Begini, kesalahan dalam berinvestasi properti

 Begini, kesalahan dalam berinvestasi properti

 

PROPERTI  merupakan salah satu polihan paling tepat untuk berinvestasi. Sayangnya, banyak orang melakukan kesalahan-kesalahan dalam berinvestasi properti.

Joe Hartanto, seorang property Investor yang telah mementori banyak orang dalam sukses berinvestasi properti mengungkapkan, dari banyak macam kesalahan, kesalahan nomor satu dalam berinvestasi properti adalah menunda membeli properti karena merasa tidak mampu.

“Menunda membeli properti menurut saya adalah suatu kesalahan yang amat fatal. Kesalahan yang memiliki konsekwensi yang amat berat,” tulis Joe.

Penulis buku PropertyCASHMachine itu mengingatkan, properti adalah barang amat langka dalam hal ketersediaannya. Selain itu, properti adalah kebutuhan pokok utama selain makanan.

Sejauh ini manusia belum berhasil menemukan planet baru yang bisa untuk ditinggali. Di sisi lain, jutaan manusia dilahirkan setiap harinya, dan mereka nantinya akan membutuhkan tempat tinggal.Dalam hal ini akan berlaku hukum ekonomi, yakni ketika suatu barang sulit atau tidak bisa diproduksi lagi, sedangkan permintaan dan kebutuhan produk terus menerus meningkat, maka harganya akan naik terus. Nilainya akan semakin tinggi dari waktu ke waktu.

Ironisnya, sambungnya, daya beli orang pada umumnya akan semakin menurun. Hal itu karena adanya “pencuri” yang tidak kelihatan, yaitu faktor inflasi yang membuat nilai uang yang terus menurun dari waktu ke waktu.

Joe memberikan ilustrasi, apabila seorang pemud a ingin membeli properti senilai Rp 250 juta, ia harus memiliki uang muka (down payment) sebesar minimal 10% sampai 20% dari harga properti tersebut atau Rp 25 juta sampai 50 juta. Sisanya, dapat dibiayai kredit perbankan. Kalau dia punya penghasilan Rp 5 juta perbulan, maka untuk bisa memiliki uang muka, dia harus menabung sedikitnya 1-2 juta selama minimal 2 tahun. Dia harus memasang ikat pinggang ketat-ketat, hidup harus sederhana, hemat, dan disiplin dalam mengelola uangnya. Menabung, jelas merupakan hal yang tidak sulit dilakukan.

Anggap saja pemuda itu akhirnya pada dua tahun kemudian, berhasil menabung uang muka yang dibutuhkan, untuk membeli properti idamannya seharga Rp 250 juta tersebut. Namun apa yang terjadi, saat dia kembali mendatangi marketing properti idamannya itu, ternyata rumah yang dia incar sudah laku terjual. Kemungkinan lainnya, harga jualnya sudah naik menjadi Rp 300 juta, Rp 350 juta, Rp 400 juta atau bahkan lebih.

Kalau yang terjadi yang kedua, jelasnya, maka uang muka yang berhasil dikumpulkannya selama 2 tahun, menjadi kurang untuk membeli properti idamannya, karena nilainya sudah naik.

Menurut Joe, ilustrasi sederhana tersebut merupakan salah satu dari konsekwensi berat yang terjadi, jika seseorang menunda nunda pembelian sebuah properti. Hal itu karena nilai properti yang cenderung terus naik dari tahun ke tahun.

Selain itu, ada waktu yang terbuang untuk kembali melakukan pencarian properti lainnya. Usia yang semakin bertambah, rasa malu yang timbul terhadap calon pasangan atau calon mertua, bahkan kemungkinan terberatnya adalah, propertinya tidak pernah terbeli. Sumber masalahnya, karena uang tabungannya nilainya selalu menyusut tergerus inflasi atau bisa jadi keburu terpakai oleh keperluan dan keinginan lainnya.

“Jangan mudah menyerah dengan situasi, cari akal, jadilah kreatif untuk bisa mewujudkan sesuatu yang saat ini rasanya masih diluar kemampuan,” kata Joe.

“Untuk membeli properti, jangan tunggu sampai mampu, tapi berusahalah untuk menjadi mampu, dan jangan pernah tunggu beli properti, tetapi beli properti dan tunggu!” Jangan hiraukan dengan perkataan “haters” dan orang-orang yang berpikiran negatif. Misalnya dengan mengatakan, “Beli properti, pake duit mbahmu?”. Atau juga mengatakan, “Ngomong aja lu gampang suruh beli properti dan tunggu”

Joe menyarankan agar orang berpikir positif dan mencari teknik bagaimana dapat membeli properti dengan cara yang cerdas.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *