Dilema “Si Imut” Karangploso

 Dilema “Si Imut” Karangploso
Peternakan kelinci Winarto di belakang rumah. (foto: poedji)

Jayakarta News – Lihat saja hewan yang satu ini. Ya, kelinci. Bentuknya yang mungil, imut, gerak-gerik yang lucu dan menawan. Tak heran jika banyak yang suka menjadikan “si imut” ini sebagai hewan peliharaan di rumah.

Baiklah. Itu satu hal.

Hal lain, daging keinci diyakini lebih sehat dibanding kambing, sapi, bahkan ayam. Selain tekstur daging yang lebih lembut dibanding kambing dan sapi, ia juga memiliki khasiat daging yang baik, dengan sedikit risiko penyakit. Tidak seperti kambing dan sapi yang sarat embel-embel kolesterol dan ancaman darah tinggi.

Jadilah, kelinci berada pada posisi unik. Sebagai hewan imut-lucu, membuat banyak orang tidak tega mengonsumsi dagingnya. Bahkan, mungkin akan bergidik jika sampai melihat ada orang menyembelih kelinci.

Nah, dilema “si mungil” itu pula yang sempat menghimpit Winarto, peternak kelinci yang tinggal di Jl Glatik, Nglijo Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. “Awalnya, para tetangga mencibir dan menatap sinis terhadap usaha saya. Apalagi kalau melihat saya menyembelih kelinci, mereka buru-buru mempercepat langkah dan melarang anak-cucunya melakukan apa yang saya lakukan,” papar Winarto.

Untuk sesaat, Winarto sempat galau. Betapa tidak. Ia melihat adanya peluang memperbaiki nasib melalui kelinci. Pada hal yang lain lagi, ia juga manusia yang punya perasaan. Sedih rasanya, jika pekerjaan halalnya itu dicibir tetangga.

Lelaki asli Pasuruan itu lantas mengisahkan usahanya yang penuh dilema. Saat pindah ke Malang, ia hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Maklum, profesi guru saat itu, benar-benar kecil penghasilannya.

Himpitan ekonomi, serta tekat kuat untuk mengubah nasib pula yang membuat Winarto mbedudu melanjutkan langkah beternak kelinci. Atas berbagai pandangan sinis dan cibiran tetangga, ia hanya berusaha melebarkan dada.

Satu-dua, ada pula yang memberanikan datang dan menasihatinya agar beralih ke ternak ayam atau kambing. Winarto bergeming. Ia sama sekali tidak berminat untuk beternak ayam, kambing, apalagi sapi. Lepas dari persoalan modal, ia berkata, “Saya suka kelinci sejak kecil, karena lucu dan gerakannya itu. Artinya, saya sedikit-banyak lebih paham beternak kelinci dibanding ayam atau yang lain.”

Kandang kelinci milik Pak Win di belakang rumah. (foto: poedji)

Bicara asal mula ia beternak kelinci, Pak Win –begitu ia biasa dipanggil—memulai dengan membeli beberapa pasang kelinci, dan menaruhnya di kandang yang ia buat di belakang rumah. Hanya 1,5 bulan, kelinci-kelinci itu sudah beranak pinak. Tahukah? Usaia kehamilan kelinci hanya sekitar 30 hari, dan sekali beranak, bisa empat sampai 10 ekor.

Tak pelak, kelinci berkembang biak dengan cepat. Treatment yang dilakukan pak Win terbukti tepat. “Sebab, kelinci itu hewan yang juga sangat rapuh. Salah sedikit, bisa mengakibatkan kematian,” ujarnya.

“Panen” kelinci di awal-awal usaha, ia tawarkan kepada sejumlah pedagang di kawasan wisata di Malang dan sekitarnya. Di luar dugaan, gayung bersambut. Mereka sangat meminati kelinci-kelinci Winarto, bahkan meminta agar sering-sering dikirim. Semangat kian membuncah di dalam dada.

Pekerjaan yang semula diperlakukan sebagai sampingan, pelan tapi pasti kemudian menjadi yang utama. Pekerjaannya sebagai guru ia tinggalkan, dan Pak Win sepenuhnya menggeluti kelinci. Dengan modal pinjaman dari Koperasi Wanita (Kopwan) sebesar Rp 10 juta, kini usahanya boleh dibilang sudah berlipat ganda.

“Si imut” itulah yang kemudian terbukti mengangkat derajat ekonomi kehidupan keluarganya. Ia bisa membeli rumah, membeli mobil, bahkan menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Kiprah pantang menyerah dalam bisnis kelinci, mendudukkan Pak Win sebagai Ketua I Himpunan Masyarakat Kelinci Indonesia (Himakindo) Provinsi Jawa  Timur. Di luar aktivitas beternak kelinci, Pak Win acap memberi motivasi dan pelatihan beternak kelinci.

“Modal tidak besar. Juga tidak perlu lahan luas seperti kalau kita beternak ayam atau kambing. Jika dilakukan dengan tekun, sejatinya tidak sulit. Bahkan bisa dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan ibu-ibu rumah tangga di rumah,” tambahnya.

Pakan kelinci juga mudah. Cukup mengandalkan sayuran hijau. Bahkan Winarto sudah bisa membuat pakan sendiri dari bahan-ban yang telah mendapatkan rekomendasi dari para mahasiswa yang sering datang ke tempatnya untuk melakukan penelitian.

Winarto memasang harga untuk anakan kelinci Rp. 17.500 per ekor, sedangkan untuk indukan Rp. 100 ribu per ekor. Dalam satu minggu pihaknya bisa mengirim sekitar 2.000 ekor kelinci. Di luar kelinci miliknya, ia juga mengumpulkan kelinci-kelinci dari anggota Himakindo di sekitarnya.

Kelinci, sekali lagi, oleh Pak Win dinilai sebagai hewan yang menjanjikan untuk dikembangkan sebagai sebuah unit usaha. Ia benar-benar multi-manfaat. Bisa dijual sebagai “souvenir” dengan kandang yang cantik. Bisa dijadikan menu kuliner. “Harga daging paling stabil ya daging kelinci. Sekarang di kisaran enam puluh ribu rupiah per kilogram,” ujar pak Win. (poedji)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *