Eli Thamrin, Arsitek Pertamini itu Telah Pergi

 Eli Thamrin, Arsitek Pertamini itu Telah Pergi
Pertamini karya Eli. Kini, Eli yang pencipta Pertamini telah pergi. Foto: Istimewa

SEBUAH kabar duka saya terima menjelang tengah malam. Tapi saya baru membacanya menjelang pagi. Pesan pendek itu dikirim seseorang menggunakan nomor Eli. Mungkin anaknya. Bisa juga istrinya. ‘’Pak Eli Thamrin telah meninggal dunia pukul 22.00. Mohon doanya.’’

Saya memang punya hubungan khusus dengan Eli. Dia karyawan saya saat membangun harian Indo Pos di Jakarta pada 2003. Saat saya tidak lagi mengelola koran milik Jawa Pos itu pada 2007, Eli masih bekerja di sana.

Empat bulan lalu, saya berkunjung ke rumah Eli di perbatasan antara Bogor dan Depok. Memed Haryanto yang mengajak saya. ‘’Kita kunjungi Eli yuk Pak. Dia mengidap penyakit langka,’’ kata Memed, mantan kawan kerja Eli di Indo Pos.

Pertemuan pertama setelah berpisah hampir tujuh tahun itu akhirnya terlaksana setelah dua bulan tertunda-tunda. Saat itu, Eli sudah tidak bisa berjalan. Kemana-mana harus menggunakan kursi roda.

Tangannya sudah tidak kuat menahan beban berat. Untuk menggerakkan kursi roda, dia perlu bantuan orang lain. Kalau tidak istrinya ya asistennya. ‘’Tangan yang satu sudah melemah. Yang satunya masih normal,’’ kata Eli saat itu.

Melemahnya fungsi tubuh Eli sepertinya berpola. Tiga tahun lalu, salah satu kakinya mendadak sulit digerakkan. Setelah benar-benar lumpuh, gejalanya pindah ke salah satu kakinya yang masih normal.

Setelah dua kakinya kehilangan tenaga, penyakit itu menyerang salah satu tangan. ‘’Perkiraan saya, setelah kedua tangan saya lumpuh, penyakit ini akan menjalar ke leher. Saya sudah merasakan tanda-tandanya,’’ kata Eli.

Sejak pertemuan itu, kami sering berkomunikasi melalui whatsapp. Ngobrol-ngobrol yang ringan-ringan saja. Sekedar bercanda.

Dua Minggu lalu, Eli menghubungi saya lagi. Kali ini bukan bercanda. Dia menyampaikan sesuatu yang serius. Bukan soal penyakitnya, tapi tentang bisnis perakitan mesin Pertamini yang digelutinya.

Sudah tujuh tahun Eli mengelola pabrik perakitan Pertamini. Bersama istri dan dua karyawan, Eli menjual hingga 80 unit per bulan. Belakangan penjualannya turun menjadi 15 unit per bulan. ‘’Bahan tabungnya sedang susah, karena saya hanya menggunakan tabung impor, bukan tabung produksi lokal,’’ kata Eli.

Semenjak sakit, istrinya mengambil alih pekerjaan Eli. Wanita berjilbab itu tidak hanya menangani administrasi, tetapi juga mengelas dan merakit unit Pertamini.

‘’Order saya saat ini lumayan banyak. Beberapa pelanggan lama rupanya ingin menambah unit. Tapi saya kesulitan modal untuk membeli tabung dari Thailand. Bagaimana jalan keluarnya?’’ tanya Eli waktu itu.

‘’Sampaikan kepada pelanggan lama bahwa saat ini sistem pembelian mesin Pertamini tidak bisa pakai down payment. Sekarang harus cash advance. Mereka pasti maklum. Toh dulu sudah Anda bantu dengan sistem pembelian cicilan yang ringan,’’ saran saya.

Mungkin saran saya dijalankan. Sebab setelah itu Eli tidak pernah menyinggung masalah itu lagi. Dua hari lalu Eli kembali menelepon. Kali ini, Eli kembali meminta bantuan untuk dicarikan pemodal untuk perakitan Pertamini.

‘’Saya butuh modal Rp 30 juta. Dengan tambahan DP dari pembeli, saya bisa melayani penjualan hingga 15 unit per bulan. Keuntungan per unit saya bayar setiap bulan. Keuntungan penjualan mesin satu tabung Rp 200 ribu. Kalau mesin dua tabung Rp 300 ribu,’’ katanya.

Tawaran yang menarik. Paling tidak investor memperoleh keuntungan 10 persen per bulan. Ibaratnya, dalam 10 bulan sudah balik modal, dengan pokok yang tidak berkurang. ‘’Saya coba susun menjadi proposal yang baik untuk saya tawarkan ke beberapa kawan. Tolong kirim foto kegiatan di pabrik,’’ jawab saya.

Jumat pagi, saya mengirimkan pesan mengingatkan janjinya untuk mengirimkan foto aktivitas perakitan Pertamini. Sepuluh menit kemudian, Eli mengirim 15 gambar.

Semalam saya berencana menyusun proposal investasi bisnis untuk membantu Eli. Tapi sepulang dari makan malam merayakan ulang tahun anak sulung di Kafe Pisa Menteng, saya mendadak terserang kantuk berat.

Obrolan dengan istri pun terputus entah pada bagian mana. Saat bangun lewat tengah malam, nomor ‘’Eli’’ sudah mengirimkan kabar duka. Inalillahi wa ina ilaihi rojiuun. Selamat jalan Eli. Semoga Allah melapangkan jalanmu di alam keabadian. Maafkan aku belum bisa menyelesaikan proposal itu, kawan. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.