Connect with us

Kolom

Di Ujung Senja Seorang Pejuang

Published

on

Karya: Brigjen TNI (Purn) MJP Hutagaol

> Di tepi senja yang temaram,

seorang tua duduk dalam diam panjang.

Angin berhembus membawa aroma tanah,

mengingatkan masa ketika langkahnya mengguncang bumi pertiwi.

Kini tak ada lagi derap pasukan,

tak ada tepuk tangan kehormatan.

Hanya desir waktu yang berbisik lembut di telinga:

“Pengabdianmu belum selesai,

selama napasmu masih bersaksi bagi kebenaran.”

🌿

Pangkat hanyalah debu di bahu waktu,

bintang di dada hanyalah tanda perjalanan.

Yang kekal bukan seragam atau jabatan,

melainkan nurani yang tetap menyala

meski dunia meredup.

Banyak yang menua dalam umur,

namun belum matang dalam kebijaksanaan.

Banyak yang tinggi kedudukan,

namun rapuh dalam kejujuran.

Anak muda —

dunia bukan gelanggang kemegahan,

tapi medan pengasahan diri.

Gunakan masa mudamu

seperti Empu mengasah pikir,

seperti prajurit menjaga janji,

seperti petani menanam doa di ladang kesabaran.

Sebab hidup bukan siapa yang tercepat,

tapi siapa yang paling ikhlas menapaki jalan panjangnya.

🌾

Ki Ageng Suryomentaram pernah berpesan:

“Barang siapa mengenal dirinya,

ia telah melihat wajah Tuhan dalam cermin hatinya.”

Maka kenalilah dirimu,

agar tak tersesat oleh topeng dunia.

Bila dunia menutup telinga,

tetaplah berkata dengan kebenaran.

Bila dunia menutup mata,

tetaplah menyalakan pelita kesabaran.

Karena kebesaran bukan tentang siapa yang dipuja,

tapi siapa yang tetap setia

walau tak disorot cahaya.

🌅

Maka, di ujung senja,

seorang pejuang menatap cakrawala dengan tenang.

Ia tahu, kemuliaan bukan pada pangkat atau panggung,

tapi pada ketulusan

yang tetap bekerja dalam diam.

Ia tersenyum —

bukan karena dunia mengenangnya,

tapi karena ia telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Kepada para pemimpin yang telah menepi,

teruslah menyalakan api pengabdianmu,

sebab kebijaksanaanmu adalah pelita bagi generasi.

Dan kepada para muda,

jadilah manusia Pariguna —

yang berpikir jernih, berperasaan luhur,

dan bertindak benar.

Itulah manusia Paripurna,

yang menyatukan budi, raga, dan jiwa

dalam keselarasan Ilahi.

🌄

Di situlah letak kemerdekaan sejati —

ketika manusia mengenal Tuhan

lewat kerja, kasih, dan doa.

Sebab pengabdian, wahai anak bangsa,

tidak pernah pensiun.

Ia hanya berganti wujud —

dari perintah menjadi pengajaran,

dari jabatan menjadi cahaya.

🕊️ Catatan Penulis:

> Jiwa Pariguna adalah kesadaran hidup yang menyatukan raga, budi, dan jiwa dalam keseimbangan ilahi.

Ia mengajarkan manusia untuk berpikir jernih, berperasaan luhur, dan bertindak benar —menjadi insan yang terus berkarya, bahkan ketika dunia telah sunyi.

Continue Reading
Advertisement
1 Comment

1 Comment

  1. Benny sulistiono

    October 12, 2025 at 9:23 pm

    Keren bang, sangat menyentuh dan inspiratif. Tetap semangat utk tetap berkarya. Komando!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement