Karpet Merah Part II buat Piringan Hitam

 Karpet Merah Part II buat Piringan Hitam

SEPERTI model pakaian, piringan hitam kini pun memetik kebangkitan ulang. Teknologi yang telah memasuki usia tahun ke-150 itu, sekarang ini memasuki masa keemasan kedua.

Memang, bagi generasi akhir yang telah dimanja dengan teknologi digital, dengan kehadiran komputer, dan berbagai perangkat pintar lainnya, piringan hitam itu mungkin sebuah produk yang tidak pernah terbayangkan. Memutar musik dari penyimpan CD saja malas, apalagi piringan hitam yang dari aspek ukuran saja sudah “minta ampun” memakan tempat.  Tapi, anggapan semacam itu yang datang dari generasi digital tersebut, akan terbantahkan manakala menikmati musik dari piringan hitam yang diputar dari gramaphone. Pokoknya woow banget kualitasnya.

Tren permintaan musik yang disajikan di piringan hitam, belakangan terus meningkat. Menurut laporan VOA, diantara perusahaan perekam musik di piringan hitam yang sukses memanfaatkan momentum kebangkitan kembali piringan hitam ini ada di Republik Ceko, yang memproduksi  turntable atau alat pemutar piringan hitam.

Jauh hari, bahkan puluhan tahun silam, sebelum musik digital memanjakan generasi penikmat musik dengan formal mp3, WAV dan sebagainya, orang  menikmati musik yang direkam dalam piringan hitam. Pemutarnya, ya  turntable. Produk suara yang dihasilkan piringan hitam yang diputar dengan turntable, sungguh luar biasa.

Pemutar piringan hitam “Jadoel” di toko loak.

Musik digital memang menawarkan “kemewahan” yang lain daripada lainnya. Musik digital memungkinkan orang membawa ribuan lagu yang direkam. Alat pemutarnya pun beragam, yang pasti ringan, seperti telepon genggam cerdas, atau alat pemutar lainnya. Kemudahan tersebut harus dibayar dengan dengan tingkat kenikmatan hidangan musik yang disuguhkan. Piringan hitam memberikan kemewahan sound tersendiri dibandingkan dengan CD apalagi musik digital.

Kabarnya  SEV Litovel, sebuah perusahaan  di Ceko, menggenjot produksi  turntable-nya hingga 400% dibandingkan posisi  tahun 2009. Angka penjualan pada tahun 2016 misalnya,  hampir menyentuh 125 ribu unit.

Oya, semua bagian  pemutar musik turntable tersebut  sepenuhnya dirakit dengan  tangan. Jamak, kalau kemudian  harganya juga wah. Kisarannya  antara 200 sampai 10.000 dolar AS, atau kalau dirupiahkan kira-kira antara Rp 2,6 juta –  Rp 130 jutaan. Menurut  Heinz Lichtnegger,produsen  turntable, sejak lama yakin bahwa piringan digital akan digilas jaman, karena orang lebih suka menikmati musik melalui  musik lewat streaming. Dia memperkirakan, tapi 10 tahun dari sekarang, sekitar 20% hasil penjualan musik akan diraih lewat penjualan piringan hitam.***

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *