Maskapai Butuhkan Informasi Lebih Baik Sebelum Terbang di Atas Zona Konflik

 Maskapai Butuhkan Informasi Lebih Baik Sebelum Terbang di Atas Zona Konflik

 

LEBIH dari empat tahun setelah jet penumpang Malaysia ditembak jatuh di Ukraina bagian timur yang dilanda konflik, maskapai penerbangan di seluruh dunia masih membutuhkan informasi yang lebih lengkap  dan lebih baik untuk membuat penilaian risiko tentang terbang di atas zona perang.

Hal itu disampaikan Dewan Keselamatan Belanda   yang menindaklanjuti penyelidikan peristiwa jatuhnya pesawat Malaysia  Airlines pada 17 Juli 2014, dan rekomendasi berikutnya untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Investigasi dewan keselamatan menyimpulkan, bahwa pesawat itu ditembak jatuh oleh rudal Buk yang diluncurkan dari wilayah yang dikuasai pemberontak pro-Rusia. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak  298 orang yang ada di dalam pesawat naas itu  tewas, karena pesawat hancur di udara dan  puing-puingnya berserakan di ladang-ladang di Ukraina.

Investigasi kriminal internasional sampai kini masih berlangsung yang bertujuan untuk membawa para pelaku ke pengadilan. Belanda dan Australia mengatakan, mereka menganggap Rusia bertanggung jawab untuk memasok rudal itu.

Ketua dewan keselamatan, Tjibbe Joustra, mengatakan kemajuan telah dibuat sejak jatuhnya MH17 dalam berbagi informasi tentang potensi risiko terbang di atas konflik dan bahwa maskapai penerbangan sekarang mengambil tindakan lebih cepat.

“Maskapai mengambil pendekatan yang lebih terstruktur untuk menganalisis risiko dan ketidakpastian, meningkatkan ke tingkat risiko yang lebih tinggi pada tahap sebelumnya,” kata dewan keselamatan.

Bangsa-bangsa, otoritas penerbangan internasional, dan organisasi internasional seperti Komisi Eropa juga bekerja bersama dengan lebih baik untuk meningkatkan berbagi intelijen, kata Joustra. Tetapi laporan itu menekankan bahwa masih banyak yang harus dilakukan.

“Sangat sedikit perubahan yang berkaitan dengan manajemen wilayah udara oleh negara-negara yang berurusan dengan konflik bersenjata di wilayah mereka telah dilakukan,” kata dewan keselamatan dalam sebuah pernyataan. “Selain itu, maskapai penerbangan membutuhkan informasi yang lebih rinci dan kompleks untuk melakukan penilaian risiko yang memadai.”

Joustra mengatakan dia melihat sedikit tindakan atas rekomendasi dewan untuk bergerak cepat menutup wilayah udara atau memaksakan batas ketinggian di langit di atas zona konflik. Dia mengatakan kepentingan nasional dapat mencegah tindakan keamanan tersebut.

 

“Jika Anda menutup wilayah udara Anda, itu adalah pengakuan umum bahwa Anda tidak lagi bertanggung jawab atas wilayah atau langit Anda sendiri,” kata Joustra.***

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *