Satya Cipta Gelar Pameran Tunggal Bercorak Feminin

 Satya Cipta Gelar Pameran Tunggal Bercorak Feminin

Foto: ki-ka: Satya Cipta, Sukmawati Soekarnoputri, Hilmar Farid dan Franky Raden (foto Ipik)

JAYAKARTA NEWS – Duapuluhan lukisan karya perupa Satya Cipta terpampang rapi di Museum Art 1, Rajawali Selatan, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta. Hampir semuanya bercorak feminin, sebagian besar bertema wanita, ibu dan anaknya serta pesona elok wanita. Dilukis dengan garis-garis kecil halus, tajam, panjang dengan lekuk  nan indah.

Lukisan karya Satya Cipta (istimewa)

Di beberapa bagian tampak sketsa sederhana dan ruang sengaja dibiarkan kosong melompong. Hanya goresan warna hitam dan putih yang dominan yang dilukis dengan ‘chinese ink’ (tinta Cina) dan pada setitik organ tubuhnya diberi warna merah (simbol keberanian) yang menyiratkan keindahan wanita.

Dibuka Sukmawati Sukarnoputri yang didampingi Dirjen Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid, pameran nan menggelora ini sungguh asyik dinikmati dan diapresiasi dengan perenungan mendalam, di tengah serangan pandemi Covid 19 yang membatasi kerja dan jarak.

Wanita kelahiran Lampung 33 tahun silam yang lama menetap di Bali ini menganalogikan lukisan adalah cinta, cahaya dan kidung asmara. “Jika lukisan adalah cinta maka saya menggurat pada kanvas dengan hasrat membara. Dan jika lukisan adalah cahaya maka saya melebur segala resah dan kodrat tentang wanita,” ujar Satya Cipta yang lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan seni Teater ini.

‘Bakar Luka’ karya Satya Cipta, dilukis dengan chinese ink (istimewa)

Lalu, jika lukisan adalah kidung asmara ? “Maka saya membasuh wajah dengan memuncratkan semburat jingga, karena hasrat birahi enggak ternafikan lagi,” papar Satya Cipta yang kata-katanya penuh falsafah ini.

Dan sebagai orang Bali, dia percaya bahwa dunia memiliki dimensi yang berbeda. “Setelah saya menginjak dewasa, saya rasa berbagai lapisan dimensi makin berhubungan langsung dengan kehidupan saya sehari-hari,” imbuh Satya Cipta yang juga menggemari musik seriosa.

Setelah banyak mengunjungi tempat-tempat yang sakral, Satya Cipta kemudian terdorong mengekspresikan pengalaman spiritual kedalam lukisan-lukisannya. “Periode lukisan saya di Bali tahun 2013 hingga 2019 banyak menggambarkan pertemuan saya dengan dimensi figur-figur spiritual dan kehidupan nyata dari dimensi lain,” pungkas Satya Cipta yang lalu melantunkan dua komposisi lagunya diiringi INO (Indonesia National Orchestra) pimpinan Franky Raden. (pik)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.