Connect with us

Kabar

Pohon Mentaok, Angker tapi Bisa untuk Obat Mata

Published

on

– Gde Mahesa

Hutan (jw. Alas) Purwo yang ada di wilayah Banyuwangi, sekarang ini masih dan dipercayai sebagai hutan yang angker, bermacam mahkluk ghaib ada didalamnya, sehingga banyak peziarah melakukan aktivitas ritual di Alas Purwo.

Bisa dibayangkan jika ratusan tahun yang lalu suasana hutan atau alas ketika masa kraton Mataram – Ngayogyakarta Hadiningrat sedang akan didirikan. Konon Alas Mentaok merupakan hutan belantara bekas wilayah Kerajaan Mataram Kuno (abad ke 8 hingga 10) yang dihadiahkan oleh Sultan Hadiwijaya (Pajang) kepada Ki Ageng Pemanahan setelah berhasil mengalahkan Arya Penangsang.

Disebut hutan atau alas mentaok, karena di tempat tersebut memang banyak pohon Mentaok (Wrightia javanica) yang tumbuh dengan lebat. Pohon ini adalah salah satu jenis tanaman yang ditemukan di kawasan tempat cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam Yogyakarta.

Lokasi ini terletak di sebelah timur sungai Opak, merupakan hutan liar yang dipenuhi oleh binatang buas dan makhluk halus, terbentang dari timur laut hingga tenggara Yogyakarta (Purwomartani hingga Kotagede) dan dulunya dikenal sebagai hutan yang belum pernah terjamah dan akhirnya ditaklukkan dan diubah menjadi pusat peradaban di Kotagede.

Pembangunan pastilah berdampak, termasuk dengan pohon mentaok yang bernasib buruk, juga tak peduli pohon angker dengan mitos yang menakutkan pasti dan terancam ditebang.

Konon beberapa mitos yang populer adalah :

* Pohon Berpenghuni Makhluk Halus: Mitos setempat menyebutkan bahwa pohon mentaok yang lebat dan tua, didiami makhluk halus, Gendruwo, Banaspati juga Wewe Gombel.

* Tempat Meditasi Sutawijaya: Karena keangkerannya yang sulit ditaklukkan, Panembahan Senopati (Sutawijaya) dikisahkan melakukan semedi di laut selatan untuk mendapatkan kekuatan guna mengalahkan jin penguasa hutan tersebut.

* Penanda Sejarah Mataram: Pohon mentaok adalah saksi bisu pembabatan hutan menjadi Kerajaan Mataram Islam. Sampai kini, pohon ini masih dapat ditemukan di situs-situs bersejarah seperti kompleks Makam Raja-raja Kotagede dan Imogiri.

* Pohon Langka dan Mistis: Pohon ini dikenal langka, sulit dibudidayakan, dan kayunya sering digunakan sebagai bahan warangka (sarung) keris, yang menambah kesan mistis.

* Simbol Spirituil: Pembabatan hutan ini menandai peralihan dari hutan liar (kegelapan) menjadi pusat peradaban baru (terang) yang kental dengan nilai spiritual.

Seperti apa wujud dari pohon yang menjadi cikal bakal keberadaan Kota Jogja itu?

Mentaok merupakan jenis tanaman yang bisa tumbuh hingga ketinggian 35 meter dengan diameter 50 cm. Kulit batangnya berwarna abu-abu bercampur coklat hingga kuning kecokelatan.

Sementara itu, daunnya memiliki rambut halus di bagian permukaan dan pada bagian bawahnya menjadi sedikit kasar. Tak hanya itu, pohon itu memiliki buah berbentuk lonjong dengan kulit buah yang keras dan memiliki belahan pada bagian tengahnya.

Selain itu, getah Pohon Mentaok dapat dipakai sebagai obat penyakit disentri dan daunnya dapat digunakan sebagai obat radang mata. Bahkan menurut Penelitian dari Chiba University Jepang menunjukkan potensi ekstrak daun mentaok dalam mengatasi kanker darah (leukemia).

Sedangkan pada masa kejayaannya dulu, kayu mentaok dimanfaatkan sebagai tiang pancang dermaga di sungai atau laut bagi para nelayan tradisional, konstruksi jembatan tradisional, serta benteng pertahanan yang sering dibangun pada pusat-pusat kerajaan di masa lampau.

Secara historis, “penebangan” pohon mentaok merupakan titik balik dari kawasan yang angker menjadi pusat peradaban yang makmur (babad alas). Dalam konteks supranatural, pohon mentaok lebih dikenal sebagai penanda wilayah magis dan warisan sejarah yang memiliki “daya” (aura) besar. Saat ini, pohon Mentaok yang tersisa dianggap sebagai jejak sejarah penting, bukan sekadar pohon liar biasa, namun juga dianggap sebagai salah satu jenis pohon keramat yang tumbuh di area yang dulunya angker.

Bullll…. Bullll…. klepussss

( Disunting dari berbagai sumber )

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement