Diponegoro dan Gadjah Mada “Kumpul” di Magelang

 Diponegoro dan Gadjah Mada “Kumpul” di Magelang

TAK salah jika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo baru-baru ini menyebut kompleks eks Karesidenan Kedu di Jalan Diponegoro, Magelang sebagai area heritage. Di dalam kompleks punya banyak jejak sejarah sebagai salah satu cagar budaya dan sejarah di Magelang. Sejarah pemerintahan kolonial, Kota Magelang, Pangeran Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, sampai awal perjalanan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Semua terangkum menjadi satu di sana.

Dahulu itu…

Kompleks Karesidenan Kedu, merupakan markas militer Belanda. Bangunannya waktu itu masih terbuat dari bambu. “Setiap bambu diisi air untuk meredam kebakaran. Juga ada lonceng jam untuk jam malam. Karena waktu itu, sedikit orang yang punya jam,” tutur Bagus Priyana, penggiat komunitas Kota Toea Magelang.

Magelang, pada tahun 1818, oleh pemerintah kolonial Belanda, ditetapkan sebagai ibukota Karesidenan Kedu. Setelahnya, tak hanya sebagai ibukota karesidenan tetapi juga menjadi kota militer sejak 1828. Bangunan yang pertama berdiri, adalah Residents Woning atau Gedung Residen. Gedung ini kemudian menjadi rumah dinas Residen Kedu. Saat ini, bangunan tersebut dijadikan Museum Pangeran Diponegoro. Bangunannya menghadap ke Barat. Artinya, membelakangi Jalan Diponegoro.

Arah bangunan menghadap arah Barat, ternyata bukan tanpa sebab. Rupanya, orang Belanda sangat menyukai pemandangan yang terlihat ketika menghadap ke arah Barat. Dimana terdapat pemandangan Gunung Sumbing, perbukitan Giyanti dan Sungai Progo, serta persawahan yang menghampar luas kala itu. Menurut Bagus, sebelah selatan bangunan karesidenan dulu terdapat Gedung ‘Jenderalan’. Tempat jenderal militer Belanda tinggal. Sekarang sudah hancur akibat perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia periode 1945-1949.

Setelah pembangunan Resident Woning kemudian dibangun pula kantor residen. Bangunannya saat ini masih dipakai oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Pada periode 1825-1830 meletuslah perang terbesar yang dikenal dengan Perang Jawa. Peperangan antara Belanda dengan pengikut Pangeran Diponegoro. Zona peperangan waktu itu lebih banyak di wilayah Karesidenan Kedu dan sekitarnya. Perang Jawa dinyatakan berakhir ketika Pangeran Diponegoro ditangkap setelah melakukan perundingan di rumah dinas Residen Kedu yang saat itu dijabat F. G. Valck, pada 28 Maret 1830. Dari sinilah, kini berdiri Museum Pangeran Diponegoro. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *