Empat Telur Jadi Raja

PADA galibnya, perempuan memiliki kodrat melahirkan bayi, bukan menetas telur. Akan tetapi, masyarakat Papua Barat percaya mitologi lokal, ihwal seorang perempuan melahirkan tujuh telur. Empat telur menetas dan kemudian menjadi raja. Satu telur menetas menjadi seorang perempuan, dua lainnya gagal menetas. Empat raja itu kemudian menjelma menjad empat pulau besar di Papua Barat, yakni Pulau Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta. Jadilah Raja Ampat.

Keindahan alam Raja Ampat seperti suguhan surga. Keanekaragaman biota lautnya, mengangkat Raja Ampat dalam kepopuleran. Foto dan video jepretan para penggila olahraga rekreasi selam, tersebar seantero dunia melalui berbagai media sosial seperti Youtube, WhatsApp, Instigram, Pinterest dan lainnya.

Terumbu karang di Raja Ampat dapat tumbuh dengan baik, tidak lepas dari posisi geografisnya yang  diapit  Samudera Hindia dan Samudra Pasifik. Keenakaragaman hayati di Raja Ampat  yang mengagumkan itu, menjadikannya sebagai surga bawah laut. Keindahan itu makin lengkap tatkala berkelindan dengan kehangatan warga lokal dalam menyambut para turis. Tepatlah Raja Ampat menjadi tujuan wisata bahari yang tak boleh dilewatkan.

Memang, tidak mudah mencapai Raja Ampat. Penerbangan ke Papua Barat dari Jakarta, tergolong mahal. Tapi, bukan tidak bisa diakali. Untuk menyiasati mahalnya tiket pesawat, cobalah cari tiket promo. Lalu, hindari pula peak season. Bisa dibayangkan, harga tiket normal saja Rp 2 juta sampai Rp 3 juta sekali jalan. Jadi, kalau tidak pintar-pintar mengakali, biaya akan tersedot ke urusan tiket.

Selain itu, juga bisa disiasati dengan penerbangan transit menggunakan maskapai berbeda. Anda bisa pakai meta search tiket pesawat untuk memantau pergerakan harga tiket. Dengan demikian, kita dapat memesan tiket dengan harga termurah.

Selain itu, biaya transportasi juga bisa ditekan dengan menempuh perjalanan menggunakan kapal Pelni dari Tanjung Priok, Jakarta. Jadi, jelas kan, liburan ke Raja Ampat pun bisa dilakukan ala backpacker. ***

Keindahan terumbu karang Raja Ampat, Papua Barat.

Geliat Wisata Mandalika

MENTERI Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga menegaskan, pihaknya akan dan harus hadir dalam pengembangan koperasi dan UKM (KUKM) di kawasan pariwisata Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. “Pemerintah hadir dalam hal pelatihan dan pembiayaan. Dilatih tanpa pembiayaan akan sia-sia, begitu juga pembiayaan tanpa pelatihan takkan menghasilkan apa-apa,” katanya pada acara pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia KUKM di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (13/3/2017).

Menurut Menkop, masalah yang tak kalah penting adalah pemasaran dari produk yang dihasilkan. “Hal itu harus dipikirkan,” kata Puspayoga.

Pelatihan yang diikuti lebih kurang 650 orang tersebut meliputi pemasyarakatan kewirausahaan, pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat nelayan dan perempuan, pelatihan perkoperasian bagi SDM koperasi, pelatihan kompetensi manajemen dan pariwisata bagi pemandu wisata, pelatihan pengelola tempat praktek ketrampilan usaha (TPKU), dan pelatihan vocational pada daerah tertinggal. Hadir pada kesempatan itu Gubernur NTB  Zainul Majdi, Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar, dan Wakil Ketua DPD RI Farouq Muhammad.

Puspayoga menjelaskan, bila pariwisata di satu wilayah berkembang, maka otomatis kinerja UKM akan meningkat dan akan menghasilkan koperasi yang bagus. “Kita harus memberikan pelatihan manajemen wisata yang baik, seperti membangun kuliner dan ekonomi kreatif, agar wisatawan yang datang bisa nyaman dan betah,” tandas Menkop.

Puspayoga menyatakan, selain melatih SDM, pihaknya juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar Mandalika agar bisa menerima dampak yang terjadi dari pengembangan pariwisata. “Dampak positifnya adalah ekonomi masyarakat bisa berkembang, pengangguran menurun, kesejahteraan meningkat. Dampak negatifnya diantaranya masuknya budaya luar dan peredaran narkoba. Ini yang harus kita beri pemahaman agar bisa mengantisipasi ekses negatif,” tutur Puspayoga.

Yang pasti, kata Menkop, salah satu tugas kementerian yang dipimpinnya adalah meningkatkan rasio kewirausahaan di Indonesia. “Saat ini, rasio kewirausahaan berdasarkan data BPS meningkat dari 1,65% menjadi 3,31%. Angka tersebut melampaui dari target nasional sebesar 2%. Tentu saja hal itu harus terus dijadikan sebagai semangat untuk menambah jumlah wirausaha di Indonesia,” imbuh Puspayoga. ***

Jam Lima Pagi di Puncak Candi

MELAKUKAN apa yang dicintai, itulah yang dikerjakan wanita satu ini. Dia, Galuh Larasati, lahir di Borobudur dan tinggal di Yogyakarta. Belasan tahun menggeluti bidang pariwisata khusus di wilayah Candi Borobudur dan sekitarnya. Bukan sekadar mencari rezeki tapi yang terpenting baginya mengabdikan diri menjaga dan melestarikan kebudayaan tanah kelahirannya, tanah Jawa.

Galuh Larasati

Galuh Larasati yang akrab disapa Atik, membawa turis baik lokal maupun manca untuk menikmati, mengenal dan mempelajari sejarah Candi Borobudur dan kebudayaan serta kehidupan di “kampung-kampung” sekitar candi. Ia menamakannya, Kaleidoscope of Java Tour. Program yang ditawarkannya adalah paket tur satu hari di Borobudur sejak subuh, yaitu Private Borobudur Sunrise Tour.

“Paket wisata satu hari ini sangat disukai turis asing. Mereka, dapat menikmati keindahan candi Borobudur saat matahari terbit,” cerita Atik kepada Jayakarta News di Guest House Rumah Eyang Yogyakarta, mengenai Paket Wisata yang dijalaninya itu.

Untuk melihat matahari terbit, Atik akan memulai perjalanannya sejak pukul 04.00 dari hotel di  mana tamu menginap dan dijemput. “Kami akan menjemput tamu dan memulai perjalanan jam 4 pagi dan harus ada di puncak candi jam 5 untuk menunggu matahari terbit. Saya akan memulainya dengan menceritakan sejarah candi yang dibangun abad ke-9 itu serta filosofinya, juga kisah hidup Buddha seperti yang ditunjukkan pada relief ukiran di candi,” ujar Atik yang pernah bekerja sebagai Public Relations Manager di Hyatt Regency Yogyakarta.

Turis pun bersentuhan dengan masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

Dari candi, Atik akan membawa para turis mengunjungi desa dan lingkungan alam radius lima kilometer dari candi. Di situ para turis bisa berhubungan dengan masyarakat setempat. “Para turis nanti  bisa belanja di pasar tradisional, bahkan bisa masuk ke dapur dan melihat-lihat kehidupan masyarakat setempat,” ujarnya antusias.

Kecintaan Atik pada tanah Jawa, tidak membuat dia membatasi peserta. Sekalipun hanya dua orang peserta, Atik tetap membawa mereka. Dengan biaya Rp 300.000, peserta bisa dijemput dan diantar kembali ke hotel, plus mendapat makan siang. “Biaya itu tidak termasuk tiket ke candi,” kata Atik. Jika tertarik mengikuti paket wisata khusus Borobudur ini, klik saja Kaleidoscope of Java Tour. ***

Melanglang Buana Bersama Seniman Braga

SALAH satu destinasi favorit di Indonesia adalah kota Bandung, yang sepertinya tidak pernah kehabisan tempat wisata kategori “wajib dikunjungi”. Yang terbaru di ibukota Jawa Barat ini adalah Tiga Dimensi Amazing Art World (3D AAW). Dengan luas lebih kurang 15.500 m2 tempat berfoto 3D yang berlokasi di Setiabudi, Sukasari, Bandung ini diklaim pemiliknya sebagai yang terbesar di dunia.

Keunikan tempat wisata yang baru dibuka 1 Januari 2017, adalah berfoto dengan latar belakang lukisan 3D. Teknik ilusi membuat objek yang ada seakan ‘hidup’ dan berinteraksi dengan pengunjung yang difoto.

Untuk masuk ke sini harga tiket akhir pekan Rp 119 ribu, sedangkan tengah minggu Rp 91 ribu. Bagi anak-anak Rp 56 ribu dan Rp70 ribu. Setiap pengunjung diharuskan membuka alas kaki, agar tidak mengotori lukisan. Selain itu dilarang membawa makanan dan minuman serta tidak boleh membawa alat tulis.

Uang pun berhamburan…..

Seperti halnya di Thailand dengan Magic Eye 3 D, Singapura dengan Trick Eye Museum, maka di 3D AAW, terbagia atas 10 zone berbagai tema. Antara lain Dinosaurus Zone, dapat berinteraksi dengan hewan-hewan purbakala. Winter zone, seakan merasakan musim dingin yang indah tanpa merasakan temperatur yang membeku.

Lainnya Aqua zone berisikan lukisan 3D dengan tema aqua membawa Anda berpetualang ke alam bawah laut. Tidak sekadar keindahan, sensasi menegangkan juga dirasakan karena zone ini berisikan para predator laut yang ganas. Pada area animal zone, akan terasa sensasi di alam liar dengan ditemani hewan-hewan yang ganas, tapi menyenangkan.

Pengunjung dapat bebas berekspresi disesuaikan dengan latar belakang lukisannya. Karena tujuan pengunjung untuk berfoto, kita tidak perlu malu menanyakan posisi atau pose paling cocok kepada guide. Berposelah sesuai lukisan karya 10 pelukis jalanan yang biasa berkarya di Jalan Braga, ditambah karya lima pelukis Korea. ***

Asyiknya berpetualang di medan lukisan tiga dimensi.

Sunyaragi Mati Suri

EMPAT buah topeng khas Cirebon berukuran raksasa, tergeletak di antara tribun panggung Taman Gua Sunyaragi, Cirebon. Tidak satu pun yang tidak cacat. Mengelupas cat di sana, rompal di sisi yang sini, pendek kata tak terawat. Tak heran jika taman yang satu ini seperti mati suri.

Memasuki gerbang Taman Gua Sunyaragi, kesan janggal sudah muncul. Sebuah bangunan tinggu, berbahan beton dan besi, kokoh berdiri setengah melingkar. Sekilas, mirip bangunan stadion dari luar. “Bukan… ini tadinya untuk wisata kuliner. Pesan makan di bawah, makannya di tribun atas sambil memandangi taman Sunyarangi,” ujar seorang penjaga.

Konsepnya bagus. Niatnya baik. Gara-gara tidak ada sentuhan arsitektur yang paham seni dan budaya, jadilah bangunan itu kontras dengan nuansa batu alam di areal taman gua berukuran 15 hektare itu. Ditambah, sejak berdiri hingga kini, tak satu pun pedagang kuliner berjualan di situ. Alhasil, mangkrak.

Apalagi, keberadaan bangunan tadi, menutup pandangan pelalu-lintas di Jl Brigjen Dharsono, yang ramai. Sekalipun, sangat banyak mitos dan legenda menarik di Taman Gua Sunyaragi, tetap saja sulit menggaet wisatawan datang.

Bagaimana keadaan di dalam sana? Tidak lebih baik daripada keadaan di luar. Di belakang altar, yang biasa digunakan untuk pementasaan sendratari Cirebon, dipasang huruf warna-warni bertuliskan “GOA SUNYARAGI”. Guruf G warna merah, huruf O warna oranye, huruf A warna biru… amboi… sakit nian mata ini memandangnya.

Masuk lebih dalam ke area gua, makin blank, karena tidak ada bantuan pemandu. Sedikitnya ada sembilan gua di area Sunyaragi, dengan Gua Peteng sebagai pintu utama. Masih ada gua padang ati, gua lawa, gua pawon, dan lain sebagainya. Tanpa pemandu, pengunjung tidak akan mendapatkan informasi bersejarah apa pun. Persoalannya, pemandu adanya di pintu masuk. Untuk memakai jasanya, pengujung harus merogoh uang ekstra. Olala…. ***

Sensasi Menjadi Noni

DI ERA milenial ini, traveling sudah menjadi gaya hidup, bahkan kebutuhan primer bagi sebagian orang. Gejolak wisata tersebut diantisipasi masyarakat Bandung yang terkenal kreatif. Salah satunya Wisata Alam Farmhouse Susu Lembang (FSL) yang berlokasi, di Jl Raya Lembang, Lembang, Bandung.

Memasuki area wisata ala Mediterania Eropa ini akan terlihat jajaran pohon Pinus. Di sini ada udara segar, keindahan alam, dan minuman susu segar sekaligus. Bahkan terbuka bagi aneka kegiatan yang dibutuhkan. Beragam kafe lengkap dengan spot selfie ada di sini. Dari kafe bergaya oldies hingga mediteranian, dengan letak yang unik: Di kebun/outdoor, indoor, bahkan ada yang di atap/roof top dengan pemandangan menakjubkan.

Kafe bergaya Eropa.

Dapat dikatakan area FSL yang buka hingga pukul 21.00, adalah tempat wisata lengkap. Bagi keluarga yang membawa anak kecil tentu lebih tertarik untuk membawa mereka ke ‘Mini Zoo’ dan bisa berfoto dengan binatang lucu. Aneka burung, anak landak, sapi, biri-biri, iguana, kelinci….Tentu saja tersedia fasilitas beribadah dan toilet.

Tujuan paling diburu ketika ke FSL adalah mengenakan kostum noni Eropa. Para wisatawan menyebutnya kostum tradisional wanita Eropa, atau ada juga yang menyebut rok panjang noni Belanda. Pengunjung antre di sini. Apalagi di bagian depan ada sudut lukisan yang benar-benar disulap bagaikan sebuah jalan di pedesaan Eropa.

Tempat jualan aneka souvenir.

Tidak heran jika di area FSL banyak kita jumpai “noni Belanda” membawa payung dan keranjang bunga berjalan jalan sambil berfoto, meski. Kalau tidak memperhatikan hidung dan warna kulit, kita pasti menyangka mereka rombongan noni Eropa yang sebenarnya…. “Kami tertarik ke sini ingin memiliki foto dengan gaun tradisional Eropa”, ujar rombongan ibu-ibu dari Jakarta.

Petugas tata-rias di rumah sewa kostum itu mengatakan, hari biasa, pengunjung 100 orang lebih. Di hari libur, bisa 200 orang lebih. Mereka mengenakan tarif Rp 75.000 per dua jam. Ya, cukup murah untuk menjadi “noni Belanda” selama dua jam saja.

Lainnya tersedia tempat penjualan souvenir dan cemilan seperti croissant dan danish, juga selai buah strawberry homemade. Meski berbau Eropa, tersedia pula kedai bakso dan soto, kue-kue Jepang, dan tentu saja es krim.

Kaum muda bisa mengunjungi sudut gembok cinta, untuk mengikrarkan cinta mereka yang diharapkan berlangsung selamanya. Bagi yang ingin dilukis pun tersedia sudut sketsa dan penjualan lukisan bunga.

Pada sisi area yang lain, di antara rerimbunan pohon, dijumpai replika  rumah Hobbit yang dibuat mirip dengan aslinya. Pengunjungpun tidak perlu keluar biaya mahal ke New Zealand, kalau hanya ingin sekadar berpose.

Sebegitu antusiasnya pengunjung FSL, konon sempat terjadi di saat padat pengunjung, terpaksa ditutup sementara. Para wisatawan harus menunggu 1 – 2 jam sampai pengunjung yang di dalam keluar. ***

Andong Kosong, Bengong

MALIOBORO jantung Yogyakarta. Andong penghiasnya. Jenis angkutan ini, setiap hari bisa kita dapati berjejer di sisi kanan Jalan Malioboro. Saat weekend atau bertepatan hari libur nasional, lebih-lebih saat Lebaran, jarang sekali kita dapati andong di Malioboro. Peminat wisata andong, harus rela antre.

Antrian andong Malioboro

Beda dengan hari biasa. Seperti saat jayakartanews berkunjung ke Yogyakarta baru-baru ini. Tampak banyak kusir andong duduk bengong karena seharian andong kosong. Rakidi, sais delman berusia 69 tahun dan sudah 48 tahun menarik andong, termasuk satu yang sedang bengong. “Dari jam 9 pagi sampai siang ini saya belum dapat penumpang. Sepiii…” ujarnya. Padahal sekitar tiga jam lagi,  dia sudah harus pulang. “Saya di sini sampe jam empat sore. Kadang-kadang, pulang tidak bawa apa-apa,” kisah kakek delapan cucu ini.

Dulu, mereka selain mengangkut wisatawan, ada kalanya memang disewa sebagai angkutan untuk berpindah dari satu tempat ke tujuan yang lain. “Sekarang, praktis kami hanya mengandalkan turis. Dan peminat andong tidak sebanyak dulu,” keluh Rakidi.

Hal senada diungkapkan Tjipto Sudarmo. Lelaki 79 tahun ini bahkan sudah “berkarier” sebagai penarik andong selama 52 tahun, dan belum ada cita-cita pensiun. Kakek tiga orang cucu ini dengan suara pelan mengatakan,  “Kadang narik, kadang tidak. Sekarang ini saja  masih kosong,” bisik Pak Tjipto sambil tersenyum.

“Sekarang ini memang sulit mendapatkan  penumpang, bu…” celetuk seorang kusir yang terlihat muda, Mariono (43). Menurut sais junior ini, sekarang peminat andong paling-paling 1:10. “Tidak semua orang suka delman,” tandas Mariono sambil menjelaskan, “ Mereka suka bilang bau kalau naik dokar.  Bau…bau…katanya,” cerita Mariono sambil memperagakan gaya menutup hidung. “Namanya hewan, ya bau tho,” kata Mariono disambut tertawa kedua seniornya, Rakidi dan Tjipto.

Menurunnya animo penunggang delman, memang bisa jadi karena faktor aroma tak sedap. Tapi boleh jadi karena tarif yang mereka patok Rp 80.000 hingga Rp 100.000 untuk keliling jalan Malioboro, memutar kiri ke Gondomanan, belok kiri lagi ke arah Perwakilan, dan nanti masuk lagi ke Jalan Malioboro lewat Hotel Garuda.

Di hari biasa, bisa dua atau tiga kali keliling saja, mereka sudah sangat bersyukur. “Sudah berkah itu bu,” ujar Rakidi yang disetujui kedua temannya itu.  “Tapi nganti saiki isih kosong, ha…ha…ha…,” celetuk  Mardiono yang disambut tawa  kedua seniornya itu….***

Tiga kusir andong Malioboro: Mariono, Tjipto, Rakidi.

Dunia Jungkir Balik

BELAKANGAN media sosial banyak diramaikan foto-foto serba terbalik. Anda pun dapat merasakan serunya sensasi dunia terbalik di Upside Down World Bandung (UDWB). Tempat wisata yang baru berdiri Oktober tahun lalu saat ini sedang ngetop di Bandung.

Wisata ini bukan pertama kali di Indonesia. Sebelumnya sudah diperkenalkan di Bali dan Yogya (pada tahun yang sama), sedangkan yang memopulerkan adalah Malaysia dan Taiwan.

Temanya sederhana, seperti halnya kita memasuki rumah seseorang. Diawali dengan masuk ke teras rumah, ruang tamu, ruang makan, dapur ruang keluarga, kamar mandi, kamar tidur, dan lainnya. Setiap ruangan sudah ditata rapi terbalik sedemikian rupa, sehingga umumnya mereka yang baru pertama kali berkunjung akan merasa sedikit bingung dengan suasana ruangan tersebut.

Dengan membayar tiket sebesar Rp 91 ribu untuk dewasa (diskon dari Rp 130 ribu). Anak hanya bayar setengah orang dewasa.  Anda bisa sepuasnya berfoto dari gaya biasa/berdiri hingga berebahan atau pun ala yoga. Anda bisa sebebas-bebasnya bereksperimen dengan gaya diri.

Karena keunikannya, UDWB yang dibuka tahun lalu selalu penuh. Tidak saja warga kota Bandung, tetapi juga dari luar kota: Jakarta, Bogor bahkan dari beberapa kota di Sumatera. “Kebetulan kami ada acara nikahan keluarga di Jakarta, sekalian wisata ke Bandung, ” papar Nia, asal Palembang.

Mereka sudah menunggu dari jam setengah sepuluh pagi, setengah jam sebelum wahana itu dibuka. Pengunjung di UDWB akan didampingi guest assistance. Mereka akan mengarahkan  gaya para pengunjung sehingga foto yang dihasilkan akan maksimum.

Demi menjaga kebersihan ruang dan kenyamanan, para pengunjung harus melepas alas kaki sebelum berpetualang seru di museum foto yang terinspirasi dari film Hollywood, Upside Down ini. ***

Seru-seruan di Taman Hutan Djuanda

TAMAN Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman yang terletak di Kota Bandung, Indonesia. Luasnya mencapai 590 hektare membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya. Bertengger pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2.500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species.

Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat, setelah sebelumnya bernaung di bawah Perum Perhutani. Anda bisa mengunjungi taman hutan ini, dari pukul 08.00 sampai 18.00, dengan tiket masuk yang terjangkau, Rp.20.000. Jangan lupa siapkan fisik, sebab untuk menjelajah areal taman hutan ini, perlu waktu dua sampai tiga jam. Anda juga bisa ‘seru-seruan’ menikmati berbagai fasilitas outbond.

Menilik sejarahnya, taman ini adalah taman terbesar yang pernah dibangun pemerintah Hindia Belanda berbentuk hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Gunung Pulosari. Perintisan taman ini sudah dilakukan sejak tahun 1912 bersamaan pembangunan terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung (kemudian hari disebut sebagai Gua Belanda), namun peresmiannya sebagai hutan lindung baru dilakukan pada tahun 1922.

Sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945 status kawasan hutan negara dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Djawatan Kehutanan. Kawasan hutan ini dirintis pembangunannya sejak tahun 1960 oleh Mashudi (Gubernur Jawa Barat) dan Ir. Sambas Wirakusumah, Administratur Bandung Utara merangkap Direktur Akademi Ilmu Kehutanan, dan mendapat dukungan Ismail Saleh (Menteri Kehakiman) dan Soejarwo (Dirjen Kehutanan Departemen Pertanian).

Pada tahun 1963 sebagian kawasan hutan lindung mulai dipersiapkan sebagai Hutan Wisata dan Kebun Raya. Tahun 1963 pada waktu meninggalnya Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja (Ir. H. Djuanda), kawasan ini diubah namanya menjadi Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda, untuk mengenang jasa-jasa Djuanda. Waktu yang sama, Jalan Dago diubah jadi Jl. Ir. H. Djuanda. ***

Digital Tourism B-Fest

BANYAK daerah maju karena pariwisata. Salah satunya Kabupaten Banyuwangi. Melalui Banyuwangi Festival (B-Fest), jumlah wisatawan asing dan domestik terus melonjak. Tak heran jika kemudian ajang B-Fest ditarik menjadi ajang pariwisata nasional. Tahun 2017, yang merupakan gelar kelima B-Fest, diluncurkan di Jakarta pekan lalu oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Menteri Pariwisata mengatakan, tahun 2017 Indonesia menggelar tak kurang dari 100 festival. Targetnya, mampu menjaring 15 wisatawan asing, dan 265 juta wisatawan lokal. Kabupaten Banyuwangi sendiri, data tahun 2016 (per bulan November), membukukan angka 75.000 turis asing, dan 2,7 juta wisatawan lokal. “Wisatawan asing umumnya ke Gunung Ijen,” ujar Menteri Arief.

Dikatakan pula, sukses pariwisata Banyuwangi, antara lain karena peran media digital. Mereka menyebutnya digital tourism. Kemudahan orang mengakses informasi melalui internet, membuat strategi digital tourism menjadi sebuah keniscayaan. “Ditambah adanya akses transportasi udara sejak tahun 2014, maka turis makin ramai. Selain rute penerbangan Jakarta-Banyuwangi, juga ada rute pendek Bali-Denpasar.

“B-Fest kami hadirkan tiap tahun ibarat rangkuman bagi segenap potensi Banyuwangi, mulai seni budaya, kekayaan alam, dan kreativitas rakyat. Tahun ini bakal lebih kaya kandungan budaya dan potensi kreativitas masyarakat,” kata Bupati Banyuwangi, Abudllah Azwar Anas.

Dari 72 gelaran event B-Fest 2017 akan disajikan ikon daerah, seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September 2017), Banyuwangi Ethno Carnival (11 November 2017), Festival Gandrung Sewu (8 Oktober 2017), Banyuwangi Beach Jazz Festival (2 September 2017), dan Jazz Ijen (6-7 Oktober 2017), selain event anyar yang akan menjadi magnet baru antara lain; Banyuwangi Sail Yacht Festival (15 September 2017) dan Festival Bambu (12-13 Mei 2017).***