WTO akan Selidiki Pengenaan Tarif AS terhadap Produk China

 WTO akan Selidiki Pengenaan Tarif AS terhadap Produk China

 

KEBIJAKAN  tarif Presiden AS Donald Trump atas barang-barang China senilai US $ 250 miliar akan  diselidiki oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), menyusul ketidakkonsistenan Amerika terkait dengan yang ditetapkan WTO.

Hari  Senin ini, 28 Januari 2019, hakim  perselisihan perdagangan (arbitrase) kemungkinan akan memulai  penyelidikan untuk mengetahui  apakah yang dilakukan  Trump bertentangan dengan persyaratan bahwa semua anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) harus saling memberikan perlakuan tarif yang sama, seperti yang ditegaskan China.

Investigasi tersebut dilakukan pada dua penguasa ekonomi terbesar di dunia berada dalam situasi yang sulit terkait dengan putaran baru pembicaraan perdagangan yang diperkirakan akan dimulai pada 30 Januari.

Jika kesepakatan tidak tercapai pada 1 Maret, pemerintahan Trump telah mengancam untuk menaikkan tarif tarif barang-barang China senilai US $ 200 miliar, naik  dari posisi semula 10 persen menjadi 25 persen.

“Kasus WTO ini sangat signifikan, karena berkaitan dengan masalah hukum internasional dalam perang dagang AS dengan Tiongkok – apakah AS dapat memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap China sebagai tanggapan atas dugaan pelanggaran WTO yang disampaikan Tiongkok, tanpa terlebih dahulu mencari penyelesaian sengketa di WTO, ” kata James Bacchus, yang  mantan anggota Kongres Demokrat dan kepala badan banding WTO.

“Saya percaya tarif AS ini tidak konsisten dengan kewajiban WTO, tetapi akan diserahkan kepada penerus saya di badan banding WTO untuk memutuskan.”

 

WTO telah menghadapi ancaman eksistensial atas penahanan yang telah dilakukan AS terhadap nominasi hakim banding yang baru.

Sejauh tidak ada reformasi, sayap pengambilan keputusan WTO hanya memiliki terlalu sedikit hakim untuk memutuskan kasus pada akhir tahun ini. Penyelidikan baru ini dapat lebih memusuhi AS, yang akan memandang bahwa WTO telah melampaui kewenangannya.

Penyelidikan ini merupakan permintaan kedua Tiongkok terkait dengan perang dagang dengan Amerika.  Yang pertama bulan Desember lalu,  yang kemudian diveto oleh AS. Penyelidikan kemungkinan akan dilakukan pada  Senin ini, karena aturan WTO mencegah anggota dari memblokir penyelidikan sengketa untuk kedua kalinya.

Cina sendiri tampaknya tidak akan mengharapkan begitu besar bahwa resolusi untuk penyelidikan ini akan dilakukan dalam waktu dekat ini, mengingat tumpukan dalam sistem penyelesaian sengketa WTO.

Sejauh ini,  saat ini sebanyak 23 perselisihan telah diajukan terhadap pemerintah AS, termasuk penyelidikan Uni Eropa mengenai tarif yang dikenakan terhadap impor aluminium dan baja.

“Ketegangan perdagangan ini bukan hanya ancaman bagi sistem, mereka juga merupakan ancaman bagi seluruh komunitas internasional,” Roberto Azevedo, direktur jenderal WTO, mengatakan pekan lalu. “Risikonya sangat nyata dan akan ada dampak ekonomi.”

Kasus ini telah menusuk ke jantung konflik perdagangan AS-Cina. Masalah bersumber dari pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa tarif itu diperlukan untuk melawan dugaan kampanye Cina yang mencuri kekayaan intelektual Amerika.

AS menentang adanya investigasi  tersebut dengan dalih bahwa masalah ketentuan tarif berada di luar jangkauan WTO.  ***

sm/berbagai sumber

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *