Dicari, Ratu Sinden 2017

 Dicari, Ratu Sinden 2017

SEBUAH majalah di Surabaya, majalah Liberty, menggelar pemilihan Ratu Sinden 2017. Ini menarik. karena ternyata antusiasme para sinden anyar, membludak. Ketua Panitia Ratu Sinden Nasional 2017, Herman Rivai, menjelaskan babak final digelar di Hotel Singgasana Surabaya, di Jalan Raya Gunungsari, Surabaya. Pendaftaran langsung ke kantor redaksi LIBERTY, Jalan Karah Agung 45 (Jawa Pos Grup) Surabaya.

Dahulu itu….

Even sejenis pernah digelar di Semarang tahun 2012 oleh salah satu perguruan tinggi di sana. Pesinden atau waranggana, lekat dengan tradisi wayang kulit. Ia melantunkan tembang dengan suara lengking, mengharmonisasi irama gamelan. Dalam riwayatnya, eksistensi pesinden mengalami pasang surut, seperti halnya seni tradisi yang lain.

Sinden terbilang istimewa. Lihatlah posisi duduknya. Mereka bersimpuh dalam balutan kain jarik dengan posisi punggung tegak. Tak cukup dengan hanya hitungan menit, namun jam-jaman. Bahkan semalam suntuk mereka duduk dengan posisi demikian untuk menemani sang dalang mempergelar pertunjukan wayang kulit.

Sinden tak dibekali ruang untuk berolah tubuh layaknya penyanyi-penyanyi lain di abad ini. Sinden tak dilihat dalam domain fisik, namun olah dan kemerduan vokalnya. Jangan heran kemudian jika sinden-sinden idola dari masa ke masa bertubuh bongsor namun memiliki lantunan suara yang mampu memikat hati kaum adam.

Era Narto Sabdo -dalang kondang-, banyak mengubah citra sinden di mata masyarakat. Sinden, tidak lagi harus duduk di belakang dalang. Sinden kemudian berada di samping kanan sang dalang, menghadap ke penonton. Sinden secara langsung menjadi etalase bagi mata penonton. Dengan arah hadap yang demikian, mengharuskan para pesinden untuk tampil cantik dan menawan. Era suara kemudian harus diimbangi dengan citra visual. Walhasil, banyak sinden yang kemudian merawat tubuhnya untuk tampil ‘seseksi’ mungkin dengan dandanan yang menor.

Sseorang sinden harus memiliki penguasaan bekal musikal yang mumpuni. Pesinden berada dalam pusaran tafsir dan imajinasi musikal tinggi. Karenanya, tak semua vokalis wanita mampu menjadi pesinden. Ia harus sadar betul cara mengornamentasi sebuah gending dengan tafsir teks (cakepan), irama, rasa, tempo dan tentu saja garap. Pesinden berbeda dengan penembang. Disebut sinden karena kehadirannya yang menyertai sebuah gending walaupun teks vokal yang disajikan adakalanya berupa tembang. Sementara penembang bisa melagukan vokal secara mandiri tanpa adanya (iringan) gending gamelan. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • The sort of social production that Wikipeia tands for
    has transformed feom an absurd paradise tto a sensible reality. http://charlesfilterproj1.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *