HIDAYAH – Bekas Napi jadi Ustad

JAYAKARTA NEWS – Hidayah artinya petunjuk jalan menuju kemenangan di sisi Allah SWT. Ustad muda Bahri membawa perjalanan kehidupan religinya di pondok pesantren di Desa Mekarwangi. Ia ingin mengubur masa silamnya yang kelam sebagai bekas napi.

Sebenanya Bahri sudah pindah ke kota. Namun, suatu hari, ia ditemui sobat baiknya, Hasan agar Bahri mengungkapkan keganjilan dan hal-hal yang tak beres yang terjadi di Desa Mekarwangi. Warga desa belakangan selalu diganggu sosok gaib bernama Ratna, sehingga warga tidak tentram dan aman.

Saat Bahri kembali ke Mekarwangi, Ratna sedang sakit keras dan ketika ia kesakitan, Ratna berteriak. Horor meneror warga desa. Hingga Ratna meninggal, horor mencekam masih menghantui warga pesantren. Hal ini terjadi karena tabiat buruknya semasa hidup.

Beberapa penduduk desa yang sejak semula tak menginginkan Bahri kembali ke desanya, menuding kedatangan Bahri selalu membawa masalah.

“Ini horor berkonsep klasik. Basicnya ketika azab seseorang yang melenceng dari jalan Allah,” ujar sutradara Hidayah, Monty Tiwa kepada penulis.

“Saya hati-hati menggarap Hidayah. Film ini punya nilai yang enggak diketahui penonton. Jadi saya harus cermat memvisualkan karakter tokoh-tokohnya. Plot juga menggiring saya agar saya berulang-ulang membaca dan mengeceknya di kitab suci Al Quran,” papar Monty Tiwa yang menambahkan, cerita Hidayah berasal dari sinetron religi yang pernah dibuatnya tahun 2005-2007.

Manoj Punjabi

Pemeran utama Bahri adalah Ajil Ditto, 21 tahun yang namanya sedang meroket sebagai model, penyanyi boy band Super 7 dan pelakon. “Selama syuting, saya terus didampingi seorang ahli agama yang mengajarkan doa-doa yang diambil dari Al Quran. Agar pelafalan bahasa Arab saya benar dan enggak melenceng,” tutur Ajil Ditto yang bernama lengkap Muhammad Fazzill Alditto.

Pemain lain adalah Alif Joerg, Dewi Yull, Givina Lukita, Revaldo, Unique Priscilla, Fanny Ghassani, Joshua Pandelaki dll.

Produksi Pichouse Film dan Clockworks Films berdurasi 92 menit ini diakurasi untuk 13 tahun ke atas. Ceritanya ditulis Baskoro Adi dan diproduseri Rajesh Punjabi dan Manoj Punjabi. “Film ini semula akan tayang 20 Oktober 2022, kemudian diundur 12 Januari 2023. Semoga berkenan di hati penonton khusus pencinta horor religi,” ucap Manoj Punjabi optimistis. (pik)

Peluang Perfilman Indonesia di Era Pandemi

JAYAKARTA NEWS – Mengusung tema ‘peluang mengembangkan ekosistem perfilman Indonesia di era Pandemi’, Panitia dari Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) bekerjasama dengan Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru (PMMB) Kemdikbudristek, menghelat webinar zoom yang menampilkan tiga narasumber.

Manoj Punjabi, CEO MD Corporation menekankan bahwa bioskop masih tetap jadi unggulan meraih imej. Namun, kehadiran Over The Top (OTT) adalah lahan baru dan menarik. “OTT melahirkan inovasi dan alternatif baru. The next, televisi dan bioskop tetap jadi prioritas. Bioskop enggak tergantikan karena ada experience yang ditawarkan. Ini bikin kangen saya dan sineas lain,” kata Manoj Punjabi.

Senada pendapat Lesley Simpson selaku Country Head WeTV dan Iflix Indonesia yang bicara tentang kebijakan pengelola OTT terhadap tayangan film Indonesia. “Momentumnya bersamaan di era pandemi. WeTV bisa joint dengan banyak Production House (PH) lain, dengan tujuan ingin membangkitkan film Indonesia via opportunity OTT dari webseries baru saat bioskop masih tutup,” urai Lesley Simpson.

Judith J Dipodiputro

Setali tiga uang dengan ungkapan Direktur Utama Produksi Film Negara (PFN), Judith J Dipodiputro. “PFN menjadi katalis pertumbuhan industri perfilman termasuk sentra biaya industri film dengan banyak kerjasama seperti BUMN Telkom Group untuk start up pengembangannya.

Beberapa film dibiayai dan diproduksi PFN seperti ‘Si Unyil’ yang harus punya nilai sosial bagi Indonesia dan saat ini kita terus berproses,” papar Judith J Dipodiputro. Sedangkan Ketua Panitia FFWI, Wina Armada Sukardi, SH merujuk peran pentingnya wartawan dalam pembangunan industri perfilman Indonesia.

“Dari era Usmar Ismail sampai pandemi ini, lewat webinar menjadi bahan pemberitaan jelang perhelatan FFWI, 28 Oktober 2021,” ujar Wina Armada Sukardi, salah seorang ahli Dewan Pers yang baru saja meraih penghargaan dari organisasi penulis Satu Pena.

Dimoderatori Shandy Gasela, webinar yang dibuka oleh Edy Suwardi selaku Kapokja Apresiasi dan Literasi Film Kemdikbudristek ini berjalan lancar dan gayeng. Pertanyaan, masukan dan ‘serangan’ bertubi-tubi berdatangan dari insan film dan wartawan, baik dari Jakarta maupun daerah. (pik)

Produser Film Harus Gercep

JAYAKARTA NEWS – Ontran-ontran (kegaduhan) bioskop yang tutup akibat pandemi dibahas lagi. Apakah stok film nasional yang bagus berkurang sehingga penonton malas ke bioskop ? Atau ada sebab lain ? “Produser film harus ‘gercep’ (gerak cepat),” lontar CEO MD Pictures, Manoj Punjabi dalam webinar bertopik ‘bisakah industri film Indonesia digantikan platform digital OTT’ secara daring, Senin (5/4).

Acara diskusi ini digelar oleh Kreasi (Koperasi Seniman Indonesia) pimpinan Rudi Aryanto dan MIKTI. Dikatakannya, saat ini, produser dan sutradara harus melakukan sesuatu ide yang kreatif guna menghidupkan kembali bioskop. Produser yang punya uang harus cari jalan yang jitu agar penonton memenuhi gedung bioskop, meski sementara masih dibatasi dengan peraturan hanya 50 % penonton.

Manoj Punjabi yang sukses membuat film ‘Habibie’ sampai 3 seri ini mengaku bahwa hampir 98% bisnis hiburan – termasuk film – ini mengalami kerugian besar. Hanya 2% yang untung. “Tapi para pekerja film enggak boleh mengeluh. Pemerintah bantu promosinya. ‘Brand image’ harus kita jaga betul,” beber Manoj.

Setelah Presiden Jokowi divaksinasi agar timbul ‘herb immunity’, masyarakat mengikuti. Nah, ini citra yang positif dan baik. Atasan dari Menteri dan stafnya mengajak nonton bareng (nobar) film nasional yang bagus. Nonton film di bioskop enggak kena virus Covid kok. Asal kita patuh menerapkan 3 M. Ihwal MD Pictures yang menjual film barunya ‘Surga Yang Tak Dirindukan 3’ ke Disney Hot Star dan tidak tayang di bioskop, Manoj jujur mengakuinya.

“Produser harus survive. Film yang tayang di OTT (Over The Top, layanan multi media yang berjalan melalui jaringan internet) harus punya nilai lain. Art dan komersial. Saya sudah mematok film ke OTT,” urai Manoj lagi. Apa anda mau meninggalkan bioskop dan pindah ke OTT? “Enggak juga. Saya masih menanti timing yang tepat untuk film-film saya main di bioskop. Saya yakin bioskop akan kembali bangkit. OTT? Kita harus ada balance. Ada limit,” tegasnya.

Kiat ‘ada kemauan dan strategi’ harus terus dijalankan. Kombinasi berbisnis di dua kaki (bioskop dan OTT) di saat pandemi saat ini harus terus dijalankan. “Prinsip ‘movie going habit’ saya lihat masih besar di masyarakat Indonesia, asal filmnya bagus sekaligus komersial. Orang film banyak peluang,” imbuh Manoj. Pendapat senada dilontarkan produser dan sutradara Deddy Mizwar.

“Saya lihat di masyarakat ada kerinduan datang dan nonton film ke bioskop. Asal filmnya bagus dan bermutu, oke. Kalau filmnya jelek, dibayar pun penonton ogah,” urai Deddy Mizwar yang Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Bagaimana membuat film laku dan ditonton jutaan orang sehingga ‘box office’, Deddy Mizwar tidak tahu rumusnya.

“Doktor pun enggak tahu rumusnya. Seorang Steven Spielberg juga enggak paham. Yang penting, saya buat ceritanya bagus, bisa diterima akal sehat dan akting pemain enggak mengecewakan, pasti bakal disukai penonton. Kalau ada rumus bikin film pasti laku, pasti deh semua orang bikin film,” timpal Deddy Mizwar yang sudah membuat 14 session series ‘Para Pencari Tuhan’ (PPT) ini.

Ditambahkan, hal positif saat gonjang-ganjing pandemi yang memorakporandakan industri perfilman ini adalah hanya satu : kembalikan kepercayaan penonton. Pemerintah harus bantu dengan meringankan stimulus pajak tontonan dan bea masuk. Sehingga kalau bisa, pajak 0%. Kalau ada usul tiket disubsidi, PPFI akan menolak. Ini enggak sehat.

Saat ini, banyak masyarakat menderita,” imbuh Deddy Mizwar. Akhirnya, webinar ini dipungkasi dengan ajakan Deddy ‘Naga Bonar’ Mizwar dengan kalimat menarik : bioskop tumbuh, penonton sehat dan prokes tetap berjalan lancar. Ehm. (pik)

Marsha Timothy, Baru Sekali Main Film Horor

JAYAKARTA NEWS——Sudah puluhan tahun Marsha Timothy, 41 tahun, kenal sutradara Rizal Manthovani.Tapi baru sekali itulah Marsha diajak bermain dalam film horor bertajuk ‘Asih 2’. “Saya bersyukur, jadi gemes..ini mungkin jodoh saya tahun ini..,” ujar ibu seorang anak bernama Jizzy Pearl Bastian, buah pernikahan dengan aktor Vino G Bastian. “Begitu baca naskah, yes..selalu personal nih..,” imbuh Marsya yang mengawali syuting filmnya selama 25 hari pas di masa pandemi. “Semua pemain dan kru film di swab test,” cerita Marsya lagi.

Ihwal genre filmnya yang horor, tak masalah bagi Marsha. “Biar horor, tapi dramanya kuat sekali,” jelasnya. Sedangkan produser MD Pictures yang membuat film ini, Manoj Punjabi mengaku saat ini ekonomi Indonesia sedang berjalan maju. “Masyarakat kita haus hiburan. Film termasuk yang dinanti warga asal kita tetap menaati protokol kesehatan,” papar Manoj Punjabi.

Manoj termasuk nekad dan berani ‘melawan’ jatah dan jadwal main film Hollywood yaitu ‘Wonder Woman 1984’ (WW1984) yang mendominasi sebanyak 600 layar bioskop di seluruh Indonesia. “Saya enggak takut berhadapan dengan WW1984. Toh sudah seminggu ini, WW1984 berkurang layarnya dan dibagikan ke film nasional. Yuk kita dukung film nasional dan datang ke bioskop,” ajak Manoj.

Film ‘Asih 2’ akan main hari Kamis (24/12/2020) di seluruh Indonesia. Film yang merupakan bagian dari Danur Cinematic Universe ini diangkat dari novel laris karya Risa Saraswati. Disutradarai Rizal Mantovani yang sukses membuat film ‘Jelangkung’ dan trilogi ‘Kuntilanak’.

Selain dibintangi Marsha Timothy, film ini juga diramaikan oleh sederet pemain terkenal lainnya yaitu Ario Bayu, Shaarefa Daanish, Ruth Marini, Ingrid Wijanarko, Ully Triani, Anantya Rezky, Graciella Abigail dll. Mari kita sambut film nasional penutup tahun 2020 dengan cekikikan hantu Asih (Shaarefa Daanish) yang bikin merinding yang selalu melantunkan lagu anak ‘Indung Indung’. (pik)

Film Ubah Jalan Hidup Manoj Punjabi


JAYAKARTA NEWS – Siapa sangka, dunia film telah mengubah jalan hidup seorang anak lelaki bernama Manoj Punjabi (45 tahun).

Karena sang ayah, Dhamoo Punjabi (pendiri Parkit Film) sudah tua, maka sang anak, Manoj Punjabi yang studi manajemen di Amerika Serikat kembali ke Indonesia dan melanjutkan usaha yang telah dirintis sang ayah.

Pada 2003, dibentuklah MD Pictures, kepanjangan dari Manoj dan Dhamoo. Manoj pun menerapkan ‘ilmu’ yang telah dipelajari diAmerika Serikat. Dari sinilah, ia memulai usaha nan tak kenal lelah ini.

“Sejak kecil, saya telah mencintai film. Saya terobsesi menjadi pembuat film. Saya hampir tiap hari nonton film Hollywood, Bollywood dan film Indonesia, sehingga saya hafal judul-judul dan nama-nama pemainnya,” kata Manoj kepada penulis di suatu tempat.

Berkat kerja keras, gigih, tekun, disiplin dan jujur, Manoj kini menjadi ‘King of Movies’ dan pernah di suatu masa dinobatkan menjadi ‘King of Soap Operas’ (ketika sinetron marak di televisi).

Hampir tiap tahun, film-film produksi MD menjadi box office (di atas 1 juta penonton) dan kualitas film-filmnya sekelas Hollywood. Bahkan, tahun 2018 lalu, MD Pictures telah memasuki Bursa Saham Indonesia dan MD adalah rumah produksi pertama nasional yang masuk lantai bursa.

‘Cinta Fitri’ yang dibintangi Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar adalah sinetron pertama yang dibuat MD dan puluhan episode sinetron ini telah menyedot minat pemirsa televisi untuk terpaku di depan layar televisi. Sinetron ini menjadi viral pada masanya, tahun 2003.

Ketika sinetron mulai redup dan dun ia film bangkit kembali, Manoj pun banting setir membuat beberapa film yang boleh dikatakan berkualitas sekaligus berkuantitas (menyedot lebih sejuta penonton).

Berturut-turut dibuat film nasional seperti ‘Habibie & Ainun’ (2002), ‘Ayat Ayat Cinta’ (2008), ‘Merry Riana – Mimpi Sejuta Dolar’ (2014), Surga yang Tak Dirindukan’ (2015), ‘Rudy Habibie’ (Habibie 2,, 2016), ‘Danur’ (2017) dan yang terbaru ‘Habibie 3’ (2019).

Khusus film ‘Habibie 3’ yang akan tayang 19 Desember 2019 akan menjadi film di akhir tahun dan bakal menjadi puncak kesuksesan dan keberhasilan Manoj dan MD Pictures di dunia film nasional.

Sutradara Hanung Bramantyo, pemeran Habibie masih sama yaitu Reza Rahadian (pernah meraih Citra di FFI berkat perannya sebagai BJ Habibie) dan Maudy Ayunda sebagai Ainun.

“Film ini sudah melakukan syuting sejak 2017 dan bakal meredar di akhir tahun 2019, Di episode Habibie ini, cerita akan fokus ke Ainun, sejak duduk di bangku SMA sudah menunjukkan kecerdasan dan kecantikannya. Kemudian Ainun dinikahi Habibie dan mendampingi sang suami yang mendapat bea siswa untuk belajar enginering pesawat di Jerman Barat,” papar Manoj.

Manoj melanjutkan, dia merasa terhormat mendapat kepercayaan penuh dari BJ Habibie (Presoden ke 3 RI) untuk membuat film biopic (biography picture) tentang seorang tokoh terkenal dari Indonesia.

“Ini tanggung jawabnya besar. Film ini puji Tuhan bisa dikerjakan dan diselesaikan dengan baik. Di dua seri Habibie, bahkan penontonnya melebihi target, Ini ‘mission to make the best’ buat saya, MD, sutradara, penulis skenario, pemain dan semua kru yang menggarap film Habibie. Boleh diibaratkan, tiga film Habibie buat saya adalah ‘it’s my baby from the start till the end,” harap Manoj lagi.

Lalu, Anda akan membuat film bertema apa lagi ?

“Masih digodog terus oleh staf saya. Bahkan, MD pernah membuat film animasi Sapo Jarwo yang memperoleh penghargaan di FFI,” jawabnya.

Anda akan berbisnis apa lagi, sinetron, film, penyewaan alat-alat film,, musik sampai memasuki bursa ?

“Enggak bisa dikatakan sekarang. Obsesi saya mengalir terus,”

Memasuki tahun 2020, tentunya Manoj Punjabi akan terus membuat film-film berkualitas dan berkuantitas. Tapi banyak orang yang tidak tahu, bahwa film ‘Titanic’ yang beredar 1977 yang telah menginspirasi dirinya terjun ke dunia film. Kisah cinta Jack dan Rose di Titanic telah jadi ikon percintaan sepanjang masa bagi Manoj Punjabi dan isteri serta anaknya. (pik)

\

Manoj Punjabi Kecewa Film ‘Silam’ Masuk Kategori Usia 17 Tahun

Manoj Punjabi–foto istimewa

Bos rumah produksi MD Pictures, Manoj Punjabi, merasa kecewa lantaran film horor terbaru yang dia produksi berjudul ‘Silam’ mendapatkan klasifikasi penonton usia 17 tahun ke atas.

Padahal, Manoj berharap film yang diangkat dari buku berjudul sama karya Risa Saraswati itu bisa dinikmati oleh anak-anak usia 13 tahun ke atas.

“Film ini harusnya masuknya kriteria usia 13 tahun, pada bagian sensor saya enggak jelas kriteria mereka apa. Ada film usia 13 tahun dan 17 tahun itu kriterianya apa,” kata Manoj dalam jumpa pers dan screening film Silam di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, baru baru ini.

“Saya kecewa, oke kalau mau 17 tahun konsisten semua (film horor) masuk 17 ke atas. Jadi kita tahu kalau film horor itu 17 tahun. Ini film sebenarnya dibuat untuk 13 tahun,” lanjutnya.

Manoj sempat mempertanyakan tentang apa saja kriteria film yang masuk kategori penonton usia 13 tahun kepada Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia.

“Jadi kami bingung, film apa yang dapat kriteria 13 tahun dan yang mana yang dapat 17 tahun. Kami sudah menghadap pihak sensor dua kali dan ngomong ‘kenapa ini (film Silam) jadi masuk Usia 17 tahun,” ujarnya.

Menurut Manoj, LSF belum memiliki pakem yang jelas tentang kriteria film yang berdasarkan kategori usia penonton.

“Biar jelas, kalau saya lihatnya mereka enggak ada penilaian yang tepat atau yang tetap. Lebih seperti ya udah ini 17, ya udah ini 13, seperti kocok arisan. Mereka nonton atau tidak pun enggak tahu, tadi tim kami ke sana,” ujar Manoj.

Film ‘Silam’ arahan sutradara Jose Poernomo ini bercerita tentang seorang anak berusia 10 tahun bernama Baskara (diperankan Zidane Khalid) yang menjadi pelampiasan ibunya yang depresi setelah ayah Baskara meninggal dunia.

Hingga suatu hari, ketika Baskara kabur dari rumah, dia mengalami suatu peristiwa yang membuatnya bisa melihat banyak mahluk gaib.

Film yang dijadwalkan tayang pada 13 Desember mendatang itu turut dibintangi Wulan Guritno, Surya Saputra, Nova Eliza, dan lainnya. (pik)

 

IPO MD Pictures Tergetkan Raih Rp 416 Miliar

CALON  emiten sektor rumah produksi (production house) PT MD Pictures Tbk. menargetkan laba bersih perseroan sepanjang tahun ini dapat mencapai Rp110 miliar. Nilai tersebut meningkat 80,68% dibandingkan dengan laba perseroan pada 2017.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pada 2017 MD Pictures membukukan laba bersih sebesar Rp60,88 miliar, meningkat 148,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan laba tersebut dikerek terutama dari bisnis film perseroan.

CEO MD Pictures Manoj Punjabi menyampaikan, pada tahun ini perseroan akan agresif memproduksi film berkualitas yang sesuai minat pasar. Pada semester II/2018, perseroan berencana memasarkan hingga delapan film baru. Bisa dicatat beberapa film produksi MD Pictures berhasil mencapai Box Office seperti ‘Ayat Ayat Cinta 2’, ‘Rudy Habibie’, dll.

“Ada banyak faktor pendukung kami untuk achieve target bottomline tersebut seperti pertumbuhan industri film sendiri, jumlah penonton meningkat, pertumbuhan jumlah bioskop menjadi 1.900 dari 1.500 layar, kenaikan harga tiket, dan yang paling penting kualitas filmnya,” ungkap Manoj kepada penulis belum lama ini.

Manoj menjelaskan sikap masyarakat Indonesia terhadap film berkualitas sangat mendukung sehingga menuntut industri production house menjual karya yang sesuai pertmintaan. Dengan dana IPO (Initial Public Offering) , perseroan juga akan agresif berekspansi. Salah satu ekspansi ke luar negeri yang telah ada pada pipeline MD Pictures adalah produksi film dengan salah satu perusahaan asal Amerika Serikat.

Adapun, MD Pictures berencana melaksanakan IPO dengan melepas sebanyak-banyaknya 1.980.953.000 saham baru dengan harga penawaran Rp210.

Dengan harga penawaran Rp210 per saham, MD Pictures berpotensi meraup Rp416 miliar, atau di atas target perusahaan yang sebesar Rp300 miliar.

Main Film Horor ‘Rasuk’ Shandy Aulia Ngaku Dijebak Manoj

Satu lagi film horor tanah air yang akan segera tayang yaitu film Rasuk yang akan mulai tayang di bioskop bulan Juni ini. Film horor   ini  disutradarai oleh Ubay Fox dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Risa Saraswati.

Aktor dan aktris terkenal dan muda usia  seperti: Shandy Aulia, Denira Wiraguna, Josephine Firmstone, Maya Kusuma, Miller Khan, Gabriella Desta, Baron Hermanto, dan Abi Canser adalah beberapa nama yang akan kita temui dalam film yang diproduseri Dheeraj Kalwani dan berdurasi kurang lebih selama 90 menit ini.

Menurut Shandy Aulia, keterlibatannya dalam film ini  karena jebakan Manoj Punjabi selaku produser. Ia tak menyangka bisa menjalani syuting di tengah hutan yang mana belum pernah dilakoni sebelumnya. “Main film ini sebenarnya agak dijebak sama Pak Manoj ha ha ha. Tapi seru 80% syutingnya di hutan. Kalau diperhatiin film horor aku sebelumnya kebanyakan ada di satu tempat, di rumah, di mall gitu, kali ini beda,” kata Shandy.

Plot pada Rasuk menceritakan tentang seorang perempuan bernama Langgir Janaka (Shandy Aulia) yang harus melalui pertengkaran dengan ibunya setiap hari. Langgir tak pernah mengerti apa yang jadi penyebab dari pertengkaran dirinya dengan ibunya yang tidak pernah mengenal akhir itu. Tidak hanya itu saja, Langgir juga dijadikan sebagai kambing hitam atas meninggalnya sang ayah karena kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu.

Walau begitu, ibunya sudah menikah lagi dan mendapatkan bayi bernama Bakula dari suami barunya. Kehidupan bahagia ibunya bersama dengan suami barunya itu sama sekali tidak merubah fakta bahwa ia dan ibunya masih terus berselisih.

Alhasil, di tengah kehidupan rumah yang berantakan itulah, Langgir mulai merasa iri dengan kehidupan dari tiga orang sahabatnya: Lintang Kasih (Josephine Firmstone), Sekar Tanjung (Gabriella Desta), dan Fransisca Inggrid (Denira Wiraguna). Yup, ketiganya memang memiliki kehidupan yang lebih baik daripada Linggar dan pada akhirnya membawa rasa iri Linggar berubah menjadi kebencian.

Langgir hanya memiliki satu orang yang bisa menjadi tempat curhatnya, yaitu Abimanyu (Miller Khan). Tidak hanya sebagai teman curhat saja, sebenarnya Linggar sudah lama menyukai Abimanyu. Sayang, sikap cuek dari Abimanyu membuat ia memendam perasaannya tanpa mengungkapkannya sama sekali.

Suatu hari, Langgir mengajak ketiga teman baiknya itu untuk berlibur di sebuah vila di Karma Rinjani, dimana tempat itu memang dikenal sebagai sebuah tempat yang angker.

Terang saja, keinginan mereka untuk menghabiskan waktu dengan bersenang-senang justru berakhir sebagai malapetaka. Dimulai dari Inggrid yang ternyata mengajak Abimanyu turut serta dalam liburan itu dan membuat Langgir marah besar begitu mengetahui Inggrid dan Abimanyu sudah menjalin hubungan di belakangnya.

Rasa benci dan amarah yang sebegitu besarnya membuat Langgir meninggalkan teman-temannya itu. Kegelapan yang tumbuh dengan sangat baik di dalam dirinya membawa ia pada sesuatu yang paling mengerikan dalam hidupnya dan bisa mengancam tidak hanya dirinya namun juga nyawa teman-temannya. ***