Mall Rongsok, Fantasi Seni Barang Bobrok

 Mall Rongsok, Fantasi Seni Barang Bobrok

ADA Sogo Jongkok, ada Mal Rongsok, keduanya sama-sama paradoks. Sogo sebagai deptartment store mewah, lalu berubah menjadi jalanan di kawasan Tanah Abang, yang disulap menjadi pasar murah. Mal yang identik dengan gedung megah nan sejuk, berubah menjadi sebuah bangunan penuh barang rongsok, bobrok, dan bosok.

Hanya karena dorongan ingin mencari sesuatu, saya melaju ke Mal Rongsok yang terletak di Jalan Bungur Raya, Kukusan, Beji, Kota Depok. Beruntung, lokasi itu mudah dituju. Aplikasi waze akan menuntun ke alamat mal rongsok tanpa khawatir salah belok.

Sesampai di sana, yang tampak adalah sebuah bangunan kayu dengan gantungan barang-barang bekas, serta onggokan barang rongsok di tanah. Di samping dan di atas pintu masuk, terpasang tulisan MALL RONGSOK berwarna putih di atas kain flexi merah.

Menginjakkan kaki di mulut pintu, sapuan pandangan mata akan terbentur onggokan aneka barang bobrok. Menoleh ke kanan, tampak tumpukan stereo set, printer, dan barang-barang elektronik lain. Menoleh ke kiri, kulkas bekas, dispenser lusuh, alat-alat dapur luntur, dan gantungan lampu-lampu hias yang tak jelas lagi wujud dan warnanya.

Melangkah ke dalam, meniti lorong sempit di antara tumpukan aneka barang, keadaan menjadi lebih gelap dan pengap. Aneka almari kayu berjejer-jejer. Ada yang tak berpintu, ada yang hilang engsel, ada yang bolong, dan yang pasti, tidak satu pun barang bagus.

Naik ke lantai dua, idem. Kursi-kursi kantor berjejer-jejer. Kain kursi yang kucel, sandaran somplak, roda kaki hilang sebelah, pendek kata, tidak ada yang resep di mata. Melangkah ke lantai dua bagian depan, kurang lebih sama. Di satu sudut malah tampak onggokan aneka manekin. Ada yang tak lagi berhidung, hilang lengan, patah kaki, huh…. barang macam apa pula ini.

Kurang dari lima menit, saya turun kembali ke lantai dasar. Jika ketika naik lewat tangga kayu berbelok di bagian belakang, maka saat turun, saya memilih tangga kayu di bagian depan. Di pertengahan tangga, tampak separang muda-mudi sedang asyik memandang, kemudian melihat-lihat gantungan lampu hias. “Kita ambil yang ini…. Dengan membersihkan lalu mengecat ulang, ini akan sangat bagus buat kafe kita,” terdengar satu di antara mereka berkata.

Dus, kesimpulannya…. Mall Rongsok tidak menyediakan barang bagus. Mall rongsok menjadi penuh nilai bagi siapa saja yang pandai berfantasi. Menyulap barang tidak berguna menjadi barang seni. Kalau toh ada barang yang masih layak pakai, sejatinya sangat tidak direkomendasikan untuk dibeli. Percayalah, Anda hanya akan memindahkan “sampah”.

Akan tetapi, melihat tumpukan printer di satu sudut, spontan terbayang sebuah susunan seni instalasi. Bahkan bagi kreator seni alternatif, Mall Rongsok menjamin aliran ide segar untuk berekspresi. Sayang, saya bukan seniman. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • Sy punya kursi rotan 2 sitters dan 2 kursi rotan lagi santai dan 1 meja rotan besar. say niat mau jual karena rumah sy skerang kecilan itu model lama tp masih prima apa minat ?
    mohon hubungi saya bila minat ya harga yg wajar saja trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *