Jam Lima Pagi di Puncak Candi

 Jam Lima Pagi di Puncak Candi

MELAKUKAN apa yang dicintai, itulah yang dikerjakan wanita satu ini. Dia, Galuh Larasati, lahir di Borobudur dan tinggal di Yogyakarta. Belasan tahun menggeluti bidang pariwisata khusus di wilayah Candi Borobudur dan sekitarnya. Bukan sekadar mencari rezeki tapi yang terpenting baginya mengabdikan diri menjaga dan melestarikan kebudayaan tanah kelahirannya, tanah Jawa.

Galuh Larasati

Galuh Larasati yang akrab disapa Atik, membawa turis baik lokal maupun manca untuk menikmati, mengenal dan mempelajari sejarah Candi Borobudur dan kebudayaan serta kehidupan di “kampung-kampung” sekitar candi. Ia menamakannya, Kaleidoscope of Java Tour. Program yang ditawarkannya adalah paket tur satu hari di Borobudur sejak subuh, yaitu Private Borobudur Sunrise Tour.

“Paket wisata satu hari ini sangat disukai turis asing. Mereka, dapat menikmati keindahan candi Borobudur saat matahari terbit,” cerita Atik kepada Jayakarta News di Guest House Rumah Eyang Yogyakarta, mengenai Paket Wisata yang dijalaninya itu.

Untuk melihat matahari terbit, Atik akan memulai perjalanannya sejak pukul 04.00 dari hotel di  mana tamu menginap dan dijemput. “Kami akan menjemput tamu dan memulai perjalanan jam 4 pagi dan harus ada di puncak candi jam 5 untuk menunggu matahari terbit. Saya akan memulainya dengan menceritakan sejarah candi yang dibangun abad ke-9 itu serta filosofinya, juga kisah hidup Buddha seperti yang ditunjukkan pada relief ukiran di candi,” ujar Atik yang pernah bekerja sebagai Public Relations Manager di Hyatt Regency Yogyakarta.

Turis pun bersentuhan dengan masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

Dari candi, Atik akan membawa para turis mengunjungi desa dan lingkungan alam radius lima kilometer dari candi. Di situ para turis bisa berhubungan dengan masyarakat setempat. “Para turis nanti  bisa belanja di pasar tradisional, bahkan bisa masuk ke dapur dan melihat-lihat kehidupan masyarakat setempat,” ujarnya antusias.

Kecintaan Atik pada tanah Jawa, tidak membuat dia membatasi peserta. Sekalipun hanya dua orang peserta, Atik tetap membawa mereka. Dengan biaya Rp 300.000, peserta bisa dijemput dan diantar kembali ke hotel, plus mendapat makan siang. “Biaya itu tidak termasuk tiket ke candi,” kata Atik. Jika tertarik mengikuti paket wisata khusus Borobudur ini, klik saja Kaleidoscope of Java Tour. ***

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • sangat baik untuk dikembangkan tentang kebudayaan jawa maupun kebudayaan wilayah lain diluar pulau jawa ,karena budaya indonesia bukan saja di pulau jawa jtapi tersebar di berbagai Daerah di indonesia tengah dan timur, kebudayaan ini di promosikan ke antero dunia sehinnga indonesia terkenal dengan budaya ramah, damai dan sangat baik untuk d kunjungi. semoga tampik Atik atik yg lain untuk memperkenalkan Indonesia, juga para pewarta kebudayaan yg masih langka
    suskes untuk Jayakartanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *