Kopi… Ya Kalosi

 Kopi… Ya Kalosi

KOPI Kalosi, punya  aroma dan cita rasa khas. Salah satu kopi terbaik di dunia ini ternyata berasal dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Bagi pecinta kopi, tentu kenal kopi arabica Kalosi. Produk kopi Kalosi sudah diekspor ke Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dahulu itu…

Antara tahun 1725 sampai 1780 Pemerintah Belanda melalui VOC memonopoli perdagangan kopi dunia. Mereka melakukan penanaman kopi di daerah di Indonesia. Salah satunya  di Sulawesi. Kopi ini tumbuh di Kecamatan Bungin, Baraka, Alla, Buntu Batu, Curio, Masalle, Baroko dan sebagian kecil Kecamatan Enrekang. Di samping Kecamatan Malua dan Anggeraja. Total luas kopi arabica 11.515 hektare yang diusahakan oleh 16.657 KK, dengan jumlah produksi mencapai 5.122 ton per tahun.

Kemasan Kopi Kalosi

Sayang, kejayaan kopi Kalosi tidak paralel dengan kesejahteraan petani di sana. Penikmat keuntungan adalah para tengkulak. Yang lebih ironis, kopi mereka tidak dijual dengan brand Kalosi, melainkan dicampur dengan kopi lain, dan dijual gelondongan. Bukan hanya itu, salah satu brand Sulootco Kalosi Toraja Coffee ternyata milik pedagang asing. Mereka memakai nama Kalosi, tanpa ba-bi-bu. Jangankan royalti, sekadar kata permisi pun tidak.

Karena itu, beberapa waktu lalu Masyarakat Perlindungan Kopi Enrekang (MPKE) mengajukan permohonan pendaftaran perlindugnan indikasi geografis kopi arabica Kalosi Enrekang. Tujuannya agar mereka mendapatkan perlindungan hukum terhadap kopi Kalosi sekaligus mendapatkan pengakuan mutu dan kekhasan kopi produk daerahnya.

Samaki

Kasi Pembenihan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, Samaki kepada jayakartanews.com mengungkapkan berbagai upaya demi menyelamatkan sekaligus mengangkat derajat kopi Kalosi. Salah satunya bekerjasama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar melakukan pembibitan sambung pucuk pohon kopi Arabica typica dan pembangunan kebun induk benih seluas 30 ha di Desa Sawitto, Kecamatan Bungin.

Upaya lain adalah meningkatkan kualitas tanam, serta menggandeng pihak swasta. Selama ini, pembudidayaan masih dilakukan secara tradisional. Akibat penanganan on farm dan off farm yang belum memadai, produk yang dihasilkan didominasi biji asalan sehingga berpengaruh terhadap rendahnya mutu kopi.

Tahun 2008, dalam Kontes Kopi Specialty Indonesia di Jember, kopi Kalosi keluar sebagai juara pertama dan kedua. Prestasi inilah yang membuat Pemkab Enrekang diundang pemerintah Jerman untuk mengikuti pameran kopi di Jerman, Mei 2010.

Lepas dari itu, masyarakat Enrekang sudah turun-temurun merasakan manfaat kopi Kalosi. Selain bisa diminum sebagai obat sakit kepala, bubuk kopi Kalosi juga bisa menyembuhkan luka luar. Bahkan, membantu ibu-ibu yang mengalami kesulitan ketika melahirkan. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *