Djoko Setijowarno: TransJakarta Fokus Saja pada Pengawasan

 Djoko Setijowarno: TransJakarta Fokus Saja pada Pengawasan

TransJakarta/foto: transjakarta.co.id

JAYAKARTA NEWS— Isu yang berkembang belakangan bahwa BUMD Transjakarta juga merangkap menjadi operator disayangkan banyak pihak. Pakar transportasi Djoko Setijowarno juga mengomentari hal tersebut.

“Seharusnya BUMD Transjakarta (TJ) tidak usah ikut menjadi operator, tetapi lebih berfungsi sebagai wasit pelayanan yang mengawasi seluruh persyaratan dan aturan main yang sudah ditetapkan, “ kata pengajar jurusan Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang, Sabtu (11/12). Para operator yang melakukan kontrak kerja dengan TJ itulah yang jadi pemain yang perlu diawasi/di-wasit-i oleh TJ, lanjut  Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu.

Mengapa TJ disarankan menjadi pengawas saja? Menurut Djoko Setijowarno,  karena dalam melakukan tugas pengawasan aturan main tersebut, TJ harus adil dan disiplin menerapkan aturan dan persyaratan yang ada.

Jika TJ sendiri ikut jadi pemain, bukan tidak mungkin pengawasan dan aturan main menjadi berstandar ganda sehingga tidak adil ketika  TJ melaksanakan tugasnya karena TJ menjadi ambigu.

Ambigu yang dimaksud, lanjut Djoko, di satu pihak TJ menjadi pengawas dan penegak aturan pelayanan. Sedangkan di sisi  lainnya TJ sebagai operator yang harus mencari keuntungan, yang terkadang meng-anakemas-kan TJ sebagai operator, dengan memberi prioritas lebih (untuk peluang keuntungan, misalnya dengan menempatkan armadanya pada rute yang panjang) dan lebih toleran (lebih kendor) terhadap aturan yang ada.

Sementara kepada operator lain lebih ditekan pada disiplin sampai sekecil-kecilnya. Bila terjadi pelanggaran langsung diberi penalti. Status TJ sebagai operator, bukan lagi  sebagai bagian tapi sudah mendominasi armadanya.

Bila itu terjadi, menurut Djoko, maka kerja TJ sebagai wasit pelayanan konsentrasinya buyar, karena harus terbagi dengan tugas sebagai operator.

Ditegaskan Djoko, organisasi TJ menjadi besar, SDM juga tambah banyak dan anggaran juga semakin besar, urusan juga semakin majemuk (urus bus, urus tenaga kerja, urus bengkel, urus pool bus, urus diklat, dll). Karena itu, TJ sebaiknya tetap pada perannya, sebagai pengawas atau wasit pelayanan saja tanpa rangkap jadi operator. (isw)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *