Belajar dari Kasus Penculikan Anak “Malika”: Ini Tips untuk Orangtua

 Belajar dari Kasus Penculikan Anak “Malika”:  Ini Tips untuk Orangtua

Retno Listyarti–foto instagram retno

JAYAKARTA NEWS— Retno Listyarti, Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengapresiasi kepolisian yang telah berhasil menemukan terduga pelaku peculikan anak bernama Malika yang hilang selama satu bulan.

Pelaku ternyata pernah dihukum penjara karena pencabulan terhadap anak di bawah umur. Saat diculik, anak korban diajak keliling jalanan untuk memulung dengan menggunakan gerobak di daerah Cileduk, anak korban sendiri diculik dekat rumahnya di Gunung Sahari Jakarta Pusat.

Bagaimana cara menghindari anak-anak kita yang masih masih di bawah usia 12 tahun menjadi korban penculikan?

Orangtua perlu dan penting mengedukasi anak-anaknya dengan tips di bawah ini. Mengedukasi anak merupakan salah satu cara menghindari anak-anak kita menjadi korban penculikan. Berikut ini tips yang disampaikan Retno Lisyarti melalui keterangan tertulisnya, Selasa (3/1/2022).

  1. Ajari anak sejak dini untuk merespons situasi yang membahayakan. Misalnya harus berteriak minta tolong kepada orang lain ketika ada orang yang tidak dia kenal memaksanya untuk ikut pergi bersama.
  2. Ajari anak untuk waspada kepada orang yang baru dikenal. beri tahu dia bahwa tidak boleh mudah percaya, apalagi saat orang tersebut memberikan makanan, permen, atau sesuatu yang menarik perhatiannya. Orangtua juga harus mengajarkan kepada si anak untuk bisa menolak pemberian dari orang asing. Ini sangat penting terutama ketika tidak ada orangtua di sampingnya.
  3. Beri pengertian dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami anak tentang bahaya ikut bersama orang yang tidak dikenal.
  4. Pastikan anak di samping orangtua. Tekankan pada anak untuk selalu berada di samping orangtua jika bepergian di tempat yang ramai, saat liburan dan saat mudik. Ajarkan juga pada si anak apa yang harus dilakukan bila tersesat atau terpisah dari orangtua. Beritahu ke anak untuk tidak boleh pergi sendiri ke suatu tempat tanpa didampingi orangtua, kakak atau orang yang bisa dipercaya.
  5. Ajari anak bela diri, sehingga ketika ada orang asing yang ingin memaksanya pergi, anak sudah tahu yang harus dilakukan. Misalnya dengan menggigit, menendang, atau berteriak agar anak bisa melepaskan diri dari penculik. Hal yang paling penting adalah mengajarkan anak mana area tubuhnya yang tidak boleh disentuh orang lain.
  6. Ajarkan anak untuk tidak menyendiri. Biasakan anak bermain dengan teman-temannya. Apabila jam pulang sekolah sudah tiba, ajarkan anak untuk menunggu penjemput sambil bermain dengan teman-temannya. Sebagai orangtua, Anda juga jangan lupa untuk berkoordinasi dengan guru atau sekolah.
  7. Biasakan anak bercerita tentang apapun yang mereka alami. Itu sebabnya orangtua harus selalu memiliki waktu dan perhatian untuk mendengarkan apa saja yang anak alami hari ini. Orangtua perlu dan penting bekerjasama dengan sekolah atau guru dan tetangga agar bisa saling bekerjasama untuk menjaga anak-anak dari bahaya penculikan.
  8. Jangan tinggalkan anak sendiri. Para Orangtua ketika berpergian, tidak boleh meninggalkan anak sendirian dan lepas dari pandangan.
  9. Latih kemandirian anak. Saat berada di sekolah, bekali anak dengan melatih kemandirian secara bertahap untuk pergi dan pulang sekolah sendiri, serta ajarkan kepada anak agar mengomunikasikan kepada guru apabila ada yang berprilaku aneh di sekolah.
  10. Hindari mengekspose anak. Untuk orangtua, sebisa mungkin hindari terlalu mengekspose anak-anak Anda, misal di sosial media. Banyak orangtua mengekspose anak di media sosial bahkan menyebutkan nama sekolahnya (TK/SD).
  11. Jika anak masih usia SD dan orangtua tidak dapat mengantar jemput, maka sebaiknya memiliki kode atau pasword dengan anak yang harus di ucapkan oleh si penjemput. Kalau tepat paswordnya maka itu adalah benar penjemput yang dipesan orangtuanya. Misalnya password nama hewan yang tiap hari diganti.***/din

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.