Gerendeng Cisadane

 Gerendeng Cisadane

MENGURAI sekaligus mengurangi kemacetan. Itulah titik pijak pembangunan infrastruktur Pemkot Tangerang. Walikota Arief R. Wismansyah, meresmikan ground-breaking pembangunan jembatan di Jalan Dadang Suprapto, Gerendeng dan Jalan Teuku Umar, Karawaci, Senin (23/1/2017). “Kontrak Januari, dan diharapkan Agustus sudah selesai,” ujar Arief.

Tahun ini juga, akan dibangun satu jembatan lagi di Jl KS Tubun, untuk mengurangi kemacetan di area Pintu Air 10. Yang tak kalah penting, jika pembangunan jembatan di Gerendeng itu selesai, masyarakat bisa menikmati fasilitas pedestrian, sambil memandang keindahan Cisadane.

Dahulu itu…

Tangerang menjadi kota yang sangat strategis. Sejarah Tangerang, tidak bisa lepas dari empat hal yang saling terkait. Pertama, peranan Sungai Cisadane. Kedua, lokasi di tapal batas antara Banten dan Jakarta. Ketiga, banyaknya status tanah partikelir. Keempat, bertemunya banyak etnis dan budaya.

Sungai Cisadane membujur dari daerah pegunungan ke pesisir utara. Dari dulu, sungai ini berperan dalam kehidupan masyarakat sepanjang daerah aliran sungai (DAS). Yang berubah hanyalah jenis peranannya. Sejak zaman Tarumanegara (abad ke-15) hinggga zaman Hindia Belanda (awal abad ke-19), sungai ini sebagai sarana lalu-lintas air yang menghubungkan daerah pedalaman dan pesisir.

Di samping itu, Cisadane juga menjadi sumber penghidupan manusia yang mukim di kiri-kanan sungai. Selain untuk mengairi persawahan juga untuk budidaya perikanan di dataran rendah bagian utara Tangerang.

Maka, dengan pembangunan jembatan yang menghubungkan Jl Dadang Suprapto dan Jl Benteng Makassar, Sukarasa, bukan saja kelancaran lalu-lintas yang didapat, tetapi juga kembalinya fungsi Cisadane. “Jalan inspeksi yang sudah ada nanti dipertahankan sehingga tidak terjadi crossing dengan kendaraan yang ada di atas,” jelas Walikota.

Selain itu, Walikota yang hadir bersama Wakil Walikota Sachrudin berharap jembatan dioptimalkan guna mengantisipasi pertumbuhunan kendaraan bermotor di Kota Tangerang. Pembangunan dua jembatan tersebut dilaksanakan dengan APBD yang bersumber dari Bantuan Provinsi Banten, dengan total biaya mencapai Rp 57,4 miliar. Spesifikasinya, Jembatan Dadang Suprapto panjang 115 meter lebar 11 meter, sedang jembatan Teuku Umar panjang 100 meter dan lebar 10 meter. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *