Simpang Tiga, Restoran “Raja-raja”

 Simpang Tiga, Restoran “Raja-raja”

Restoran Simpang Tiga di jalan Medan-Tanjung Morawa Km. 17,5 lebih kurang 30 menit dari Bandara Internasional Kualanamu dan 20 meni dari kota Lubuk Pakam. (foto Dinas Pariwisata Kab. Deli Serdang)

JAYAKARTA NEWS – Apa yang istimewa dari Restoran Simpang Tiga di jalur Medan – Tanjung Morawa Km 17,5, Deli Serdang, Sumatera Utara itu? Tercatat dua presiden Republik Indonesia: Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo singgah dan makan siang di sana.

Tentu saja, SBY didampingi Ibu Ani dan Jokowi didampingi Ibu Riana. Jangan ditanya, berapa jumlah rombongan dan pengawal yang menyertainya. Pasti banyak.

Kalau saja, jabatan presiden kita setarakan dengan raja, maka tidak berlebihan jika orang menyebut Restoran Simpang Tiga, Deli Serdang itu sebagai restoran para raja. Fakta lain, yang makan di sana tidak hanya “raja besar” (presiden), tetapi juga para raja kecil seperti gubernur dan bupati atau walikota.

Bukan hanya itu. Para anggota dewan, menteri, Kapolda, Pangdam, tokoh masyarakat, artis dan banyak figur publik lain pun menjadikan Restoran Simpang Tiga sebagai tujuan kuliner favorit. Setelah membaca tulisan ini, bisa jadi Anda pun penasaran dan menjadwalkan untuk berkunjung-santap di Simpang Tiga.

Ternyata, selain rasa yang enak, Restoran Simpang Tiga memiliki kelebihan lain. Di antara sekian banyak kelebihan, salah satunya adalah sentuhan tangan dingin lelaki kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah bernama Gunadi.

Mas Gun, begitu ia akrab disapa, adalah pengelola Restoran Simpang Tiga yang murah senyum, ramah, dan rapi. Menelisik lebih dalam tentang sosoknya, seketika kita tahu, mengapa Simpang Tiga bisa menjadi restoran favorit, bahkan menjadi ikon Deli Serdang.

Gunadi bersama istri Damayanti dan kedua anaknya Muffadhal (19) dan
Salwa (14). (Foto istimewa)

Gunadi berlatar belakang disiplin hospitality. Perjalanan karier sebagai pengelola Restoran Simpang Tiga, ditapaki melalui perjalanan panjang. Bermula tahun 1990 saat ia merantau ke Sumatera, dan diterima bekerja di Hotel Natour Muara Padang, Sumatera Barat.

Berkat prestasinya, manajemen mengirimnya belajar ke Balai Pendidikan Latihan Pariwiata (BPLP) tahun 1995 (sekarang Poltekpar Medan). Gunadi mengambil jurusan Food and Beverage Management (FBM) atau Manajemen Tata Hidangan. Tiga tahun kemudian (1998) ia lulus, diwisuda, dan kembali ke Hotel Natour Muara Padang.

Kariernya tidak dihabiskan di Natour Muara Padang. Mas Gun sempat berpindah dari satu hotel ke hotel lain, bahkan daru satu restoran besar ke restoran besar lain. Bekal ilmu dari BPLP serta semangat dan dedikasinya yang tinggi, menjadikannya mudah mendapatkan pekerjaan.

Akhirnya di tahun 2009 Mas Gun bersandar di Restoran Simpang Tiga hingga sekarang. Tanpa terasa, sepuluh tahun sudah ia mengelola restoran khas masakan Minang-Melayu ini. “Bisa sampai posisi yang sekarang, tentu tidak serta-merta. Selain sistem pengelolaan yang baik, saya juga mendapat dukungan penuh dari owner restoran, serta para koki dan waiter serta waitress yang bagus,” ujarnya.

Tidak main-main, Gunadi menerapkan standar pelayanan hotel berbintang di Restoran Simpang Tiga. Karenanya para pekerja di restoran itu dilatih agar skilfull. Selain itu, ia perhatikan betula soal attitude. Jika SDM memiliki skill dan attitude yang baik, maka saat melayani pun akan terasa ikhlas dan tulus, karena di hatinya ada sense of belonging,” ujar Gunadi.

Gunadi bersama salah seorang tamunya, Meutya Hafid, anggota DPR RI dan mantan penyiar televisi. (foto: ist)

Gunadi menambahkan, tamu akan merasa senang dan terkesan ketika mendapat pelayanan yang ramah, murah senyum, dan tak lupa menyapa tamu (greeting). Lalu ketika memberi pelayanan selalu memperhatikan pesanan tamu agar tidak terjadi salah order. “Dalam melayani tamu, kami tidak menumpuk piring-piring di tangan melainkan memakai tray atau baki. Pelayan kami juga segera membersihkan meja atau clear up dari piring dan gelas kotor, jika tamu sudah usai bersantap. Dengan begitu, meja menjadi lega dan nyaman. Setelah itu kita bisa tawarkan kembali menu dessert, atau kopi dan minuman lain,” papar ayah dua anak ini.

Sebagai orang hospitality, katanya, melayani tamu hingga tamu itu merasa senang dan puas harus melekat di dalam hati. Itulah darah dan denyut nadi orang-orang yang bergelut di dunia hospitality. “Percayalah, jika pengunjung merasa puas, maka kemungkinan besar akan datang kembali. Bahkan sangat mungkin kemudian merekomendasikan kepada kerabat dan sahabatnya,” ujar Gun.

Kepada waiter dan waitress, Gunadi menanamkan sikap agar memperlakukan para tamu tak ubahnya keluarga sendiri. Sapaan ramah, serta inisiatif menanyakan menu favorit, sangat mengesankan bagi para tamu. Apalagi jika kita bisa melakukan obrolan ringan yang sesuai dengan situasi. Tentu, semua dalam porsi yang pas. Tidak berlebihan. Kami juga harus sadar, tujuan mereka ke Simpang Tiga adalah ingin menikmati makanan dan pelayanan kami,” tambahnya.

Yang pasti, di Simpang Tiga tidak saja tersedia nasi putih, tetapi juga nasih merah. Ada pula daun ubi tumbuk sambal terasi yang banyak disukai pengunjung. Menu ayam pop di sini juga favorit. Belum lagi ikan bawal steam dan gurami asam manisnya yang lezat.

Yang istimewa, jika Anda memesan sejumlah menu, sebut saja seperti menu yang tertulis di atas, lalu Anda datang lagi pada kesempatan lain. Maka, sederet menu itu otomatis akan langsung dihidangkan, tanpa perlu mengorder. Kalaupun mau menambah order, tentunya menu yang belum tersaji, sebagai menu tambahan.

Itulah salah satu keistimewaan Restoran Simpang Tiga. Para tamu diperlakukan sangat istimewa, bak seorang raja. Siapa pun Anda, ketika di Restoran Simpang Tiga, akan menjadi sosok yang penting, dihargai, dan dihormati. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *