Tahun Kegamangan Politik, Ada Kejutan di Pilkada Jateng dan Jabar

Suhu Naga

Mencandra jagad politik di tahun shio Anjing Tanah

 

TAHUN 2018 memasuki shio Anjing Tanah. Peramal yang bersandarkan pada ilmu ‘psycho cybernetic’, Suhu Naga, mengatakan ‘anjing pemburu mangsa’.

“Anjing itu suka memburu mangsanya. Aromanya panas. Dan karakter tanah paling cocok dengan hewan anjing. Tahun 2018 masih terjadi bencana alam. Banjir, tanah longsor atau kecelakaan di darat, air dan udara masih akan terjadi,” kata Suhu Naga mengawali perbincangan ‘sersan’ (serius tapi santai) di sebuah Hotel terkenal di kawasan Kuningan, Jakarta, belum lama ini.

Angka kriminalitas mencuat. Narkoba masih marak. Kalangan artis dan oknum pejabat tinggi banyak yang ditangkap dan dicokok aparat karena menggunakan narkoba. Aktris Jennifer Dunn enggak kapok-kapok ditangkap sampai tiga kali karena kedapatan pengguna narkoba.

Awal tahun 2018, isteri wawali (Wakil Walikota) Gorontalo, Shirley Djou ditahan polisi karena mengadakan pesta sabu-sabu bersama teman-temannya. Padahal, suaminya Dr. Charles Budi Doku adalah pejabat terkenal di daerahnya,” ungkap Suhu Naga yang pernah meramal meninggalnya Taufiq Kiemas bakal tutup usia beberapa tahun silam.

Ia membenarkan, 2018 adalah tahun penuh kekelaman. Tahun kegamangan politik.
Bulan Juni tahun ini bakal digelar Pilkada serentak di 171 wilayah Indonesia yang meliputi 17 Propinsi, 115 Kabupaten dan 39 Kota.

“Justru yang paling ramai terjadi di Pulau Jawa. Kita semua tahu, Jawa adalah kunci. Hampir separuh pemilih Pilkada ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, yang terjadi adalah kegamangan politik. Beberapa Calon Gubernur (Cagub) ramai diperebutkan partai-partai. Yang heboh, cagub Jatim mengundurkan diri karena ketahuan berselingkuh dengan seorang aktris terkenal dan fotonya beredar di media sosial,” katanya.

Tokoh-tokoh terkenal gonta-ganti diperebutkan oleh partai-partai pendukung pemerintah dan partai-partai yang berseberangan. Benar juga pagi kedele, siang tempe dan malam kecele. Tak ada yang abadi di dunia politik. Yang abadi adalah kepentingan. Yang surprise, turun panggungnya beberapa Jenderal aktif di panggung politik ikut memberikan warna tahun ini. Trah Soekarno ternyata masih punya kharisma di Jatim, dengan tampilnya Puti Guntur Soekarno. Namun, Suhu Naga dalam penerawangannya, mengatakan, pesaing Puti sama-sama kuat yaitu Kofifah Indar Parawansa dari PKB.

Untuk Jawa Tengah, ia memprediksi calon dari partai-partai besar justru akan kehilangan suaranya. Juga terjadi di Jawa Barat, tokoh yang diunggulkan bakal masuk kotak, Dan kejutan akan terjadi di Jabar dan Jateng.

“Untuk Pilpres, the next leader di panggung politik bakal dibicarakan dimana-mana. Stok lama wajah baru, istilah saya. Yang saya maksudkan adalah tampilnya trah Cendana alias Soeharto, baik Titiek maupun Tommy. Toh Jawa masih dikuasai keturunan Mataram. Mau enggak mau, baik Soekarno maupun Soeharto berasal dari trah Raja Jawa,” lanjut Suhu Naga.

Bagaimana peluang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di dunia politik ?
“Ahok akan mencuat kembali tapi di tahun 2019. Bukan tahun 2018. Setelah dia keluar dari penjara Mako Brimob karena kasus penistaan agama, bintangnya akan bersinar lagi. Tapi bukan sebagai Ketua KPK,” paparnya.

Akan tetapi, Suhu Naga menyayangkan perceraiannya dengan Veronica. Ini pilihan berat bagi Ahok. “Enggak ada kaitannya dengan kasus-kasus yang terjadi selama ini seperti Reklamasi dll. Pindah agama dan jadi mualaf ? Ini juga enggak mungkin. Yang jelas, biar bercerai, baik Ahok maupun Veronica tetap akan fokus pada pendidikan anak-anaknya yang studi di luar negeri,” Suhu Naga menjelaskan.

Ridwan Kamil, Dipasangkan dengan Siapa pun Paling Unggul

JELANG pendaftaran resmi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tanggal 8 dan 9 Januari 2018, belum satu pasangan pun mendaftarkan diri. Memang, sudah berseliweran bakal calon, maupun partai politik mendeklarasikan calonnya. Tetapi, belum satu pun yang pasti. Bahkan, partai pemenang pilkada di Jawa Barat, PDI Perjuangan (memiliki lebih dari 20 anggota di DPRD Jabar), hingga berita ini diturunkan, masih menutup rapat siapa bakal calon gubernur-wakil gubernurnya.

PDIP memang memiliki jumlah kursi yang cukup untuk memasukan pasangan calonnya, tanpa harus berkoalisi. Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri yang memiliki keputusan mutlak untuk menentukan siapa yang bakal dimajukan, dikabarkan Kamis (4/1) bakal mengumumkan calonnya di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta.

Kiranya, publik masih harus bersabar menunggu strategi parpol-parpol pengusung bakal calon. Meski begitu, menarik kalau kita mencermati sejumlah catatan yang dihimpun Jayakartanews berikut ini.

Catatan Pertama: Pada awal tahun 2017 hingga akhir 2017 berbagai lembaga survei tingkat nasional menyimpulkan nama Walikota Bandung Ridwan Kamil memiliki tingkat elektabilitas dan pupularitas tertinggi (rata-rata di atas 60%). Pencapaian ini sulit dibendung oleh balon para rivalnya sekalipun calon petahana Wagub Deddy Mizwar maupun Ketua DPD Golkar Jawa Barat yang juga Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi yang angka rata-rata popularitas dan elektabilitasnya di kisaran 20 dan 30 persen.

Menjelang bulan-bulan terakhir tahun 2017, banyak terjadi drama dan akrobat politik di tatar Sunda. Di antaranya, Ridwan Kamil, yang semula diusung Partai Nasdem, PPP, PKB, dan Partai Golkar, mendadak berubah. Pasca Setya Novanto ditahan KPK, kemudian Ketua Umum beralih ke Erlangga Hartarto melalui Munaslub, mendadak dukungan kepada Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil dicabut. Tak lama kemudian, Dedi Mulyadi, Ketua DPD Golkar Jabar, dideklarasikan Golkar untuk maju menjadi calon gubernur Jabar atau wakil gubernur Jabar.

Akhir tahun 2017, perpecahan pasangan bakal calon terjadi antara Deddy Mizwar dan Ahmad Syaikhu yang diusung PKS dan Partai Demokrat. Ahmad Syaikhu yang merupakan Ketua DPW PKS Jawa Barat dan saat ini menjabat Wakil Walikota Bekasi, adalah calon PKS. Mendadak pucuk pimpinan PKS ditarik dari Deddy Mizwar, dan dipasangkan dengan balon Gubernur Mayjen TNI Sudrajat yang diusung Partai Gerinda dan PKS. Pasangan Sudrajat – Ahmad Syaikhu bahkan sudah dideklarasikan oleh Ketua Umum DPP Gerindra Prabowo Subianto, dan Presiden PKS Sohibul Iman.

Sementara, Deddy Mizwar yang diusung Partai Demokrat, berencana “kawin cepat-kawin kapaksa” dengan membuat poros baru, yang disebut koalisi “sejajar”. Kabarnya, ia akan dijadikan pasangan “double DM” alias Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. Tapi kalau toh kabar itu benar, juga belum jelas siapa di posisi cagub, dan siapa yang menjadi cawagub.

Catatan Kedua: Pada awal tahun 2018, menjelang pendaftaran resmi Cagub/Cawagub  tanggal 8 dan 9 Januari 2018, direncanakan hari Kamis 4 Januari 2018 Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri berencana mengumumkan bakal calon Gubernur dan wakil Gubernur yang diusung oleh PDI-P. Banyak bermunculan spekulasi nama. Di antaranya menyeruak nama balon Ridwan Kamil (Walikota Bandung) yang akan dipasangankan dengan Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal, dan atau dipasangkan dengan Mayjen (Pur) TB Hasanudin (Ketua DPD PDIP Jabar) atau Irjen Pol Anton Charliyan (mantan Kapolda Jabar), atau Iwa Kartiwa yang saat ini menjabat Sekwilda Jawa Barat. Ada juga yang menyebutkan PDI-P akan mengusung calon sendiri (karena kuotanya cukup) walau banyak pihak menepis kemungkinan itu, mengingat PDI-P belum punya calon yang terbilang hebat dan kuat.

Catatan Ketiga: Pilkada Jabar diperkirakan bakal diikuti tiga pasangan, terdiri dari pasangan yang diusung Partai Gerindra, PKS, dan PAN. Pasangan kedua diusung oleh PDI-P, Nasdem, PKB, PPP, dan Hanura. Adapun pasangan ketiga yang diusung Golkar-Demokrat. Kemungkinan keempat, meski kecil kemungkinannya adalah PDI-P mengusung calon sendiri.

Sementara berdasarkan hasil survei berbagai lembaga survei nasional, nama Ridwan Kamil dipasangkan dengan siapa pun wakil gubernurnya, elektabilitas dan popularitasnya selalu di atas kandidat lain. Ia juga termasuk calon terpopuler di mata anak muda serta kaum netizen. Di pusat kota, di kampung-kampung, nama Kang Emil paling populer. ***

Netty Dilarang Nyalon, PDIP Masih Samar

SUHU politik menjelang Pilgub Jabar 2018 naik. Dua pekan kemarin muncul pendeklarasian Komunitas Naga Bonar untuk sukses Demiz. Wakil Gubernur ini dijagokan Gerindra – PKS. Tak lama kemudian tersiar kabar DPP PKS menolak pencalonan istri Gubernur Ahmad Heryawan, Netty. Kubu PDIP masih tahan napas, geliatnya masih samar. Selain Nasdem yang sudah dukung Ridwan Kamil, namun status tiarap masih dilakukan Golkar, Demokrat, PAN, PPP, PKB dan Hanura.

Geliat semua parpol pemicu naiknya suhu politik berkaitan mobilisasi rakyat Jawa Barat yang akan kembali milih gubernur dan wakil gubernur baru tahun depan. Pasangan terpilih harus siap  menjalankan masa bhakti mulai 2018 hingga 2023. Dari Gedung Sate, duet kepemimpinan itu  harus mengurus dinamika 46 juta penduduk di 27 daerah kabupaten kota se-Jabar. Kewenangan kepala daerah tingkat provinsi sekarang lebih luas karena terbitnya Peraturan Pemerintah yang kembali berhak mensinkronkan kebijakan sentralisasi dari provinsi ke daerah Kabupaten dan Kota.

Sebelum duduk nyaman di Gedung Sate, duet penguasa Jabar pun harus lebih dulu dapat restu dari 13 juta orang lebih. Angka ini merupakan setengah dari 26,68 juta pemilih. Belakangan, di dalam jumlah suara tadi,  separuh di golput.

Tidak sedikit pakar politik menyebut  golputers sebagai segmen voter mengambang.  Mereka itu konon sengaja bersikap pasif karena mengendus aroma kepentingan sepihak dalam setiap gelar suksesi. Visi misi partai kadang berbanding terbalik dalam implementasi. Implementasi yang terkadang membuat rakyat makin sulit hidupnya.

Agenda demokrasi memilih gubernur dan wakilnya secara langsung di Provinsi Jawa Barat pernah terselenggara dua kali, selepas lengsernya Gubernur Dani Setiawan. Pemilihan langsung  berjalan sukses dan terbilang kondusif. Bagi sebagian orang – terutama pemerhati dan pegiat sosial politik – umumnya melihat Pilkada Jabar selalu berjalan dalam suhu panas dingin namun memiliki ciri yang spesifik.

Jawa Barat juga dianggap sangat penting bagi kekuasaan nasional, lantaran letaknya bersebelahan dengan ibukota negara, yakni DKI Jakarta. Populasi penduduk berjumlah lebih dari 46 juta (tahun 2016 ). Dataran ini pun memiliki asset kekayaan ekonomi yang luar biasa besar atas kondisi geografis yang ideal. Selain punya ribuan vegetasi maupu fauna, juga ada banyak gunung api yang ramah, hulu hulu sungai dengan air terjun didekap embun, sejumlah danau romantis dan pesisir laut yang dimanja debur ombak.

Daya tarik politik Jabar memang tak terbantahkan. Politisi mana pun yakin, agenda politik Jabar 2018 tabu untuk diabaikan. Selain itu acara ini pun sangat berkaitan dengan kalender Pilpres 2019. Makanya, bola mata parpol pastilah fokus pada asset 26,68 juta lebih pemilih di wilayah ini. Dan ternyata puluhan juta itu adalah khalayak politik yang diragukan kesetiaannya pada bendera partai, dan kondisi itu disebut swing voter. Dalam sesaat kostum mereka bisa berganti jenis parpol.

Makanya tidak aneh bila arena kampanye di sini hanya menambah penuh koleksi kaos warna warni. Itu pula yang jadi pembuka gerbang optimisme seluruh parpol. Tapi intinya, hanya sosok yang cerdas tajir dan tulus yang memiliki kemungkinan merebut nurani mereka ketika masuk ke bilik suara. Oleh karena itu banyak kalangan memprediksi kalau meja dan papan analisa parpol sekarang, terdapat tumpukan kertas khusus dan tulisan strategi istimewa.

Tarung Kepiawaian

Ajang kompetisi politik 2018 di Jabar logis bila harus disebut tarung kepiawaian. Peraihan suara Pilgub 5 tahun lalu tercatat jelas agak menakjubkan karena lolos dari prediksi umum. Untuk PDIP wilayah Jabar tetap jadi pertarungan panas. Padahal moncong putih di Jabar pernah jadi pemenang Pemilu. Tapi ternyata itu bukan jaminan sukses Pilgub 2014. Pada arena serupa 5 tahun sebelumnya si banteng pun dipaksa kalah. Calon yang diusung mereka gagal. Mungkin saja mereka kini bersikukuh, ketersungkuran Ahok – Djarot di DKI kemarin, najis kembali diderita pasangan yang hedak diusung nanti untuk Jabar 2018.

PDI-P punya hak maju sendirian kendati tidak bersama parpol mana pun, lantaran punya kursi lebih dari 20% di DPRD Jabar. Tersiar kabar PDI-P sekarang sedang memilah-milih bakal calon. Ada nama TB Hasanudin (Ketua DPD PDI-P Jabar), Iwa Karniwa (Sekda Pemprov. Jabar), dan Inneu Purwadewi (Ketua DPRD Jabar), dikuti nama lain yang belum populer. Sepertinya formasi kekuasaan di istana negara saat ini turut mempengaruhi putusannya untuk Pilgub Jabar.

Sosok elektabilitas bagus seperti Ridwan Kamil Walikota Bandung yang sudah diandalkan Nasdem, Dedi Mulyadi Bupati Purwakarta andalan Golkar, merupakan sosok penting untuk mengganjal Dedy Mizwar Naga Bonar dari Gerindra. Rakyat Jabar teramat kenal pada sosok satu ini lantaran tetap rajin main sinetron dan rutin jadi juru iklan. Saking seringnya siaran, lahirlah idiom kalau Naga Bonar kini adalah juga Badak. Di tengah rakyat korban banjir, muncul selorohan, kalau badak termasuk fauna yang doyan adem di kubangan  lumpur. Itu sebabnya banjir di ibukota provinsi, yakni wilayah Bandung bagian Selatan, terkesan dibiarkan lestari karena menghasilkan banyak lumpur.

Barisan yang siap menghadang calon petahana Naga Bonar tercatat lumayan potensial. Rombongan artis ambisius pria wanita sudah ancang–ancang pengen ikut bertarung. Sebut saja Dede Yusuf artis yang mantan wakil Gubernur Jabar, Desy Ratna Sari, Farhan, dan yang lainnya. Kalau toh nama-nama tadi jadi turun, Sang Naga nanti bakal sedikit sukar untuk kembali duduk di Gedung Sate.

Terus bagaiman dengan Ahmad Heryawan alias Kang Aher sang gubernur asset paling makmur PKS yang kini tampil santai. Ia berprilaku begitu karena tak perlu sibuk untuk tetap jadi gubernur lantaran habis 2 periode.  Beberapa waktu lalu Kang Aher pernah terusik sedih sekaitan istrinya Netty yang tadinya semangat hendak maju, buntut-buntutnya ternyata malah diminta urung oleh DPP PKS di Jakarta.

Munculnya Netty ke wacana Pilgub sempat menimbulkan kekhawatiran rakyat lantaran terdapatnya risiko cengkeraman dinasti kekuasaan seperti nasib Kabupaten Indramayu  (Golkar) Kabupaten Bandung (Golkar) dan Kota Cimahi (Golkar). Ketika ambisi Netty gugur, selain rakyat senang Aher pun mengaku tetap bersyukur.

Dulu di Pilkada 2013 pasangan PKS – Gerindra yang menjagokan petahana Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar unggul mendulang suara 6.515.313, dikuntit Rieke Diah Pitaloka – Teten Masduki 5.714.997.  Kemudian di tempat ketiga pasangan Wagub, Dede Yususf Macan Efendi – Lex Laksamana Zainal Lan 5.077.522. Sedangkan  Ketua Golkar Jabar yang mantan Bupati Indramayu, Irianto MS. Syafiudin alias Yance – Tatang Farhanul Hakim hanya 2.448.358 suara. Posisi buncit dihuni Dikdik Maulana Arif Mansur dan Cecep Nana Suryana Toyib yang neraih 359.233 suara.

Warisan Gubernur 2014 – 2018

Lima Tahun sudah duet Aher dan Naga Bonar memimpin Jawa Barat. Rekor yang  telah diraih keduanya adalah dengan terkumpulnya puluhan lembar piagam penghargaan dari sejumlah institusi pusat di Jakarta. Demikian halnya BPK yang beberapa kali membuat bangga Kang Aher dengan pemberian piagam Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Ekspos yang giat atas peraihan ini diakui gubernur sebagai fakta kalau Jabar terbukti maju.

Prestasi serupa pernah diraih Jabar di PON lalu. Sebagai tuan rumah dengan kemampuan mengucurkan ongkos triliunan demi pesta sport antar provinsi tersebut, maka tak syak Jabar pun meraih gelar juara umum. Protes atlet dari banyak cabang bersama sejumlah kontingen kepada wasit  maupun tim juri, seolah dianggap Panpel hanya sebagai bumbu peraihan gelar semata.

Warisan apa sajakah buat Gubernur baru tahun depan? Cukup banyak. Sebut saja banjir tahunan di wilayah permukiman Bandung  Selatan daerah Bale Endah pinggiran Sungai Citarum. Banjir Jalan Raya Bandung – Garut di betulan Ranca Ekek, kemacetan akut Jalan Raya Kab Bandung – Garut – Tasikmalaya. Kemacetan parah Jln Raya  Cianjur – Kota Cimahi daerah Ciburuy – Cimareme Kab Bandung Barat. Macet week end Jalan raya Kota Bandung – Kab Subang trayek Jln Dr Setia Budhi. Macet week end jalur tanjakan wisata Ciwidey Kab Bandung  ke arah Selatan.

Tingginya angka pengangguran dan angka pra sejahtera ditambah kian menurunnya kualitas intelektual usia sekolah dasar menengah. Fasilitas pendidikan jadi kendala. Kalau saja kondisi memprihatinkan ini harus diilustrasikan di atas kanvas, maka ekspresinya adalah usapan kuas untuk gambar abstrak yang terinspirasi untaian benang kusut.

Sejumlah ahli planologi dan kepemiminan di Bandung sejak lama sering menyeru kalau gambar kusut tadi tidak berarti anti perubahan. Artinya semua masih bisa diubah hingga dapat meningkatkan indeks kebahagiaan masyarakat Jawa Barat. Pada intinya, kiat realisasi perubahan ke arah ideal tadi sangat tergantung pada insting dan niat para pemangku kebijakan. Jadi tidak ada kata untuk Pilgub hanya dinikmati oleh pemenang yang ala kadarnya. Maka guna memperoleh pemimpin tegas cerdas dan bijak adalah ketentuan yang juga berlaku untuk massa pemilih. Yakni tergantung tingkat kecerdasan rakyatnya itu sendiri. ***

Kang Emil Butuh 15 Kursi Lagi

RIDWAN Kamil yang akrab disapa Kang Emil akhirnya diusung Partai Nasdem untuk maju dalam Pilkada Jawa Barat, 2018 mendatang. Walikota Bandung yang dikenal menguasai media-sosial ini, Minggu (19/3) kemarin mendeklarasikan pencalonannya bersama Ketua Umum Nasdem Surya Paloh di Monumen Bandung Lautan Api, Lapangan Tegalega, Bandung.

Sang “Walikota Taman” itu pun resmi sudah pada jalur kontestasi merebut jabatan Jabar-1. Sekalipun, Kang Emil masih harus mencari dukungan lain, mengingat jumlah kursi Nasdem di DPRD Jawa Barat hanya 5 Itu artinya, Kang Emil masih butuh 15 kursi lagi dari partai politik lain. Konon, PDIP termasuk yang mendukung Emil. Entahlah.

Dalam kesempatan deklarasi, Surya Paloh tak kalah yakin. Ia mengatakan, figur Ridwan Kamil sangat populer berkat presasinya memimpin Kota Bandung. Karena itu, ia optimis akan banyak partai politik lain yang mendukung menjadi Gubernur Jawa Barat, menggantikan Ahmad Heryawan yang sudah dua periode.

Surya Paloh pun mengisyaratkan, bahwa partai pendukung pemerintah diperkirakan akan mendukung Ridwan Kamil. Karena itu, Kang Emil punya kewajiban juga memenangkan Jokowi dalam Pilpres 2019 nanti.

Karena itu pula, dua parpol pendukung Ridwan Kamil waktu maju sebagai walikota, yakni Partai Gerindra dan PKS dikabarkan tidak akan memberi dukungan kepada Kang Emil. Kabar burung yang terdengar, Gerindra dan PKS sedang menjajagi kemungkinan mengusung Deddy Mizwar dan Netty Ahmad Heryawan. ***

Deddy atau Netty ?

PARTAI Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Barat, meski belum memastikan sikap, tetapi ada kecenderungan untuk merestui pasangan Deddy Mizwar dan Netty Prasetyani sebagai bakal calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2018. Sejumlah kader PKS ketika dikonfirmasi mengatakan hal itu.

Sekalipun, ada juga kemungkinan lain, Achmad Syaikhu sebagai Ketua DPD PKS Jawa Barat maju dalam Pilkada. “Kemungkinan itu ada, tetapi kemungkinan pak Syaikhu maju dalam Pilkada Kota Bekasi, juga ada. Jadi, memang belum bisa ada yang dikonfirmasi kepastiannya. Masih lama kok,” kata sumber itu.

Deddy Mizwar, aktor kelahiran Jakarta 5 Maret 1955, tak bisa menyembunyikan hasratnya untuk terus berkantor di Gedung Sate. Dari kalangan dekat menyebutkan, ia berhasrat menjadi gubernur didampingi Netty Prasetyani sebagai wakil. Seperti dikethaui, Netty adalah istri gubernur Ahmad Heryawan atau yang akrab disapa Aher. Karena Aher sudah menjabat dua periode, maka dia tidak bisa lagi maju. Karena itu, Aher mempromosikan istrinya untuk maju.

Dalam banyak kesempatan, tampak sekali Netty “jualan program”. Atas nama Ketua Penggeak PKK Provinsi Jawa Barat, Netty memanfaatkannya untuk berdialog dengan masyarakat. “Maklumlah, dia kan mau nyalon,” ujar seorang PNS di Gedung Sate.

Menarik memang, melihat sepak terjang Deddy Mizwar dan Netty Prasetyani. Dua-duanya getol turun ke masyarakat, dalam rangka menggalang dukungan. Tetapi, keduanya belum ada satu pun yang bernai men-declare soal siapa calon gubernur dn siapa calon wakil gubernur PKS nanti. ***