Dari Limbah jadi Bunga Indah

 Dari Limbah jadi Bunga Indah

AWALNYA Yuni Noor Hastuti hanya iseng memproduksi kerajinan bunga-bungaan dari limbah pohon. Beberapa hasil eksperimennya ditawarkan ke galeri tak jauh dari rumahnya di Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Di luar dugaan, kerajinan yang dibuatnya disukai konsumen, khususnya para bule.

Yuni, ibu tiga anak ini, terkejut ketika mendapat pesanan dari galeri dalam jumlah banyak. “Produk sampel saya itu asli bahan alami, tidak ditambah finishing warna-warni. Tapi justru kealamian produk itu membuat para pembeli suka,” ungkap Yuni menceritakan pengalamannya saat mulai berbisnis tahun 1999.

Yuni, kreator bunga dari limbah.

Yani memulai bisnis dengan modal kurang dari Rp500.000. Dengan modal itu, dia membuat aneka kreasi kerajinan dari bahan pelepah pisang, daun jagung, juga buah pinus. Bahan-bahan itu bukan hanya mudah didapat tapi juga murah, maklum limbah yang biasanya dibuang orang.  “Biaya produksi rendah karena kan materialnya limbah,” ucapnya.

Menurut Yani, dalam menjalankan bisnis dia banyak dibantu suami, Singgih Wardana Murti. “Suami saya seniman, dia yang memiliki banyak ide desain kerajinan bunga. Sedang saya lebih banyak berkecimpung di bidang produksi dan pemasaran,” papar Yuni.

Kreasi kerajinan bunga-bungaan dari limbah.

Sukses dengan kerajinan bunga-bungaan dari pelepah pisang, kulit jagung dan pinus, Yani dan suaminya kemudian mengembangkan materialnya dengan buah pinang, buah bintaro, dll. Di luar kerajinan bunga-bungaan, dia juga menambah produknya dengan kerajinan lampu dari paralon dan termos bekas.

Kerajinan lampu dari termos bekas ini, ungkapnya, banyak yang suka bahkan sempat membuatnya kelabakan ketika mendapat pesanan dalam jumlah yang cukup banyak. Walhasil, tak mau mengecewakan para konsumennya, ia terpaksa membeli material tambahan baru. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *