Itik Pitalah, Lokal Namun Potensial

 Itik Pitalah, Lokal Namun Potensial

SUMATERA Barat terkenal dengan ragam kulinernya nan lezat. Salah satunya yang menjadi buruan wisatawan pecinta kuliner adalah gulai itiak atau secara nasional dikenal dengan nama gulai itik. Nah, itik atau bebek ini di Sumatera Barat ternyata ada banyak ragamnya. Salah satunya yang sangat potensial dikembangkan adalah Itik Pitalah.

Menurut Dr. Ir. Zasmeli Suhaemi MP,  usaha ternak Itik Lokal Sumatera Barat sangat menjanjikan secara ekonomi. Namun ia miris karena keberadaan plasma nutfah itik lokal di Sumbar makin berkurang. “Belum ada upaya-upaya untuk pelestariannya secara konsisten dan berkelanjutan,” katanya.

Doktor baru dari Universitas Andalas ini prihatin karena punahnya keragaman plasma nutfah ternak tidak akan dapat digantikan, meskipun dengan kemajuan bioteknologi, paling tidak sampai saat ini. Padahal, ternak itik merupakan potensi sumber daya alam serta keaneka ragam jenis hewan yang bisa menjadi unggulan Indonesia, karena cukup banyak daerah di Indonesia yang telah menciptakan sentra-sentra produksi itik lokal dan telah menjadi usaha pokok masyarakat setempat.

Berdasar penelitiannya ditemukan bahwa Itik Pitalah mempunyai ciri asli baik secara penampilan fisik juga secara genetik (ditingkat DNA/molekuler) dibandingkan itik lokal lainnya di Sumatera Barat, serta memberikan hasil yang luar biasa dengan menunjukkan tanda-tanda kelebihan yang membawa nilai ekonomi sangat menonjol dari hasil kajian potensi produksi dan kualitasnya secara komprehensif. Kedua itik lainnya yang dijadikan sampel penelitian (Itik Kamang dan Bayang) relatif memiliki kemiripan dengan itik lain di daerah jawa baik secara fisik dan genetik.

“Tidak ada kata lain, harus segera dilakukan konservasi baik in-situ dan ex-situ  guna pelestarian  Itik Pitalah khususnya, karena memiliki ciri yang khas sebagai rumpun itik lokal Sumatera Barat dan membawa nilai ekonomi sangat menonjol, untuk mensejahterakan masyarakat,” tuturnya. Disebutkan beberapa keunggulan beternak Itik Pitalah. Diantaranya, beternak  Itik Pitalah tidak membutuhkan lahan besar untuk pemeliharaannya seperti ternak unggas lainnya. Kedua, daya tahan terhadap penyakit yang luar biasa. Ketiga, masa produksi telur yang lebih lama.

Penelitian tersebut dituliskan Suhaemi dalam desertasi berjudul “Potensi dan Keragaman Genetik Itik Lokal Sumatera Barat”. Desertasi tersebut berhasil dipertahankannya di hadapan sidang terbuka Dewan Senat Universitas Andalas pada hari Jumat (7/4/2017).  Sehingga, Suhaemi berhak menyandang gelar Doktor dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang.

Bertindak selaku promotor Prof. Dr. Ir. H. M Hafil Abbas, MS dan Prof. Dr. Ir. Zaituni Udin, MS. Bertindak sebagai penguji adalah Prof. drh. Hj. Endang Purwanti, MS. Ph.D., Dr. Rusfidra, S.Pt. MP. dan Dr. Ir. Yan Heryandi, MS, sebagai penguji dari lingkungan Fakultas Peternakan Universitas Andalas. Sedangkan sebagai penguji luar adalah Prof. Dr. Ir. Yosi Fenita, MP.  Hadir juga sebagai Penguji Istimewa adalah Prof. Dr. Haryono Suyono, yang dikenal dengan bapak KB Indonesia yang sekarang aktif dalam gerakan Posdaya.

Dr. Ir. Zasmeli Suhaemi, MP yang akrab disapa Emi ini pernah menjabat sebagai ketua LPPM di Universitas Tamansiswa selama 2 periode. Selama menjabat, Emi aktif melanjutkan kegiatan Posdaya yang telah berkembang di Sumatera Barat terutama di Kota Padang kerjasama dengan Yayasan Damandiri. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *