‘Kampung Tangguh Semeru’ Sukses Tekan Penyebaran Covid di Jawa Timur

 ‘Kampung Tangguh Semeru’ Sukses Tekan Penyebaran Covid di Jawa Timur

Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Dr Mohammad Fadil Imran, M.Si— foto tribratanewspoldajatim

JAYAKARTA NEWS—Berbagai cara dilakukan untuk menekan penyebaran Covid 19 di Jawa Timur. Hasilnya luar biasa. Jumlah zona merah berkurang drastis. Berdasarkan data, saat ini zona merah di Jawa Timur tinggal tiga wilayah yakni Kota Surabaya, Kota Pasuruan dan Kabupaten Gresik.

Salah satu upaya penanganan permasalahan Covid 19 yang menuai banyak pujian adalah pembentukan ‘Kampung Tangguh Semeru’ yang merupakan project kolaborasi antara Pemda Provinsi Jawa Timur, Polda Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya. Sebutan ‘Semeru’ tidak merujuk nama gunung tertinggi di Pulau Jawa melainkan akronim dari ‘Sehat, Aman, Tertib, Rukun’.

Yang menarik dari keberadaan Kampung Tangguh Semeru ini adalah keterlibatan seluruh elemen masyarakat desa yang saling bahu-membahu mendukung program ini. Dengan dukungan penuh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) maka tak heran kalau hasil yang dicapai pun signifikan. Jumlah penyebaran Covid 19  di Jawa Timur pun dapat ditekan.

“Kita terus berupaya menekan penyebaran Covid 19 di Jawa Timur. Harapannya, yang merah, orange dan kuning berubah menjadi hijau,” ungkap Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Fadil Imran kepada wartawan.

Jumlah ‘Kampung Tangguh Semeru’ terus bertumbuh. Setidaknya saat ini sudah mencapai 1.500 lebih. Masyarakat tampak  begitu antusias mendukung program ini sehingga lahir lah berbagai inovasi di kampung masing-masing. Menariknya, masyarakat tidak hanya berkutat terkait masalah kesehatan tapi juga ikut melakukan problem solving terkait masalah perekonomian dan pangan.

Mengutip paparan Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Fadil Imran, Kampung Tangguh Semeru Berbasis Problem Oriented Policing. “Sebuah strategi kolaboratif antara polisi dan masyarakat untuk yang berfokus dalam pemecahan permasalahan melalui upaya identifikasi, analisis, penentuan aplikasi penyelesaian masalah dan evaluasi,” papar FadiI.

Yang dimaksud scanning atau identifikasi masalah, paparnya, adalah permasalahan yang dianggap sebagai suatu gangguan oleh masyarakat. “Upaya penentuan prioritas permasalahan dilakukan secara bersama sama dengan anggota masyarakat. Bukan hanya oleh pengambil kebijakan. Hal ini tidak hanya berkaitan tentang ketepatan penentuan masalah. Tapi juga berkaitan dengan keterlibatan dan komitmen masyarakat di setiap langkah penanganannya,” jelas Fadil.

Analisis atas permasalahan. Antara lain meliputi Analisa Data yakni data terkait bidang permasalahan merupakan hal terbaik untuk memulai memahami permasalahan. Pengalaman warga terdampak dimana informasi pihak terdampak akan memberikan masukan yang mungkin tidak tergambar dalam data.

“Untuk menyelesaikan masalah sampai ke akar maka perlu untuk mengindentifikasi sumber masalah. Bagaimana cara sebuah masalah memberikan dampak negative ke masyarakat harus dapat dipetakan dengan baik. Selain itu bantuan pihak yang ahli terhadap sebuah permasalahan akan dapat memberikan pengetahuan yang lebih konprehensif,” paparnya panjang lebar.***ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *