Dies Natalis ke-70 PEFEB UI, Ratusan Alumni Reuni dan Perkuat Kebersamaan

JAYAKARTA NEWS – Suasana penuh kehangatan dan nostalgia mewarnai peringatan Dies Natalis ke-70 Program Ekstensi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (PEFEB UI) yang digelar di Kampus UI Salemba, Minggu (2/8/2026). Ratusan alumni lintas angkatan, mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan memadati kawasan kampus dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi ajang reuni, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluargaan civitas akademika PEFEB UI.

Perayaan 70 tahun PEFEB UI merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya diisi dengan bakti sosial di Bekasi Utara dan kegiatan berbagi bersama anak-anak yatim di Trans Studio Cibubur. Seluruh rangkaian kegiatan mendapat dukungan dari Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Yulianti Abbas, Ph.D.

Puncak peringatan diawali dengan Fun Walk yang diikuti sekitar 400 peserta. Pelepasan peserta dilakukan pukul 07.00 WIB oleh Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) PEFEB UI, Ratih Dewihandajani Amri, SH, SE, LLM, dari Kampus UI Salemba. Rute yang dilalui menyusuri kawasan Raden Saleh, Cikini, hingga Jalan Diponegoro, jalur yang menyimpan banyak kenangan bagi para alumni semasa menempuh pendidikan.

Dengan pengawalan marshal di sepanjang rute, kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat. Di sepanjang perjalanan, para alumni tampak saling berbagi cerita dan mengenang masa-masa kuliah di Kampus Salemba.

“Ini bukan sekadar jalan sehat. Ini momentum untuk kembali mengenang perjalanan kami sebagai bagian dari keluarga besar PEFEB UI sekaligus mempererat silaturahmi yang telah terjalin selama puluhan tahun,” ungkap salah seorang alumni peserta kegiatan.

Mewakili Dekan FEB UI, Prof. Dr. Irwan Adi Ekaputra menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh alumni yang telah berpartisipasi menyukseskan peringatan Dies Natalis ke-70. Menurutnya, menghimpun ratusan alumni dari berbagai angkatan bukanlah pekerjaan mudah, namun hal tersebut menunjukkan kuatnya rasa memiliki terhadap almamater.

“Semangat kebersamaan seperti ini menjadi modal penting bagi pengembangan PEFEB UI ke depan. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan alumni yang terus menjaga hubungan baik dengan kampus,” ujarnya.

Usai Fun Walk, acara dilanjutkan dengan doa bersama dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan tujuh dekade PEFEB UI dalam mencetak lulusan yang berkiprah di berbagai sektor strategis, baik pemerintahan, dunia usaha, maupun profesi lainnya.

Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Deni Ridwan, Dr. Eliza Fatima selaku pimpinan Program Ekstensi FEB UI, Ir. Jero Wacik, SE yang pernah menjadi dosen di program tersebut, mantan Ketua ILUNI FEB UI Mirza Adityaswara, Ketua ILUNI FEB UI Dr. Ubaidilah Nugraha, Ketua BEM PEFEB UI Daniel Mathew S., Ustadz Valentino Dinsi, SE, MM, MBA, serta sejumlah mantan pimpinan Program Ekstensi FEB UI.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis yang didukung tenaga medis RS ANTAM Medika. Berbagai pelaku usaha mikro binaan alumni turut membuka stan produk kuliner, minuman, hingga produk kesehatan yang menambah semarak suasana perayaan.

Menjelang siang, kemeriahan semakin terasa dengan penampilan artis ibu kota yang menghibur seluruh peserta. Suasana akrab terlihat ketika para alumni lintas generasi bernyanyi bersama, berdialog, hingga mengabadikan momen melalui foto bersama.

Ketua Panitia Dies Natalis ke-70 PEFEB UI, Dr. Eman Sukirman, mengatakan peringatan tujuh dekade PEFEB UI bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum memperkuat jejaring alumni sekaligus menumbuhkan semangat kolaborasi dalam mendukung kemajuan almamater.

“Selama 70 tahun PEFEB UI telah melahirkan banyak lulusan yang memberikan kontribusi bagi bangsa. Kami berharap momentum ini menjadi energi baru agar PEFEB UI terus berkembang, adaptif terhadap perubahan zaman, dan semakin memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat,” ujar Eman.

Melalui semangat kebersamaan yang terbangun dalam Dies Natalis ke-70 ini, keluarga besar PEFEB UI berharap hubungan antara kampus, alumni, mahasiswa, dan para pemangku kepentingan terus terjalin erat sebagai modal penting dalam melahirkan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global.***/mel

Ekspedisi Citatih Elpala Berhasil Berkat Dukungan Berbagai Pihak

SUKABUMI, JAYAKARTA NEWS – Kesuksesan Ekspedisi Cicatih Elpala yang menempuh perjalanan dari hulu Sungai Cimelati sampai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, bukan cuma soal berhasil melewati medan alam. Lebih dari itu, ekspedisi ini jadi ajang belajar yang mempertemukan semangat persaudaraan, kepedulian lingkungan, patriotisme, dan proses membentuk karakter generasi muda pencinta alam.

Ekspedisi yang berlangsung pada 4–10 Juli 2026 ini merupakan gagasan Rumah Elpala, wadah alumni Elpala SMA Negeri 68 Jakarta, bersama anggota aktif Elpala SMA Negeri 68 Jakarta. Kegiatan ini memadukan petualangan alam, konservasi, regenerasi organisasi pencinta alam, dan pembuatan film dokumenter yang merekam perjalanan melintasi kawasan hutan hujan tropis Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) hingga pengarungan Sungai Cicatih menuju Pelabuhan Ratu.

Perjalanan panjang ini tentu bukan cuma butuh fisik dan kemampuan teknis, tapi juga dukungan dari banyak pihak yang peduli pada pendidikan alam bebas, konservasi lingkungan, dan pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

Para pendiri Elpala, Dar Edi Yoga dan Eka Bama Putra, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung sehingga Ekspedisi Cicatih Elpala bisa berjalan lancar dan mencapai tujuan.

Menurut keduanya, keberhasilan sebuah ekspedisi bukan cuma dilihat dari sampai atau tidaknya ke titik akhir, tapi juga dari proses panjang yang membentuk mental, keterampilan, tanggung jawab, dan nilai-nilai hidup para peserta.

“Yang paling berharga dari sebuah ekspedisi bukan hanya tujuan yang dicapai, tetapi proses yang dilalui. Di sepanjang perjalanan, para peserta belajar arti kebersamaan, saling membantu, bertanggung jawab, serta memahami bahwa alam mengajarkan banyak hal tentang kehidupan,” ujar Dar Edi Yoga, Minggu (12/7/2026).

Dukungan dalam ekspedisi ini datang dari organisasi pencinta alam Wanadri yang mengirimkan anggota terbaiknya dengan pengalaman panjang dalam kegiatan pengarungan sungai menggunakan perahu karet dan kano.

Selain memberi pendampingan teknis, Wanadri juga menyediakan dua unit perahu karet dan tiga kano untuk mendukung keselamatan serta kelancaran pengarungan Sungai Cicatih yang jadi salah satu bagian utama perjalanan.

Dukungan lain datang dari Boogie yang menyediakan tiga perahu karet, serta PMBC (Pickup Mini Bus Community) yang membantu mobilisasi peralatan, perahu, dan peserta selama rangkaian ekspedisi berlangsung.

Sedangkan Kementerian Kehutanan, memberikan dukungan lewat izin masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Sementara, Korem Surya Kencana juga ikut memberi perhatian dan membantu kelancaran kegiatan sejak tahap persiapan sampai pelaksanaan ekspedisi.

Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan para pendiri Elpala kepada Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, yang mendukung terselenggaranya Ekspedisi Cicatih Elpala.

Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menilai kegiatan seperti Ekspedisi Cicatih Elpala punya peran penting dalam membentuk karakter generasi muda lewat pengalaman langsung di alam terbuka.

Menurutnya, ekspedisi bukan cuma mengasah kemampuan teknis dan jiwa kepemimpinan, tapi juga menanamkan disiplin, kerja sama, semangat pantang menyerah, kepedulian terhadap lingkungan, dan rasa cinta tanah air sebagai bagian dari nilai dasar bela negara.

“Kementerian Pertahanan mendukung berbagai kegiatan positif yang mampu membentuk karakter generasi muda dan menumbuhkan kesadaran bela negara melalui pengalaman nyata di lapangan. Ekspedisi seperti ini merupakan contoh kolaborasi yang baik dalam menyiapkan generasi muda Indonesia yang tangguh, berkarakter, serta memiliki kepedulian terhadap bangsa, negara, dan kelestarian alam,” ujar Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.

Dar Edi Yoga mengatakan, keterlibatan siswa Elpala SMA Negeri 68 Jakarta yang masih duduk di kelas XI dan XII jadi bagian penting dari tujuan ekspedisi ini.

“Mereka mendapatkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya melalui teori. Mereka belajar teknik kegiatan alam bebas, manajemen perjalanan, keselamatan, kerja sama tim, kepemimpinan, sekaligus memahami arti persaudaraan dan patriotisme,” katanya.

Menurutnya, alam jadi ruang belajar yang bisa membentuk generasi muda agar punya ketangguhan mental dan keterampilan untuk menghadapi berbagai tantangan.

“Mereka belajar bahwa keberhasilan tidak diraih sendiri. Ada kerja sama, kepedulian, dan rasa saling menjaga. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal penting bagi kehidupan mereka,” ujar Dar.

Sementara itu, pendiri Elpala sekaligus sutradara film dokumenter Ekspedisi Cicatih Elpala, Eka Bama Putra, mengatakan film yang dibuat dalam ekspedisi ini bukan cuma merekam keindahan alam dan perjalanan petualangan, tapi juga menangkap nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh selama kegiatan berlangsung.

“Alam adalah ruang belajar yang luar biasa. Di sana seseorang belajar menghadapi keterbatasan, mengasah keterampilan, membangun persaudaraan, serta memahami pentingnya menjaga lingkungan,” ujar Bama.

Ia menambahkan, kegiatan pencinta alam harus selalu dijalankan dengan persiapan matang, kemampuan yang sesuai, dan tetap mengutamakan keselamatan.

“Petualangan bukan sekadar keberanian untuk berangkat, tetapi bagaimana seseorang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya, timnya, dan lingkungan yang dijelajahi,” pungkasnya.***/mel

Alumni ITB dari Jatim Desak Mendikti Bentuk Pokja Lintas Sektor Hilirisasi

JAYAKARTA NEWS — Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Jawa Timur secara resmi mendesak Pemerintah fokus melaksanakan hilirisasi. Untuk itu perlu dibentuk “Pokja Lintas Sektor di Tengah Tekanan Global”.

Desakan itu disampaikan delegasi IA ITB Jawa Timur saat menghadiri acara Pulang Kampus 2026: Akulturasi di Kampus ITB Ganesha, Minggu (21/6/2026), Ada empat seruan strategis disampakan melalui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Kang Prof. Brian Yuliarto.

Rombongan alumni ITB Jatim ini terdiri dari enam generasi (1960-an hingga 2010-an). Mereka dipimpin Ketua Umum IA ITB Jatim, Muhammad Normansyah (Lora Bisma), dan Ketua Dewan Penasehat Gatut Prasetiyo, serta pengurus lainnya.

Dikatakan, IA ITB Jawa Timur secara resmi menyuarakan desakan solutif kepada pemerintah, pada momen Pulang Kampus 2026 ini.

Delegasi IA ITB Jawa Timur

Ada empat butir yang disebut kebutuhan mendesak:

Pertama: Pembenahan ekonomi secara fokus dan terukur di tengah guncangan global.

Kedua: Akselerasi hilirisasi melalui kerja sama antarkementerian yang tidak lagi parsial.

Ketiga: Ekspansi komunikasi lintas simpul untuk menciptakan harmonisasi gerak nasional dalam menghadapi persaingan global.

Keempat: Pembentukan pokja (kelompok kerja) bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha sebagai ekosistem kolaboratif yang selama ini hanya wacana.

Lora Bisma menyatakan, rombongan dari Jatim, tidak ingin sekadar datang dan bersalaman. “Kami melihat kegentingan ekonomi yang membutuhkan langkah nyata dan cepat,” katanya.

Hilirisasi tidak bisa berjalan sendiri, harus ada pokja konkret yang melibatkan akademisi dan pelaku usaha. Jika harmonisasi ini tidak segera dibangun, kita akan kehilangan momentum di tengah persaingan global yang brutal,” tegas Lora Bisma di hadapan Menteri dan jajaran pimpinan ITB.

Delegasi dari Jatim ini, sebelum memasuki Kampus Ganesha, rombongan bus yang diberangkatkan dari Terminal Joyoboyo, Surabaya, lebih dulu menyambangi Kampus ITB di Jatinangor.

Selanjutnya kedatangan mereka di Ganesha disambut langsung oleh Rektor ITB, Kang Prof. Tatacipta Dirgantara.

Pada kesempatan itu, Lora Bisma juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen panitia yang dikomandani Waketum Handy Madinata dan Bintang Hadi Dharma, Sekjen Aida Noviasari, serta Ketua Rombongan Ari Gustian.

“Sinergi lintas angkatan dan generasi ini menunjukkan bahwa alumni ITB Jawa Timur solid dan siap menjadi bagian dari solusi. Kami akan terus mengawal agar rekomendasi ini tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi berdampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

Setelah seluruh rangkaian acara usai, rombongan bus kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya, membawa komitmen untuk terus mendorong perubahan nyata dari sektor sains dan teknologi. (YNRA)

Tempat Ziarah Umat Buddha di Seluruh Dunia, Kesakralannya Terjaga Hingga Kini

JAYAKARTA NEWS – Hari Waisak merupakan hari perayaan kelahiran Buddha Gautama.

Selain ibadah, Waisak sering menjadi momen berziarah ke tempat-tempat penting yang memengaruhi hidup Sang Buddha.

Mulai dari tempat kelahiran, tempat mendapat pencerahan, sampai lokasi pengajaran pertama.

Ada delapan tempat sakral yang selalu dikunjungi peziarah Buddha, terutama saat Waisak.

Ini distrik di Rupandehi, Nepal, yang menjadi tempat kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama.

Pangeran Siddharta, yang kemudian dikenal dengan Sang Buddha Gautama, lahir 623 SM dari Ratu Maya Devi.

Lumbini menjadi situs keagamaan yang sakral dan palling banyak dikunjungi umat Buddha.

Sebagian besar bangunan tua di sini masuk daftar warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO.

Sarnath
Sarnath sebuah kota kecil di sebelah timur laut Varanasi, di Uttar Pradesh, India. Tepatnya di sebuah taman rusa.

Di sinilah Buddha Gautama kotbah pertama dan mengajarkan Dharma setelah mendapat pencerahan Kondanna.

Di Sarnath, peziarah bisa melihat banyak stupa dan biara Buddha yang umurnya ratusan tahun.

Taman rusa pun masih terjaga dengan baik.

Patung Sang Buddha berada di taman kecil di Bodh Gaya. (Pexels/Rajesh Kumar Verma)

Bodh Gaya
Situs keagamaan ini berada di dalam kompleks Mahabodhi di distrik Gaya, negara bagian Bihar di India.

Di sinilah Buddha Gautama mendapatkan pencerahan tepat di bawah pohon Bodhi.

Sampai sekarang pohonnya masih terjaga dengan baik.

Rajgir
Ini kota favorit Buddha Gautama untuk meditasi. Lokasinya si Selatan Bihar, India.

Di Rajgir terdapat situs bekas tempat Buddha Gautama bermeditasi dikenal dengan nama bukit keenam.

Di kota ini juga terdapat Gua Saaptaparni yang menjadi tempat pertama dilakukannya Sidang Buddish.

Kushinagara
Distrik di Uttar Pradesh, India menjadi lokasi situs Mahaparinivravana.

Tempat di mana Buddha Gautama mendapatkan parinirvana (kondisi seseorang mencapai Nirvana).

Di Kushinagara juga berdiri Kuil Mahaparinirvana dan Stupa Ramabhar.

Vaishali adalah kota kuno di Bihar, India. (esamskriti.com)

Vaishali
Vaishali adalah kota kuno di Bihar, India.

Inilah lokasi Buddha Gautama melakukan kotbah terakhir dan sebelum mencapai parinivana.

Di Vaishali terdapat stupa yang dipercaya tempat menyimpan abu Buddha Gautama.

Shravasti
Kota ini dulunya ibukota kerajaan Kosala. Lokasinya di Uttar Pradesh, dekat perbatasan Nepal.

Di Shravasti, Buddha Gautama menghabiskan masa hidupnya setelah mendapat pencerahan.

Di kota ini juga Ia melakukan kotbah dan membuat sejumlah keajaiban.

Sankissa
Kota kuno di India ini menjadi tempat turunnya Buddha Gautama dari Surga Tavatimsa.

Proses tersebut setelah Buddha Gautama mengajarkan Abhidharmma pada ibunya

Di Sankissa terdapat pilar Asoka berbentuk gajah yang menjadi simbol wujud ibu Buddha Gautama.

Ada juga reruntuhan stupa dan vihara yang dibangun Raja Ashoka untuk mengenang peristiwa tersebut.***/mel

Vihara Pondok Metta Lawang Beri Layanan Singgah, Pemudik: Kami Diterima dengan Hangat

JAYAKARTA NEWS – Rumah ibadah ramah pemudik tidak hanya masjid. Vihara Pondok Metta Lawang, Kabupaten Malang, juga membuka layanan tempat singgah bagi para pemudik yang melintas di jalan raya depan vihara.

Pengurus vihara telah menyiapkan berbagai fasilitas layanan bagi masyarakat yang akan mudik ke kampung halaman, antara lain: tempat istirahat yang nyaman, air minum, makanan ringan, serta area teduh untuk melepas lelah. Selain itu, disediakan pula informasi perjalanan, serta fasilitas toilet yang bersih dan terawat.

Pengurus Vihara, Awi menyampaikan bahwa hingga Kamis (19/3/2026), sudah ada beberapa pemudik yang singgah di vihara ini dan memanfaatkan fasilitas untuk beristirahat sejenak dan melepas lelah selama perjalanan.

“Kami dari pengurus vihara tetap siap menerima dan melayani para pemudik yang singgah selama perjalanan menuju kampung halaman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1477 Hijriah,” sebut Awi.

Sementara itu, perwakilan rombongan pemudik dari Semarang yang singgah di vihara, Yuni Sekar, menyampaikan bahwa pelayanan di vihara tersebut sangat baik dan ramah. “Terima kasih, kami sudah diterima dengan hangat di tempat ini. Fasilitas yang disediakan juga sangat membantu kami untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan,” ungkapnya.

Penyuluh Agama Buddha, Setyorini menjelaskan bahwa selama menjelang Hari Raya Idulfitri 1477 Hijriah, berbagai kegiatan dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah, khususnya dalam menciptakan kelancaran arus mudik serta memperkuat nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Rini menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tugas penyuluh agama Buddha dalam membina umat agar senantiasa menumbuhkan nilai kebersamaan, toleransi, dan semangat gotong royong. Melalui keterlibatan langsung dalam pelayanan kepada masyarakat, para penyuluh diharapkan dapat menjadi teladan dalam memperkuat kerukunan serta memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar, khususnya pada momentum hari besar keagamaan.***/mel

3 Pet Hotel di Jakarta, Tempat Paling Nyaman untuk Menitipkan Hewan Kesayangan Saat Mudik

JAYAKARTA NEWS – Ketika seluruh anggota keluarga mudik, membawa serta hewan kesayangan kini jadi pilihan pertama.

Pilihan kedua, menitipkan anak-anak bulu ini ke tempat khusus atau istilahnya pet hotel.

Di Jakarta, sudah berdiri sejumlah pet hotel yang membuka tempat menginap bagi hewan anjing atau kucing.

Pet hotel ini juga memberikan perawatan selama pemilik anak bulu bepergian ke luar kota.

Arnamir Pet Hotel
Hotel khusus kucing ini milik selebriti Tya Ariesta yang juga pecinta kucing. Konsepnya pet dan spa.

Arnamir Pet Hotel tidak hanya menyediakan tempat tinggal tapi juga bisa untuk perawatan hewan.

Ada beberapa persyaratan untuk menginap di hotel ini, pertama, usia kucing minimal tiga bulan.

Kucing juga harus sudah vaksin, dalam keadaan sehat, serta tidak sedang hamil dan menyusui.

Meskipun diberikan tempat menginap, pemiliknya harus menyediakan sendiri makanannya.

Ini karena setiap kucing punya selera makanan yang berbeda-beda.

Arnamir Cat Hotel & Spa beralamat di jalan Sultan Agung no 26, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan

Miru Pet Hotel
Khusus untuk kucing saja, setiap libur Lebaran Miru Pet Hotel dipenuhi anak bulu yang dititipkan.

Miru Pet Hotel menyediakan sekitar 29 kamar untuk menampung 58 ekor kucing.

Setiap kucing yang menginap akan diberi makanan, snack, dan pasir khusus untuk pup dan buang air kecil.

Jenis penginapannya ada dua, yaitu Suite VIP Room dan Suite Room.

Tempat ini dilengkapi CCTV untuk pemilik yang memudahkan tuannya memantau anak bulu mereka.

Selain menginap, Miru Pet Hotel juga menyediakan fasilitas grooming.

Miru Pet Hotel beralamat di Apartment Menteng Square, jalan Matraman Raya no 30E, Jakarta.

Dog Day Care
Pet hotel yang satu ini dikhususkan untuk anjing peliharaan.

Untuk menginapkan anak bulu, pemilik wajib melakukan reservasi dan perjanjian dulu.

Ruangannya tanpa sekat sehingga anjing bisa bermain bersama teman-temannya.

Tersedia tempat bermain di dalam dan luar serta kolam renang khusus anjing.

Mereka juga diberi minyak ikan khusus untuk hewan.

Fasilitas Dog Day Care lengkap. Selain penginapan, tersedia day care, grooming, sampai photoshoot.

Dog Day Care beralamat di jalan Brawijaya II no 7, Pulo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.***/mel

Kitab Ma Ha Is Ma Ya: Laku Sunyi Spiritual untuk Kesadaran Bangsa

JAYAKARTA NEWS – Di tengah riuh kehidupan modern yang kerap menjauhkan manusia dari kedalaman makna, sebuah peristiwa penuh keheningan dan kesadaran batin berlangsung di Jakarta, Selasa (27/1). Sri Eko Sriyanto Galgendu menyerahkan Kitab Spiritual Ma Ha Is Ma Ya kepada Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, sebagai ikhtiar merawat dimensi spiritual dalam kehidupan kebangsaan.

Penyerahan kitab tersebut disaksikan Karodalops Stama Ops Mabes Polri Brigjen Pol Benni Iskandar Hasibuan, anggota Dewan Pakar PWI Pusat Raldy Doy, Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia Dar Edi Yoga, serta wartawan senior Jacob Ereste. Momen itu menjadi pertemuan lintas ruang, antara spiritualitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Kitab Ma Ha Is Ma Ya lahir dari proses batin yang panjang, bukan dari imajinasi atau tafsir bebas. Sri Eko menyusunnya dari bahasa Bhumi, sebuah bahasa simbolik yang ia tangkap melalui laku hidup, kehadiran, serta keteladanan berbagai tokoh Indonesia. Rapalan atau paritta dari bahasa Bhumi itu kemudian dirangkai menjadi Ayat-Ayat Bhuwana, inti spiritual kitab tersebut.

Sri Eko dikenal memiliki kemampuan membaca dan menafsirkan bahasa Bhumi, bahasa yang diyakini menyimpan pesan tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan tanah air. Baginya, spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan cara terdalam untuk memahaminya.

“Kitab ini bukan untuk dipuja, tetapi untuk dibaca dengan batin,” ujar Sri Eko dengan nada reflektif. “Bahasa Bhumi mengajarkan saya bahwa manusia hanya akan menemukan kedamaian ketika ia selaras dengan kehendak Tuhan, jujur pada sesama, dan setia menjaga tanah airnya.”

Ia menegaskan, Ma Ha Is Ma Ya tidak dimaksudkan sebagai kitab ajaran baru, melainkan pengingat kesadaran di tengah zaman yang mudah terjebak pada kekuasaan dan kebisingan.

“Ketika manusia lupa mendengar suara batinnya, maka hukum menjadi kering, kekuasaan menjadi dingin, dan kehidupan kehilangan arah. Ayat-Ayat Bhuwana hadir untuk mengingatkan bahwa nurani adalah fondasi dari segala tindakan,” tuturnya.

Penyerahan kitab kepada Komjen Pol. Chryshnanda Dwilaksana, yang juga Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri, dimaknai sebagai jembatan antara spiritualitas dan kepemimpinan, bahwa pengabdian kepada negara membutuhkan kejernihan batin, bukan semata ketegasan struktural.

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, Ma Ha Is Ma Ya hadir sebagai laku sunyi, sebuah doa yang dititipkan kepada para penjaga nilai, agar bangsa ini tetap berpijak pada bumi, menengadah kepada Tuhan, dan memuliakan kemanusiaan.***/mel

Kuasai 40% Pasar LED Indonesia, Mitra Visual Group Unjuk Kekuatan di JAVME 2025

JAYAKARTA NEWS – Mitra Visual Group (MVG), perusahaan distributor dan penyedia perlengkapan stage event profesional terkemuka di Indonesia, kembali berpartisipasi dalam ajang bergengsi Jakarta Audio Video Music Expo (JAVME) 2025. Pameran tahun ini menandai partisipasi kedua MVG secara berturut-turut, dengan gebrakan yang jauh lebih besar dan ambisius.

Denny Riestanto, Founder Mitra Visual Group, menyatakan bahwa MVG hadir dengan booth terbesar di pameran tersebut, mencapai luasan sekitar 550 meter persegi, hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

“Ini adalah kali kedua kami mengadakan pameran di JAVME, dan kami kembali membuat booth terbesar. Booth ini sebenarnya kami dedikasikan untuk semua partner kami, yang kami sebut MVG Partner, supaya mereka lebih bangga dan yakin dengan kualitas produk yang kami jual,” ujar Denny Riestanto, Rabu 26 November 2025.

Fokus pada Ekosistem Produk dan Komunitas Kuat

MVG memamerkan total delapan lini produk perlengkapan event profesional, mencakup:

  • LED: Qiangli, Fabulux, Magnustek, dan Lampro (fokus utama dan keunggulan MVG).
  • Lighting: MEANREAL.
  • Special Effect: Moka SPX.
  • Truss/Racking: Aluminum.
  • Hoist: Mode
  • Laser: Gaga Stage Light

Meskipun memiliki beragam produk, MVG menegaskan bahwa LED adalah fokus utama mereka, karena mereka mengklaim telah menguasai hampir 40% pangsa pasar LED Videotron di seluruh Indonesia dengan lebih dari 700 vendor LED sebagai mitra.

Keunggulan utama MVG, menurut Denny Riestanto, adalah komunitas yang kuat.

“Komunitas ini sangat penting sekali di dunia industri event karena ini merupakan kolaborasi antara sesama pemilik rental event untuk mengerjakan proyek-proyek besar,” tambahnya.

Perkembangan Pesat LED dan Strategi Baru

Yafet Victor Tanamal, CEO Mitra Visual Group, menyoroti perkembangan pesat teknologi LED dalam lima tahun terakhir.

“Perkembangan LED sangat pesat, bahkan sekarang proyektor sudah hampir semuanya diganti LED. Dalam dua tahun ini perkembangannya sangat cepat,” kata Yafet Victor.

MVG, yang berawal dari luar pulau dan baru dua tahun masuk ke Jakarta, mendapatkan sambutan yang sangat baik.

“Responnya begitu kita masuk Jakarta sangat welcome sekali. Mereka tahu MVG dari Surabaya dan kaget ada vendor selengkap itu,” jelasnya.
Saat ini, 80% omset MVG berasal dari bisnis LED.

Namun, MVG telah merambah bisnis aluminium dengan memiliki pabrik Truss atau Racking sendiri untuk melengkapi kebutuhan stage event equipment.

“Bisa diklaim mungkin kita satu-satunya perusahaan yang menyediakan selengkap mungkin kebutuhan stage event equipment,” ujar Yafet.

Target MVG selanjutnya adalah meluncurkan produk Audio untuk melengkapi seluruh kebutuhan stage (stage, rigging, truss, hoist, lighting, LED) dan menjadi solusi one-stop-shop.

Promo dan Harapan Industri

Selama pameran JAVME 2025, MVG menawarkan promo unik: “Silakan negosiasi sampai deal selama pameran.”

Meskipun adanya pembatasan anggaran pemerintah yang sempat mempengaruhi event, MVG berharap ekonomi akan bergeliat kembali tahun depan dan industri pariwisata serta event akan bergerak maju tanpa pembatasan lagi.

MVG akan terus membuat gebrakan baru yang didedikasikan untuk semua partner mereka, memastikan produk yang mereka beli dari Mitra Visual Group adalah produk berkualitas tinggi.(Agus).

Harapan Baru bagi Keuskupan TNI-Polri dari Kaum Muda

JAYAKARTA NEWS – Partisipasi Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), atau Keuskupan untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri, dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 menjadi salah satu momen bersejarah dalam perjalanan Gereja Katolik Indonesia. Untuk pertama kalinya, keuskupan yang menaungi umat Katolik di lingkungan pertahanan dan keamanan negara itu ikut serta dalam sidang agung yang berlangsung di Jakarta pada 3 – 7 November 2025.

Delegasi OCI dipimpin oleh Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, selaku Wakil Uskup untuk Umat Katolik di Lingkungan TNI dan Polri. Ia hadir bersama sejumlah tokoh Katolik berlatar belakang militer dan kepolisian, di antaranya Mayjen TNI (Purn) Ibnu Bintang Setiawan, Marsda TNI (Purn) A. Joko Takarianto, Irjen Pol (Purn) Heribertus Dahana R, Brigjen Pol (Purn) Yosepha Sri Suari, AKBP (Purn) Petronela Rosena Hasan, serta dua perwakilan muda dari keluarga TNI, Theodorus Dar Edi Yoga Hartantoro dan Meinar Dwi Yantie.

Kehadiran dua putra-putri keluarga TNI tersebut menunjukkan semangat pembaruan dan kesinambungan generasi di tubuh Keuskupan TNI-Polri. Keduanya menjadi representasi kaum muda Katolik yang tumbuh dalam lingkungan pengabdian kepada bangsa dan Gereja.

Partisipasi OCI di SAGKI 2025 disambut antusias oleh peserta dari berbagai keuskupan di Indonesia. Kehadiran keuskupan ini dinilai sebagai wujud nyata Gereja yang inklusif dan sinodal, hadir di setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk di lingkungan militer dan kepolisian yang sering kali berada di garis depan menjaga keutuhan dan perdamaian bangsa.

Erika Tansil, S.H, Ketua Pemuda Katolik Komda Sulawesi Selatan, mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat para delegasi OCI.

“Saya merasa sangat terkesan dengan semangat dan kekompakan perwakilan Keuskupan TNI-Polri. Sebelumnya, saya tidak mengetahui bahwa Gereja memiliki keuskupan khusus yang melayani umat di lingkungan militer dan kepolisian. Kini saya paham bahwa Gereja sungguh hadir di tengah mereka yang mengabdi bagi keamanan dan pertahanan negara,” ujar Erika.

Ia menambahkan, kehadiran Keuskupan TNI-Polri membuktikan bahwa iman Kristiani dapat hidup dan berkembang di tengah tugas-tugas yang keras dan penuh tantangan.

(Foto: ist)

“Bagi saya, keuskupan ini adalah contoh bahwa kesetiaan pada iman dapat berjalan seiring dengan pengabdian pada bangsa dan negara. Semoga semakin banyak kaum muda yang mengenal keuskupan ini agar kami terinspirasi untuk mencintai Gereja dan tanah air dengan semangat yang sama,” imbuhnya.

Sementara itu, Azas Tigor Nainggolan dari Keuskupan Agung Jakarta menilai kehadiran OCI memperkuat semangat sinodalitas Gereja yang berjalan bersama seluruh umat.

“TNI-Polri adalah bagian dari Gereja yang berjalan bersama umat lainnya. Sebagai Gereja, kita semua dipanggil untuk berjalan bersama mewujudkan keadilan dan kesejahteraan Indonesia,” ujarnya.

“Dalam Gereja, tidak ada yang ditinggalkan. TNI dan Polri bersatu bergerak bersama keluar, merengkuh dan mendengarkan semua, terutama mereka yang miskin, tertindas, dan berkebutuhan khusus,” lanjutnya.

Harapan juga datang dari Romo Agus Arbol, Sekretaris Keuskupan Ambon, yang melihat OCI sebagai sarana pembinaan iman yang penting di lingkungan aparat negara.

“Saya berharap agar Keuskupan TNI-Polri menjadi wadah pembentukan umat Katolik yang militan dan mampu menjadi terang serta garam di tengah masyarakat,” katanya.

Dengan semboyan Pro Ecclesia et Patria, demi Gereja dan Tanah Air, kehadiran Keuskupan TNI-Polri dalam SAGKI 2025 menjadi penegasan bahwa Gereja Katolik Indonesia terus tumbuh sebagai Gereja yang terbuka, sinodal, dan misioner.***/mel

Delegasi Keuskupan TNI-Polri Dorong Rekonsiliasi dan Pelayanan Humanis Nasional

JAYAKARTA NEWS – Delegasi Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri, yang dipimpin oleh Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, merumuskan sejumlah langkah strategis sebagai tindak lanjut Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025. Fokus pembahasan diarahkan pada tema besar Hak Asasi Manusia, jalan perdamaian, rekonsiliasi, keadilan, dan martabat manusia.

Dalam evaluasi internal Gereja, delegasi OCI menyoroti masih terbatasnya penugasan uskup kepada para imam untuk melayani umat Katolik yang bertugas di lingkungan TNI dan Polri. Selain itu, “luka Papua” disebut masih menganga dengan kondisi sosial dan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, sementara tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah masih rendah.

Dari sisi eksternal, para delegasi mengidentifikasi sejumlah akar persoalan yang menghambat proses perdamaian dan pelayanan kemanusiaan. Dalam perumusan kebijakan, masyarakat Papua kerap merasa kurang dilibatkan secara adil. Gereja sendiri diakui belum sepenuhnya mampu menjadi penghubung yang efektif antara umat dengan aparat keamanan. Di samping itu, pendekatan kepada para pemangku kepentingan belum optimal, dan sebagian pejabat Katolik di lingkungan TNI-Polri dinilai masih belum sepenuhnya menjadi teladan dalam menghadirkan nilai-nilai iman di tengah tugas kenegaraan.

Delegasi OCI juga menyoroti bahwa pendekatan rekonsiliasi di lapangan masih cenderung menggunakan cara pandang militeristik. Karena itu, diperlukan langkah baru yang lebih humanis, dialogis, dan berbasis kasih.

Dalam refleksinya, Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, mengutip pesan kasih universal “Amor omnia vincit”, kasih mengalahkan segalanya (Roma 13:8-10), serta menyerukan agar umat “berangkat dari etika ketaatan menuju etika tanggung jawab,” sebagaimana diajarkan oleh teolog moral Berhard Haering. Ia menegaskan, pelayanan di lingkungan TNI dan Polri harus berakar pada spiritualitas tanggung jawab pribadi kepada Allah (Roma 14:7-12) dan semangat gembala yang menemukan kembali domba yang hilang (Lukas 15:1-10).

Rencana transformasi OCI ke depan diarahkan pada penyelesaian persoalan sosial dengan pendekatan sejarah dan antropologi, pembinaan “alat negara yang beriman Katolik”, serta kebijakan pembinaan yang lebih desentralistis dan berkeadilan.

OCI juga melihat peluang kerja sama lintas lembaga dengan Kementerian Pertahanan, Kepolisian RI, pemerintah daerah, serta keuskupan setempat untuk memperluas pelayanan pastoral bagi anggota TNI-Polri dan keluarganya.

“Pelayanan bagi aparat negara yang beriman Katolik bukan hanya tentang mendampingi secara rohani, tetapi juga menghadirkan wajah Gereja yang humanis dan membawa damai di tengah masyarakat,” ujar Romo Yos Bintoro, Kamis (6/11).

Delegasi OCI menegaskan komitmennya untuk terus “bergerak bersama tidak hanya dalam aksi, tetapi dengan kekuatan Roh Kudus, demi memenangkan hati dan pikiran rakyat.”***/mel