Empat Negara Ajukan Kebaya ke UNESCO, Malaysia Punya Museum Kebaya

 Empat Negara Ajukan Kebaya ke UNESCO, Malaysia Punya Museum Kebaya

Foto: Kebaya Foundation

JAYAKARTA NEWS – Akhir pekan lalu, tercanang kabar, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO. Indonesia belum mendaftar. Namun ada statement Sandiaga Uno (Menparekraf) agar Indonesia joint saja (bergabung).

Tim kebaya Indonesia belum memutuskan, joint atau single nation nomination. Belakangan tim Indonesia sedang membincangkan untuk menentukan Hari Kebaya Nasional.  “Membahas ini tidak mudah, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan, “ kata aktivis pelestari kebaya Atie Nitiasmoro yang juga Kepala Bidang Kegiatan Perempuan Berkebaya Indonesia  (PBI).

Tim nasional kebaya, katanya,  sudah melakukan serangkaian penelitian melalui jurnal dan beberapa penelitian untuk menentukan tanggal dan kapan itu tanggal yang pas, juga masih dikaji. Karena harus ada kaitan historisnya, kaitan politisnya, dan sebagainya.

Tanggal tersebut sudah kami ajukan ke Kemendikbud dan Kemenko PMK. Sekarang sedang digodok oleh mereka sebelum diajukan ke Presiden, ujar Atie lagi.   

Lalu, bagaimana sikap para aktivis kebaya untuk pendaftaran ke UNESCO ?  Cenderung  joint atau single nation  nomination, hal ini pun menurut Atie  ada dua  “kubu”.

“Semula aku dan beberapa teman beranggapan, kebaya itu eksklusif milik Indonesia. Dari sejarah, dan banyaknya perempuan berbagai strata sosial dalam  pemakaian kebaya, Indonesia tak diragukan lagi, “ ujar Atie.

Tapi ternyata, lanjutnya, kalau kita baca sejarah di keempat negara itu mereka juga memakai kebaya. Bahkan Malaysia dan Singapura, mereka punya Museum Kebaya. Sedangkan kita yang mengklaim kebaya milik Indonesia kita tak punya museum. 

“Jangankan museum, yang namanya (karya-karya) jurnal, penelitian kita sangat kurang. Kebanyakan orang asing yang menulis. Jangankan menulis,  literasi membaca buku di kalangan kita sangat kurang, bahkan makin ke sini kayaknya  makin bekurang, dengan adanya gadget.                       

Foto: Kebaya Foundation

Dikatakan Atie, tim komunitas kebaya dari Indonesia sebenarnya masih bisa kalau mau join, karena pendaftarannya nanti Maret 2023, jadi masih ada waktu.

Kegiatan berkebaya, baik dalam komunitas kecil maupun besar  belakangan acap dilakukan, semacam mempopulerkan kembali berkebaya. Beberapa bulan lalu Yogyakarta mengadakan parade berkebaya. Begitu pun di daerah lainnya,  melakukan kegiatan jalan laki dengan mengenakan kebaya

Beberapa hari lalu, tepatnya hari Minggu 6 November 2022, Jakarta di pagi hari diramaikan oleh Festival Kebaya yang diinisiasi oleh Kebaya Foundation. Puluhan komunitas pecinta dan pelestari kebaya terlibat di dalamnya. Mereka berjalan menempuh rute Gedung Sarinah ke Bundaran HI Jalan MH Thamrin. Mengenakan kebaya aneka rupa dan model dari yang klasik hingga modern, yang  etnik hingga kontemporer.

Tidak hanya kalangan dewasa atau kaum ibu yang memeriahkan acara ini, melainkan antusias anak-anak mileneal sangat besar dengan menghadirkan busana-busana kebaya yang tentu saja kekinian banget; kaya kreasi dan berani dalam padu padan, baik motif, desain, maupun menggabungkannya dengan asesoris dan properti lain, sepatu, tas, dan lainnya. 

Kenzieta dari Kebaya Foundation kepada Jayakarta News mengatakan, kegiatan parade semacam ini sudah beberapa kali diadakan para pecinta kebaya. Tidak hanya Jakarta,  daerah lain juga melakukan kegiatan serupa.  Aktivitas berkebaya dan parade berkebaya selain merupakan upaya pelestarian kebaya di tanah air, juga terkait pendaftaran warisan budaya tak benda ini ke UNESCO.

Karena itu beberapa  spanduk bertuliskan  “Kebaya goes to UNESCO as single nation nomination” diarak pula oleh komunitas kebaya, diantaranya pada Barisan Kebaya Foundation dan Barisan anak-anak kampus Universitas Pancasila.

Foto: Kebaya Foundation

Tim nasional kebaya, hingga tulisan ini diturunkan  belum memutuskan, mau gabung dengan keempat negara ASEAN lain yakni Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand atau daftar secara tunggal ke UNESCO.

Atie Nitiasmoro menegaskan lagi, kita tidak bisa mengklaim kebaya sebagai budaya Indonesia, masalahnya di beberapa negara ASEAN itu  para perempuannya juga mengenakan kebaya. Tapi memang tidak semasif di Indonesia.

Atie mengemukakan  kapan masuknya kebaya ke Indonesia atau dulu disebut Nusantara. Masuknya bangsa asing ke Nusantara, kata Atie, melalui hubungan dagang dan itu diyakini memberi kontribusi besar terhadap lahirnya kebaya. Posisi strategis Indonesia di jalur perdagangan Asia hingga Timur Tengah, sehingga besar kemungkinan bandar dagang terkemuka masa lalu menjadi pintu masuk berbagai kebudayaan yang dibawa mereka termasuk budaya erpakaian termasuk budaya berpakaian yang kemudian melebur dan beradaptasi  dengan budaya dengan budaya setempat dalam kurun waktu yang panjang.

Diperkirakan, kata Atie, sudah beberapa abad yang lalu.  Ada banyak versi soal ini berdasarkan literatur yang ada. Tiongkok disebut membawa kebaya ke nusantara melalui jalur perdagangan sebelum abad 12. Literatur lain  mengatakan dengan masuknya Islam, perempuan yang semula tidak mengenakan penutup dada, atau hanya menggunakan kemben, kemudian menambahkan selendang untuk menutup auratnya. Kata kebaya berawal dari Bahasa Arab,  Qaba {pakaian} dan Abaya artinya jubah atau pakaian longgar. Ada pula yang berpendapat bahwa kebaya dibawa oleh bangsa Portugis ke Malaka, 80 tahun sebelum kedatangan Belanda di Nusantara. Kata kebaya diyakini merupakan serapan dari Bahasa Portugis Cabaya, Pada masa itu perempuan Portugis menggunakan baju atasan panjang yang  longgar dengan bukaan depan dan  berlengan panjang.

Terlepas dari klaim bahwa kebaya akhirnya  eksklusif  milik Indonesia, dan di beberapa negara ASEAN di atas banyak pula perempuan mengenakan kebaya, namun secara masif pemakaian kebaya terbesar adalah   Indonesia. Tidak hanya suku Jawa, tapi juga Sumatera, Bali, dan Kalimantan, serta Sulawesi. Para perempuan umumnya mengenakan kain dan kebaya, yang tentu saja setiap daerah memiliki ciri khas.

Di Indonesia, sudah puluhan tahun silam kebaya menjadi busana nasional yang sering dikenakan pada acara-acara formal termasuk acara kenegaraan. Kain dan kebaya dengan kutubaru sering dikenakan ibu negara, sejak era Fatmawati Sukarno, Ibu Tien Soeharto, Ibu Ainun Habibie, Ibu Ani Yudhoyono hingga Ibu  Iriana Joko Widodo.

Jika…., dan hanya jika Indonesia memilih single nation  nomination, sebagai pemilik warisan budaya tak benda ke UNESCO, lalu mendapat pengakuan global, tentu tak lepas dari masifnya bukti historis yang bisa kita tunjukkan, serta kuatnya negeri ini dalam melestarikan busana kebaya tersebut. *** iswati 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.