Torabika Campus Cup Sokong Kemajuan Sepakbola Mahasiswa

 

DEMI sebuah komitmen Torabika bagi kemajuan sepakbola usia muda, telah dilangsungkan rutin selama dua tahun ini Torabika Campus Cup sebagai ajang kompetisi sepakbola antar kampus yang diikuti oleh 80 perguruan tinggi dari lima kota besar di Indonesia.

Setelah digulirkan sejak awal September 2017 lalu, Torabika Campus Cup II merupakan bentuk sokongan Torabika terhadap antusias anak muda Indonesia untuk berkarya di dunia sepakbola, dimana kompetisi ini telah diikuti total 80 kampus dari kota Padang, Jakarta, Bandung, Makassar dan Malang. Gelaran babak National Final berlangsung di Lapangan Sepakbola Cakrawala, Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

Di babak National Final didapati Universitas Negeri Padang (Sumatera Barat), Universitas Perbanas (DKI Jakarta), Universitas Pendidikan Indonesia (Jawa Barat), Universitas Stimed Nusa Palapa (Sulawesi Selatan), Universitas Muhammadiyah Malang (Jawa Timur), dan Universitas Negeri Malang (Jawa Timur) yang jadi tim tuan rumah penyelenggaraan Final Torabika Campus Cup 2017.

Loni Lim selaku Marketing Director Torabika Eka Semesta mengungkapkan lebih lanjut dukungannya terhadap dunia persepakbolaan anak muda Indonesia, bahwa Torabika Campus Cup merupakan komitmen serius pihaknya untuk mendukung pembinaan bakat anak muda di bidang sepakbola.

“Kami pun gembira, Torabika Campus Cup sudah terlaksana dan seluruh tim yang bertanding pun sudah menunjukkan performa yang terbaik. Besar harapan saya, bahwa ajang ini dapat menelurkan bakat-bakat sepakbola baru yang nantinya dapat menjadi penerus tim sepakbola nasional Indonesia dan bertanding di kancah Internasional,” ujar Loni menambahkan.

DR Haris Thofly, Ketua Umum PSSI Kota Malang selaku mitra yang membantu dalam hal teknis lapangan, sangat menanggapi positif keseriusan dan komitmen Torabika untuk membangkitkan kembali kompetisi persepakbolaan Tanah Air, dimana secara tidak langsung dapat membantu PSSI khususnya AsProv dalam memantau talenta pesepakbola muda Tanah Air, dan memberikan peluang pembinaan serta wadah kompetisi di level kampus.

“Kami sangat gembira Torabika serius untuk membangun dan membangkitkan kompetisi sepakbola Tanah Air, khususnya di level kampus. Tim sepakbola kampus yang notabene adalah pemain cerdas, diharapkan dapat melahirkan pemain sepakbola muda yang tidak hanya mengandalkan otot semata, namun juga memberdayakan otak mereka dengan strategi permainan. National Final ini membuktikan arena kompetisi berjalan sangat ketat, dan kualitas pemain dari tim-tim kampus yang berlaga juga layak diperhitungkan. Sejauh ini, kami telah memantau bakat-bakat sepakbola muda yang pantas untuk dibina ke jenjang lebih tinggi lagi.”

Dr Imam Hariadi M.Kes dari Universitas Negeri Malang menyambut positif komitmen serius Torabika Cappuccino dalam membangkitkan kembali persepakbolaan di kalangan anak muda. “Antusias mahasiswa sudah sangat baik menanggapi diadakannya kompetisi ini, karena selain sebagai bentuk penyaluran talenta di bidang sepak bola secara positif juga membentuk jiwa-jiwa kompetitif yang mampu bersaing secara sportif,” katanya.

Penyelenggaraan National Final Torabika Campus Cup (TCC) untuk  perebutan Juara 1 mempertemukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melawan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dari Jawa Bara. Hasil akhirnya, UMM unggul 4-1 dan memastikan mereka memenangi Torabika Campus Cup 2017 dengan hadiah Rp 20 juta

Tour de Linggarjati 2017 Segera Digelar

INGIN mengulang sukses tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat didukung Kementerian Pariwisata kembali menggelar lomba balap sepeda Internasional Tour de Linggarjati (TdL) 2017, 1-3 Desember 2017 mendatang. Event berskala internasional ini untuk mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Kuningan, memacu pembangunan infrastruktur daerah, membuka akses wilayah untuk pasar dan investasi, sekaligus menggerakan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.

Penyelenggaraan wisata olahraga TdL 2017, menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara (Deputi BP3N) Kemenpar Esthy Reko Astuti, untuk mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kuningan. “Selama berlangsung TdL 2017 ditargetkan akan mendatangkan 500 wisatawan nusantara dan 150 wisatawan manca negara dengan total pengeluaran lebih dari Rp 2 miliar yang langsung dibelanjakan ke masyarakat,” kata Esthy.

Event sport tourism, tambah Esthy Reko Astuti lagi, memiliki ikutan langsung berupa peningkatan ekonomi serta promosi  berupa news value  yang dampaknya akan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, yang tahun lalu jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kuningan diproyeksikan mencapai 3 juta orang dengan pengeluaran sebesar Rp 2,4 triliun. “Peningkatan kunjugan wisatawan ini tentunya tidak lepas dari semakin membaiknya unsur 3 A (Atraksi termasuk adanya event TdL, Amenitas, dan Aksesibilitas),” paparnya.

Bupati Kuningan H. Acep Purnama menambahkan, Kabupaten Kuningan telah menetapkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan untuk ini berbagai upaya mengoptimalkan potensi wisata yang dimiliki terus dilakukan di antaranya menggecarkan promosi serta peningkatan kualitas destinasi termasuk aksesibilitas. “Kami memiliki 14 objek wisata yang sudah tertata dan puluhan lainnya yang mempunyai potensi pengembangan, 8 event budaya tahunan, 4 situs sejarah dan didukung oleh sarana akomodasi 37 hotel dan penginapan,” kata H. Acep Purnama, seraya mengatakan untuk aksesibilitas telah dibuka, Tol Cikapali (Jakarta-Kuningan hanya 3,5 jam), Tol Cisumdawu,  dan segera dibuka Bandara Internasional Kertajati yang akan memudahkan wisatawan berkunjung ke Kabupaten Kuningan.

Menurut H. Acep Purnama,  penyelenggaraan event TdL  merupakan investasi  jangka panjangdalam upaya mempromosikan potensi pariwisata Kabupaten Kuningan,  “Melalui event ini kita kenalkan pariwisata Kuningan secara bertahap. Diharapkan dengan kesuksesan pelaksanaan Tour De Linggarjati juga menarik event-event internasional lainnya untuk dilaksanakan di Kabupaten Kuningan,” kata H. Acep Purnama lagi.

Sebagaimana diketahui, penyelenggaraan TdL 2017 yang akan diikuti s 200 peserta ini juga  dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-519 dan memperingati  peristiwa Perundingan Linggarjati ke-71 sebagai bagian sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. ***

Adu Lari di 2XU Compression Run Indonesia 2017

2x22lo

yaSALAH satu lomba lari terbesar di Indonesia – 2XU Compression Run Indonesia 2017 siap digelar pada Minggu, 26 November 2017. Lokasi start dan finish lomba ini akan mengambil tempat start dan finish di Scientia Square Park di Summarecon Serpong.

Bertha Ghani dari runID selaku race director 2XU Compression Run Indonesia 2017 mengemukakan, Scientia Square Park dipilih karena penyelenggara ingin menyajikan area lomba yang baru bagi peserta 2XU Compression Run Indonesia. “Selain itu, Summarecon Serpong memiliki lintasan yang baik dengan kondisi dan kapasitas jalanan yang mampu menampung lebih dari 5.000 pelari.”

Seperti penyelenggaraan sebelumnya, ada tiga kategori jarak yang dilombakan dalam 2XU Compression Run Indonesia 2017: Half-marathon atau 21,1K, 10K, dan 5K. Tiap kategori jarak memperlombakan dua kelompok, pria dan wanita.

Sejumlah pelari elit Indonesia akan meramaikan persaingan dalam lomba ini. Di antaranya adalah Agus Prayogo, Asma Bara, dan Helda Napitupulu di kategori half-marathon. Kemudian berpartisipasi pula Jauhari Johan, Atjong Purwanto, dan Novita Andriyani di kategori jarak 10K. Sementara Sugeng dan Vera akan meramaikan kompetisi di kategori jarak 5K.

Tahun ini, di penyelenggaraan tahun ketiga, jumlah peserta 2XU Compression Run Indonesia mengalami peningkatan sebanyak 20 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Dari total jumlah peserta, 3.000 pelari akan bersaing di kategori half-marathon, 2.000 pelari berlomba di kategori 10K, dan 1.000 pelari meramaikan kategori 5K,” tambah Bertha.

Antusiasme peserta 2XU Compression Run Indonesia 2017 diantisipasi penyelenggara mempersiapkan berbagai kebutuhan pokok untuk memberikan pengalaman berlari yang menyenangkan, nyaman, dan aman bagi para pelari.

Di antaranya adalah penempatan water station tiap dua kilometer atau akan ada total 11 titik di sepanjang lintasan lari. Di tiap water station ini, 2XU Compression Run Indonesia 2017 yang menggandeng Pocari Sweat sebagai penanggung jawab hydration system, akan menyediakan minuman isotonik dan air mineral dalam jumlah melimpah.

Penyelenggara juga menyiagakan tenaga paramedis, ambulans, dan dokter untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. “Setidaknya akan ada 50 orang tenaga paramedis, termasuk dokterm dan enam unit ambulans yang disiapkan,” papar Bertha.

Christin Iskandar, 2XU Indonesia Representative, selaku penyelenggara lomba lari ini menegaskan, 2XU Compression Run Indonesia 2017 adalah lomba lari yang akan memberikan pengalaman tentang kesenangan, keamanan, dan kenyamanan yang berbeda dari lomba-lomba lari lainnya. Lomba lari ini, tambahnya, telah ditunggu-tunggu pelaksanaannya oleh para penggemar lari di Tanah Air. ***

Liga 1 Ditutup dengan Tumbal Nyawa

#SOS: Dimana Pengawasan Kemenpora?

HIRUK-pikuk laga pamungkas #GojekTravelokaLiga1 pada Minggu, 12 November 2017, menutup tragedi meninggalnya seorang suporter sepak bola karena aksi pengeroyokan. Adalah Rizal Yanwar Putra, The Jakmania Sukatani Subkorwil Cikarang, yang harus meregang nyawa dan mengalami luka di sekujur tubuh dalam perjalanan mendukung Persija Jakarta saat dijamu Bhayangkara FC di Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi. Jenazah Onbek, begitu biasa Rizal disapa dimakamkan Senin, 13 November 2017.

Berdasarkan data dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, Rizal adalah “tumbal nyawa” ke-66 dari “kejamnya” sepak bola Indonesia sejak Liga Indonesia digulirkan pada 1994/1995 (lihat data statistik Litbang #SOS).  Khusus untuk fans Persija, The Jakmania, Rizal korban ketujuh. Sebelumnya,  menimpa Fathurrrahman saat laga Persija vs Persipura, 25 September 2005. Lalu Fathul Mulyadin juga saat laga Persija vs Persipura pada 6 Februari 2008. M. Fahreza saat laga Persija vs Persela 13 Mei 2016. Gilang dan Harun Al Rasyid pada 6 November 2016 sepulang menyaksikan laga Persija vs Persib di Stadion, Manahan, Solo. Kemudian,  Agen Astrava juga dalam perjalanan pulang usai Persija vs Bali United di Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi, 21 Mei 2017.  Total, selama 2017, sudah 12 “tumbal nyawa” di sepak bola Indonesia. Terbanyak sepanjang sejarah!

“Selama ini pengusutan terhadap tewasnya suporter tak pernah tuntas. Hanya lips service setelah itu hilang ditelan bumi. Hanya ungkapan prihatin dan belasungkawa yang disampaikan taka da tindakan nyata. Dimana pengawasan pemerintah?” kata Akmal Marhali, Koordinator #SaveOurSoccer.

Dalam rentang tiga bulan terakhir setidaknya tiga nyawa melayang karena sepak bola. Catur Yuliantono, supporter timnas asal Duren Sawit tewas terkena petasan saat menyaksikan “Tim Merah Putih” melawan Fiji, 2 September 2017, di Stadion Patriot. Sebulan berikutnya, giliran Banu Rusman, Laskar Benteng Viola, meregang nyawa saat Persita melawan PSMS, di Stadion Mini, Cibinong, 11 Oktober 2017. Ramai dibicarakan selama sepekan. PSSI dan Kemenpora menyampaikan ungkapan duka cita dan berjanji akan mengusutkan. Hasilnya: hilang begitu saja. “Terlalu murah harga nyawa di sepak bola Indonesia. Bahkan, hanya masuk ketegori kejadian biasa. Tak ada pengusutan secara tuntas. Alhasil, kejadian yang luar biasa ini menjadi biasa dan lumrah. Tidak baik buat perkembangan sepak bola Indonesia,” kata Akmal.

Langkah Kemenpora yang menggelar “Rembuk dan Jumpa Suporter Indonesia” pada 3 Agustus 2017, tidak efektif karena hanya seremonial. Begitu juga dengan program PSSI yang membentuk Departemen Khusus Area Fans dan Community Engagement juga belum kelihatan kinerjanya. Terbukti, belum ada kerja konkrit di lapangan untuk pengusutan dan penyelesaian kekerasan di sepak bola Indonesia. “Ayo, kerja..kerja..kerja. Sepak bola kita butuh langkah konkrit dan strategis untuk perbaikan dan prestasi,” Akmal mengungkapkan.

Selain mengusut tuntas pelaku pengeroyokan dan memberikan hukuman sepadan, #SOS juga meminta PSSI dan Pemerintah (dalam hal ini Kemenpora), melakukan evaluasi total terhadap kompetisi yang sudah selesai. Dalam berbagai aspeknya, mulai dari penegakkan aturan sampai pelanggaran yang dilakukan. Bentrokan suporter, vandalism, anarkisme, di lapangan tak lepas dari kurang tegasnya PSSI dan Pemerintah dalam menegakkan aturan. “Fungsi pengawasan harus benar-benar di lakukan. Masyarakat hanya ingin hiburan dan sepak bola berprestasi. Bukan sejumlah ‘dagelan’ yang akhirnya menyulut emosi dan mengorbankan nyawa,” Akmal menambahkan.

#SOS juga menyarankan PSSI dan Pemerintah mengevaluasi keikutsertaan lembaga negara di kompetisi sepak bola profesional. Mengembalikan tugas aparat kepada fungsi utamanya. Menjaga dan mengamankan negara serta menjadi pengayom masyarakat. “Sangat riskan bila lembaga negara apalagi aparat penegak hukum (TNI dan Polisi) ikut terlibat di kompetisi. Potensi terjadi gesekan di level grass-root sangat besar apalagi sepak bola melibatkan massa (penonton, suporter, fans). Aparat keamanan lebih baik dikembalikan ke fungsi utamanya. Termasuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam pertandingan sepak bola” Akmal menegaskan. ***

Marquez Juara Dunia MotoGP 2017

 

PEMBALAP  Repsol Honda, Marc Marquez, meraih gelar juara dunia MotoGP untuk  yang keempat kalinya, menyusul  pesaing terdekatnya dari Ducati, Andrea Dovizioso, terjatuh saat keluar dari lintasan pada balapan seri terakhir di Sirkuit Ricardo Tormo, Valencia, Spanyol, Minggu.

Marquez yang menempati start dari posisi terdepan, memang difavoritkan menjadi juara dunia, karena  unggul 21 poin dari Dovizioso. Marquez menuntaskan balapan di posisi ketiga, sedangkan juara seri Valencia diraih rekan satu timnya dari Honda, Dani Pedrosa.

Dalam pertandingan itu.  Marquez tetap mempertahankan posisi ketiga kendati sempat keluar lintasan dalam sebuah tikungan untuk berada di belakang Dani Pedrosa dan Johann Zarco yang finis di posisi dua.

Dovizioso yang harus memenangkan lomba untuk membuka peluangnya menyabet gelar MotoGP — asalkan Marquez finis di posisi 12 ke bawah — justru tidak mampu memanfaatkan kesempatan saat berada di posisi ketiga. Pebalap Ducati itu gagal finis, karena mengalami insiden saat balapan menyisakan lima putaran di tikungan delapan.

Meskipun begitu,  hadirnya Dovizioso sebagai penantang gelar merupakan kejutan bagi tim Ducati. Ia pun disambut tepuk tangan dari tim walaupun gagal finis di Valencia.

Dovizioso juga menyamai catatan kemenangan Marquez pada musim ini sebanyak enam kemenangan. Dovizioso menjuarai seri Italia, Catalunya, Austria, Inggris, Jepang dan Malaysia, sedangkan Marquez juara di AS, Jerman, Ceko, San Marino, Aragon dan Australia.

Marquez yang menjuarai MotoGP 2013, 2014 dan 2016 menjadi pebalap Spanyol pertama yang juara kelas utama empat kali mengalahkan Lorenzo. Secara total, Marquez meraih juara dunia enam kali semua kelas jika digabung dengan mahkota juara kelas 125cc pada 2010 dan Moto2 pada 2012, demikian MotoGP.**

#SOS Minta Edy Rahmayadi Fokus Benahi PSSI

Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi

HARI ini, Jumat 10 November 2017, bukan hanya diperingati secara nasional sebagai “Hari Pahlawan”, tapi juga bertepatan dengan satu tahun kepemimpinan Letjen TNI Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) tersebut meraih 76 suara dalam Kongres yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. tahun lalu. Edy mengalahkan seniornya mantan Panglima TNI, Jenderal (Pur) Moeldoko yang mendapatkan 23 suara, Eddy Rumpoko satu suara, dan tujuh suara abstain.

Masyarakat pecinta sepak bola nasional pun berharap Edy mampu menjadi motor utama reformasi sepak bola Indonesia seperti yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Bahkan, #SaveOurSoccer #SOSmenggantungkan asa Edy bisa jadi  simbol revolusi organisasi yang didirikan Ir Soeratin Soesrosoegondo pada 19 April 1930 tersebut. Sosoknya yang tegas, disiplin, dan disegani sangat cocok dan ideal menakhodai PSSI yang penuh konflik, intrik, dan masalah dalam 20 tahun terakhir.

Di awal terpilihnya Edy, #SOS sempat memberikan lima resolusi yang perlu dijalankan sebagai pijakan awal reformasi tata kelola sepak bola nasional. Pertama, menyelesaikan kasus dualisme klub dan juga masalah legalitas sejumlah klub yang sangat pelik dab bermaslah. Kedua, menuntaskan kasus sepak bola gajah.  Ketiga, soal bahasa match fixing (pengaturan skor). Keempat, Menegakkan statuta, peraturan organisasi, regulasi kompetisi PSSI sebagai dasar reformasi. #SOS menekankan jangan ada rangkap jabatan karena bisa menghadirkan konflik kepentingan (conflict of interest). Kelima,soal pembinaan dan timnas. Minimnya prestasi saat ini tak lepas dari buruknya pembinaan pemain muda dan juga pengelolaan timnas.

“Lima resolusi itu diharapkan bisa menjadi road map (baca: peta jalan) kepada Edy Rahmayadi untuk membangun pondasi organisasi sepak bola yang kuat dan berprestasi. Maklum, #SOS memprediksi ada bom waktu yang setiap saat bisa meledak bila tak ditangani secara serius,” kata Akmal Marhali, Koordinator #SaveOurSoccer #SOS.

Kini, faktanya, setelah setahun berjalan lima resolusi tersebut benar-benar menghadirkan masalah. Dualisme klub belum terselesaikan dan memunculkan friksi di lapangan. Mulai dari legalitas, kepemilikan ganda (cross ownership) yang menyalahi regulasi FIFA dan berakibat banyak klub tidak memenuhi standar lisensi klub profesional AFC. Bahkan, sampai saat ini PSSI tidak bisa menjelaskan asal muasal klub Bhayangkara FC yang menjadi juara Gojek Traveloka Liga 1.

Pelanggaran regulasi juga banyak terjadi di Liga 1 dan Liga 2. Mulai dari pergantian pemain dari tiga menjadi lima, pemain asing yang tak memiliki International Transfer Certificate (ITC) dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), memainkan laga kandang Perseru Serui di kandang lawan, sampai munculnya “play off khusus” di Liga 2 yang tidak ada di regulasi dan manual kompetisi.

“Kompetisi musim ini sudah cacat dari awal karena banyaknya pelanggaran regulasi yang dilakukan baik itu oleh operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB), maupun peserta. Kompetisi musim ini menjadi antiklimaks karena buruknya penegakkan regulasi,” kata Akmal.

Miss manajemen dan komunikasi serta buruknya administrasi antar bidang juga menjadi masalah krusial di PSSI. Utamanya, terkait munculnya kasus Mitra Kukar yang memainkan Marquee Player Mamadou Sissoko yang dihukum larangan dua kali tampil oleh Komisi Disiplin (Komdis PSSI) saat melawan Bhayangkara FC. Kasus ini tidak terselesaikan dengan baik bahkan terkesan saling lempar tanggung jawab sehingga akhir kompetisi yang harusnya menjadi klimaks malah antiklimaks. Belum lagi, masalah-masalah nonteknis lainnya yang muncul kepermukaan sehingga para peserta sendiri menyebut kompetisi musim ini sebagai lelucon dan dagelan.

Semua berjalan seperti auto-pilot karena kesibukan Edy Rahmayadi yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara. “SOS meminta Pak Edy fokus membenahi masalah PSSI karena saat ini harus diakui hanya beliau yang disegani oleh stakeholder sepak bola nasional. Selebihnya adalah sosok-sosok lama yang bukan menyelesaikan masalah malah justru membuat masalah karena konflik kepentingan,” kata Akmal.

#SOS berharap Edy Rahmayadi mengembalikan filosofi dari PSSI (Profesional, Sehat, Sportif, dan Integritas). “Setahun pertama Pak Edy sudah bisa melihat dengan kasat mata masalah sepak bola yang ada. Bahkan, beberapa kali sempat melontarkannya dengan sindiran. Kini, waktunya untuk fokus membenahi semuanya. Punish and reward harus dilakukan untuk perbaikan sepak bola nasional,” Akmal mengungkapkan.

Lepas dari sejumlah masalah yang muncul di tahun pertama sebagai Ketua Umum PSSI, ada juga sejumlah perubahan yang patut diapresiasi. Salah satunya, soal kompetisi dan pembinaan usia muda yang mulai berjalan. Tim nasional dari senior sampai kelompok umur cukup tertata dengan baik jadwal pelatnas dan agenda uji cobanya. Yang belum hanya prestasi karena target emas di SEA Games 2017 meleset.

Tahun 2018 ada Piala AFF, Asian Games, putaran final Piala Asia U-16, putaran final Piala Asia U-19. #SOS berharap Edy Rahmayadi  bisa fokus dan tegas dalam menindak masalah-masalah yang muncul di tahun pertamanya agar reformasi berjalan dengan benar dan misi PSSI #Profesional #Bermartabat dapat terealisasikan. Maklum, semuanya akan menjadi tolok ukur apakah PSSI akan benar-benar menjalankan reformasi tata kelola sepak bola nasional atau tetap kembali berkubang dengan masalah. “Jangan sampai publik sepak bola mencap PSSI hanya ganti casing saja, tapi mesin soft ware-nya sudah usang. Perubahan harus benar-benar dilakukan dengan professional dan bermartabat bila sepak bola Indonesia ingin berprestasi dan berkembang pesat,” kata Akmal. ***

 

Dovizioso rajai MotoGP Malaysia

 PEMBALAP Ducati Andrea Dovizioso unjuk kemampuan maksimalnya dengan  menjuarai ajang balap MotoGP Seri Malaysia di Sirkuit Sepang, Minggu.
Start di posisi  ketiga, Dovizioso sukses menjadi yang tercepat dalam menyelesaikan lomba dengan catatan waktu 44 menit 51,497 detik. Jorge Lorenzo, rekan setimnya, finis di urutan kedua dengan selisih waktu 0,743 detik, sedangkan podium ketiga dimiliki oleh Johann Zarco (Monster Yamaha Tech 3) dengan selisih waktu 9,738 detik.
Juara bertahan MotoGP, Marc Marquez (Repsol Honda), hanya berhasil menyelesaikan balapan sebagai urutan keempat, di atas rekan satu timnya Dani Pedrosa.
Pada awal lomba, Zarco sempat memimpin balapan namun belakangan ia disalip oleh duo Ducati yang akhirnya terlibat perang saudara untuk perebutan tempat terdepan di Sepang.
Sebuah kesalahan yang dilakukan Lorenzo di tikungan ke-15 dimanfaatkan dengan baik oleh Dovizioso untuk merebut tempat terdepan hingga akhir balapan.
Hasil balapan membuat persaingan gelar juara musim ini kembali harus ditentukan hingga seri pamungkas di Valencia yang rencananya akan berlangsung pada 12 November 2017.
Juara bertahan Marquez masih menjadi kandidat juara terfavorit dengan raihan 282 poin, namun Dovizioso (261) bukan tidak mungkin akan menyabet gelar juara dunia perdananya. Syaratnya, Dovizioso harus juara di Valencia, dan Marquez tidak boleh finis lebih tinggi dari peringkat ke-13.
Berikut hasil lengkap MotoGP Malaysia seturut laman resmi MotoGP (urutan, nomor sepeda motor, nama pebalap, tim, negara, catatan waktu/selisih):
1. (4) Andrea Dovizioso (Ducati) Italia (44 menit 51,497 detik)
2. (99) Jorge Lorenzo (Ducati) Spanyol (+0,743 detik)
3. (5) Johann Zarco (Monster Yamaha Tech 3) Prancis (+9,738 detik)
4. (93) Marc Marquez (Repsol Honda) Spanyol  (+17,763 detik)
5. (26) Dani Pedrosa (Repsol Honda) Spanyol (+29,144 detik)
6. (9) Danilo Petrucci (Octo Pramac Racing) Italia (+30,380 detik)
7. (46) Valentino Rossi (Movistar Yamaha) Italia (+30,769 detik)
8. (43) Jack Miller (EG 0,0 Marc VDS) Australia (+35,238 detik)
9. (25) Maverick Vinales (Movistar Yamaha) Spanyol (+38,053 detik)
10. (44) Pol Espargaro (Red Bull KTM) Spanyol (+39,847 detik)
11. (19) Alvaro Bautista (Pull & Bear Aspar) Spanyol (+42,559 detik)
12. (38) Bradley Smith (Red Bull KTM) Inggris (+44,602 detik)
13. (45) Scott Redding (Octo Pramac Racing) Inggris (+48,696 detik)
14. (8) Hector Barbera (Reale Avintia) Spanyol (+50,058 detik)
15. (35) Cal Crutchlow (LCR Honda) Inggris (+50,705 detik)
16. (60) Michael van der Mark (Monster Yamaha Tech 3) Belanda (+56,397 detik)
17. (29) Andrea Iannone (Suzuki Ecstar) Italia (+58,391 detik)
18. (53) Tito Rabat (EG 0,0 Marc VDS) Spanyol (+1 menit 25,571 detik)
Gagal finis:
(22) Sam Lowes (Aprilia Gresini) Inggris
(17) Karel Abraham (Pull & Bear Aspar) Rep. Ceko
(76) Loris Baz (Reale Avintia) Prancis
(42) Alex Rins (Suzuki Ecstar) Spanyol.

Zidane: LaLiga Lebih Sulit Dibanding Liga Champions

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane.

PELATIH Real Madrid Zinedine Zidane mengaku lebih mudah meraih trofi Liga Champions ketimbang trofi LaLiga Spanyol. Ini menandakan persaingan di Laliga semakin meningkat.

Real Madrid sukses memenangi trofi Liga Champions dan LaLiga Spanyol pada musim 2016-17 lalu. Karena keberhasilan itu, pelatih Los Blancos Zinedine Zidane pun terpilih sebagai pelatih terbaik dunia 2017 versi FIFA.

Meraih dua gelar bergengsi itu sekaligus dalam satu musim, tentu bukan sebuah hal mudah. Dan menurut Zidane, jika kedua kompetisi itu diperbandingkan maka merebut trofi juara La Liga Spanyol jauh lebih sulit dan berat dibandingkan Liga Champions.

Alasannya adalah karena tim-tim lawan di La Liga sudah mengetahui kelebihan dan kelemahan Madrid lantaran secara reguler selalu bertemu minimal dua kali dalam satu musim. Tekanannya pun lebih berat di liga domestik karena adanya rivalitas yang tinggi dengan Barcelona.

“Tentu saja kami dituntut memenangkan gelar di Liga Champions. Tapi, sejujurnya, menurut saya masih lebih sulit memenangkan gelar La Liga dari pada memenangkan Liga Champions,” ungkap Zidane di situs resmi FIFA.

Berbicara tentang kunci keberhasilannya membesut tim bertabur bintang itu, Zidane mengungkapkan bahwa hal itu bisa terjadi karena dia berhasil menyakinkan para pemainnya untuk percaya padanya.

“Saya sadar bahwa saya berada di klub yang selalu ingin mendapatkan gelar juara,” kata pelatih yang sudah memenangi dua trofi Liga Champions dan satu trofi LaLiga selama membesut Madrid sejak Januari 2016

“Saya bisa berhasil karena saya punya hasrat yang kuat pada sepakbola. Saya membuat para pemain percaya pada saya, dengan begitu maka semuanya akan menjadi lebih mudah,” tambahnya. ***

KONI Sudah Bergerak Cepat

Sesmenpora, Gatot S. Dewa Broto

KEMENTERIAN Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengucapkan terima kasih karena KONI bergerak cepat menindaklanjuti perpres dan semangat membantu pemerintah. Namun, Menpora belum melimpahkan tugas sebagaimana diatur dalam Perpres 95.

Namun demikian, seperti diungkapkan Sesmenpora Gatot S Dewa Broto dalam keterangan tertulis yang diterima media di Jakarta, Kemenpora juga mengingatkan KONI soal langkah yang dilakukan KONI dalam menyikapi Peraturan Presiden (Perpres) No 95 tahun 2017 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional, mengingat pelimpahan tugas belum diberikan.

“Kemenpora mengucapkan terima kasih karena KONI bergerak cepat menindaklanjuti perpres dan semangat membantu pemerintah. Namun, Menpora belum melimpahkan tugas sebagaimana diatur dalam Perpres 95,” kata Sesmenpora Gatot S Dewa.

Gatot mengatakan berdasarkan informasi dari pengurus cabang olahraga, KONI melalui surat No. 1288/UMM/X/2017 tertanggal 20 Oktober yang ditandatangani oleh Sekjen KONI mengundang induk cabang olahraga untuk melalukan persiapan menuju Asian Games 2018.

“Tujuan kegiatan tersebut bagus, akan tetapi ada hal yang penting patut diperhatikan dengan penuh kehati-hatian agar KONI tidak menyalani prosedur,” kata Gatot S Dewa Broto menegaskan.

Selain belum ada surat pelimpahan yang saat sudah disiapkan, kata Gatot, pihaknya juga menyikapi daftar undangan yang terlampir. Kemenpora menyoroti salah satu induk cabang olahraga yaitu Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI).

Dalam konteks PB PTMSI, Gatot menjelaskan jika KONI harus menyadari bahwa tanggal 28 Oktober 2017, Mensesneg Pratikno telah mengirimkan surat kepada Menpora Imam Nahrawi perihal Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor 75/G/PTUN-JKT jo Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Nomor 302/B/2014/PTUN-JKT jo Putusan Mahkamah Agung No 274/K/TUN/2015 yang intinya agar KONI mematuhi putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkrach).

“Menunjuk putusan tersebut, KONI seharusnya mengundang PP PTMSI. Ketidakpatuhan terhadap pputusan tersebut dapat berakibat dianggap tidak mematuhi putusan PTUN dan MA dan juga kemungkinan besar mendorong ITTF untuk melarang pertandingan tenis meja di Asian Games 2018,” kata Gatot menegaskan.

Induk organisasi tenis meja selama ini ada dua yaitu PB PTMSI yang diundang oleh KONI dipimpin oleh Lukman Edy, sedangkan PP PTMSI selama ini dipimpin oleh Oegroseno. ***