Wedangan di Margonda, Serasa di Yogya

 Wedangan di Margonda, Serasa di Yogya
Warung “Wedangan 23” di Jl Margonda, tak jauh dari Polresta Depok, menjanjikan rasa dan suana khas Yogya. Foto: Roso Daras

PERNAH merasakan wedangan di Yogya? Sore atau malam, seduhan wedang uwuh, teh tubruk campur jahe, atau bahkan teh jahe campur susu, benar-benar mengalirkan sensari rasa yang berbeda dari minuman keseharian kita. Apalagi, jika ditemani nyemil gorengan dan gigitan cabe rawit, perpaduan keduanya benar-benar cetarrr.

Bukan hanya itu. Bagi yang ingin menu sedikit lebih berat, santapannya sego kucing bungkus daun pisang. Lauknya tinggal pilih, orek tempe atau bandeng. Keduanya, sudah bersambal. Masih kurang lauk? Ambillah ceker ayam, atau sayap ayam bacem, kemudian minta supaya dibakar sebelum disantap. Paduan nasi punel, orek tempe, sambal gila, ditambah aroma ayam bacem bakar arang… hmm… nyuss-pluss.

Lokasinya di Jl Margonda, tak jauh dari Polresta Depok, sebelum kantor BPJS. Foto: Roso Daras

Puas wedangan sambil menyantap kuliner ala Yogya, tentu saja giliran membayar bukan? Entah harus bilang apa…. Untuk dua bungkus sego kucing, dua potong ceker, dua potong sayap ayam, dua teh tubruk campur jahe, Mbak Anna yang manis itu cuma bilang, “Pas, dua puluh ribu rupiah mas….” Sempat hati ini bergumam, “Whaaattt ??? Murah amaaaattt…..” Sepeti tahu ekspresi hati, mbak Anna kontan menyahut, “Penglaris mas… warung ini baru buka dua hari….”

Ya, itulah keseluruhan kesan pertama wedangan sambil menyantap sego kucing di kedai “Wedangan 23”, Jalan Margonda Raya No. 23, Depok. Lokasinya terbilang nyelempit di antara ruko-ruko. Persisnya, kurang lebih 500 meter dari Polresta Depok ke arah selatan. Lebih tepatnya lagi, ia berada sebelum kantor BPJS Cabang Depok. “Karena lokasinya di kiri jalan dari arah Pasar Minggu, jadi ramainya setelah jam pulang kantor. Mereka yang pulang ke arah selatan, biasanya mampir. Kami buka sampai dinihari,” ujar Anna, wanita berkacamata itu.

Ditanya konsep, sarjana musik spesialis flute itu berkomentar pendek, “Halah… konsep opo tho mas…. Wong cuma warung wedangan. Yang kami jaga adalah rasa dan nuansa yang sama dengan aslinya. Wedang jahenya, teh tubruknya, sego kucingnya, … dan di atas segalanya, harga yang bersahabat dengan dompet,” ujar ibu tiga orang anak itu.

Seduhan air panas dari tungku berbahan bakar arang, menjadikan wedangan lebih yahud. Foto: Roso Daras

Ia bersama Seno, partnernya, sama-sama orang musik. Jadi, jangan heran jika sesekali, mereka juga beratraksi dengan main biola dan flute menghibur para pengunjung. “Hanya kalau lagi iseng saja… tapi yang pasti, wedangan di sini kami manjakan dengan alunan gamelan, he…he…he…. Ini yang membuat wedangan lebih sessuuaattuu….,” kata Anna sambil tertawa.

Memulai usaha warung “Wedangan 23” di Jalan Margonda pada tanggal 1 Juni 2017, kata Anna, biar monumental. “Meski sekadar warung, tapi harus monumental. Ulang tahunnya 1 Juni, lhoo… kan keren…,” imbuh Anna.

Bagaimana kisahnya musisi jadi berjualan warung sego kucing dan wedangan? “Kebetulan selama bulan Puasa, kami vakum tidak ada agenda perform. Kebetulan juga, ini cita-cita lama. Jadi, pas kosong, segera kami buka. Habis Lebaran, nanti sudah ada yang bantu-bantu jaga warung. Saya dan mas Seno sesekali kembali ‘ngamen’,” ujar Anna, yang mengaku memasak sendiri semua menu yang dihidangkan di Wedangan-23. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *