Ketika Belajar Melampaui Tembok Kelas

 Ketika Belajar Melampaui Tembok Kelas

Buku Sinau Sinambi Mlaku

—***—

JAYAKARTA NEWS – Jumat akhir pekan silam, ada acara webinar yang membahas buku Sinau Sinambi Mlaku di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Isinya pengalaman sejumlah guru saat mereka mengajar. Kisah mereka bukan cerita yang kering, tetapi sebuah stori reflektif  yang berkedalaman.  Para guru di sekolah khusus cowok itu mempunyai pengalaman mengajar yang anti mainstream, bahwa belajar tak dibatasi tembok kelas tetapi masuk ke dalam ranah kehidupan yang lebih luas.  

“Belajar tak hanya hafalan, tetapi juga masuk ke dalam pengalaman. Ini penting untuk mendapatkan nilai atau value,” kata Martinus Dwi Prasetyo, guru Antropologi yang bertindak sebagai nara sumber pada webinar membedah buku Sinau Sinambi Mlaku (Belajar Sambil Berjalan) yang digelar online

“Indonesia negara multikultural dengan aneka  budaya, etnis, agama. Dalam konteks ini, sejarah berguna bagi kehiduan sehari-hari untuk menumbuhkan nilai keberagaman,” katanya.

Sebagai guru yang mengampu mata pelajaran Antropologi, Martin menempatkan konteks  sinau sinambi mlaku ini dari sudut pandang sejarah.  Sejarah bukan hanya menghafal nama dan tanggal, tetapi bagaimana pengalaman masa lalu itu bermanfaat untuk hidup sehari-hari kini dan di masa depan. “Sejarah itu penting, tetapi lebih penting belajar dari sejarah,” pungkasnya.            

Sementara Lintang Nusantara, siswa yang juga menjadi pembicara mengemukakan testimoninya. “Saya diajak berjalan bersama untuk mendapatkan ilmu pengtahuan sekaligus mendapatkan sentuhan personal, pendampingan khusus serta merasakan hubungan guru murid yang erat,” tutur Lintang.

Lintang menegaskan bahwa sebagai siswa ia bersama kawan-kawannya diajak keluar dari apa yang selama ini diajarkan. “Kita diajak untuk mencari ladang lain yang lebih subur,” paparnya.

Lintang yang di masa SMA-nya ini telah menjadi seorang kolumnis itu mengakui bahwa proses kreatifnya itu berlangsung di bawah bimbingan para guru, salah satunya ST Kartono yang juga kolumnis.  Guru senior inilah yang berperan sebagai editor buku Sinau Sinambi Mlaku. “Saya berharap buku ini bukan yang terakhir sebelum saya lulus,” kata Lintang.

Dalam siaran pers yang dirilis SMA De Britto pada Senin (7/2) diungkapan bahwa sejatinya bukan hanya murid yang belajar, guru pun sedang belajar. Artinya, sinau sinambi mlaku berlangsung pada murid sekaligus gurunya.

Para guru SMA Kolese De Britto memang sinau sinambi mlaku dalam arti belajar sambil mengajar. Ketika sedang mengajar pun guru De Britto terus belajar. Belajar menemukan pendekatan, media, cara mengevaluasi, atau sarana yang bisa dipakai untuk membawa materi pelajaran kepada muridnya.

Upaya para guru kian intensif ketika pembelajaran berlangsung di masa pandemi Covid-19. Pembelajaran jarak-jauh tidak sekadar memindah kelas tatap muka ke tatap layar. Guru mesti mengubah pola pikir dan imajinasinya, melengkapi diri belajar teknologi, atau menyelisik berbagai tautan untuk materi pembelajaran.

Anita Lie, guru besar Unika Widya Mandala Surabaya mengemukakan kesannya terhadap proses belajar di SMA Swasta Yogyakarta ini. “Bagi saya yang sangat mengesan dari De Britto adalah narasi yang sangat kuat. Itu adalah daya tarik yang luar biasa, karena di sana ditemukan suasana orang untuk berpikir, untuk merenung, merefleksikan. Ketika hal itu dituliskan orang ketemu dengan dirinya sendiri,” papar Anita

Ungkapan Anita itu dikutip oleh Romo Cyprianus Kuntoro Adi SJ ketika memberikan sambutan pada peluncuran buku Sinau Sinambi Mlaku sebelum acara Webinar berlangung. Acara tersebut merupakan rangkaian pesta nama Santo Johannes De Britto yang jatuh setiap tanggal 4 Februari.  Pagi Harinya acara pesta nama ini dibuka dengan perayaan Misa. (Ernaningtyas)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.