Yogyakarta seperti biasa.  Ada pelanggan yang mengirimkan barang, ada yang mengambil paket.  Tak terjadi antrean panjang, sebab ruang yang tersedia jauh lebih luas dibanding jumlah manusia  dan  barang yang mengisinya. Konsumen yang bertandang terhitung tak banyak, itu pun datang dan pergi silih berganti.

Kantor PT KALog Yogyakarta yang terletak 300-an meter arah barat Stasiun Lempuyangan itu terlihat baru.  Bersih penampakannya, milenial desainnya, mencolok warna catnya. Dominasi  warna oranye, biru dipadu garis putih membuat kehadirannya tampak kontras dibanding bangunan  gudang  PT KAI (Kereta Api Indonesia) Persero disampingnya yang tua usianya dan redup kesannya.  Sebuah armada truk boks yang diparkir di depannya, tampil dengan rangkaian warna senada.  Umbul-umbul merah putih menggantung melintang di langit-langit teras, menambah semarak suasana.    

Sebelumnya, kantor PT KALog Yogyakarta berada di Stasiun Tugu di ujung utara kawasan wisata Malioboro.  Mengingat tempat itu kian sempit untuk kegiatan opersional, maka dibangunlah kantor baru di kompleks Stasiun Lempuyangan.  Kantor KALog Tugu tetap  dipertahankan untuk melayani pengiriman paket setelah kantor PT KALog Yogyakarta di Lempuyangan beroperasi pada Mei 2021.  Dengan demikian PT KALog Yogyakarta memiliki dua kantor operasional.     

Kantor PT KALog di kompleks Stasiun Lempuyangan Yogyakarta (kanan), Kantor PT KALog di kompleks Stasiun Tugu Yogyakarta. (Foto: Ernaningtyas)

Di dua tempat itulah PT KALog Yogyakarta bergeliat meningkatkan penghasilan.  Upaya ini sejalan dengan kebijakan PT KAI induk yang sedang getol meningkatkan sumber pendapatan di luar angkutan penumpang yang terpuruk di masa pandemi.  Adaptasi di masa pandemi bagi PT KAI tak sekadar persoalan prokes demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19, tetapi juga persoalan mendongkrak sumber-sumber penghasilan dengan memaksimalkan potensi yang ada.  Salah satunya angkutan logistik melalui anak perusahaannya PT KAI Logistik.    

Kepala PT KALog  Yogyakarta, Ketut Mahayana,  menyatakan bahwa angkutan logistik kereta berpotensi besar menyumbang pendapatan BUMN yang bergerak di bidang angkutan berbasis kereta ini.  KALog memiliki banyak keunggulan.  “Dibanding angkutan berbasis  trucking, armada kereta  lebih cepat, lebih tepat waktu  dan dijamin keamanannya,” ucap Ketut.             

Kata Konsumen

Tawaran Ketut untuk menyediakan jasa layanan angkutan logistik yang cepat, tepat waktu  dan aman diamini konsumen.     

Setyo Harwanto misalnya. Lelaki muda ini mengambil sendiri paketnya di KALog Lempuyangan. Ia berjalan beberapa langkah ke arah luar menuju mobil yang ia parkir persis membelakangi ruang depan kantor.

Whipped cream instan powder,” jawab Tyo, demikian nama panggilannya, saat JayakartaNews.com bertanya apa isi dus itu.  Bahan pembuat roti dan minuman  tersebut dipesan dari Bandung, dikirim tanggal (1/9) dan ia terima pada (2/9)  pukul 10.40 WIB.    

“Semalam sampai, cepat dan aman untuk pengiriman bahan kue,” jelas Tyo memberikan alasan mengapa  ia  menggunakan ekspedisi KALog. Tyo memilih menjemput paketnya itu karena ukuran barang relatif kecil, demi  kecepatan dan faktor  keamanan.   

Setyo Harwanto mengambil paket Whipped cream instan powder (kanan), Carolin mengambil paket meja dan kursii dari Jakarta (kiri)–(Foto: Ernaningtyas)

Sebagai distributor bahan kue seperti Tyo, cepat dan aman, adalah dua kata yang tidak bisa ditawar untuk urusan kirim mengirim barang.  Sebab, mayoritas barang dagangannya tergolong tidak tahan lama dan  semua  konsumennya adalah pebisnis atau penikmat kuliner yang tidak sabar menunggu pesanan dalam kondisi segar tanpa cacat. 

Sama seperti Tyo, Roni si pedagang mukena, juga menyampaikan bahwa alasan kecepatan waktu membuatnya memilih KALog untuk pengiriman mukena yang ia pesan dari Tasikmalaya.  Ia juga bersedia mengambil paketnya itu di kantor KA Logistik yang berjarak sekitar empat kilometer (km) dari tempat tinggalnya di daerah Gejayan Yogyakarta.

“Cepat, aman dan murah,” jawab Roni memberikan alasannya memilih ekspedisi KALog dengan fasilitas  pengiriman stasiun to stasiun (S-S).  Mukena tergolong benda tahan lama, tetapi ketidaksabaran para konsumennya membuat faktor kecepatan menjadi prioritas.  Biaya pengiriman yang  murah juga ia  pertimbangkan.  Ini semua penting untuk mendongkrak daya saing.

Carolin,  konsumen KALog lainnya yang bukan pebisnis juga memberikan alasan yang sama.  “Saya mengambil paket meja dan kursi dari Jakarta,” katanya. Ekspedisi KALog ia pilih karena cepat, aman dan pelayanannya bagus.  “Untuk membongkar paking tidak dikenakan tambahan beaya,” pungkasnya.

Konsumen pengirim barang pun memiliki alasan yang sama.  Handoko mengirimkan tujuh pak besar kotak warna hitam berisi masker lewat KALog Stasiun Tugu dengan tujuan Solo Balapan.  “Murah dan cepat, untuk barang segitu banyak saya cuma membayar seratus enam puluhan ribu rupiah,” katanya.

Handoko, pelanggan KALog itu hanya beberapa menit saja berurusan dengan Edi Siswanto, petugas admin KALog di kompleks Stasiun Tugu Yogyakarta pada Jumat (3/9). Pagi itu tak banyak pelanggan datang karena bukan jam padat pengunjung yang biasanya terjadi selepas pukul 12.00 WIB.  “Saya memilih KALog karena murah dan aman,” kata Handoko memberikan alasan.

Aktivitas di kantor PT KALog Lempuyangan dan stasiun Tugu.(foto: Ernaningtyas). Kiri bawah: suasana di salah satu gerbong PT KALog. (Foto: istimewa)

Setelah menyaksikan penimbangan barang dan mendapatkan bukti pengiriman, Handoko bergegas menuju mobil boks tunggangannya dan segera berlalu meninggalkan tempat parkir KALog Tugu yang relatif sempit dan sebagian besar arealnya sudah digunakan untuk menampung sepeda motor.      

Oktavia Indri Sari Saputri juga memilih KALog. Ia mengirim sepeda motor ke Banyuwangi.  “Murah, aman dan saya sudah percaya karena dulu sewaktu mengirim ke Yogya juga menggunakan angkutan kereta,” kata Okta, demikian ia disapa. Untuk beaya kirim, perempuan muda ini merogoh kocek Rp 625.000.   Ia mengirimkan kembali motor tunggangannya itu karena ingin pulang kampung setelah tidak lagi bekerja di sebuah hotel di kota Yogya.

Okta dan kawan-kawan  di atas  mewakili karakter konsumen KALog.  Cepat, murah dan aman adalah alasan utama mereka memilih ekspedisi anak perusahaan  PT KAI (Persero) ini. Untuk itulah, mereka  bersedia mengambil dan mengantarkan sendiri paket-paket mereka di dua kantor layanan KALog yang berada di pusat kota Yogyakarta itu. 

Di Bawah Target

Kendati telah mendapatkan kepercayaan para konsumen ditambah dukungan armada kereta, bisnis ekspedisi KALog Daop 6 Yogyakarta tak  mampu memenuhi target yang telah dipatok dari pusat.  “Target kami seribu lima ratus ton per bulan,” kata Ketut.  Namun PT KALog Daop 6 yang  meliputi Yogya, Wates, Klaten dan Solo baru bisa merealisasikan  40 persennya.

Ketut Mahayana, Kepala PT KALog Yogyakarta (Foto: Ernaningtyas)

Ketut memperlihatkan catatan pengiriman barang. Periode bulan Januari  hingga Juli 2021, KALog Daop 6 telah mengangkut 4.458 ton logistik ke berbagai kota tujuan.  Itu berarti,  setiap bulannya jumlah barang yang diangkut mencapai 600-an ton.  “Angka ini hanya 40 persen dibanding target yang berada di angka seribu lima ratus ton,” tambahnya. 

Dari realisasi tonase itu, Ketut mengatakan bahwa uang yang bisa diraup mencapai Rp 694 juta dari Yogyakarta.  Jumlah yang hampir sama juga diraih KALog Solo. Dengan demikian KALog Daop 6 meraih  pemasukan sekitar Rp 1,3 miliar per bulan.

Ketut memberikan data. Ada dua kereta khusus angkutan logistik yang  dikelola KALog Daop 6 Yogyakarta. Kereta Parcel Tengah menjalani  rute Jakarta-Malang dan  Kereta Parcel Selatan untuk rute Bandung-Surabaya.  Selain dua kereta barang itu, KALog Yogyakarta juga memiliki tiga gerbong yang menempel di tiga kereta penumpang yakni Sritanjung, Joglosemarkerto dan Wijaya Kusuma.  Namun, hanya satu gerbong yang saat ini beroperasi yakni yang menempel di Kereta Sritanjung jurusan Jakarta.  Dua gerbong lainnya sedang off karena kebijakan PT KAI Induk tidak mengoperasikan kereta yang membawanya akibat imbas pandemi.   

Dari dua rangkaian kereta logistik itu, menurut catatan Ketut, selama situasi pendemi tidak terisi maksimal.  “Kereta Parcel tengah misalnya, dari tujuh gerbong, satu di antaranya kosong, atau ada satu gerbong yang hanya terisi seperempatnya saja,” tutur Ketut memberikan contoh. Kekosongan itu juga bisa terjadi akibat adanya pemilahan.  Misalnya gerbong khusus tujuan Jakarta, khusus hewan atau khusus lintasan.  Pembagian seperti itu membuat isi gerbong terpilah-pilah sehingga barang-barang yang diangkut terasa tidak memenuhi seluruh ruangan.

Ketut memaparkan bahwa ke depan pihaknya hanya mampu meraih 60 hingga 70 persen dari target yang dipatok. Di samping masih berada dalam kondisi pandemi, pencapaian yang tidak maksimal itu juga disebabkan oleh target yang menurut penilaian Ketut sangat besar.  “Angka seribu lima ratus ton itu susah dicapai bukan hanya karena pandemi, tetapi target itu sendiri memang tinggi,” tegas  Ketut. 

Sosialisasi

Untuk meraih sekitar 70 persen dari target, Ketut bersama pasukannya di KALog Daop 6 Yogyakarta mesti bekerja keras.  Mereka bahu membahu untuk mewujudkannya.  Salah satu yang utama adalah melakukan sosialisasi program-program KALog.   

Untuk merangsang pasar, PT Kalog memberikan fasilitas diskon sebesar 40 persen.  “Ini kita sosialisasikan kepada teman-teman mahasiswa,” tutur Ketut. 

Kerjasama dengan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga diagendakan.  “Di Daop lain, kerjasama dengan UMKM sudah berjalan, di kita belum” akunya.  Karena itu, Ketut segara berbenah.  Ia merangkul Dinas Koperasi dan UMKM untuk mensosialisasikan program diskon 40 persen bagi pelaku usaha kecil ini.

Ketut memberikan bocoran bahwa dalam waktu dekat, akan ada sinergi antara KALog dengan sebuah maskapai penerbangan.   Angkutan barang  bermoda  duet kereta-pesawat ini untuk meraih pasar yang lebih luas lagi ke seluruh nusantara.  Sosialisasi angkutan kereta api hingga ke luar pulau Jawa ini pun  akan gencar disuarakan.

Pengawalan khusus tabung oksigen (kanan). Pengiriman mesin lewat PT KALog (kiri bawah) (Foto: istimewa). Cek fisik sepeda motor sebelum dikirim (kiri atas. Foto: Ernaningtyas)

Menurut penjelasan Ketut, beberapa perusahaan angkutan barang yang semula menyewa gerbong kereta, menghentikan kontraknya.  “Hanya Herona yang masih menyewa gerbong dari kami,” jelasnya.  Ketut tak mengetahui persis alasan mereka menghentikan kontrak sewa gerbong itu dan mengalihkan angkutan barang mereka ke moda truk. Karena itu, sosialisasi menjadi agenda penting demi menggenjot pasar retail. 

Mendongkrak Penghasilan  PT KAI

Sebelum pandemi Covid-19 merebak,  pundi-pundi  PT KAI menggelembung dari penghasilan armada kereta penumpang.  Selama pandemi, penghasilan BUMN ini jauh terpangkas.  Wabah Covid-19 mengubah drastis hidup manusia.  Rupa-rupa keharusan demi  memutus mata rantai penularan wabah antara lain menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan di rumah saja  membuat   angkutan kereta terkena imbasnya. Gerbong-gerbong penumpang sepi.  Stasiun lengang. 

Sumber penghasilan lain pun digenjot, termasuk pemasukan dari bisnis angkutan logistik. PT KALog menjadi salah satu tumpuan harapan pendongkrak penghasilan. Dukungan fasilitas pun digelontorkan. Mulai dari pemberian diskon,  bersinergi dengan BUMN lain yang juga bergerak di bidang jasa angkut dan pengawalan khusus untuk kiriman spesial.  “Misalnya pengiriman tabung oksigen beberapa waktu lalu, kami lakukan pengawalan khusus,” kata Ketut.   

Geliat PT KALog Daop 6 Yogyakarta   melakukan sosialisasi  tentu saja untuk mendukung kebijakan PT KAI  menggali sumber panghasilan di luar angkutan penumpang.   Sebagai industri yang bergerak di bidang angkutan logistik, PT KALog memiliki kompetensi unggul: armada kereta milik sendiri, bersinergi dengan BUMN lain yang membuatnya bisa menjangkau pasar di seluruh pelosok nusantara,  fasilitas servis yang beragam (statiun to stasiun, door to stasiun, stasiun to door, door to door) dan pengawalan khusus untuk kiriman spesial. Semua itu menjamin kualitas pengiriman yang cepat, tepat waktu dan dijamin keamanannya.

Para konsumen yang dijumpai di Kantor KALog Yogyakarta pun mengakui pelayanan PT KALog yang memuaskan.  Tinggal bagaimana Ketut dan pasukannya melakukan sosialisasi lebih masif lagi.  Bisa jadi, buah dari sosialisasi ini tidak sekadar lebih banyak mendatangkan konsumen, tetapi juga menumbuhkan agen-agen baru di seluruh penjuru kota sebagai mitra usaha PT KALog.  

Di usianya yang kedua belas hari ini, 8 September 2021, PT KALog ibarat remaja yang telah matang untuk bermitra dengan masyarakat.  Dengan demikian masyarakat akan lebih familiar dengan logo pemuda bertopi membawa kotak paket dengan tulisan: Kirim Barang: Biar KALog aja!   

Para pelaku bisnis ibarat penunggang gelombang yang bergulung-gulung menuju ke pantai.  Siapa saja bisa lama berada  di atas gelombang.  Namun ia  juga bisa terhempas dalam waktu yang sangat cepat.  Tak terkecuali PT KAI di masa pandemi ini.  

Ketut bersama seluruh jajaran PT KALog Daop 6 Yogyakarta ingin berkontribusi menempatkan PT KAI meraih kembali singgasana bisnis di puncak gelombang.   Jangan sampai PT KALog yang telah dipupuk menjadi  industri jasa angkutan barang berbasis kereta yang berkompeten itu sekadar menjelma menjadi raksasa letoi yang berproduksi jauh di bawah kapasitas potensialnya. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *