Target Atletik tak Lebih dari 1 Emas

 Target Atletik tak Lebih dari 1 Emas
Ketua Umum PB PASI, Bob Hasan.

MESKI jumlah medali emas yang diperebutkan ada 48 medali emas, Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB.PASI) hanya mematok target tak lebih dari 1 medali emas pada ajang Asian Games 2018. Target itu realistis mengingat kondisi keolahragaan di Indonesia masih sangat memprihatinkan.

Ketua Umum PB.PASI Bob Hasan mengatakan hal itu kepada wartawan di sela-sela kunjungannnya ke pelatnas atletik di Lintasan Atletik Stadion Madya Senayan Jakarta, Selasa, (13/3).

Menurut Bob, Korsel yang menjadi tuan rumah Asian Games 2014 di Incheon, tanpa medali emas dari cabang atletik. Namun demikian, PB.PASI tetap berupaya keras atletik bisa memberikan hasil maksimal di Asian Games 2018 nanti.

“Jujur saja dari 48 nomor itu, peluang terbuka untuk mendulang medali emas ada di nomor loncat dan estafet putra. Muda-mudahan salah satu dari nomor itu dapat mempersembahkan medali emas, sehingga cabang atletik bisa memberikan sumbangsih kepada Kontingen Indonesia,” tambah pengusaha nasional yang pernah dekat dengan kekuasaan orde baru itu.

Dengan kondisi keolahragaan Indonesia yang masih memprihatinkan, atletik tidak ingin pulang dengan tangan kosong pada ajang Asian Games nanti.Berdasarkan pengalaman selama ini, atletik sudah beberapa kali menyumbangkan medali emas termasuk di Asian Games 2014 lalu, Incheon, Korsel melalui Maria Londa di nomor lompat jauh.

Pada Asian Games 1998 di Bangkok, Thailand, atletik juga menyumbang 1 medali emas melalui Supriati Sutono. Itu medali emas yang sudah lama ditunggu-tunggu sejak Asian Games 1962 Jakarta. Pada Asian Games ke-4 itu atletik menyumbangkan 2 medali emas melalui Mohammad Sarengat, nomor lari 100 meter dan 110 meter gawang.

Atletik Indonesia seperti dikatakan Bob Hasan, sebenarnya memiliki peluang untuk mencuri medali di nomor-nomor jarak jauh, seperti lari maraton dan jalan cepat. Ini didasari lantaran iklim Indonesia yang tropis, bisa menyulitkan beberapa pesaing-pesaing kuat dari negara lain yang tidak memiliki iklim serupa, seperti Tiongkok dan Jepang.

“Atlet Tiongkok dan Jepang kalau nomor jarak pendek mereka tidak ada masalah, karena bermain di dalam stadion,” terang Bob. “Tapi untuk nomor jarak jauh, bermain di Jakarta, negara-negara tersebut mengalami kesulitan. Jadi masih ada peluang atlet kita bisa mengambil di nomor ini,” tambah Bob.

Untuk memenuhi target meraih satu medali emas, PB.PASI mendatangkan konsultan asing Harry Mara dari Amerika Serikat. Ia selama di Indonesia membantu tim pelatih menyusun program atlet Pelatnas.

“Kehadidarn konsultan Harry Mara untuk memperbaiki peforma atlet. Harry bekerja bersama pelatih di tiap-tiap nomor, untuk membetulkan training program mereka. Harry menyadari kalau selama ini atlet kita lebih banyak latihan angkat beban, dan itu sebaiknya diganti dengan senam,”jelas Bob.

Untuk mengembangkan performa atlet menuju Asian Games, tim pelatih telah menyiapkan program khusus bersama Harry. Program tersebut tidak hanya ditujukan kepada Asian Games saja tetapi juga Olimpiade Tokyo 2020. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *