Stephen Hawking: Bumi bisa berubah menjadi planet raksasa seperti Venus

 Stephen Hawking: Bumi bisa berubah menjadi planet raksasa seperti Venus

Stephen Hawking dalam sebuah acara di Newyork, 12 April 2016. (Reuters/ Lucas Jakson)

Stephen Hawking dalam sebuah acara di Newyork, 12 April 2016. (Reuters/ Lucas Jakson)

 

Bumi bisa berubah menjadi planet raksasa seperti Venus, dengan lautan mendidih dan hujan asam, jika manusia tidak mengekang perubahan iklim yang tidak dapat diperbaiki, demikian peringatan yang disampaikan fisikawan Stephen Hawking  dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

“Kami mendekati titik kritis, di mana pemanasan global menjadi tidak dapat diubah lagi. Tindakan Trump dapat mendorong Bumi melewati jurang, menjadi seperti Venus, dengan suhu 250 derajat [Celsius], dan hujan asam sulfat,” katanya kepada BBC News.  Pernyataan itu mengacu pada keputusan Presiden Trump dimana AS menutuskan untuk keluar dari kesepakatan iklim Paris.

Tapi kebanyakan ahli iklim mengatakan, bahwa skenario itu sangat berlebihan dan tidak masuk akal. Dibandingkan dengan  Venus, maka planet Bumi jauh lebih jauh dari matahari. Mengingat  susunan kimianyajuga tidak akan memiliki atmosfir karbon dioksida yang begitu tebal, sehingga tidak mungkin mencapai suhu 482 Derajat Fahrenheit (250 derajat C) sebagaimana yang dijelaskan Hawking dalam wawancara tersebut, demikian kata mereka.

Namun, kecenderungan umum tentang perubahan iklim, mengenai apa yang diputuskan oleh Trump jelas merupakan keprihatinan banyak pihak.

“Hawking mengambil beberapa lisensi retoris di sini,” kata Michael Mann, seorang ilmuwan iklim di Pennsylvania State University, sebagaimana dikatakan  kepada Live Science melalui email. “Bumi lebih jauh dari matahari daripada Venus, dan kemungkinan tidak dapat mengalami efek rumah kaca yang sangat cepat  dalam arti yang sama dengan Venus, yaitu mendidih secara harfiah di samudera raya. Namun, titik (peringatan) Hawking yang lebih besar –bahwa kita dapat menjadikan planet ini tidak dapat dihuni untuk peradaban manusia, jika  kita tidak bertindak untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya– tentu saja benar.”

Planet raksasa

Venus adalah planet kedua dari matahari dan planet paling terang di tata surya. Meskipun planet ini dinamai dewi cinta dalam mitologi  Romawi, namun kita jangan berharap bisa melakukan perjalanan ke planet tersebut dengan  nyaman dengan kekasihmu dalam waktu dekat.

Meskipun memiliki ukuran yang sama dengan Bumi dan memiliki gravitasi yang sama dengan planet  kita ini, Venus sangat jauh dari planet yang basah. Venus adalah planet terpanas di tata surya kita, dengan suhu mencapai 870 derajat F (466 derajat C).

Alasan untuk suhu yang terik ini adalah atmosfir karbon dioksida Venus yang tebal yang dikelilingi oleh awan asam sulfat. Perangkap atmosfer jauh lebih panas daripada kita sendiri. Hal lainnya, Venus  juga lebih dekat ke matahari, yang berarti ia menyerap lebih banyak radiasi matahari daripada Bumi. Dengan panas seperti itu, ibarat gunung berapi panasnya, dan tentu menjadi neraka untuk sebuah kehidupan manusia.

Teori terkemuka tentang bagaimana Venus menjadi seperti neraka, adalah bahwa planet ini terjebak dalam lingkaran umpan balik, dimana planet ini menyerap lebih banyak radiasi matahari daripada yang dilepaskannya, yang menyebabkan lebih banyak uap air terjebak dalam atmosfernya. Itu, pada gilirannya, menyebabkan penyerapan panas yang lebih besar, dan terjadi runaway warming (juga sering disebut sebagai runaway greenhouse effect).

“Pada dasarnya, Venus berada dalam situasi sengatan panas, planet ini dalam keadaan hangat dan tidak bisa mendingin,” kata Tyler Robinson, seorang ahli astrobiologi di Universitas Washington.

 

Baca artikel ini untuk halaman selanjutnya

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *