Tiga Revolusi Indonesia untuk Dunia

 Tiga Revolusi Indonesia untuk Dunia

TIDAK sedikit jargon dunia yang sejatinya menunjukkan betapa strategis peran Indonesia bagi dunia. Contoh, global warming. Dunia sangat berharap pada Indonesia, terkait letak strategis di katulistiwa, dan diharapkan menjadi paru-paru dunia.

Sangat disesalkan jika akhir-akhir ini banyak yang menyuarakan revolusi di Indonesia. Termasuk revolusi sosial. “Kalau sampai terjadi revolusi sosial, maka objeknya adalah manusia. Revolusi yang baik bagi Indonesia adalah revolusi yang menyeimbangkan antara alam dan manusia. Keduanya harus jadi subjek,” ujar Habib Lutfi dari Pekalongan.

Ditambahkan, hendaknya kita tidak berpikir tentang revolusi sosial yang hanya mengakibatkan kerusakan. Yang harus kita perjuangkan justru tiga jargon revolusi untuk dunia. Pertama, white energy revolution. Itu artinya, kita harus menghindari penggunaan minyak maupun batubara yang banyak menghasilkkan karbon monoksida. Untuk pembangkit listrik, bisa menggunakna bahan baku dari batu gamping (karst).

“Batu gamping di Indonesia melimpah,” tegas Habib Lutfi. Sisa dari batu gamping untuk produksi listrik, bisa digunakan untuk pupuk tanaman. Kita harus mulai belajar bebas dari minyak dan batubara, maupun penggunaan urea. Penggunaan urea, hanya menebalkan kekerasan permukaan tanah.

Penggunaan pupuk organik alami yang berbahan baku batu gamping sisa produksi listrik, akan lebih menyuburkan tanah dan mengikis ketebalan permukaan tanah yang mengeras. “Terkait tanah, kita sebut saja green land revolution,” kata Habib Lutfi. Apalagi, penggunaan pupuk organik alami, akan mengikat oksigen dan nitrogen ke dalam tanah.

Hasilnya, tanaman apa pun, kata Habib, akan memiliki kandungan nitrogen dan oksigen yang sangat bagus jika dikonsumsi manusia. Kandungan nutrisi pangan padat cair tersebut, akan membantu restorasi sel pada tubuh manusia. Jika terserang suatu penyakit, menjadi mudah disembuhkan.

Setelah, white energy revolution dan green land revolution, akan menghasilkan blue sky revolution. Di sinilah, kata Habib Lutfi, Indonesia bisa berkampanye secara internasional, bahwa Indonesia sebagai paru-paru dunia yang harus didukung oleh negara di belahan dunia mana pun jika mereka tidak ingin terkena imbas negatif dari rusaknya paru-paru dunia tadi. “Itulah tahapan revolusi yang seharusnya dilakukan bangsa Indonesia, menyeimbangkan alam dan manusia. Manusia maupun alam, sama-sama sebagai subjek revolusi itu sendiri,” tegas Habib Lutfi dari Pekalongan. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *